ASSALAMU’ALAIKUM WR. WB. SAHABAT, TERIMA KASIH SUDAH BERKUNJUNG DI BLOG SAYA INI. SEMOGA BERMANFAAT DAN MAMPU MEMBERIKAN INSPIRASI. BAGI SAYA, MENULIS ADALAH SALAH SATU CARA MENDOKUMENTASIKAN HIDUP HINGGA KELAK SAAT DIRI INI TIADA, TAK SEKADAR MENINGGALKAN NAMA. SELAMAT MEMBACA! SALAM HANGAT, ETIKA AISYA AVICENNA.
Tampilkan postingan dengan label MotivaTrip. Tampilkan semua postingan
Tampilkan postingan dengan label MotivaTrip. Tampilkan semua postingan

PERTAMA KALINYA KE PARIS VAN JAVA

 


Pada Februari 2011, selain menjadi statistisi dengan status masih CPNS, saya juga mendapat tugas baru di Unit Pelayanan Perdagangan (UPP). Apa itu UPP? UPP adalah ‘pintu’ keluar masuknya perizinan impor dan ekspor. Semacam ‘front line’ kalau di bank. Jadi ya tugasnya memberikan pelayanan prima pada para importir dan eksportir yang hendak mengajukan izin. 

CERITA DARI SAMOSIR

 


Pada 21 Mei 2015, untuk kedua kalinya saya dinas ke Medan. Selain untuk survei di Kawasan Industri Medan, saya dan tim juga ditugaskan untuk survei ke Pematang Siantar. Alhamdulillah, setelah survei selesai, dari Pematang Siantar kami melanjutkan perjalanan ke Parapat pada 22 Mei 2015 untuk mengunjungi salah satu wisata alam di negeri tercinta ini, Danau Toba.

PON XX DI PAPUA SEBAGAI PONDASI KEMAJUAN INDONESIA

 



Jarak ribuan kilometer dapat dicapai jika dimulai dari ayunan langkah pertama.

 

Bisa keliling Indonesia adalah salah satu impian besar dalam hidup saya. Alhamdulillah saat ini saya sudah menjelajah di 25 provinsi Indonesia. Tinggal 9 provinsi lagi. Pulau besar di Indonesia yang terakhir saya kunjungi adalah Papua. Saya pertama kali menjejakkan kaki di pulau berbentuk laiknya seekor burung itu pada 14 Maret 2018. Waktu itu saya dan rekan-rekan menjadi panitia acara rapat koordinasi yang digelar di Jayapura.

Pertama kali datang di Papua saya sangat bahagia karena akhirnya bisa menjejak di 5 pulau besar Indonesia. Tak menyangka juga bisa bercengkerama langsung dengan penduduk asli Papua yang terkenal ramah dan murah senyum. Saya juga sempat berkunjung ke Pasar Mama-Mama Papua. Saya melihat sendiri betapa hasil pertanian di Papua sangat potensial. Aneka sayuran di sana sangat besar.

Saat ke Jayapura dan Merauke (Sumber : dok. pribadi)


Kedua kalinya ke Papua yakni pada 13 September 2018 saat bertugas ke Merauke. Waktu itu menghabiskan hampir 12 jam perjalanan hingga akhirnya mendarat di ujung timur Indonesia. Saat di Merauke, saya juga menyempatkan berkunjung ke Musamus atau rumah semut yang menjadi salah satu icon di sana.




Papua adalah pulau terbesar kedua di Indonesia yang memiliki 2 (dua) provinsi, yakni Papua dan Papua Barat. Ketimpangan barat dan timur masih menjadi isu penting sampai saat ini. Untuk mewujudkan kemajuan di Papua yang tentu akan berdampak pada terwujudnya Indonesia yang lebih maju, ada beberapa hal yang perlu menjadi perhatian. Saya singkat dengan PONDEMI. Penjelasannya sebagai berikut.

P = [P]emerataan pembangunan

Saat ini sudah ditetapkan Instruksi Presiden Nomor 9 Tahun 2020 tentang Percepatan Pembangunan Kesejahteraan di Provinsi Papua dan Papua Barat. Adanya Inpres ini tentu menjadi salah satu tolok ukur bahwa Pemerintah kian serius untuk melakukan pemerataan pembangunan di Indonesia. Dengan adanya peraturan ini, diharapkan Papua kian maju dan tidak ada lagi ketimpangan di Indonesia Bagian Barat dan Indonesia Bagian Timur.

O = [O]ptimalisasi potensi Papua

Papua memang pantas menyandang sebutan “Mutiara dari Timur” karena memiliki potensi yang luar biasa. Sumber Daya Alam (SDA) yang melimpah serta budaya yang unik dan beragam menjadi kekayaan tersendiri untuk Bumi Cenderawasih.  Sumber Daya Manusia (SDM) di Papua juga sangat potensial serta bisa mennjadi aset berharga untuk Indonesia.

Potensi SDA baik di sektor pertanian, perkebunan, maupun pertambangan di Papua harus bisa diolah dan dimanfaatkan dengan baik untuk menciptakan kemakmuran rakyatnya.

Potensi wisata Provinsi Papua juga sangat banyak. Sebut saja ada Lembah Baliem, Gunung Carstensz (Puncak Jaya), Danau Emfote, Danau Sentani, Teluk Cenderawasih, Taman Nasional Wasur, Taman 1000 Masamus, Jembatan Youtefa, Monumen Kapsul Waktu, Stadion Lukas Enembe, Bukit Jokowi, dan lainnya. Selain itu ada potensi di bidang budaya yakni berupa pakaian adat, kerajinan tangan ciri khas Papua seperti tas noken, koteka, lukisan kulit katu, dan kain tenun, serta kuliner khas Papua yang mencerminkan kearifan lokal setempat.

N = [N]aikkan pendapatan daerah Papua

Besarnya potensi yang dimiliki Papua tentu bisa menjadi sumber pendapatan daerah yang sangat besar. Masih banyak potensi di Papua yang belum diolah dan dioptimalkan.  SDA yang melimpah memang belum menjamin daerah tersebut memiliki Pendapatan Asli Daerah (PAD) yang besar juga. Biasanya daerah memiliki kendala terkait fasilitas/sarana pendukung yang belum memadai, sistem informasi pengelolaan pajak yang manual, serta Sumber Daya Manusia (SDM) yang terbatas. Kendala-kendala tersebut masih jamak terjadi di Papua.

D = [D]ukung keterlibatan putra daerah Papua

Penduduk Papua dikenal ramah dan memiliki rasa kekeluargaan yang tinggi. Saat saya ke sana pun kami disambut dengan hangat. Saat ini kita banyak menemukan putra daerah Papua yang mampu mengukir prestasi baik di kancah nasional maupun internasional. Prestasi itu tak hanya dalam bidang akademik, tapi juga olahraga, seni, dan budaya. Sebut saja pemain sepak bola nasional yakni Boaz Solossa, lalu Nowela Mikhelia yang pernah memenangkan ajang pencarian bakat dalam bidang menyanyi, serta Jacklien Ibo seorang atlet basket asal Papua yang kaya prestasi. Putra daerah Papua harus didukung dan difasilitasi untuk terus mendulang prestasi yang membanggakan. Kemajuan Indonesia juga bertumpu pada mereka.

E = [E]fektivitas kinerja dan efisiensi anggaran

Efektivitas kinerja dan efisiensi anggaran khususnya untuk pemerintah daerah Provinsi Papua harus terus diupayakan. Hal ini tentu untuk menunjang optimalisasi pembangunan daerah.

M = [M]enguatkan persatuan di bawah payung NKRI

Isu perpecahan yang beberapa kali terjadi di tanah Papua harus menjadi perhatian serius Pemerintah Pusat dan Daerah. Rasa persatuan dan kesatuan harus terus dipupuk. Hal ini tentu sangat berkaitan dengan upaya pemerintah untuk mengurangi ketimpangan Indonesia bagian barat dan timur.

I = [I]ntegrasi semua stakeholder dan pihak terkait

Dalam upaya mewujudkan Indonesia Maju, dari Sabang sampai Merauke, dari Miangas hingga Pulau Rote, perlu peran serta semua stakeholder dan pihak terkait. Upaya koordinasi dan kolaborasi harus terus digalakkan agar kemajuan Papua dapat segera diwujudkan.


