ASSALAMU’ALAIKUM WR. WB. SAHABAT, TERIMA KASIH SUDAH BERKUNJUNG DI BLOG SAYA INI. SEMOGA BERMANFAAT DAN MAMPU MEMBERIKAN INSPIRASI. BAGI SAYA, MENULIS ADALAH SALAH SATU CARA MENDOKUMENTASIKAN HIDUP HINGGA KELAK SAAT DIRI INI TIADA, TAK SEKADAR MENINGGALKAN NAMA. SELAMAT MEMBACA! SALAM HANGAT, ETIKA AISYA AVICENNA.
Tampilkan postingan dengan label Kepenulisan. Tampilkan semua postingan
Tampilkan postingan dengan label Kepenulisan. Tampilkan semua postingan

MEDIA BISNIS FORTUNE INDONESIA BERGABUNG DENGAN IDN MEDIA UNTUK MERANGKUL GEN Z DAN MILENIAL



Berdasarkan rilis publikasi Badan Pusat Statistika (BPS) pada 21 Januari 2021 tentang  hasil Sensus Penduduk 2020 menunjukkan bahwa pada per September 2020, jumlah penduduk Indonesia sebanyak 270,20 juta jiwa. Jumlah ini meningkat 32,56 juta jiwa dari periode 2010-2020 yang berjumlah 237,63 juta jiwa.


Sensus Penduduk 2020 tersebut juga mencatat bahwa penduduk Indonesia didominasi Generasi Z (Gen Z) dan Generasi Milenial. Gen Z adalah mereka yang lahir di periode 1997-2012 atau yang berusia 8-23 tahun. Proporsi Gen Z sebanyak 27,94 persen dari total populasi. Sementara itu, Generasi Milenial adalah mereka yang lahir pada periode 1981-1996 atau berusia 24-39 tahun. Jumlah penduduk dalam kategori Generasi Milenial sebanyak 25,87 persen dari total penduduk Indonesia.

Besarnya persentase dua generasi tersebut tentu menjadi indikator bahwa keduanya memegang peran penting dan akan memberikan pengaruh pada perkembangan Indonesia baik di masa kini maupun masa depan. Mereka akan menjadi motor penggerak dan agen perubahan yang akan memegang nasib bangsa ini.

Gen Z maupun Milenial memiliki sifat dan karakteristik yang sangat berbeda dengan generasi sebelumnya. Generasi ini dijuluki sebagai generasi yang minim batasan (boundary-less generation)Kedua generasi ini cenderung menyukai kebebasan dan memilih hal yang menantang.


Pada era digital seperti sekarang ini, di mana hujan informasi begitu derasnya, tantangan yang dihadapi Gen Z maupun Milenial juga semakin komplek. Ada beberapa tantangan yang mereka hadapi saat ini, baik dari internal maupun eksternal.

1.  Tantangan dari internal
Tantangan dari dalam diri Gen Z dan Milenial biasanya berkaitan dengan kondisi kejiwaan atau mental. Karakter mereka yang cenderung perfeksionis dan ingin menunjukkan prestasi, terkadang justru membuat pribadinya merasa insecure, kurang percaya diri, takut karena merasa kurang memiliki keterampilan dan pengetahuan tertentu, dan lainnya.

Gaya hidup Gen Z dan milenial yang banyak terpapar junk food maupun produk instan lainnya, tentu berpengaruh pada kesehatan fisik mereka. Terlebih ketika tidak diimbangi dengan aktivitas fisik seperti olahraga. Apalagi saat ini untuk memesan makanan cepat saji juga bisa dengan media online sehingga sangat mengurangi aktivitas atau gerak seseorang.

