PENULIS DAN DUA SENJATANYA (BAGIAN SATU)




Ketika kita sudah mendeklarasikan diri untuk menjadi seorang penulis, akan banyak hal yang dihadapi, baik kemudahan maupun kesulitan. Dalam menjalankan aktivitas menulis, ada dua senjata penting yang harus dimiliki oleh seorang penulis,yaitu sabar dan syukur.

Dari Suhaib r.a., bahwa Rasulullah saw. bersabda,“Sungguh menakjubkan perkara orang beriman, karena segala urusannya adalah baik baginya. Dan hal yang demikian itu tidak akan terdapat kecuali hanya pada orang mukmin; yaitu jika ia mendapatkan kebahagiaan, ia bersyukur, karena (ia mengetahui) bahwa hal tersebut merupakan yang terbaik untuknya. Dan jika ia tertimpa musibah, ia bersabar, karena (ia mengetahui) bahwa hal tersebut merupakan hal terbaik bagi dirinya.” (HR. Muslim).

Pada kesempatan kali ini, kita akan sedikit berbagi tentang hakikat sabar yang harus dimiliki oleh seorang penulis.

Secara etimologi, sabar (ash-shabr) berarti menahan (al-habs). Dari sini sabar dimaknai sebagai upaya menahan diri dalam melakukan sesuatu atau meninggalkan sesuatu untuk mencapai ridha Allah SWT.

Menurut Ibnu Qayyim Al-Jauziyah, sabar merupakan budi pekerti yang bisa dibentuk oleh seseorang dalam menahan nafsu, menahan sedih, menahan jiwa dari kemarahan, menahan lidah dari merintih kesakitan, serta menahan anggota badan dari melakukan yang tidak pantas. Sabar merupakan ketegaran hati terhadap takdir dan hukum-hukum syariat.

Secara umum sabar terbagi ke dalam tiga tingkatan.
1.  Sabar dalam menghadapi sesuatu yang menyakitkan, seperti musibah, bencana, atau kesulitan.
2.  Sabar dalam meninggalkan perbuatan maksiat.
3.  Sabar dalam menjalankan ketaatan

Pada kesempatan ini kita akan kupas tentang sabar pada point pertama terlebih dahulu, yakni sabar dalam menghadapi sesuatu yang menyakitkan, seperti musibah, bencana, atau kesulitan.

Pada zaman dahulu telah dicontohkan kesabaran yang begitu indah dari diri Nabi Ayyub a.s. Beliau diuji Allah SWT dengan sakit yang tak kunjung sembuh, kehilangan harta benda, anak-anaknya meninggal, dan sang istri yang awalnya begitu setia kemudian meninggalkannya setelah terbujuk rayuan setan. Iblis laknatullah begitu gigih menggoda Nabi Ayyub a.s. agar goyah imannya. Namun, Nabi Ayyub a.s begitu sabar dan tegar menjalani ujian yang Allah SWT berikan. Hingga akhirnya Nabi Ayyub a.s. lulus dari ujiannya.

“Sesungguhnya Kami dapati dia (Ayyub) seorang yang sabar. Dialah sebaik-baik hamba. Sesungguhnya dia amat taat (kepada Tuhannya).” (QS. Shad : 44)

Sebagai seorang penulis, tak jarang akan menghadapi kesulitan dalam menghasilkan karya. Dibutuhkan kesabaran ekstra sampai tulisan benar-benar selesai dan layak untuk dinikmati pembaca. Latihan yang rutin, konsisten, dan pantang mengeluh juga butuh kesabaran. Untuk menghasilkan karya yang luar biasa memang membutuhkan usaha yang juga luar biasa.

Saat tulisan sudah jadi, tiba-tiba Allah SWT berikan ujian, misalnya berupa kehilangan laptop, padahal hampir semua tulisan kita ada di dalamnya. Sabar! Innalillahi wa inna ilaihi roji’uun… Selalu positive thinking atas setiap skenario-Nya. Allah SWT tidak pernah membebani seorang hamba -termasuk penulis- di luar batas kemampuannya. Jangan menyerah! Tulis lagi dan lagi!