Upaya "PONDEMI" untuk Memajukan Papua

Jika upaya "PONDEMI" di atas dapat direalisasikan  dengan baik, tentu mentari harapan baru dari timur akan semakin bersinar terang. Papua akan semakin jaya dan Indonesia pun kian maju.


PON (Pekan Olahraga Nasional) merupakan ajang pesta olahraga nasional yang dilaksanakan empat tahun sekali dan diikuti oleh atlet terpilih dari seluruh provinsi di Indonesia. PON bertujuan untuk mempererat persatuan, mengobarkan semangat perjuangan, serta membangun karakter bangsa Indonesia melalui olahraga.

PON pertama kali diadakan di Solo, Jawa Tengah pada 1948. Lalu setiap empat tahun sekali PON diselenggarakan di berbagai daerah Indonesia yang lain seperti Jakarta, Medan, Palembang, Surabaya, dan lainnya. PON terakhir kali diselenggarakan pada tahun 2016 lalu di Bandung, Jawa Barat. Sebenarnya PON XX akan digelar pada 2020, akan tetapi pandemi terjadi di Indonesia sehingga pelaksanaanya harus diundur dan direncanakan  pada 2-15 Oktober 2021.


Dukung PON XX Papua 2021
(Sumber: https://www.facebook.com/ponxx2020papua/)


Penyelenggaraan PON XX di Papua menjadi angin segar untuk mendorong kemajuan Papua serta bisa menjadi peluang bagi masyarakat Papua untuk meningkatkan kesejahteraannya. Ya, mentari harapan baru dari timur kian bersinar terang lewat event luar biasa ini. Tentu PON XX di Papua ini juga akan membawa dampak bagi kemajuan Indonesia. Meskipun pandemi ini mungkin membuat dampak itu tidak begitu dirasakan, namun tetap memberi perubahan setidaknya pada pihak yang berkaitan langsung dengan PON XX seperti pembangunan infrastruktur atau fasilitas pendukung PON XX.

PON XX rencananya akan digelar di 4 (empat) kabupaten/kota yang menjadi tuan rumah, di antaranya Kota Jayapura, Kabupaten Jayapura, Kabupaten Mimika, dan Kabupaten Merauke.

Ada 37 cabang olahraga PON XX Papua yang akan dipertandingkan, yakni: aerosport (dirgantara), akuatik, anggar, angkat berat, atletik, baseball, bermotor, biliard, bola basket, bola tangan, bola voli, bulu tangkis, catur, cricket, dayung, gulat, hockey, judo, karate, kempo, layar, menembak, muaythai, panahan, panjat tebing, pencak silat, rugby, selam, senam, sepak bola, sepak takraw, sepatu roda, taekwondo, tarung drajat, tenis, tinju, dan wushu.

Dari 37 cabang olahraga di atas dibagi lagi dalam empat klaster pertandingan dan cabang olahraga yang digelar saat PON XX Papua 2021:

a. Kota Jayapura, 14 cabang, 22 disiplin: voli indoor, voli pantai, base ball (penyisihan), softball (putra), tenis, bulu tangkis, tinju, sepak bola, binaraga, angkat besi, angkat berat, sepatu roda, karate, taekwondo, renang perairan terbuka, selam, canoeing, rowing, TBR (traditional boat race), paralayang, layar, dan sepak takraw.

b. Kabupaten Jayapura, 15 cabang, 21 disiplin: senam artistik, senam ritmik, senam aerobik, loncat indah, polo air, renang, renang artistik, selam kolam, menembak, hoki lapangan, hoki luar, kriket, sepak bola putra, softball putri, baseball (penyisihan/final), panahan, sepak takraw, kempo, muaythai, rugby 7’s, pencak silat, dan gantole.

c. Kabupaten Mimika, 9 cabang, 12 disiplin: atletik, basket 5×5, basket 3×3, biliar, panjat tebing, futsal, bola tangan, judo, tarung derajat, aeromodelling, terjun payung, dan terbang layang.

d.Kabupaten Merauke, 6 cabang, 7 disiplin: sepak bola putri, gulat, wushu, road race, motor cross, anggar, dan catur.

Stadion Lukas Enembe menjadi lokasi utama penyelenggaraan PON XX Papua mulai dari acara pembukaan pada 2 Oktober 2021, pelaksanaan event, sampai penutupan pada 15 Oktober 2021. Stadion yang megah dan artistik ini selesai dibangun 23 Oktober 2020 dan kini menjadi salah satu ikon infrastruktur baru dan modern yang ada di Provinsi Papua. Tentu masyarakat Papua dan kita semua bangga akan adanya stadion megah dan bertaraf internasional di kawasan timur Indonesia.

 



Pada PON XX di Papua ini juga mengangkat tagline Torang Bisa (Kami bisa)”. Tagline ini bermakna penyemangat khas Papua untuk mengobarkan semangat kepada para atlet yang akan bertarung pada PON XX.

Dua maskot PON XX adalah Kangpho dan Drawa. Kangpho atau kanguru pohon, selama ini memang populer sebagai satwa khas Australia, ternyata hidup di Papua juga. Kangpho merupakan jenis kanguru pohon dan satu di antaranya yang sangat terkenal adalah kanguru pohon mantel emas atau memiliki nama latin Dendrolagus Pulcherrimus.

Kanguru ini merupakan mamalia yang memiliki kantung di perutnya. Hewan langka ini memakan buah dan biji-bijian. Dijuluki mantel emas karena bagian pipi, leher, dan kakinya dihiasi warna kuning keemasan.

Pemerintah Provinsi Papua juga memperkenalkan Drawa atau Burung Cenderawasih dalam peluncuran maskot PON XX di Jayapura. Cenderawasih dalam bahasa ilmiahnya Paradisaea Raggiana merupakan jenis burung kisau berukuran sedang dengan panjang sekitar 34 cm. Drawa adalah burung yang memiliki hiasan didominasi warna merah, jingga, serta campuran antara merah dan jingga pada bagian perutnya. Sementara bulu bagian dada berwarna cokelat tua. Lalu pada ekornya terdapat dua buah tali yang panjang berwarna hitam.   


Kangpho dan Drawa sebagai Maskot PON XX di Papua


Kangpho dan Drawa mengenakan ikat kepala khas Papua yang berbentuk rumbai dan kerucut menyerupai gambaran pegunungan tengah Papua yang dikelilingi oleh gunung. Selain itu mereka juga mengenakan rumbai dari kulit kayu atau akar pohon untuk menutupi bagian pinggang ke bawah yang juga dilengkapi dengan hiasan ukiran khas Papua pada pinggangnya. Rumbai pada pinggang Kangpho dan Drawa tersebut biasa digunakan oleh perempuan dan laki-laki yang melambangkan sambutan hangat dan penuh keakraban di tanah Papua.

Terpilihnya dua fauna langka khas Papua ini sebagai maskot PON XX tentu membawa pesan untuk terus menjaga kelestariannya agar tidak punah.

Sebagai salah satu upaya untuk menyambut PON XX Papua, panitia juga mengadakan tujuh program seru bernama PONDEMI. Program yang diambil dari kata PON dan Pandemi ini mengajak seluruh masyarakat Indonesia khususnya generasi muda untuk membangkitkan semangat, pulih bersama dari pandemi COVID-19, dan tetap antusias memeriahkan PON XX Papua 2021 dari rumah. Dengan tagline Bergerak Bersama, panitia menggelar tujuh program dari PONDEMI ini, antara lain:

1. Kompetisi Blogger (kompetisi menulis artikel blog dengan tema “Mentari  Harapan Baru dari Timur”);

2. Virtual Run (kompetisi berlari virtual);

3. Virtual Ride (kompetisi bersepeda virtual);

4. Kelas Inspirasi (webinar seru tentang industri kreatif yang bekerja sama dengan KEMENKOMINFO);

5. Kolaborasi Anak Negeri (kolaborasi menarik dari produk brand Papua dengan brand Nasional);

6. PONDEMI Stand Up Comedy (kompetisi stand up seru tentang PON XX); dan

7.  Torang Show (talkshow virtual dengan perwakilan atlet dari 34 Provinsi yang akan bertanding di PON XX Papua 2021).

Wah seru semuanya ya! Untuk mengetahui informasi lebih lanjut tentang program ini, dapat mengunjungi website PONDEMI

Semangat dan harapan harus tetap bersinar walaupun masih berada pada masa pandemi. Semoga pandemi segera berakhir dan akan kian banyak prestasi  yang dapat diukir.