2. Tantangan dari eksternal
Beberapa tantangan dari luar yang dihadapi Gen Z dan Milenial, di antaranya:
a.  Ketidakstabilan finansial
 Kebanyakan Gen Z dan Milenial lebih mengutamakan gaya hidup daripada kebutuhan dasarnya sehingga finansial tidak stabil. Terlebih ketika mereka adalah sandwich generation yang tidak hanya mencukupi kebutuhannya sendiri tapi juga keluarga (anak/istri) dan orang tuanya. Minimnya pengetahuan tentang literasi finansial, membuat mereka kewalahan untuk mengatur pendapatan yang diterima.

b.  Lingkungan yang memicu stress
Lingkungan keseharian Gen Z dan milenial, baik sekolah/kuliah, keluarga, pekerjaan, dan lainnya tentu sedemikian komplek dan rentan menimbulkan tekanan. Ditambah isu lingkungan dewasa ini yang kian berpengaruh pada manusia seperti pemanasan global, polusi, dan lainnya. Tentu tantangan ini melahirkan kecemasan dalam diri mereka terlebih berkaitan dengan tempat tinggal dirinya atau  keturunannya di masa yang akan datang.

c.  Perkembangan teknologi yang pesat
Sekarang ini sudah banyak robot atau teknologi canggih berbasis komputerisasi yang didaulat untuk melakukan pekerjaan yang biasa dilakukan manusia. Industri 4.0 yang digadang saat ini tentu menjadi tantangan besar untuk Gen Z dan Milenial. Mereka harus siap berkompetisi dan beradaptasi dengan kondisi tersebut. Mereka harus menjadi pembelajar cepat dan menguasai teknologi yang tiap detik terus berkembang.

d.  Sosial media
Sosial media yang awalnya sebagai media berkomunikasi dan membangun jaringan, dewasa ini menjadi tantangan besar bagi Gen Z dan Milenial karena banyak yang terjadi baik positif maupun negatif. Screen time yang overload terkadang membuat mereka menjadi antisosial. Ditambah aksi bullying atau hate speech yang kerap menyasar pengguna sosial media tentu hal ini menjadi berat bagi mereka.

Gen Z dan milenial harus selalu dirangkul untuk bisa mengatasi aneka permasalahan di atas. Mereka juga harus diberi kesempatan untuk menunjukkan potensi dan prestasi sesuai minat atau passion masing-masing.


Kabar baik datang dari IDN Media yang berencana akan menghadirkan Fortune pada kuartal ketiga 2021 ini. Fortune merupakan media bisnis global terkemuka yang selalu berkomitmen dalam menghadirkan karya jurnalisme yang kompeten, Standar akurasi, transparansi, dan legalitas tinggi di Indonesia menjadi pegangan dalam kehadiran media ini. Sasaran target penikmat Fortune tak hanya dari kalangan para pengambil keputusan, eksekutif, pebisnis profesional, wirausahawan, dan pemimpin aspiratif, tapi juga  Gen Z dan Milenial.
            
“Kehadiran Fortune ini pada dasarnya juga kami tujukan untuk Millennial dan Gen Z yang memiliki ketertarikan seputar bisnis, finansial, ekonomi, perbankan, investasi, market research, dan keuangan, ya. Dengan terus memperhatikan akurasi dan kredibilitas informasi, kami ingin perkaya wawasan dan pengetahuan mereka,” terang Winston Utomo selaku CEO IDN Media.




Tentu kita bertanya-tanya bagaimana IDN Media dapat merangkul Gen Z dan Milenial dengan menghadirkan Fortune di ekosistem bisnis IDN Media. Winston Utomo Kembali menjelaskan bagaimana strategi Fortune sehingga bisa membawa #PositiveImpact bagi Gen Z dan Milenial terutama di 
bidang bisnis, finansial, ekonomi, perbankan, investasi, riset pasar (market research), dan keuangan.


Nah, berikut strateginya!
1.  Menjadi salah satu sumber Informasi yang berkualitas
IDN Media telah mempertimbangkan berbagai hal sebelum resmi memutuskan untuk membawa Fortune ke Indonesia.
Salah satu pertimbangannya adalah terkait dampak positif untuk Gen Z dan Milenial. Harapannya Fortune bisa menjadi salah satu solusi atas aneka permasalahan di berbagai bidang yang mereka hadapi.

Winston juga menyampaikan, “Meski Fortune menargetkan pebisnis profesional sebagai audiens utamanya, hal ini sama sekali tak mengurangi fokus IDN Media pada Gen Z dan Milenial”
Kehadiran Fortune diharapkan dapat memperkaya ekosistem bisnis di IDN Media, sehingga jenis informasi yang disediakan oleh para publisher di IDN Media pun akan semakin beragam.