Perlu kesabaran juga saat menanti konfirmasi dari penerbit atas naskah yang telah kita kirimkan. Resah, galau, marah, dan aneka rasa dalam hati mungkin menghantui diri. Tetapi, jadikan sabar sebagai sahabat terbaik dalam setiap penantian. Akan butuh kesabaran lagi ketika ternyata tulisan kita ditolak atau tidak layak diterbitkan. Padahal bisa jadi itu penolakan kesekian kalinya. Sedih? Tentu saja! Tapi, harus segera move on ya! Kita harus bisa belajar dari kegagalan.

Saat naskah sudah diterbitkan dalam bentuk buku, ternyata penerbit tak kunjung membayar hak kita sebagai penulis. Royalti yang dijanjikan belum jua menambah nominal rekening pribadi kita. Lagi-lagi kita harus belajar sabar! Kembali luruskan niat. Kita niatkan menulis hanya untuk mendapat ridha Allah SWT, royalti itu bonus! Kalau memang datangnya terlambat, komunikasikan kepada pihak penerbit.

Ada sebuah kasus terkait pemberian royalti yang dialami seorang penulis. Di tengah perjalanan, ternyata penerbit tidak memberikan royalti sesuai dengan jumlah yang disepakati dalam kontrak penerbitan. Apa sang penulis akan marah? Mungkin! Tapi, apakah marah akan menjadi solusi? Sepertinya tidak! Jika mengalami hal seperti ini, kuncinya sabar menahan diri agar tidak emosi, kemudian konfirmasikan dengan baik kepadapihak penerbit. Insya Allah beres! Dalam QS. Al-Baqarah ayat 153 Allah SWT berfirman: ”Wahai orang-orang yang beriman, jadikanlah sabar dan shalat sebagai penolongmu.”

Ketika tulisan sudah dipublikasikan dalam bentuk buku, tapi ternyata kurang begitu laku di pasaran, apa yang harus dilakukan? Sabar lagi?! Iya dong! Sabar bukan berarti pasrah tanpa usaha. Saat mengetahui buku kita kurang bagus penjualannya, maka kita harus lakukan evaluasi. Apa ya yang salah atau kurang? Mungkin dari segi marketingnya, ternyata kita belum melakukan promosi dengan baik. Mungkin dari segi waktu terbitnya, ternyata tidak sesuai momentum. Setelah tahu apa sebabnya, selanjutnya lakukan perbaikan.

Tatkala tulisan sudah diterbitkan dalam bentuk buku dan royalti sudah mengalir lancar, tiba-tiba mendapat kritik tajam dari pembaca, maka sekali lagi yang harus dilakukan seorang penulis adalah bersabar. Kritik seperti dua sisi mata uang, ada yang bersifat membangun danada yang menghancurkan. Pasang filter dalam diri, hargai setiap kritik, dan jadikan kritik sebagai pemantik untuk lebih baik. Jangan sampai kita menjadi penulis yang anti terhadap kritik. Ada kritik, langsung ditampik. Padahal bisa jadi kritik itulah akan menjadi ‘bahan’ untuk karya ‘masterpiece’  kita selanjutnya.

Menjadi penulis harus mempunyai stok sabar yang tidak sedikit. Apalagi jika menghadapi masa-masa sulit dalam perjuangan merangkai karya. Jangan menyerah! Sesungguhnya Allah SWT bersama orang-orang (termasuk penulis) yang sabar. Kuatkan keyakinan bahwa di balik setiap kesulitan pasti ada kemudahan yang menyertainya.

Aisya Avicenna (AA)

 

#ODOP
#BloggerMuslimahIndonesia

1 komentar:

  1. Gak ada cela untuk dikomentarin. Bagus kak, sangat menginspirasi 😊😊

    BalasHapus

Jejak Karya Aisya Avicenna

Jejak Karya Aisya Avicenna