PON XX Papua tinggal menghitung hari. Pelaksanaan PON XX di Papua ini tentu menjadi pondasi penting untuk kemajuan Indonesia. Dalam bidang olahraga, diharapkan Papua makin gemilang dalam mencetak atlet-atlet berprestasi baik di kancah nasional maupun internasional. Kesuksesan PON XX di Papua ini membawa harapan besar untuk membuat cahaya mentari harapan baru dari timur semakin cerah.  

 

Referensi:

-   PONDEMI: https://pondemi.ponxx2020papua.com/

Website Resmi PON XX Papua: https://www.ponxx2020papua.com

 

Keterangan: Tulisan ini dibuat sebagai partisipasi dalam PONDEMI Kompetisi Blogger “Mentari Harapan Baru dari Timur”.

 

 


AKHIR YANG MENEGANGKAN DI JOGJA


Setelah perjalanan pertama naik pesawat yang tak terlupakan, saya dan rombongan menikmati petualangan di kota yang terkenal dengan gudeg-nya itu. Tentu tujuan pertama kami setelah mendarat di Jogja adalah rumah Bu Tutik. Rumah beliau bernuansa Jawa dengan banyak ornamen dari kayu dan halaman rumah yang sangat luas. Ternyata Bu Tutik tinggal dengan ibunya juga yang sudah sangat sepuh.

PERTAMA KALI NAIK PESAWAT


Jarak ribuan mil mustahil ditempuh jika tidak pernah menjejakkan langkah pertama. Begitulah hakikat sebuah perjalanan, ada langkah awal yang akhirnya diikuti langkah-langkah selanjutnya.

STASIUN GONDANGDIA

 


Sejak pindah ke Depok tahun 2016, saya resmi menjadi anggota ROKER (Rombongan Kereta). Tiap pagi saya naik KRL dari Stasiun Pondok Cina (Pocin), Depok dan turun di Stasiun Gondangdia. Stasiun Gondangdia lokasinya tidak jauh dari kantor. Saat sudah pindah ke Bogor ini, saya naik dari Stasiun Bogor dan tetap turun di Stasiun Gondangdia. 

Oh iya, ada hal yang menarik yang dari 2016 lalu tidak berubah sampai sekarang. Pemandangan yang selalu membuat saya trenyuh dan takjub, tapi melahirkan syukur dan semangat ketika akan keluar dari Stasiun Gondangdia.

Apakah gerangan?
Mereka adalah para pejuang keluarga. Seorang bapak penjual koran yang tuna netra dan seorang bapak penjual pisang yang kakinya cacat yang berjualan dekat gerbang pintu keluar bagian utara di stasiun Gondangdia. Saya sering bertransaksi dengan kedua bapak ini. Saya kagum dengan bapak penjual koran. Beliau selalu tepat memberikan nama koran yang saya beli padahal ada setumpuk koran beda nama yang dia bawa. Saya juga salut dengan bapak penjual pisang. Meski hanya bertopang pada satu kaki dan kadang di bantu kruk dari kayu, tapi beliau selalu bersemangat menawarkan barang dagangannya. Saya banyak belajar dari mereka yang mungkin secara lahiriah dipandang tak sempurna secara fisik tapi selalu semangat dalam menyempurnakan ikhtiar mencari rezeki. Terima kasih, para inspirator... Kalau sahabat -yang fisiknya lebih sempurna-, lalu merasa malas bekerja atau ada yang ogah-ogahan mencari nafkah, mungkin bisa datang ke Stasiun Gondangdia. Mengambil inspirasi sebanyak-banyaknya dari mereka. 
.

IMPIAN KE-71

 


Sejak kuliah S1 tahun 2005 lalu, saya mempunyai sebuah catatan-catatan impian yang kemudian saya salin ke dalam sebuah buku (dream book). Kemudian pada tahun 2009, saat mengikuti seminar enterpreneur dengan mentor Bapak Heppy Trenggono di UNDIP Semarang, kami ditantang membuat Dream Board. Impian-impian yang dituliskan harus divisualisasikan dalam bentuk gambar kemudian ditempel di selembar kertas besar.

Seminar itu sangat berpengaruh dalam kehidupan saya. Impian-impian yang saya tuliskan membuat hidup saya lebih bersemangat. Mereka sangat memotivasi saya.

Salah satu impian yang saya tulis adalah "Foto di Jembatan Ampera Palembang". Impian itu tertulis dalam daftar ke-71. Saya menuliskannya pada tahun 2009. Alhamdulillah, Allah mewujudkannya dengan cara tak terduga. 

Tanggal 20 November 2011 saya dan saudari kembar saya diundang mengisi seminar nasional kemuslimahan di Universitas Andalas, Padang. Pada saat bersamaan saya launching buku "The Secret of Shalihah". Dan waktu itu ada pesanan distributor Palembang sebanyak 40 buku. Dengan sedikit nekat, saya dan saudari kembar saya menuju Palembang dengan naik bus dari Padang padahal jaraknya sangat jauh. 

Alhamdulillah, impian ke-71 saya akhirnya terwujud. Saya bisa menjejakkan kaki di Bumi Sriwijaya, foto di Jembatan Ampera sambil menikmati sungai Musi kala senja. Bahkan sejak itu, saya jadi sering ke Palembang karena menikah dengan pemuda dari Lahat, Sumsel. Bonus dari Allah 😍. 

Nah, apa impian Sahabat yang terwujud dengan indah bahkan Allah kasih bonus lebih? Gantian cerita yok! 

DUA SEJOLI


 "Dinda, bagaimana jika penulis dan buku bertemu?" kata suamiku tiba-tiba. 

"Mereka akan jadi pasangan serasi, Kanda. Sejatinya mereka adalah dua sejoli yang tidak dapat dipisahkan. Penulis yang rajin baca buku, akan jadi kaya. Kaya diksi, kaya ilmu, kaya inspirasi." jawabku yang tengah membaca buku. 

KETIKA SAHABAT DEKAT AKAN MENIKAH

Saya punya sahabat dekat, baik di kantor,  di rumah, di komunitas, dan di manapun saya berada *heuheu...  Bahkan, dengan beberapa sahabat itu, saya membuat sebuah geng atau kelompok. Ada Bangbayang (untuk sahabat dekat satu kos-kosan waktu S2 di Bandung), ada Trio Syantik (karena anggotanya terdiri dari Sarnita, Sulistyorini, dan Etika.. hehe, agak maksa dikit!), ada Muslimah Preneur, dll. Nah, tahun ini salah satu sahabat dekat saya di kantor akan menikah. 


LANGKAH DUA PASANG SEPATU KITA


Alhamdulillah, sudah 2019. Setelah tahun 2018 kami punya tema "From MOVE ON to MOVE UP", tahun ini tema kami "HIJRAH UNTUK MENANG". Makna terdalamnya, kami ingin hijrah menjadi lebih baik untuk mendapatkan kemenangan berupa cinta dan ridha dari Allah. Sebenarnya maknanya sangat luas dan panjang untuk dijabarkan. 

JEJAK PASSION DI 2018


Tulisan pertama di 2019 ini saya akan sedikit review perjalanan 2018 berdasarkan passion saya. •
Dalam menulis, alhamdulillah terbit 1 buku antologi bersama komunitas Twin Universe, dua naskah proyek untuk dua komunitas, dan lolos dalam sayembara nulis bareng Boim Lebon (penulis favorit saya sejak kecil). Semoga semuanya segera terbit di 2019. Tahun 2018 mulai merasakan 'gajian' dari ngeblog. Beberapa kali berhasil ikut lomba menulis dan pada akhir tahun, terbit 1 buku untuk kantor. 😍

JEJAK PERJALANAN DI 2018 DAN IMPIAN JALAN-JALAN DI 2019



Tak terasa tahun 2018 akan berakhir dan insya Allah tahun 2019 akan menyambut kita. Pasti semua berharap bahwa di tahun 2019 akan jauh lebih baik daripada tahun ini. Alhamdulillah, bagi saya ada yang istimewa di tahun 2018 ini. Mulai Januari 2018 kemarin saya pindah ke unit kerja yang sesuai dengan bidang studi S2 saya yakni yang berkaitan dengan logistik, sebelumnya saya di unit yang menangani perdagangan luar negeri.