Strategi Fortune


2. Memperkaya literasi pada aspek finansial untuk Gen Z dan Milenial.
Tentu kita setuju bahwa wawasan dan pengetahuan bisa diperoleh dari mana saja, tidak hanya dapat diperoleh melalui pendidikan formal saja. Pada era saat ini, akses pada informasi yang berkualitas juga dapat menjadi salah satu alternatif lain yang dapat memperkaya wawasan dan pengetahuan seseorang.

Berhubungan dengan kehadiran Fortune di Indonesia, Winston menyampaikan bahwa literasi terhadap aspek finansial menjadi salah satu hal paling penting yang sebetulnya wajib dipahami oleh Gen Z dan Milenial.
COO dan CEO IDN Media (Sumber: dok. IDN Media)

Fortune hadir menjadi salah satu sumber informasi yang lengkap, akurat, dan terpercaya, serta membantu membuka perspektif baru terkait fokus mereka pada aspek finansial.

3. Menjawab keinginan Gen Z dan Milenial yang kolaboratif dan berjiwa wirausaha

“Gen Z dan Milenial adalah pengambil risiko. Mereka memiliki jiwa wirausaha yang besar. Dengan karakter kolaboratif yang mereka miliki, mereka akan menggunakan kinerja tim sebagai landasan dalam membangun bisnis,” kata Winston saat menyampaikan pendapatnya.
Mewakili IDN Media, Winston menyakini bahwa karakter menonjol dari kedua generasi ini adalah kolaboratif dan jiwa wirausaha. Oleh karena itu, dapat disimpulkan bahwa IDN Media begitu optimis dalam menjawab keinginan Gen Z dan Milenial untuk berwirausaha.


Pepatah di atas m
enggambarkan betapa kolaborasi menjadi salah satu elemen terpenting untuk membangun kerja sama dengan Gen Z dan Milenial.

Menurut Winston, Gen Z dan Milenial memiliki prinsip bahwa perusahaan yang kooperatif akan menciptakan kemitraan yang efektif. Kolaborasi dapat diwujudkan hanya dengan komunikasi yang baik dan sehat. Oleh karenanya, mereka juga cenderung membangun lingkungan yang inklusif, di mana setiap orang dihargai.

Dengan perspektif global, rekam jejak dan visi yang kuat, Fortune berkomitmen untuk menghadirkan informasi-informasi paling hangat, relevan, dan terpercaya. Kapabilitas Fortune yang telah lama terbentuk mendorongnya untuk terus menjadi penerang bagi para pemimpin global, yang juga dapat membantu memajukan bisnis mereka.

Hadirnya Fortune dalam ekosistem IDN Media ini juga diharapkan dapat  menjadi salah satu pintu solusi atas permasalahan yang terjadi di kalangan Gen Z dan Milenial seperti yang sudah disebutkan di atas.

PEJUANG LITERASI






Mereka yang memungkinkan untuk tidak memperparah keadaan.
Mereka yang masih teguh dengan idealismenya,
meski tetap mau membuka diri selama itu mengundang maslahat.
Mereka yang tidak membanggakan kesalehan dirinya semata,
tapi turut andil untuk mensalehkan sekitar.
Mereka yang -meski hanya- berjuang lewat kata, 
tapi mampu menjadikannya makna yang menghidupkan hati dan menghalau kegundahan jiwa.
Mereka yang menganggap setitik apapun kesempatan, 
sebagai peluang kebaikan dan perjuangan di jalan Allah. 
Semoga mereka... ada di sini, di situ, dan di manapun.
Salam literasi!

Etika Aisya Avicenna
 

DUA SEJOLI


 "Dinda, bagaimana jika penulis dan buku bertemu?" kata suamiku tiba-tiba. 

"Mereka akan jadi pasangan serasi, Kanda. Sejatinya mereka adalah dua sejoli yang tidak dapat dipisahkan. Penulis yang rajin baca buku, akan jadi kaya. Kaya diksi, kaya ilmu, kaya inspirasi." jawabku yang tengah membaca buku. 

