Ikhlassunniyah



Secara bahasa ikhlas berasal dari kata khalasha yang berarti bersih/murni. Sedangkan niat berarti al-qoshdu artinya, maksud atau tujuan. Ikhlassuniyahberarti membersihkan maksud dan motivasi kepada Allah dari maksud dan niat lain. Hanya mengkhususkan Allah azza wajalla sebagai tujuan dalam berbuat. Allah telah memerintahkan kita untuk ikhlas dalam beramal dan beribadah kepadanya seperti yang tercantum dalam Al Qur’an surat Al-Bayyinah : 5, Al=A’raf : 29 dan Al-Kahfi : 110

Pentingnya ikhlassunniyah :
1. Merupakan ruhnya amal karena seperti badan yang tidak ada ruhnya, maka tanpa ikhlas, amal sebagus apapun tidak ada artinya.
2. Salah satu syarat diterimanya amal. “Allah azza wajalla tidak menerima amal kecuali apabila dilaksanakan dengan ikhlas dalam mencari keridhoannya semata” (HR. Abu Daud dan Nasai)
3. Syarat diterimanya amal atau perbuatan :
a. Bersungguh-sungguh dalam melaksanakannya
b. Ikhlas dalam berniat
c. Sesuai dengan syariat Islam (Al Qur’an dan Sunnah)
4. Penentu nilai/kualitas suatu amal (Q.S. An-Nisa : 125)
“Sesungguhnya segala amal perbuatan tergantung dari niat, dan bahwasanya bagi tiap-tiap orang apa yang ia niatkan. Maka barangsiapa hijrah menuju ridho Allah dan Rasul-Nya, maka hijrahnya itu kepada Allah dan Rasul-Nya. Barangsiapa berhijrah kepada dunia (harta atau kemegahan dunia) atau karena seorang wanita yang akan dinikahinya, maka hijrahnya itu ke arah yang ditujunya.” (HR. Bukhari-Muslim)
5. Mendatangkan berkah dan pahala dari Allah (Q.S.Al-Baqoroh : 262 dan Q.S. An Nisa : 145-146)

Beberapa unsur dalam membentuk ikhlas :
1. Orang yang mukhlis harus memperhatikan pandangan khaliq, bukan pandangan makhluk. Sebab sedikitpun mereka tidak ada artinya bagi Allah.
2. Apa yang lahir pada diri orang yang mukhlis harus sinkron dengan batinnya yang tampak dengan yang tersembunyi. Sary as Saqthy berkata, “Barangsiapa berhias di mata manusia dengan sesuatu yang tidak selayaknya, maka dia menjadi hina di mata Allah.” 
3. Menganggap sama antara pujian dan celaan manusia. Engkau tidak lepas dari celaan manusia walaupun engkau terpuji di sisi Allah. Begitu pula sebaliknya.
4. Tidak boleh memandang ikhlasnya, sehingga ia takjub kepada diri sendiri, sehingga ketakjubannya itu justru merusak dirinya. Maka dari itu, orang-orang arif menegaskan untuk tidak melihat amal diri sendiri. Sehingga Abu Ayyub As Susy berkata “Selagi mereka melihat ikhlasnya, sudah cukup, berarti ikhlas mereka itu masih membutuhkan ikhlas lagi
5. Melupakan tuntutan pahala amal di akhirat. Sebab orang yang mukhlis tidak merasa aman terhadap amalnya yang bisa saja dicampuri bagian untuk dirinya. Menurut pandangan orang mukhlis, amal yang dikerjakannya itu tidak layak dimintai suatu balasan dan ia melihat pahala sebagai suatu kebaikan Allah swt terhadap dirinya. Nabi saw bersabda, “Sekali-kali amal seorang di antara kalian tidak akan mampu memasukkannya ke dalam surga.” Mereka bertanya”Tidak pula engkau wahai Rasulullah?” Beliau menjawab “Tidak pula aku, kecuali Allah melimpahkan rahmat-Nya kepadaku” (HR. Muttafaqun ‘alaih).
6. Takut penyusupan riya dan hawa nafsu ke dalam jiwa, sementara dia tidak menyadarinya. Sebab syaitan itu mempunyai saluran yang terselubung dan ruwet, yang bisa dijadikan jalan untuk menyusup ke dalam jiwa.

Cara untuk menumbuhkan niat yang ikhlas
1. Mengetahui arti keikhlasan dan urgensinya dalam beramal
2. Menambah pengetahuan tentang Allah SWT dan hari akhir. Dengan mengetahui ilmu tentang-Nya, maka seseorang mengenal Allah SWT dengan sebenar-benarnya tentulah tidak akan berani berbuat syirik (menyekutukan Allah dengan selain-Nya di dalam niatnya). Ia juga akan mempertimbangkan amal-amalnya dan balasannya di akhirat.
3. Memperbanyak membaca/berinteraksi dengan Al-Qur’an, karena Al-Qur’an adalah penyembuh dari segala penyakit dalam dada (QS. Yunus: 57) termasuk penyakit riya, ujub, dan sum’ah.
4. Memperbanyak amal-amal rahasia, sehingga kita terbiasa untuk beramal karena Allah semata tanpa diketahui orang lain.
5. Menghindari/ mengurangi saling memuji, karena dengan pujian terkadang orang jadi lalai hatinya dan menjadi sombong.
6. Berdoa, dengan tujuan agar selalu diberi keikhlasan dan dijauhi dari syirik.
Doa yang dicontohkan oleh Rasulullah saw: “Allahumma innii a’udzubika annusyrikabika syaian a’lamuhu wa astaghfiruka lima laa a’lamuhu.” (Ya Allah aku berlindung kepada-Mu dari syirik kepada-Mu dalam perbuatan yang aku lakukan dan aku memohon ampun kepada-Mu terdapat apa yang tidak aku ketahui).


DISKUSI
Suatu ketika di sebuah kereta, Amin akan memberikan infaq kepada pengurus masjid yang mengumpulkannya lewat kotak-kotak yang disodorkan kepada para penumpang. Ketika kotak itu hampir mendekati tempat duduknya, ia mengurungkan niatnya memberikan infaq, karena takut riya kepada orang-orang di sekitarnya. Bagaimana menurut pendapatmu? Tepatkah yang dilakukan Amin tersebut?
“Meninggalkan AMAL karena manusia adalah RIYA. Beramal karena manusia adalah SYIRIK. IKHLAS beramal adalah yang selamat dari keduanya.” (Fudhail bin ‘Iyadh)

Special untuk adik” ENTALPI.. pertanyaan di atas dijawab ya.. Klik komentar di bawah artikel ini dan tulis opinimu. Afwan ya dhek, Mbak tidak bisa membersamai agenda pekanan kita hari ini.. (hari ini Mbak mengurus mutasi dan lagi sakit juga.. tadi lemes banget..) tapi Mbak seneeeeeeng banget, kalian tetap bisa liqo’ mandiri… Sip‼! Sebagai gantinya, materi ini bisa dibaca, dipahami, dan jangan lupa diamalkan lho ya‼ Tetap jaga amal yauminya… Met belajar ya..moga mid nya sukses‼! Sampai jumpa pekan depan… Luph you coz Allah‼! Insya Allah besok, mbak akan menemui kalian satu persatu..ada something special…Zona Twin, 070409_15:53

(Tulisan ini diposting pada bulan April 2009 di blog sebelumnya)
Aisya Avicenna

0 komentar:

Posting Komentar

Jejak Karya Aisya Avicenna

Jejak Karya Aisya Avicenna