TEMPAT-TEMPAT LIBURAN SERU DI MUI NE VIETNAM




Vietnam punya banyak sekali tempat liburan seru yang layak untuk dijelajahi. Mau datang ke sini sendirian saja? Boleh saja kok, Vietnam sudah terkenal aman dan ramah dengan turis, meski begitu Sahabat harus tetap waspada ya! Tapi nggak lengkap liburan ke Vietnam kalau nggak mampir ke Mui Ne. Kota yang terletak di tepi pantai ini punya  banyak tujuan wisata yang sayang kalau dilewatkan. Salah satunya berupa fenomena alam yang hanya bisa Sahabat temui di sini.

MERAYAKAN ULTAH PERNIKAHAN DI HOTEL SOFYAN



Alhamdulillah, 20 Maret 2018 yang lalu adalah ulang tahun pernikahan saya dan suami yang keenam. Masih teringat enam tahun lalu, kami melangsungkan akad nikah di Masjid Taqwa, masjid terbesar di kota kelahiran saya, Wonogiri Jawa Tengah. Dalam enam tahun pernikahan ini alhamdulillah, Allah memberikan banyak hal indah yang mewarnai rumah tangga kami.

CATATAN AISYA [9] : BEHIND THE SCENE "EKSPEDISI AISYA : WARNA 3 RANAH (PART 3)"


Jumat, 9 April 2011. Pagi ini aku keluar kost pukul 05.30. Kalau dalam bahasa Jepang, namanya : “MRUPUT”. Hehe... Insya Allah, hari ini adalah hari pertama masuk kampus “LBQ Al-Utsmani” untuk belajar tahsin di level baru. Lokasi kampusnya di daerah Condet. Aku masuk jam 06.00 pagi. Alhamdulillah, sampai sana masih jam 06.00 kurang dikit. Aku langsung menuju lantai dua untuk melihat pengumuman. Penasaran, siapa ustadzah yang mengajarku di semester ini. Setelah aku baca pengumuman, senyumku mengembang, syukurku tak berbilang. Alhamdulillah, Allah masih ‘menjodohkan’ aku dengan Ustadzah Win. Dua semester terakhir aku belajar dengan beliau. Beliau adalah ‘extraordinary ustadzah’, tegas dan disiplin serta cukup inovatif dalam memberikan materi. Terima kasih ya Allah...


Pada semester ini, kelasku berjumlah 12 orang akhwat. Ada beberapa orang yang baru aku kenal. Alhamdulillah, tambah saudara lagi. Kami belajar dari pukul 06.00 sampai pukul 08.00. Biasanya aku minta izin pukul 07.30 setelah talaqi, tapi kali ini aku tidak izin karena setahuku pimpinan hari ini ada tugas dinas ke luar kota. Hehe, jadi berangkat siang! Subhanallah, pada semester kali ini ternyata jauuuuh lebih menantang dari semester sebelumnya. Pekan depan kami harus setoran 6 hadist! Glek, bismillah... semoga dimudahkan!

Pukul 08.00 aku berangkat ke kantor. Alhamdulillah, di Kopaja 502 aku dapat tempat duduk sehingga bisa membaca buku, meskipun di luar sana macet tengah melanda. Kali ini aku membaca “Agar Bidadari Cemburu Padamu”-nya Ustadz Salim A. Fillah. Aku membaca ini untuk kedua kalinya. Niatanku sih untuk merefresh kembali dan sebagai bahan bakar semangat perbaikan diri.

Pukul 09.00 aku baru sampai kantor. Siang banget ya! Tapi ternyata banyak juga yang baru datang. Maklum, macet! Hehe... Sampai di lantai 9, eh.. ternyata pimpinanku ada. Beliau tidak jadi berangkat ke Bali. Alhamdulillah, aman! Malah beliau mengizinkan aku dan seorang temanku untuk mengurus sesuatu di UI Depok (kisah ini akan aku ceritakan lain kali). Pukul 10.00, aku dan seorang temanku sebut saja namanya Lina, sudah berada di stasiun Gondangdia. Kami naik kereta Ekonomi AC jurusan Bogor. Langsung saja ya, setelah dari UI Depok, kami ke Kementerian Komunikasi dan Informasi untuk menyerahkan sebuah berkas. Awalnya mau fotocopy dulu, tapi ternyata di Kominfo tidak ada akses fotocopy terdekat. Akhirnya kami berjalan menuju Kementerian Perhubungan. Alhamdulillah ada, meski kami harus berjalan memutar. Pukul 13.30, kami kembali ke Kementerian Perdagangan. Pegel juga kakinya. Kalau ditotal mungkin hari ini kami berjalan kali lebih dari 5 kilometer. Alhamdulillah, Allah masih memberikan nikmat sehat.

Sore harinya, pukul 17:15 aku berhasil mendapat izin untuk pulang kantor. Hmm, belum packing soalnya. Insya Allah besok mau berpetualang lagi dalam “Ekspedisi Aisya : Warna 3 Ranah (Part 3)”. Tiga ranah? Mana saja tuh? Pastinya Solo dan Wonogiri. Hmm, satunya lagi masih dirahasiakan. Insya Allah besok pagi juga akan tahu. Sesampainya di kost langsung sholat Maghrib. Masih ada jeda waktu sebelum Isya, akhirnya dimanfaatkan untuk makan malam. Setelah itu menyiapkan barang-barang yang akan dibawa esok harinya. Habis Isya’, aku memutuskan untuk tidur. Badan rasanya capek sekali karena ekspedisi seharian tadi. Setelah membaca doa sebelum tidur, aku menambahkan sebuah doa yang kalau tidak salah, redaksinya seperti ini. “Ya Allah, jika Engkau berkenan... Bangunkan aku dua jam dari sekarang. Aku ingin menyiapkan keperluan untuk besok dan setelah itu aku tidak ingin tidur lagi.”

Subhanallah, aku terbangun pukul 21.30 tanpa alarm! Padahal ketiga alarmku (dua HP dan satu jam weker) sudah aku setting. Tapi mereka bertiga berdering saat aku sudah bangun. Alhamdulillah... Terima kasih Ya Allah...Setelah itu, dapat telepon dari Ibuk juga yang mengabarkan kalau ada penampilan Briptu Norman di BUKAN EMPAT MATA. Hehe, ibukku juga mendadak jadi penggemarnya Briptu Norman. Chaiyaa.. Chaiyaa... Ehem! Teman-teman kost ternyata juga sudah berada di depan TV. Hehe, akhirnya kami berempat nonton aksi Briptu Norman. Sangat menghibur!

Seorang teman kostku saat itu juga tengah menanti kabar kakaknya yang akan melahirkan anaknya yang kedua. Saat kami nonton TV bareng itu, kakaknya baru pembukaan keenam. Jadi kami nonton TV sambil harap-harap cemas. Nah, setelah acara selesai, kami masuk kamar masing-masing. Selang berapa lama, temanku heboh. Ternyata kakaknya sudah melahirkan. Alhamdulillah, kami bisa mendengar suara tangis bayi yang baru lahir lewat telepon. Subhanallah.. lucunya... Semoga menjadi anak yang sholihah ya, Nak!

Sabtu, 9 April 2011. Pukul 00.00, saatnya menegakkan sholat malam. Luruh... Pukul 02.00 berencana tilawah dan rencananya lanjut membaca buku. Al-Qur’an sudah dibuka. Kantuk menyerang. Sempat berdoa, “Ya Allah aku tidak ingin ketiduran, tapi kalau ketiduran, semoga Engkau berkenan membangunkanku sebelum jam 03.00 pagi.” Benar saja, aku ketiduran sambil duduk bahkan sempat bermimpi. Tiba-tiba terbangun pukul 02.45. Masya Allah! Al-Qur’an-ku sudah berpindah posisi, tidak lagi di pangkuan. Tapi, subhanallah walhamdulillah.. Allah mengabulkan doaku. Aku bangun sebelum jam 03.00. Setelah beberapa saat membuka mata, ada telepon masuk. Ternyata dari TAXIKU. Sang operator berujar kalau taksi pesananku bernomor 628. Tapi berhubung aku masih belum 100 % sadar, aku pun lupa dengan nomor yang diberi tahu tadi. Hehe!