LIMA PENYAKIT ‘LUPA’ YANG SERING MENYERANG PARA BLOGGER


Menulis di blog saat ini sangat digandrungi. Para blogger dengan berbagai karakteristik blognya turut meramaikan jagat kepenulisan di media online. Namun, ada beberapa aktivitas blogger yang bisa menjadi penyakit dan perlu diwaspadai, beberapa di antaranya adalah penyakit ‘lupa’. Apa sajakah itu?

PENULIS DAN DUA SENJATANYA (BAGIAN DUA)

Sebelumnya kita telah membahas salah satu senjata penulis yakni sabar, khususnya terkait sabar dalam menghadapi ujian. Sekarang kita lanjutkan pembahasan mengenai sabar dalam meninggalkan perbuatan maksiat.

PENULIS DAN DUA SENJATANYA (BAGIAN SATU)




Ketika kita sudah mendeklarasikan diri untuk menjadi seorang penulis, akan banyak hal yang dihadapi, baik kemudahan maupun kesulitan. Dalam menjalankan aktivitas menulis, ada dua senjata penting yang harus dimiliki oleh seorang penulis,yaitu sabar dan syukur.

FLP, IZINKAN SAYA KEMBALI


Saya menemukan tulisan tahun 2015 ini di email saya tepat di saat siang sampai sore tadi saya berkumpul dengan rekan-rekan FLP Jakarta. Pas banget sebagai bahan renungan karena tadi juga diminta oleh seorang sahabat untuk mengajarinya menulis. Sejatinya saya pun sedang belajar menulis dan dalam tahap 'kembali' ke FLP.

MENATA RUMAH KEDUA


Rumah kedua? Iya, saya punya 2 (dua) rumah yang saat ini sangat saya cintai. Rumah di dunia nyata, yakni rumah tinggal di Depok dan rumah di dunia maya, yaitu blog pribadi saya ini. Hehe.. Sejatinya saya sudah ngeblog sejak tahun 2009. Bisa dibilang waktu itu ngeblog ibarat candu bagi saya. Hampir tiap hari selalu ada postingan yang menghiasi rumah kedua saya tersebut.


MENGEMBALIKAN KEBIASAAN YANG SEMPAT HILANG


Sejak tahun 2009 saya aktif menulis di blog, hampir tiap hari saya posting tulisan. Kalau saya bilang, saat itu ngeblog seperti candu. Ada saja yang saya tulis, dari mulai kisah inspiratif yang saya dapatkan sehari-hari, aneka tips, resensi buku, dan aneka tulisan lainnya. Keaktifan saya ngeblog berlangsung sampai tahun 2011 akhir. Tahun 2011 itu alhamdulillah saya mendapatkan beasiswa untuk melanjutkan S2 di ITB, Bandung.

KUPU-KUPU DI DALAM BUKU



Sumber gambar : http://dicuekin.com/2014/07/apa-yang-kita-dapatkan-dari-membaca.html


Ketika duduk di stasiun bus, di gerbong kereta api,
di ruang tunggu praktik dokter anak, di balai desa,
kulihat orang-orang di sekitarku duduk membaca buku,
dan aku bertanya di negeri mana gerangan aku sekarang,


DULU KARET, SEKARANG GADGET





Salah satu permainan yang saya suka saat masih kecil adalah lompat tali dengan karet gelang. Biasanya saya bermain dengan teman-teman sebaya, tidak hanya perempuan tapi juga laki-laki. Untuk mendapatkan karet gelang, kami beli di warung. Biasanya beli satu kantong plastik, kemudian salah satu dari kami akan merangkai atau menganyam karet gelang tersebut menjadi panjang seperti tali sekitar 2-3 meter.

