‘MANIS’-NYA FILM DUKA SEDALAM CINTA


Setelah film “Ketika Mas Gagah Pergi” berhasil menguras air mata penontonnya -termasuk saya- setahun lalu, serta membuat ratusan ribu pasang mata terinspirasi karenanya, kini kita akan kembali bersua dengan Mas Gagah (Hamas Syahid) dan Dek Manis Gita (Aquino Umar) dalam sekuel film KMGP berjudul “Duka Sedalam Cinta” (DSC) yang juga akan mempersilakan butiran bening air mata tumpah tak terkira.

Baca juga : Film "Ketika Mas Gagah Pergi" 

Kisah Duka Sebelum Nonton

Film DSC mulai tayang sejak hari Kamis, tanggal 19 Oktober 2017. Dalam hujan yang cukup deras di malam Jumat itu, saya dan suami menerjangnya demi mendapatkan tiket film DSC yang akan tayang jam 19.15 di CGV DMall Depok. Suami yang sampai duluan di CGV, harus legowo ketika mendapati tiket DSC sudah habis terjual. Saya yang baru tiba di DMall beberapa saat kemudian, dalam kondisi semi kuyup, harus menahan duka saat mendapat kabar bahwa malam ini kami gagal nonton film yang telah kami nanti.

Akhirnya kami memutuskan untuk makan di sebuah restoran favorit. Makan malam romantis, penuh cinta. Ah, DUKA SEDALAM CINTA! Serius, kehabisan tiket nonton film yang sudah lama ditunggu itu rasanya sedih, Jenderal! Alhamdulillah, makan berdua dengan suami menjadi cinta pelipur duka.
Deretan Film yang Tayang di CGV DMall Depok


Kami berencana nonton DSC hari Sabtu karena Jumat suami kuliah sampai malam. Sabtu jam 09.30 saya sudah sampai di CGV DMall untuk membeli tiket DSC. Hehe, kepagian Saudara-Saudara! Loket baru akan buka setengah jam kemudian. Sambil menunggu, saya mengamati sekeliling. Merinding disko saat melihat ternyata film DSC bersanding dengan 3 (tiga) film horor, yang salah satu dari ketiga film horor itu sudah meraup 2 juta penonton. Saya yang memang tidak suka nonton film horor, melihat poster DSC berada di antara poster film horor tersebut… gerimis euy rasanya! Tapi ada sisi optimis ketika saya menangkap sinyal bahwa hadirnya DSC menjadi ‘cahaya’ di balik kegelapan.

Di ruangan CGV baru ada 4 (empat) orang : saya, seorang office girl, satpam, dan seorang bapak yang hendak beli tiket juga. Di ruangan itu silih berganti diputar trailer film-film yang sedang tayang, termasuk DSC dan tiga film horor tersebut. Saat trailer DSC diputar sih saya menikmatinya. Nah, saat trailer tiga film horor itu diputar, alamaaak.. ngeri!!! Rasanya pengin segera kabur dari bioskop. Demi bisa mendapat tiket nonton, akhirnya saya tetap menunggu. Suami pun juga bersedia menunggu saya di depan DMall.

Jam 10.00 loket tiket dibuka, alhamdulillah jadi pembeli pertama.
Tiket nonton di hari ketiga tayang :)


Malamnya, saya sampai di CGV lebih dulu. Suami menyusul karena ada kuliah sampai jam 17.00. Alhamdulillah tepat jam 19.00 suami tiba di CGV DMall Depok. Saatnya mengambil inspirasi dalam film yang diproduseri oleh Bunda Helvy Tiana Rosa.

"MANIS"-nya Film “Duka Sedalam Cinta”

Poster Film "Duka Sedalam Cinta"

Film yang disutradarai oleh Firmansyah ini mengisahkan hubungan kakak dan adik yang sangat manis, Gagah dan Gita. Sejak kecil, mereka tak terpisahkan. Suatu ketika, Gagah harus berangkat ke Ternate untuk melengkapi bahan skripsinya. Gita yang tak ingin ditinggal kakaknya, merasa sangat sedih karena Gagah tidak memberi kepastian kapan akan kembali.

Saat berada di Ternate, Gagah mengalami kecelakaan.  Peristiwa itu membuat Gagah bertemu dengan Kyai Gufron (Ustadz Salim A. Fillah). Sejak mengenal Kyai Gufron, Gagah mulai belajar Islam dengan baik.