Setelah itu, aku bersiap. Hmm, kalau kayak gini aku teringat waktu mau ke Surabaya setahun yang lalu. Aku janjian dengan temanku yang juga memesan TAXIKU. Kami akan terbang pukul 06.00. Taksi akan menjemput dia pukul 03.00. Kemudian akan menjemput aku pukul 03.15. Aku ketiduran juga waktu itu. Bagaimana kisahku selanjutnya kala itu? Insya Allah ada tulisan sendiri untuk mengenang kisah tersebut. Lanjut ke ceritaku tadi. Pukul 03.00, aku turun ke lantai 1 kos untuk makan roti sambil duduk-duduk di kamar Nuri, sahabatku. Subhanallah, ternyata sahabatku itu mau mengantarku sampai ke tempat taksiku mangkal. Tak terduga! Aku mencoba menelepon nomor TAXIKU yang menghubungi tadi, tapi tidak tersambung. Akhirnya aku dan Nuri keluar kost pukul 03.25 menuju Jalan Kebon Nanas Selatan 1.

Setelah sampai di situ, ternyata tidak ada tanda-tanda ada taksi. Wealah... akhirnya, aku telepon ke TAXIKU Centre. Kata operatornya, taksi pesananku sudah menunggu di depan Alfamart di Jalan Otista II. Aku pun berpisah dengan Nuri setelah menemukan taksi tersebut. Ternyata bapak sopirnya sudah menunggu di situ sejak jam 03.00 tadi meski aku pesannya jam 03.30. Terima kasih ya, Pak!

Taksi melaju kencang waktu di jalan tol. Aku lirik speedometernya, 120 km/jam euy!!! Akhirnya kami sampai di bandara Soekarno-Hatta pukul 04.00. Kepagian, Neng! Biasanya kalau naik taksi dari kost ke bandara memakan waktu satu jam, lhah ini malah cuma setengah jam. Tak apalah, lebih baik menunggu lama di bandara daripada tergesa-gesa. Sampai di bandara, langsung check in. Setelah check in dan bayar boarding tax di tempat yang sama, aku masuk ke ruang tunggu. Ealah, baru ada aku dan seorang ibu yang ternyata juga dari Wonogiri. Petugas belum ada yang datang.Sepi sekal! ^^v

“Ibu pulang ke Wonogiri dalam rangka apa?” tanyaku pada seorang ibu yang duduk di samping kananku itu.

Beliau menjawab kalau ada saudaranya yang meninggal secara mendadak. Innalillahi wa inna ilaihi roji’un... Awalnya aku mendengar kalau ada saudaranya yang “menikah”, bukan “meninggal”. Maklum, masih ngantuk! Akhirnya kami terlibat dalam obrolan seru.

“Sudah berkeluarga?” Ibu itu balik tanya.

Hadeeeeh, pertanyaan sentitip (pake “p”, buat penekanan!) Aku jawab, “Belum Bu... Kan saya masih imut,” guyonanku. Ibu itu pun terkekeh. Hehe...

Saat si ibu asyik telepon, aku pun mengeluarkan headset dan mendengarkan Q.S. Ar-Rahman dari ponselku.

Subuh menjelang, aku dan ibu itu turun ke lantai dasar untuk mengambil wudhu. Adzan belum berkumandang, aku tilawah dulu di mushola. Menamatkan Q.S. Ar-Ra’du dan mulai mengawali Q.S. Ibrahim. Paling suka waktu membaca Q.S. Ibrahim ayat 7. BERSYUKUR! BERSYUKUR!BERSYUKUR!!!

Tilawahku berhenti saat ada seorang bapak yang masuk. Aku perhatikan bapak itu, beliau melepas baju luarnya yang ternyata adalah ‘baju dinas’nya. Beliau mendobel bajunya. Beliau adalah seorang cleaning service di lantai 1 bandara ini. Setelah itu, beliau ambil wudhu kemudian menjadi imam dalam sholat subuh kali ini. Salut deh sama beliau. Beliau tetap sholat tepat waktu!

Setelah sholat, aku kembali ke ruang tunggu. Sekarang petugasnya sudah datang. Aku ke bagian boarding check untuk mendapatkan sticker tanda tempat duduk. Sticker bulat berwarna merah ia tempelkan di boarding pass-ku yang berarti aku duduk di sebelah depan. Pukul 05.30, kami masuk pesawat. Aku duduk di kursi 9 F, dekat dengan jendela. Sebelah kiriku kosong. Duh, senangnya! Sempat ngeh waktu melihat seorang artis yang wajahnya akhir-akhir ini menghias layar kaca setelah menikahi seorang peragawati asal Solo. Saiful Jamil. Dia duduk di belakangku sebelah kiri.

Pesawat lepas landas jam 06.00. Alhamdulillah... Saat-saat mau take off itulah menjadi saat yang sangat menegangkan. Doa menderas... Baru merasa plong saat pesawat sudah mengudara. Subhanallah, betapa Maha Kuasanya Allah yang menghamparkan permadani putih di langit. Awan yang kulihat pada penerbangan kali ini jauh lebih keren dibanding sebelumnya. Putih, bersih, indah nian! Di ketinggian 26.000 kaki itu, aku pun menikmatinya sambil membaca buku “Agar Bidadari Cemburu Padamu”-nya Salim A. Fillah. So inspiring!!!

Alhamdulillah, akhirnya pada pukul 07.05 kami mendarat di bandara Adi Sumarmo Solo. Welcome to Solo... Dan Ekspedisi Aisya dalam Warna 3 Ranah (Part 3) pun dimulai.... Bismillahirrahmanirrahim...

Wonogiri, 9 April 2011_17:26

Aisya Avicenna

writer@www.aisyaavicenna.com


Tulisan ini diposting pada bulan April 2011 di blog sebelumnya.

Warna 3 Ranah (Part 1)

Bedah Novel PENANGSANG bersama Kang Nass

SEMARANG : Selasa, 1 Maret 2011.

Hari pertama di bulan Maret. Pukul 14.00 akhirnya mendarat juga di Bandara Ahmad Yani, Semarang. Oh ya, tadi berangkat dari kos jam 09.30 dijemput Sulis dengan Blue Bird. Lanjut ke stasiun Gambir untuk naik bus Damri. Sekitar beberapa menit, penumpang penuh. Bus Damri pun melaju menuju bandara Soekarno Hatta. Perjalanan menuju bandara memakan waktu sekitar 1 jam. Dalam perjalanan, alhamdulillah Aisya sempat menamatkan dua buah buku motivasi karya Asma Nadia dan Isa Alamsyah, suaminya.

Setelah tiba di bandara, Aisya dan Sulis bertemu Mas Mycko, Bu Heni, dan Bu Ana. Mereka segera melakukan check in dan boarding. Sempat beli roti juga. Pada ekspedisi kali ini, Aisya naik burung besi bertitel Garuda Indonesia. Untuk pertama kalinya. Sekedar berkisah, dalam buku impiannya nomor 47, Aisya menuliskan impiannya : “naik pesawat”. Norak? Ahh, nggak juga! Alhamdulillah, impian itu sudah terwujud setahun yang lalu. Bahkan Aisya sudah pernah naik pesawat sebanyak 6 kali (dengan trayek Jakarta-Jogja, Jogja-Jakarta, Jakarta-Solo, Jakarta-Surabaya, Jakarta-Semarang, dan terakhir Solo-Jakarta) dengan armada penerbangan yang berbeda-beda pula. Sekali lagi Aisya yakin, bahwa kita harus memiliki impian karena impian itu melahirkan kebahagiaan jika menjadi kenyataan. Kalau toh belum segera menjadi kenyataan, impian bisa menjadi daya dorong yang membuat kita bersemangat untuk mewujudkan impian itu.

Aisya dan rombongannya yang terdiri dari 5 orang dijemput dari KSO Semarang. Kami menuju Gumaya Tower Hotel. Ah, Semarang. Kota ini adalah kota bersejarah bagi Aisya. Saat masih SD kelas 5, untuk pertama kalinya ia ke Semarang. Aisya bersama ibu dan gurunya menemani Keisya (saudari kembarnya) untuk mengikuti lomba sinopsis. Lantas, saat kuliah Aisya juga mencari bahan skripsinya di Universitas Diponegoro. Selan itu, Aisya juga beberapa kali mengikuti event semacam workshop entrepreneur di Semarang. Pernah juga, saat mengikuti training dengan Pak Heppy Trenggono, Aisya berhasil membuat Dream Board 5 tahun ke depan yang sampai sekarang masih tertempel di dinding kamarnya. Aisya pernah mengisi training mahasiswa berprestasi bersama saudari kembarnya di MIPA UNDIP. Ahh, sebenarnya masih banyak lagi kalau dituliskan. Pokoknya, kota Semarang adalah salah satu kota bersejarah dalam hidup Aisya.