#JejaKembara Bersua Asma Nadia



Sabtu, 11 Mei 2013 sekitar pukul 13:00 saya dan suami sudah berada di stasiun Bogor. Siang itu kami akan kembali ke Istana Cinta TOBI di Jakarta setelah 3 (tiga) hari ‘mbolang’ di Bogor. KRL yang akan kami tumpangi belum tiba di stasiun. Kami pun memilih tempat duduk yang kosong untuk menunggu. Sambil menanti kedatangan kereta, saya buka twitter lewat tab kecil saya (namanya TIKIL). Ternyata ada info dari @GramedMatraman bahwasanya tanggal 12 Mei akan diadakan workshop menulis buku nonfiksi best seller bersama mbak Asma Nadia dan suaminya, Mas Isa Alamsyah. 12 Mei? Wah, BESOK dong! Akhirnya saya reply twit tersebut yang juga terhubung dengan mbak @asmanadia. Saya tanyakan, bagaimana mekanisme keikutsertaan di workshop tersebut. Meski belum dibalas, saya langsung utarakan keinginan untuk mengikuti acara tersebut ke suami. Alhamdulillah, suami mengizinkan, bahkan ingin ikut juga. Sekitar jam 2 kurang sedikit, kereta pun datang. Kami segera naik. Back to Jakarta...  

 
Keesokan harinya, sejak pagi Matraman diguyur hujan. Agenda senam pagi bersama warga pun di-cancel. Padahal musik senam yang full semangat sudah terdengar sejak pukul 05:30 tepat di depan rumah. Karena memang lokasi senam berada di sepanjang jalan depan rumah. Berhubung hujan, senam pun di-cancel. Jadilah saya dan suami mulai berolahraga pagi di rumah (menyapu, mengepel, mencuci, dll. Hehe...olahraga juga toh?). Beres-beres rumah baru selesai jelang ‘Asar. Ba’da Asar, saya diminta suami untuk berangkat duluan ke Gramedia Matraman (GM) untuk mengikuti workshop menulis karena dia belum selesai bersiap-siap. Dia akan menyusul. Akhirnya saya berangkat duluan ke GM. Alhamdulillah,saya sangat bersyukur dan merasa sangat beruntung karena rumah saya sangat dekat dengan GM. Cuma jalan sekitar 10 menit, sampe deh! Sampai di GM, subhanallah... sudah penuh euy! Sudah tidak dapat kursi. Setelah registrasi, saya masuk ruangan acara yang terletak di lantai 2. Mengedarkan pandangan ke seluruh ruangan, hmm.. sudah tidak dapat tempat duduk. Oleh salah satu panitia berkaos Gramedia, saya diminta duduk saja di karpet depan. Akhirnya saya mengajak Mbak Mimin Haway (rekan penulis di FLP Jakarta) untuk duduk di ‘kursi VVIP’ alias karpet tersebut. Saya malah sangat gembira duduk di situ karena bisa lebih dekat dengan ketiga pemateri workshop (Mb Asma Nadia, Mas Isa Alamsyah, dan Putri Salsa). 

 
Sekitar pukul 16:30 acara workshop “Menulis Non Fiksi Best Seller” pun dimulai.. Workshop diawali dengan sedikit pemaparan dari Mbak Asma Nadia. Senangnya bisa kembali bertemu dengan beliau. Mbak Asma sedikit berkisah tentang buku pertamanya. Buku pertama beliau merupakan buku fiksi. Waktu buku pertamanya terbit, bagaimana perasaan beliau? Jawabannya “SENANG-SEDIH-SEDIH”. Mengapa sedihnya dua kali? Kata Mbak Asma, karena buku pertamanya tersebut mirip dengan ‘buku mujarobat’ alias sangat tidak layak kertas yang digunakan. Kualitas cetakannya tidak bagus, imbuhnya. Kata beliau, sampai sekarang pun masih banyak penerbit yang tidak peduli dengan masa depan penulisnya. Asal karya sang penulis terbit, laku dijual, sudah! Dewasa ini, trend buku fiksi mengalami penurunan. Kalau dibandingkan, penerbitan buku fiksi sebesar 30%, sedangkan untuk buku nonfiksi sebesar 70%. Bahkan banyak buku nonfiksi yang BEST SELLER. Memang, keunggulan buku fiksi lebih diserap, lebih menyentuh, dan lebih berkesan. Akan tetapi, buku nonfiksi pun bisa dibuat seperti itu. Yakni dengan menambahkan sentuhan ‘fiksi’ di dalam buku nonfiksi. Seperti yang sudah dilakukan mbak Asma dalam buku-buku nonfiksinya yang hampir semuanya BEST SELLER dan dicetak ulang berkali-kali. 

