MERANGKAI PROSES, MENJEJAK SUKSES



~seuntai motivasi untuk diri


Kebanyakan kita sering melihat kesuksesan orang lain pada saat orang tersebut sudah berhasil meraih sesuatu, sementara kita belum bisa mencapainya.



Kita cenderung tidak melihat bagaimana proses yang dilalui berupa perjuangan dari orang-orang yang telah sukses itu. Mari kita mengambil contoh dari proses Nabi Muhammad SAW. Beliau menduduki posisi terhormat di sisi Allah SWT. Beliau diangkat menjadi nabi, baru pada saat menginjak usia 40 tahun, setelah tahun-tahun sebelumnya beliau digembleng Allah SWT secara terus-menerus lewat ujian-ujian yang diberikan Allah SWT untuk memantapkan keimanan dalam rangka mempersiapkan tugas mulia yang akan diembannya pada saatnya nanti.

Ujian yang dialami Rasulullah SAW begitu bertubi-tubi, mulai dari ujian ditinggal wafat ayahanda tercinta, yaitu Abdullah semasa masih dalam kandungan ibunda Aminah. Kemudian ditinggal wafat oleh ibunda Aminah ketika beliau berusia sekitar 6 bulan sehingga beliau harus disusukan oleh ibunda Halimatussa’diyah, yang pada akhirnya pengasuhan jatuh pada kakek Abdul Mutholib, lalu terakhir pengasuhan jatuh pada paman Abu Thalib karena sang kakek pun meninggal dunia.

Banyak dari kita yang menilai sesuatu hanya dari hasil akhirnya, padahal jauh di balik suatu keberhasilan, ada rangkaian proses panjang yang menyertainya. Jika kita hanya melihat hasil yang sudah dicapai orang lain, maka bukannya kita mulai mencontoh jejak langkah orang-orang yang kita nilai berhasil, akan tetapi kita bisa jadi terlena dengan memuji orang-orang sukses tersebut atau malah membuat kita berandai-andai ingin seperti mereka tanpa kita sendiri melakukan aksi nyata.

Saya jadi teringat juga akan tugas hafalan yang tidak maju-maju. Padahal sekiranya saya merealisasikan teorinya Ustdaz Yusuf Mansur one day one ayat saja, maka enam ribu enam ratus enam puluh enam ayat Al-Quran dapat saya hafal dalam waktu 19 tahun! Tidak masalah, yang penting ada langkah action. Mahasuci Allah, lagi-lagi ini masalah ikhtiar yang tidak optimal.

Saya kembali merenungkan, sebuah proses yang panjang akan terasa berat jika kita hanya melihat hasil akhir. Coba kita perhatikan seorang ibu yang tengah hamil sembilan bulan! Dengan kondisi perut yang besar, kita akan melihatnya seperti terasa tidak nyaman. Kita tidak menghitung berlalunya hari demi hari, tapi kehamilan itu dinikmati sebagai fitrah seorang wanita.

Ketika kita menjalani suatu proses, kita tidak akan merasa kelelahan walau orang menganggapnya berat, karena kita tidak merasakan itu sebuah beban. Intinya, selalu positifkan pikiran dan perasaan kita bahwa Allah akan senantiasa memudahkan kita dalam menjalani setiap proses yang tengah kita lalui.
Untuk mencapai sebuah kesuksesan, harus diikuti dengan langkah-langkah yang istiqomah. Bukankah Allah SWT menyukai amalan yang sedikit tetapi dilakukan secara terus-menerus?

Dan tidak kalah pentingnya, setelah sekian usaha kita lakukan, kita serahkan hasilnya kepada Allah SWT yang Maha Kuasa, sambil memohon pertolongan, karena tiadalah yang dapat menolong kita selain Allah SWT. “Innalloha yuhibbul mutawakkilin …”
“Sesungguhnya Allah mencintai orang-orang yang berserah diri kepada-Nya,” (QS. Ali Imran : 159).

Maha Suci Allah, semoga Engkau tidak menjadikan hamba sebagai orang yang hanya berkata- kata, tanpa beramal.. aamiin
***
.

KEEP FIGHT!!!
KEEP OPTIMIST!!!
KEEP SPIRIT!!!

Backsong : INI LANGKAHKU (Shoutul Harokah)

Ini langkahku yang akan kuayun
Walaupun payah tak akan jera
Ini langkahku kan trus melaju
Setegar karang bangkitkan jihad
Aral rintangan datang menghadang
Tapi surga di bawah kilatan pedang
Hancurkan kedzoliman
Tegakkan keadilan!
Pastikan langkahmu wahai pejuang
Dengan Al Qur’an menjadi pedoman
Hembuskanlah angin pembaharuan
Karena kita khalifaturrahman!

#ODOP
#BloggerMuslimahIndonesia

1 komentar:

Jejak Karya Aisya Avicenna

Jejak Karya Aisya Avicenna