Setelah sampai di hotel, Aisya segera sholat Zhuhur bersama Sulis. Habis itu perjalanan dilanjutkan. Setelah makan siang di restoran unik di Semarang, namanya Mbah Jingkrak dengan menu yang namanya juga unik, Aisya dan rombongan menuju kantor Dinas Perindustrian dan Perdagangan Kota Semarang. Wah, ternyata sudah hampir tutup dan sebagian sudah pada pulang. Tapi untungnya Aisya dan rombongan masih sempat melihat-lihat batik dan beberapa kerajinan tangan kualitas ekspor yang berasal dari beberapa kabupaten di Provinsi Jawa Tengah. Setelah kunjungan itu, rombongan kembali ke hotel untuk istirahat dan bersih-bersih diri.

Sehabis Isya, Aisya dan rombongan menuju restoran di daerah Gombel. Wow, subhanallah.. Luar biasa! Dari restoran itu, lampu-lampu kota Semarang berkerlap-kerlip indah. Jalan raya depan restoran itu, sering sekali dilewati Aisya bersama Tyo (sahabatnya UNDIP) kala mereka berpetualang di kota ini.

Setelah makan malam, kami kembali ke hotel untuk melakukan persiapan akhir acara besok. Aisya dan panitia lainnya (kebetulan Aisya adalah panitia termuda), mempersiapkan materi di ruang acara. Wow, ruangannya begitu besar dengan kapasitas 200 orang. Pukul 23.00, aktivitas selesai. Mereka kembali ke kamar masing-masing untuk beristirahat.


SEMARANG : Rabu, 2 Maret 2011 

Pukul 07.30 Aisya dan Sulis sudah siap di restoran hotel untuk sarapan. Aisya memilih bubur ayam dan teh manis hangat untuk mengawali sarapannya. Berlanjut makan waffle kismis dan beberapa potong buah. Kenyang sudah! Setelah itu, Aisya menuju ruang acara. Aisya mendapat tugas sebagai penerima tamu. Pukul 08.00 beberapa tamu undangan sudah berdatangan. Tiba-tiba Aisya mendapat telepon dari atasannya. Ia diminta membantu atasannya tersebut. Akhirnya, Aisya ditemani Sulis menemui sang pimpinan. Sementara itu, tugas menerima tamu dihibahkan kepada Bu Heni dan Bu Ana.

Pukul 09.30, Aisya sudah menyelesaikan tugas dari sang pimpinan. Ia dan Sulis kembali bergabung dengan panitia. Acara sudah dimulai. Wow, pesertanya membludak. Penuh. Malahan rekan-rekan wartawan sampai duduk di bawah. Puas juga sih rasanya karena bisa dibilang acara yang bertema “Peningkatan Daya Saing Industri dan Pengamanan Perdagangan Dalam Negeri melalui Tertib Administrasi Importir" berjalan lancar dan sukses. Aisya mengingat-ingat beberapa hari sebelum hari H, ia disibukkan dengan konfirmasi dari peserta. Maklum, ia dan Sulis ditunjuk sebagai penanggung jawab peserta. Email dan nomor HP-nya yang dijadikan kontak penghubung antara peserta dan panitia. Alhasil, hampir tiap hari Aisya harus cek email dan harus menerima telepon dari Semarang. Lucunya, karena email Aisya bernama akhwat_visioner@yahoo.com, sempat ada dua peserta yang membalas email dengan sebutan “Bp. Akhwat”. Gubrakz!!!

Alhamdulillah, acara selesai pukul 12.30. Semua berjalan lancar. Setelah sholat di mushola hotel yang terletak di lantai 6, Aisya turun ke lobi karena ada seorang sahabat yang telah menanti. Sahabat itu datang bersama temannya. Ia satu almamater dengan Aisya waktu kuliah di UNS dulu. Kini ia bekerja di Semarang. Mengetahui Aisya ada di Semarang, ia bermaksud silaturahim.

“Wah, ternyata belum berubah!”. Begitu komentarnya waktu bertemu Aisya. Hmm, ya begitulah Aisya. Masih seperti yang dulu. Insya Allah, mencoba untuk istiqomah di tengah tantangan yang kerap mendera. Mereka bertiga diskusi dan berbagi pengalaman pasca kampus, membahas pengalaman kerja masing-masing, eh... tapi ujung-ujungnya membahas tentang pernikahan!

“Mau cari di Solo atau Jakarta?” Aisya cuma tersenyum saat ditanya seperti itu. Hmm, pilihan Allah adalah yang terbaik! Tapi Aisya memang sudah punya kriteria bagaimana pendampingnya kelak. Ahh, semoga Allah ridho! Hampir jam 14.00. Mereka kembali ke kantor, sedangkan Aisya naik lagi ke lantai 2 untuk makan siang. Setelah itu check out dari hotel.

Pukul 15.30, Aisya dan rombongan yang akan ke Jogja, naik dalam 1 mobil. Hujan deras mengguyur Semarang. Aisya diantar sampai tempat pemberhentian bus yang menuju Solo. Alhamdulillah, waktu itu hujan sudah reda. Akhirnya, Aisya naik bus patas AC menuju Solo. Busnya lumayan kosong sehingga Aisya duduk sendiri. Ahh, sendiri kadang tidak asyik. Kalau ada teman ngobrolnya, pasti enak! ^^v. Akhirnya Aisya menyetel nasyid dan murottal untuk mengusir kesendiriannya.

SOLO : Rabu, 2 Maret 2011Menjelang Maghrib, ia SMS Keisya (saudari kembarnya). Mereka janjian naik bus yang sama dari Solo. Aisya sampai Solo menjelang Isya. Setelah sampai di terminal Tirtonadi, Aisya berganti bus jurusan Wonogiri. Di depan Rumah Sakit Moewardi, naiklah Keisya di bus yang ditumpangi Aisya. Akhirnya, mereka duduk berdekatan dan berbagi cerita sampai di rumah.

WONOGIRI : Rabu, 2 Maret 2011Sampai di rumah sekitar pukul 21.00, langsung disambut Babe, Ibuk, dan Kang Dodoy. Rasa kangen pada keluarga terhapus sudah. Rasa lapar pun sirna setelah terhidang sate kambing di depan Aisya. Sambil makan bersama Keisya, malam itu mereka merencanakan acara keesokan harinya, yakni silaturahim ke rumah kakek di Giriwoyo, Wonogiri.

WONOGIRI : Kamis, 3 Maret 2011
Pagi yang indah, sejuk menawan hati. Aisya dan keluarga hari itu akan ke rumah kakek dengan mengendarai bus. Mereka naik bus “Aneka Jaya”. Meski duduk terpisah-pisah, tapi mereka berlima tetap bisa saling bercanda. Maklum saja, ayah Aisya (yang sering dipanggil “BABE”) adalah sosok yang humoris. Sampai di terminal Baturetno, mereka sempat singgah sebentar di sebuah toko untuk membeli buah tangan dan mencari mobil yang bisa disewa. Setelah menuai kata sepakat dengan sang sopir, akhirnya mereka naik sebuah mobil Carry bercat putih menuju rumah kakek. Di dekat pasar Giriwoyo, mereka berhenti sejenak untuk sarapan di sebuah warung makan yang juga tempat favorit Babe dan Ibuknya Aisya.

Setelah makan, perjalanan pun berlanjut. Subhanallah, pemandangan yang tersaji begitu memesona. Sawah membentang bak permadani hijau. Gunung menjulang biru bagai pencakar langit. Akhirnya mereka sampai di rumah kakek pukul 09.00. Kakek dan Nenek menyambut dengan gembira. Aisya, Keisya, dan Kang Dodoy sempat bermain-main di sungai kecil yang ada di depan rumah kakek. Seru! Mereka juga sempat silaturahim ke rumah seorang saudara yang sedang sakit. Eh, ternyata beliau sedang check up ke rumah sakit. Jadinya tidak bertemu. Sebelum ke rumah beliau, Babe sempat memetik jambu merah dengan menggunakan bambu. Lucu!