Sekembalinya ke Jakarta, Gita sangat kaget dengan perubahan sang kakak. Gita menganggap perubahan itu membuat sang kakak jauh darinya. Gagah jadi alim dan Gita tidak suka itu. Gita semakin sebal tatkala Mamanya juga mulai berubah.

Suatu hari Gita kembali bertemu dengan Yudi (Masaji Wijayanto), seorang pemuda tampan berkemeja kotak-kotak yang kerap ditemuinya di metro mini. Pemuda yang unik, ia bukan pengamen, tapi ia membagi nasihat atau tausiyah ke para penumpang. Awal pertemuan dengan pemuda itu, Gita dibuat geram. Gita teringat Gagah saat bertemu Yudi, sifat Yudi yang semangat mengajak kebaikan mirip dengan kakaknya.

Sebuah peristiwa membuat Gita minta maaf pada Gagah. Gita tak ingin Gagah meninggalkannya.

 “Mas janji, Mas tidak akan meninggalkan kamu,” kata Gagah meyakinkan Gita. Ah, bagian ini sangat mengharukan. Saya jadi teringat abang saya.

Suatu hari Gagah mengajak Gita ke sebuah seminar. Gagah dan Nadia (Izzah Ajrina) yang menjadi pembicaranya. Pertemuan dengan Nadia, yang mantap berhijab saat masih kuliah di Amerika membuat Gita berubah pikiran.

Dengan bantuan Tika, Nadia, dan bunda Nadia (Asma Nadia), Gita belajar berhijab. Saat sampai di rumah, sang Mama (Wulan Guritno) dibuat haru atas perubahan Gita yang sangat mendadak. Malam itu Gita tak ingin melepas hijabnya sebelum bertemu sang kakak.

Sayangnya, sampai malam Gagah tak kunjung pulang.

Apakah Gagah akan melihat adiknya berhijab?
Apa yang terjadi dengan Gagah malam itu? 
Bagaimana dengan Yudi?
Bagaimana kisah selanjutnya? 

Tonton saja ya!

Nontoooon :)


“Duka Sedalam Cinta” adalah film yang MANIS : [M]enginspirasi, [A]pik, [N]agih, [I]slami, dan [S]pesial.

[M]enginspirasi
Beberapa inspirasi yang bisa saya ambil dari film ini, di antaranya:
1. Kedekatan dan kekompakan antara kakak dan adik yang bisa menjadi contoh anak muda zaman sekarang. Bagaimana seorang kakak benar-benar bisa menjadi teladan untuk sang adik.
2. Keteguhan untuk hijrah dari dalam diri Gagah meski mendapat pertentangan dari orang-orang terdekatnya.
3. Semangat Gita untuk belajar menjadi pribadi lebih baik.
4. Kelapangan hati seorang ibu dalam menerima perubahan anaknya, bahkan turut mendukung dan membuka diri untuk siap berubah ke arah yang lebih baik.
5. Kreativitas berdakwah yang dilakukan Yudi, yang bisa menjadi inspirasi dalam berdakwah di zaman sekarang. Berbagi pesan kebaikan dengan cara unik dan menarik.
6. Keistiqomahan Nadia untuk berhijab, meski sedang berada di negara dengan jumlah penduduk muslim yang masih minoritas.
7. Keteladanan seorang pemimpin dan tokoh masyarakat yang peduli pada rakyatnya.
8. Keikhlasan mengabdi pada diri Kyai Gufron, dengan mengajarkan ilmu agama dan berbagi manfaat di sebuah daerah yang terpencil.
9. Kesadaran untuk melakukan hal positif di tengah masyarakat ("Rumah Cinta"-nya Gagah membuat saya ingin membangun rumah baca. Semoga suatu saat bisa terwujud. Aamiin...)

[A]pik
Berlatar nuansa alam di Ternate dan Halmahera Selatan, penonton akan dimanjakan dengan indahnya pantai, lambaian nyiur, deretan kapal nelayan, bagaskara yang hadir indah di pagi hari dan larik jingga di kala senja.