 
Setelah Mbak Asma memberikan sedikit pengantar, selanjutnya giliran Mas Isa Alamsyah yang memberikan materi pertama tentang “Kunci Nonfiksi BEST SELLER dari sisi eksternal”. Sisi eksternal tersebut yakni dari market dan branding. Ada sepuluh kunci sebagai tips, antara lain : 1.Membaca Trend (Trend berita, istilah, sosial media) 2.Captive Market (Memilih Market yang Pasti) 3.Menempel pada Nama Besar 4.Memilih Market yang Besar 5.Mempunyai Market yang Khusus 6.Mengisi Kekosongan (harus jeli dengan ‘sesuatu’ yang belum dibuat penulis lain) 7.Membuat Perbedaan 8.Kerja Sama Penjualan atau Iklan 9.Cover, Judul, testimoni, endorsment, subjudul, sinopsis yang menarik 10.Workshop, Seminar sebagai bagian dari ‘bedah buku’ 
Di tengah workshop, berulang kali saya menengok ke belakang, untuk mencari suami saya. Hmm, cukup mudah mencari keberadaannya di antara puluhan peserta yang berdiri, Karena suami saya paling cakep di antara mereka *ceileeee... 

 
 Setelah Mas Isa Alamsyah menyampaikan materi pertama, dilanjutkan Mbak Asma menyampaikan materi kedua tentang “Kunci Nonfiksi BEST SELLER dari sisi internal”. Sisi internal yang dimaksud adalah dari isi dan pengarang/penulis yang berjumlah 20 kunci. Keduapuluh kunci tersebut antara lain : 1.Menulis dari yang dikuasai/dipedulikan (catatan hati pengantin, parenting, muslimah) 2.Setelah menemukan tema, mulailah mencari ide yang menarik 3.Bandingkan naskah yang direncanakan dengan buku sejenis yang beredar di pasaran 4.Buat outline, ide yang dipilih akan menjadi benang merah dalam buku 5.Saring pengalaman pribadi (pengalaman sebagai modal dalam menulis) 6.Pastikan menulis naskah yang menggoda pembaca 7.Memasukkan gaya penulisan fiksi agar tidak monoton 8.Ada dialog, tidak monoton 9.Pilih sudut pandang yang tepat 10.Gunakan subjudul untuk menjeda tulisan, agar tidak monoton dan lebih fokus 11.Selipkan dialog 12.Memulai tulisan dengan bagian yang paling menarik 13.Berikan suspens dan klimaks 14.Untuk kumpulan kisah, pastikan untuk menuliskannya dengan variati 15.Hindari memberikan pesan yang terlalu verbal pada pembaca 16.Personalisasi naskah 17.Sentuhan khusus setelah selesai 18.Pilih judul yang menarik perhatian 19.Memberi pengalaman membaca 20.Tersisa setelah membaca (terinspirasi, tercerahkan, sedih, tertawa) buku, menggerakkan 
Beberapa peluang ruang nonfiksi antara lain: 1.Buku-buku how to (pengalaman sejati) 2.Kumpulan kisah/pengalaman yang mengandung keajaiban 3.Buku kewanitaan 4.Parenting, keterampilan 5.Buku catatan perjalanan 6.Buku self improvement dan motivasi 7.Kumpulan hikmah, dll 