Nah, saat sedang di rumah saudaranya itulah Keisya mendapat telepon dari seorang sahabatnya, yang juga sahabat Aisya. Sahabat itu mengabarkan bahwa akan menikah dua minggu lagi. Sebuah kejutan! Ehem, waktu Aisya berbicara dengan sahabatnya itu, Aisya diberondong pertanyaan yang sama persis seperti saat ia di Semarang kemarin, “Mau cari ikhwan Solo atau Jakarta?” Hadeh...

Jam 11.00, mereka makan siang bersama setelah itu siap-siap pulang ke rumah. Mengapa cuma sebentar? Karena Keisya harus ke Solo sebelum jam 14.00, ada jadwal mengajar. Akhirnya jam 12.30 sudah tiba di rumah. Keisya waktu itu terserang flu dan sepertinya menular ke Aisya.

Sekitar jam 14.00, Aisya dan Babe tercintanya ke pasar Wonogiri. Mereka mau ke counter kaca mata langganan yang terkenal bagus tapi murah. Setelah menemani Aisya sejenak, Babe meninggalkan Aisya untuk beli sayuran yang akan dijadikan makanan unggas-unggas kesayangannya. Setelah semua urusan beres, akhirnya mereka kembali ke rumah.

Malam harinya, Aisya bersama kakaknya tercinta (Kang Dodoy) makan steak di MOENGIL STEAK yang berlokasi di dekat RSUD Wonogiri. Wah, ternyata pesanan mereka sama yakni Mixed Steak Hotplate plus lemon tea hangat.

SOLO : Jumat, 4 Maret 2011
Pagi ini Aisya berangkat ke Solo jam 05.30. Awalnya mau berangkat lebih pagi lagi, tapi berhubung busnya tidak kunjung datang, akhirnya yang niatnya mau ikutan Kajian Jumat Pagi sepertinya pupus sudah, tapi semoga sudah terhitung pahala karena sudah diniatkan. Aamiin... Akhirnya jam 07.00 baru sampai Solo. Naik becaknya Pak Katno (becak langganan sejak kuliah), turun di belakang kampus. Aisya ketemu Keisya, tapi Aisya memutuskan untuk sholat Dhuha dulu di Masjid Nurul Huda Islamic Centre (NHIC), sedang Aisya lanjut ke Pesantren Mahasiswa (Pesma) Ar-Royan.


Saat hendak memasuki tempat wudhu akhwat di Masjid NHIC, Aisya bertemu dengan beberapa adik tingkat (akhwat) dan menyapa mereka. Beberapa dari mereka sempat terkecoh karena Aisya disangka Keisya. Seru juga karena berhasil mengecoh mereka. Nggak sengaja lho ya!

Setelah sholat Dhuha dan tilawah di masjid NHIC.. Aisya bernasyid, eh.. berkontemplasi... sambil mengingat-ingat masa lalunya di kampus ini...


sebuah kisah masa lalu hadir di benakku
saat kulihat surau itu
menyibak lembaran masa yang indah
bersama sahabatku

sepotong episode masa lalu aku
episode sejarah yang membuatku kini
merasakan bahagia dalam diin-Mu
merubah arahan langkah di hidupku

setiap sudut surau itu menyimpan kisah
kadang kurindu cerita yang
tak pernah hilang kenangan
bersama mencari cahaya-Mu



Setelah puas merenung di NH, Aisya berjalan kaki menuju Pesma Ar-Royan. Sebelum sampai lokasi, ia sempat mampir di warung untuk membeli permen "Tolak Angin". Hmm, Aisya terserang flu! Akhirnya sampai juga di Ar-Royan, langsung disambut Keisya di meja registrasi. Ia langsung registrasi dan masuk.

Acara agak terlambat mulainya karena menunggu Mas Gola dan Mbak Tias yang sedang dalam perjalanan. Sekitar pukul 10.00 aksi dua penulis dahsyat itu pun dimulai. Keisya yang merangkap jadi peserta pun segera membersamai Aisya dan segera mengoptimalkan segenap panca indera untuk berinspirasi dan menyerap ilmu sebanyak-banyaknya. BE A WRITER = BE CREATIVE!!! Seru banget deh…ada simulasi membuat nama pena (Keisya Avicenna and Aisya Avicenna, ni nama penanya SUPERTWIN. Filosofinya juga ada kok. Keisya dari kata “keyza” yang konon kata mbah Google artinya “bidadari yang cantik”. Aisya karena terinspirasi dari bunda Aisyah. Tyuz Avicenna karena mereka suka dengan tokoh Ibnu Sina). Ada pemutaran film RUMAH DUNIA juga…

Break sholat Jumat. Mas Gola pengin sholat Jumat di Masjid Agung Surakarta. Siiiip…akhirnya, berangkat deh ke sana. Masih nggak percaya lagi, bisa satu mobil bareng dua penulis favorit. AAenangnya!!! Di mobil ada mbak Janoer N Noer (yang tadi bikin nama pena “Nur Ash Sholihaat”…hihi…), ada Mas Aris El Durra yang ngikut juga, Mas Trims nggak mau ketinggalan, mas driver (Nung blm tahu namanya), ada my supertwin juga (Etika Aisya Avicenna), duduk di sebelah Mbak Tias Tatanka, dan Mas Gol A Gong duduk di depan. Dahsyat . Speechless euy….akhirnya bisa ngobrol seru juga dengan mas Gola dan mbak Tias. Keisya paling suka buku mereka yang “INI RUMAH KITA, SAYANG…”. Memoar yang sangat romantic tentang perjuangan dalam hidup.


Sampai di pelataran parkir Masjid Agung Surakarta, yang putra segera bergegas ke masjid, sedangkan yang putri (mbak Tias, mbak Noer, si kembar Keisya dan Aisya) menjelajah Pasar Klewer. Uhuy….seru euy. Tak lupa foto-foto! Jam 12.45, saatnya kembali ke parkiran. Mas Aris, Mas Trims, dan Mas Driver akhirnya datang…tapi Mas Gola nya mana??? Hehe…mampir-mampir dulu ternyata. Hm, foto-foto dah. Seru..seru…^^v.

Kembali ke Pesma Ar Royyan, makan siang bareng dulu kemudian mulai pelatihan lagi sampai jam 15.30. Sippp…Hujan menambah kesejukan nuansa sore itu. Alhamdulillah, event BE A WRITER berjalan dengan lancar. Berakhir foto-foto dan hunting tanda tangan. Terima kasih buat Mas Gol A Gong dan Mbak Tias Tatanka. Sukses selalu ya!!! Salam buat rekan-rekan di Serang, Banten dan juga RUMAH DUNIA!!! Semoga kelak bisa ke sana. Amin ya Rabb!

Hujan belum jua mereda. Tapi waktu terus berlalu tak mau menunggu. Akhirnya Aisya nebeng Ayu yang waktu itu juga mau pulang. Aisya diantar Ayu sampai Pendaringan. Wah, flunya semakin parah sepertinya.

WONOGIRI : Kamis, 4 Juni 2011Sampai di rumah, Aisya langsung tepar. Habis Isya langsung mendapat perawatan ekstra dari Ibuk dan Babe. Setelah itu Aisya tidur karena badannya panas.

SOLO : Sabtu, 5 Maret 2011
Alhamdulillah, kondisi tubuh sudah mendingan. Mungkin karena keinginan kuat untuk bertemu teman-teman, akhirnya penyakit itu mereda juga. Tak enak juga dengan teman-teman yang sudah diundang karena rencananya kami juga akan makan-makan (Aisya mendadak jadi korban perampokan, nraktir.com). Pukul 07.30 dengan tekad dan semangat kuat, Aisya naik bus ke Solo. Aisya janjian bertemu Keisya di terminal Tirtonadi. Sekitar jam 09.00 kurang Aisya sudah duduk manis di ruang tunggu terminal. Sempat membaca sebuah buku, sampai akhirnya Keisya datang.

Karena Keisya mengenakan jaket berwarna merah hati, Aisya lantas meminta tukar dengan jaket yang tengah dikenakannya. Sehingga, hari itu Aisya MERAH banget! Mulai dari jilbab, kemeja, jaket, hingga roknya merah hati semua. Keluar dari terminal Tirtonadi, Aisya dan Keisya naik becak menuju Taman Balekambang. Seru juga, mbecak! Sampai di pintu gerbang Balaikambang, mereka jajan batagor dan empek-empek dulu. Hihi.. Setelah itu masuk ke taman, bertemu Kurnia dan Rini yang juga mau beli jajanan. Sampai di tengah taman sudah ada Ria, Betty, dan Saras yang menanti.

