ALLAH MENGULANG NIKMAT-NYA



Alhamdulillah,  Allah izinkan saya menunaikan Shalat Idul Adha di Masjid Ukhuwah Islamiyah,  Universitas Indonesia, Depok hari ini.  Membuat saya tertegun dan terharu karena saya teringat sebuah impian beberapa tahun silam. Waktu itu di tahun 2010 saya sedang diklat CPNS di Pusdiklat Kemendag, Sawangan Depok.


Saat berlangsung sesi motivasi,  saya membuat coretan di buku tentang impian S2. Saya memimpikan bisa mendapat beasiswa S2 di dua kampus terbaik negeri ini.  Waktu itu saya tulis dengan mencoretkan panah ke sudut kanan atas dengan tulisan "UI" (Universitas Indonesia)  dan panah ke sudut kanan bawah dengan tulisan "ITB" (Institut Teknologi Bandung).  Ya,  saya memilih 2 kampus itu sebagai kampus impian untuk melanjutkan studi.

Alhamdulillah,  Allahu akbar!   Setahun kemudian impian mendapat beasiswa S2 pun terwujud.  Allah pilihkan kampus ITB untuk menjadi tempat saya menimba ilmu.  Pilihan kedua bagi saya,  tapi ternyata menjadi pilihan terbaik dari Allah untuk saya.

Meski Allah menetapkan pilihan kedua tersebut untuk saya, tapi kini ada hikmah luar biasa yang saya rasakan yakni tetap berinteraksi dengan kampus pilihan pertama saya,  UI.  Sejak tinggal di Depok yang berlokasi tak jauh dari kampus UI,  saya menjadi sering bertandang ke kampus impian S2  pertama saya tersebut.  Seolah menjadi bagian darinya.  Meski hanya sekadar olahraga pagi, motoran keliling kampus,  berkumpul di masjid UI untuk kajian, diskusi,  dan rapat,  dan beberapa kegiatan lain yang dilakukan di kampus UI.

Kemudian ingatan saya terlempar jauh saat perjuangan mencari kuliah S1  pasca lulus SMA.  Saya menyukai Matematika terutama Statistika,  hingga bercita-cita kuliah di Sekolah Tinggi Ilmu Statistika (STIS). Untuk bisa masuk STIS,  saya belajar keras bahkan sempat nyasar di Semarang saat ikut try out ujian masuk STIS yang diadakan Akademi Ilmu Statistika (AIS)  Semarang. Kalau diingat bikin geli sendiri.

Alhamdulillah,  saya lolos ujian tahap 1 seleksi masuk STIS.  Harapan untuk terwujudnya impian itu masih ada. Akhirnya saya mengikuti ujian tahap selanjutnya yakni psikotes dan wawancara.  Ada satu pertanyaan wawancara yang sangat mengena bagi saya waktu itu yakni soal seragam. Waktu itu saya diperlihatkan seragam kuliahnya dan ditanya, "Mbak, seragamnya seperti ini. Silakan berpendapat tentang seragam ini.  Semua mahasiswa/i STIS wajib mengenakannya.  Untuk yang pakai jilbab,  jilbabnya pendek.  Bagaimana menurut pendapat Mbak?"

Saya melihat gambar seragamnya tidak menutup dada bagi mahasiswi yang berjilbab. Saya pun menjawab kalau saya tetap akan memakai jilbab yang menutup dada (waktu itu saya baru belajar berjilbab syar'i). Pikir saya,  mungkin karena jawaban itulah yang membuat saya tidak lolos,  menentang aturan kampus. Hehe... Ini pengalaman saya lho ya,  bagi teman muslimah yang diterima STIS bisa jadi tidak mendapat pertanyaan serupa. Bagi saya pertanyaan tersebut sebagai ujian keistiqomahan juga di awal saya belajar berjilbab syar'i. Dan saya yakin Allah sudah tetapkan skenario lain yang lebih indah.