 
Setelah pemberian materi dari Mbak Asma, giliran Putri Salsa yang bagi-bagi tips. Chaca-panggilan Putri Salsa- insya Allah akan segera launching bukunya yang ke-12. Keren ya! Putri pertama Mbak Asma dan Mas Isa ini memberikan 3 (tiga) tips luar biasa bagi kami. 1.Keep reading 2.Keep writing3.Keep trying 
Mbak Mimin Haway juga diminta sharing pengalaman karena dia berhasil menjadi salah satu kontributor dalam buku “La Tahzan for HIJABERS” bersama Mbak Asma Nadia. Mbak Mimin bilang, kalau tulisannya sudah sekitar 4 (empat) kali ditolak. Tapi dia mencoba terus, belajar dari pengalaman, hingga akhirnya tulisannya pun dinyatakan lolos dan layak bersanding dengan tulisan Mbak Asma Nadia. Setelah materi selesai, dilanjutkan sesi tanya jawab. Saya pun tak melewatkan kesempatan ini. Gegas saya angkat tangan. Chacha pertama kali yang melihat dan menunjuk saya, karena mbak Asma posisinya membelakangi saya. Akhirnya saya pun mendapat kesempatan bertanya meski sebagai penanya terakhir. Tapi saya anggap ini sangat berkesan karena pada waktu bertanya, saya diminta berdiri. Saya bertanya sambil menunjukkan buku “The Secret of Shalihah”.


 Saya bertanya tentang judul buku tersebut yang menggunakan 2 (dua) bahasa asing. Saya pernah mendapatkan masukan dari salah seorang pembaca buku tersebut bahwa sebaiknya menggunakan bahasa Indonesia untuk judul buku. Seperti halnya dulu pernah disampaikan bunda Helvy Tiana Rosa saat saya mengikuti workshopnya. Menurut Mbak Asma, sah-sah saja menggunakan bahasa asing sebagai judul. Toh Mbak Asma juga melakukannya (“La Tahzan for Hijabers” salah satunya). Akan tetapi, untuk judul asing, biasanya tidak bisa mendapat penghargaan dari IKAPI. Begitu kata Mbak Asma. Sebelum acara selesai, kami sempat meneriakkan sebuah jargon bersama-sama. “SATU BUKU SEBELUM MATI! BISA!!!” Acara pun selesai saat Maghrib. Seperti biasa, pasca acara banyak yang minta tanda tangan dan foto bareng Mbak Asma. Saya memilih untuk shalat Maghrib terlebih dahulu, setelahnya baru ‘nyegat’ Mbak Asma. Saat keluar ruangan, suami sudah menunggu di dekat pintu keluar. Alhamdulillah, dibelikan buku “Salon Kepribadian’ karya Mbak Asma Nadia. Senangnya! Struk pembeliannya pun bisa ditukarkan dengan sertifikat dan copyan materi workshop. Setelah shalat Maghrib, kami naik ke lantai 2 lagi untuk melancarkan misi mulia. Mbak Asma masih sibuk melayani permintaan foto bareng dan tanda tangan. Saya dan suami pun memilih untuk mengobrol dengan Mas Isa Alamsyah yang berada di samping panggung. Obrolannya sangat seru, tentang calon buku baru suami saya “The Secret of Success”. Insya Allah Mas Isa berkenan memberikan endorsement di buku tersebut. Senangnya! 
 
Akhirnya, tibalah giliran saya dan suami untuk berfoto bersama Mbak Asma dan Mas Isa. Sebelumnya, saya sempat menyerahkan buku “The Secret of Shalihah” kepada Mbak Asma sebagai kenang-kenangan. Setelah foto bareng Mbak Asma dan mas Isa, kami pun turun. Sempat juga foto dengan Chacha di lantai 1. Hehe.. Kemudian bervisualisasi seolah sedang bercakap dengan buah hati kami kelak, “Nak.. kelak kau boleh menjadi apapun yang kau suka, tapi tetap MENULISLAH!” Alhamdulillah, bahagia rasanya hari itu.. Setelah sekian lama diri ini tidak mendapatkan ‘charging’ tentang kepenulisan, hari itu rasanya seperti mendapat energi baru lagi. Bahkan selama acara berlangsung, saya sempat mendapatkan ide tentang buku yang akan saya garap selanjutnya. Cling! Senangnya! Mohon doa, semoga bisa segera mengeksekusinya! Akhir kata, terus SEMANGAT MERANGKAI KARYA! Menulislah, sebelum namamu tertulis di batu nisan... 


Jakarta, 13 Mei 2013 
Salam #TOBISukses, Aisya Avicenna


Tulisan ini diposting pada bulan Mei 2013 di blog sebelumnya.