Setelah Kurnia dan Rini kembali, mereka pun mencari kursi taman yang kosong. Ada kejadian “mengusir secara halus” dua insan yang tengah pacaran. Mereka makan siomay bersama, foto-foto, sampai akhirnya tiap orang harus bercerita kehidupan pasca kampus dan planning masa depan. Di tengah sharing itulah Afni dan Anti datang. Salah satu kesimpulan yang sama dalam pertemuan itu adalah mereka sama-sama ingin menikah tahun ini. Semoga Allah memudahkan dan mewujudkan impian mereka. Aaamiin...

Setelah puas menikmati suasana Balekambang, mereka bersembilan pun makan siang di Lombok Ijoe. Aisya yang mentraktir. Tak terasa sudah jam 12.45, perpisahan terjadi. Aisya diantar Ria ke Graha Wisata Niaga. Sedangkan Keisya bersama Anti.

Rencana awal, SUPERTWIN (Keisya dan Aisya) akan tampil bersama sebagai moderator membersamai Kang Nassirun Purwokartun, tapi berhubung Aisya suaranya ‘tergadaikan’ karena flu berat jadinya Keisya saja yang beraksi.

Wah, anak-anak FLP Pelangi sudah pada datang juga (ada Diah Cmut, Ayu’, mbak Santi. Mbak Umi, Mas Tyo, Mas Dwi, Mas Aris El Durra, Kang Pahmi, siapa lagi ea?). Inilah pertemuan perdana Aisya dengan Kang Pahmi. Gubrakz.. ternyata penulis yang satu ini... Hadeeh... Susah deh diungkapkan dengan kata-kata (saking bingung milih kata yang paling ancur).

Bicara tentang novel Penangsang, novel ini special karena memotret dari sisi lain. Biasanya dari sisi Hadiwijaya (Karebet), kali ini dari sisi Penangsangnya. Upaya yang sangat BERANI dan BARU!!! Salut deh buat Kang Nass, apalagi proyek penggarapan buku itu hanya memakan waktu 5 bulan. Wow!! Tapi tentunya sudah melalui research yang cukup panjang dan penuh perjuangan.

Acara selesai, pasukan dibubarkan! Begitulah suara MC (eh, nggak ding!). Acara selesai, sesi selanjutnya ada signing book dan foto-foto. Seru juga, Kang Nass mencoret-coret Diary MERAH Aisya dengan rentetan kata inspiratif “PENULIS YANG TIDAK MENULIS ADALAH PENIPU (PALING TIDAK MENIPU DIRINYA SENDIRI)”. Ada yang lucu, malah beberapa ‘penggemar’ Aisya dan Keisya mengajak foto bertiga juga. Hmm, dasar SUPERTWIN! Aisya sempat melihat sosok seorang munsyid yang cukup terkenal di kota Solo yang waktu itu tengah ‘umak-umik’ mendendangkan “Sebiru Hari Ini”-nya Edcoustic karena kebetulan nasyid itu yang tengah membahana di Solo IBF. Aisya juga bertemu dengan salah seorang sahabatnya yang jauh-jauh datang dari Semarang dengan membawa wingko babat.

Setelah puas foto-fotonya (btw, ni foto-foto apa bedah buku to acaranya??), Aisya dan Keisya keliling stand Solo Islamic Book Fair. Saat sedang menunggu Keisya yang tengah di toilet, secara kebetulan Aisya bertemu dengan Hanna, seorang sahabatnya waktu dulu mengikuti Short Course Islamic Banking di Solo. Ya, setelah dinyatakan lulus dan sambil menunggu wisuda, Aisya memanfaatkan ‘waktu tunggu’-nya dengan mengikuti kursus perbankan syariah. Aisya dan Keisya membeli 3 buah gamis dan beberapa buku, termasuk 2 buku baru sahabatnya yang berjudul “Amira, Cinta dari Tanah Surga” dan “Al-Qur’an Braille untuk Nadia").

Keluar dari stand buku, Aisya bertemu dengan Mbak Anis Zulaikha yang dulu satu kost dengannya. Beliau bersama sang suami. Setelah itu Aisya juga bertemu dengan Damar, adik tingkatnya di jurusan Matematikan. Sebuah pertemuan tak terduga lagi. Setelah ngobrol sebentar, Aisya dan Keisya memutuskan untuk pulang. Kala itu hujan cukup deras. Akhirnya mereka naik becak menuju tempat pemberhentian bus jurusan Wonogiri. Dalam perjalanan sempat beli srabi Solo. Saat turun dari becak, alhamdulillah hujan sudah cukup reda. Mereka juga langsung dapat bus. Di dalam bus itulah mereka menikmati Srabi Solo yang hangat dan luar biasa enaknya itu.

WONOGIRI : Sabtu, 5 Maret 2011
Menjelang Maghrib, Aisya dan Keisya tiba di rumah. Oleh-olehnya langsung disambut oleh Babe dan Ibuk. Kebetulan hari itu, sepupu mereka juga datang. Wah, rame...

WONOGIRI : Ahad, 6 Maret 2011
Keisya pagi buta ke Solo karena ada agenda. Aisya hari ini masak dengan Ibuk. Nama masakannya “Asem-Asem Sayap Ayam”. Masakan favorit Aisya. Ahh, waktu cepat sekali berlalu. Tak terasa, jam 14.00 siang Aisya harus meninggalkan Wonogiri. Perpisahan. So Sad! Aisya naik bus jurusan Solo. Turun di Kerten. Cari taksi tapi tidak segera ketemu. Akhirnya dapat juga taksi berwujud Avanza yang ternyata harganya cukup murah untuk ke Bandara Adi Sumarmo. Bapak sopirnya cukup komunikatif. Beliau bercerita tentang pengalamannya selama menjadi sopir taksi. Aisya juga sempat dicecar dengan beberapa pertanyaan. Mulai dari masalah keluarga, pendidikan, pekerjaan, dan satu pertanyaan sensitif, “Sudah berkeluarga atau belum?”. Malahan disusul pertanyaan, “Lha mau nyari orang Solo atau Jakarta, Mbak?” (Pertanyaan yang sama untuk ketiga kalinya dalam ekspedisi kali ini). “Cari orang Solo yang bekerja di Jakarta saja, Mbak!” (usulan pak sopir selanjutnya).

Pukul 16.30, Aisya check in di counter Garuda Indonesia, lanjut boarding dan menuju ruang tunggu. Di ruang tunggu itulah Aisya mulai membaca “Inilah Rumah Kita, Sayang” karya Mas Gol A Gong dan Mbak Tias Tatanka.

Pukul 18.00, semua penumpang dipersilakan masuk pesawat. Sekitar pukul 18.20, pesawat pun terbang. Aisya duduk di sisi sayap kanan, dekat jendela. Subhanallah, luar biasa. Pemandangan langit senja begitu indah. Ada semburat merah di langit barat. Pesawat semakin meninggi. Solo di waktu malam begitu indah, kerlap-kerlip lampu terhampar. Aisya melanjutkan membaca bukunya Mas Gol A Gong di dalam pesawat. Saat di tengah penerbangan, sempat was-was juga karena dinyatakan cuaca sedang buruk. Pesawat sempat goyang-goyang seperti bajaj yang berada di jalanan yang tak rata. Dzikir pun terlantun tak berjeda. Alhamdulillah, lega melanda saat diumumkan bahwa pesawat sebentar lagi mendarat di Bandara Soekarno-Hatta.

Pukul 19.15 akhirnya menginjak bumi Jakarta kembali. Keluar dari pesawat, naik bus bandara menuju pintu keluar. Awalnya berniat naik taksi biar cepat. Wealah, ternyata tarifnya Rp 200.000,-. Aisya memutuskan untuk naik bus DAMRI yang tarifnya Rp 20.000,-. Selama perjalanan menuju Gambir, Aisya berhasil merampungkan buku “Inilah Rumah Kita Sayang”. Keren banget buku itu! Berkisah tentang proses pernikahan dan kehidupan rumah tangga Mas Gol A Gong dan Mbak Tias Tatanka. Setelah sampai di Gambir, Aisya naik taksi menuju kos. Alhamdulillah, jam 21.00 sudah berada di REDZONE..

Puji syukur kehadirat Allah Swt karena petualangan kali ini begitu luar biasa...

Aisya Avicenna


Tulisan ini diposting pada bulan Maret 2011 di blog sebelumnya.