Akhirnya,  saya belum berhasil menjadi mahasiswi STIS. Singkat cerita, tahun 2005 saat itu saya diterima di PGSD UNS dan Matematika FMIPA UNS. Saya memilih Matematika UNS karena lebih dekat dengan impian saya menjadi dosen atau statistisi. Alhamdulillah saya lulus dengan masa studi 3 tahun 11 bulan dan beberapa saat kemudian diterima sebagai Statistisi di Kementerian Perdagangan akhir tahun 2009. Saya hijrah ke Jakarta dan kost dekat kampus STIS.  Meski dulu, saya belum berhasil menjadi mahasiswi STIS,  Allah tetap mewujudkan impian saya menjadi seorang statistisi.  Allah tetap menjadikan saya seolah sebagai bagian dari kampus STIS.  Karena kost dekat STIS,  saya sering ikut kajian di masjid STIS,  ngaji-ngekost-ngebolang dengan mahasiswi STIS,  bahkan pernah jadi narsum di sebuah acara yang diadakan organisasi mahasiswa di STIS.  Alhamdulillah...

Allah mengulang nikmat-Nya saat menetapkan pilihan studi S2 seperti kisah saya sebelumnya.

Renungan saya jelang shalat Idul Adha tadi pagi menggiring saya pada ingatan akan nikmat yang selalu Allah ulang di tiap detiknya.

Setiap membuka mata di pagi hari...
Allah kembali memberikan kita nafas.
Allah kembali membuat mata kita bisa melihat.
Allah kembali mengizinkan telinga kita mendengar.
Allah kembali memberikan kita kesempatan beraktivitas.
Allah kembali mengizinkan kita menikmati indah alam raya.
Allah kembali mempertemukan kita dengan keluarga.
Allah kembali menghadiahkan aneka nikmat yang wajib kita syukuri.

“Dan jika kamu menghitung-hitung nikmat Allah, niscaya kamu tak dapat menentukan jumlahnya. Sesungguhnya Allah benar-benar Maha Pengampun lagi Maha Penyayang.” [Qs. An Nahl: 18].

Dan hari ini..
Allah kembali memberikan nikmat-Nya sehingga kita bisa merayakan hari Raya Idul Adha...
Allah kembali memberikan kita kesempatan untuk berqurban kambing atau sapi..
Allah kembali mengizinkan kita menikmati aneka masakan dari daging qurban...
Allah kembali kumpulkan kita dengan keluarga besar...
Allah kembali menghadirkan kenangan pada kita saat berkeliling Ka'bah kala Haji atau Umroh beberapa waktu yang lalu...
Allah kembali hadirkan rasa rindu pada tanah suci-Nya sehingga meletupkan harap dalam jiwa kita untuk berjuang ke sana...
Allah... Allah... Allah..
Sungguh Allah Maha Pemberi Nikmat. Allah mengulang nikmat-Nya setiap saat. Bahkan sebagai pengingat,  Allah pun mengulang satu kalimat istimewa dalam QS Ar-Rahman yang artinya,  "Maka nikmat Allah manakah yang kan kamu dustakan? "

Nikmat Allah sangat banyak,  berulang,  bahkan terus bertambah. Tinggal bagaimana kita mensyukurinya berulang-ulang juga.  Jangan sampai hanya karena satu atau beberapa keinginan kita belum diberi oleh Allah,  kita lupa dengan nikmat-Nya yang terus berulang dan tak berbilang tersebut.

"Sesungguhnya jika kamu bersyukur, pasti Kami akan menambah (nikmat) kepadamu, dan jika kamu mengingkari (nikmat-Ku), maka sesungguhnya azab-Ku sangat pedih" (QS.  Ibrahim : 7)

Selamat Idul Adha dan semangat mensyukuri nikmat-Nya.

Aisya Avicenna

#lintasanpikiran #renunganIdulAdha #impian

0 komentar:

Posting Komentar

Jejak Karya Aisya Avicenna

Jejak Karya Aisya Avicenna