Alur film DSC layaknya puzzle yang penuh teka-teki. Penonton harus jeli merangkainya. Saat nonton berulang kali saya bertanya-tanya, “Kok gitu?”, “Lhah, mengapa begini?”  kemudian bergumam, “Oalah.. begini ya..”, “Ooo.. ternyata…”

Yaa.. begitulah.. apik dan bikin penasaran!

[N]agih
Film ini bikin nagih untuk nonton kembali. Dan insya Allah saya akan nonton lagi. Film ini cocok ditonton bersama pasangan, keluarga, dan semua sahabat serta aman ditonton anak-anak.

[I]slami
Idealisme sang produser film, Bunda Helvy Tiana Rosa membuat DSC benar-benar menjadi film yang sangat menjaga syari’at Islam. Tak ada satupun adegan bersentuhan dengan lawan jenis bukan mahram, tak ada pemain dengan busana terbuka atau seronok, serta adegan dari tiap pemain sangat terjaga.

[S]pesial
Banyak hal spesial dalam film DSC ini, setidaknya ada 8 hal spesial:
1. Kisah diangkat dari cerpen fenomenal berjudul “Ketika Mas Gagah Pergi” karya Bunda Helvy Tiana Rosa
2. Dibintangi 4 (empat) bintang muda baru yang sangat berbakat.
3. Lirik lagu “Jalan yang Kupilih” sebagai original sound track film ini dinyanyikan oleh Hamas Syahid, berasal dari puisi karya Bunda Helvy Tiana Rosa yang ditulis tahun 1992.
4. Bertebar pemain senior seperti Mathias Muchus, Wulan Guritno, Epy Kusnandar, dan Ali Syakieb yang membuat film ini makin menarik.
5. Melibatkan beberapa tokoh masyarakat di Ternate dan Halmahera yang juga beradu peran dalam film.
6. Meski baru pertama kali bermain film, akting Ustadz Salim A.Fillah dan Asma Nadia bisa diacungi jempol.
7. Sebagian keuntungan film ini akan disalurkan untuk dana kemanusiaan di negeri sendiri, untuk Rohingya, Suriah dan Palestina melalui Dompet Dhuafa.
8. Akhir kisah yang tak terduga, bahkan jauh berbeda dengan prediksi saya. Nah, kepo kan?😎😎

Tak Ada Film yang Tak Retak

Akting tokoh utama dalam film ini khususnya Hamas Syahid, Masaji, dan Izzah masih terlihat kaku. Bisa dimaklumi sih karena mereka adalah bintang baru. Ini menurut saya ya, kalau kata suami saya mah aktingnya dah bagus-bagus kok!😃

Akting Aquino Umar bisa dibilang sudah cukup berhasil. Selain itu, beberapa adegan terasa datar karena tidak ada backsong yang mengiringi, jadi ‘feel’-nya kurang dapet (atau mungkin pas bagian ini saya yang kurang mendengar ya? Makanya pengin nonton lagi. Mau cari ‘feel’-nya di bagian ini :D). Narasi cukup banyak, membuat saya jadi menebak-nebak siapa pemilik suara. Tapi sebenarnya narasi ini membantu saya menyusun puzzle alur cerita sih.

Ah, karya manusia memang tak ada yang sempurna, namun hadirnya film “Duka Sedalam Cinta” ini semoga membuat semangat dan ikhtiar serta kecintaan kita pada kebaikan kian sempurna.



Salam Duka Sedalam Cinta,
Aisya Avicenna

10 komentar:

  1. Aaah, kereeenn reviewnya. Diikutkan lomba review di akun @dukasedalamcinta aja!

    BalasHapus
    Balasan
    1. Mau bikin lagi untuk lomba review FLP Jakarta

      Hapus
  2. Mantap reviewnya Tik. Hiks saya blm nonton. Secepatnya ah ke bioskop.

    BalasHapus
    Balasan
    1. Yuk Uni, atau ikutan Nobar hari Ahad aja

      Hapus
  3. Wuiiiih, mumpung mau ke Depok. Pengen nonton niiih 😍

    BalasHapus
    Balasan
    1. Ketemuan dooong sama Gazaro.. *bukan emaknya :P

      Hapus
  4. Meninggalkan jejak komentar ah...


    Dan iniiiiii review terkeren plus terlengkap plus terrrrrrr-khassss- ala Aisya Avicenna .. hihhihi

    BalasHapus

Jejak Karya Aisya Avicenna

Jejak Karya Aisya Avicenna