Catatan Aisya [9] : Behind The Scene "Ekspedisi Aisya : Warna 3 Ranah (part 3)"


Jumat, 9 April 2011. Pagi ini aku keluar kost pukul 05.30. Kalau dalam bahasa Jepang, namanya : “MRUPUT”. Hehe... Insya Allah, hari ini adalah hari pertama masuk kampus “LBQ Al-Utsmani” untuk belajar tahsin di level baru. Lokasi kampusnya di daerah Condet. Aku masuk jam 06.00 pagi. Alhamdulillah, sampai sana masih jam 06.00 kurang dikit. Aku langsung menuju lantai dua untuk melihat pengumuman. Penasaran, siapa ustadzah yang mengajarku di semester ini. Setelah aku baca pengumuman, senyumku mengembang, syukurku tak berbilang. Alhamdulillah, Allah masih ‘menjodohkan’ aku dengan Ustadzah Win. Dua semester terakhir aku belajar dengan beliau. Beliau adalah ‘extraordinary ustadzah’, tegas dan disiplin serta cukup inovatif dalam memberikan materi. Terima kasih ya Allah...


Pada semester ini, kelasku berjumlah 12 orang akhwat. Ada beberapa orang yang baru aku kenal. Alhamdulillah, tambah saudara lagi. Kami belajar dari pukul 06.00 sampai pukul 08.00. Biasanya aku minta izin pukul 07.30 setelah talaqi, tapi kali ini aku tidak izin karena setahuku pimpinan hari ini ada tugas dinas ke luar kota. Hehe, jadi berangkat siang! Subhanallah, pada semester kali ini ternyata jauuuuh lebih menantang dari semester sebelumnya. Pekan depan kami harus setoran 6 hadist! Glek, bismillah... semoga dimudahkan!

Pukul 08.00 aku berangkat ke kantor. Alhamdulillah, di Kopaja 502 aku dapat tempat duduk sehingga bisa membaca buku, meskipun di luar sana macet tengah melanda. Kali ini aku membaca “Agar Bidadari Cemburu Padamu”-nya Ustadz Salim A. Fillah. Aku membaca ini untuk kedua kalinya. Niatanku sih untuk merefresh kembali dan sebagai bahan bakar semangat perbaikan diri.

Pukul 09.00 aku baru sampai kantor. Siang banget ya! Tapi ternyata banyak juga yang baru datang. Maklum, macet! Hehe... Sampai di lantai 9, eh.. ternyata pimpinanku ada. Beliau tidak jadi berangkat ke Bali. Alhamdulillah, aman! Malah beliau mengizinkan aku dan seorang temanku untuk mengurus sesuatu di UI Depok (kisah ini akan aku ceritakan lain kali). Pukul 10.00, aku dan seorang temanku sebut saja namanya Lina, sudah berada di stasiun Gondangdia. Kami naik kereta Ekonomi AC jurusan Bogor. Langsung saja ya, setelah dari UI Depok, kami ke Kementerian Komunikasi dan Informasi untuk menyerahkan sebuah berkas. Awalnya mau fotocopy dulu, tapi ternyata di Kominfo tidak ada akses fotocopy terdekat. Akhirnya kami berjalan menuju Kementerian Perhubungan. Alhamdulillah ada, meski kami harus berjalan memutar. Pukul 13.30, kami kembali ke Kementerian Perdagangan. Pegel juga kakinya. Kalau ditotal mungkin hari ini kami berjalan kali lebih dari 5 kilometer. Alhamdulillah, Allah masih memberikan nikmat sehat.

Sore harinya, pukul 17:15 aku berhasil mendapat izin untuk pulang kantor. Hmm, belum packing soalnya. Insya Allah besok mau berpetualang lagi dalam “Ekspedisi Aisya : Warna 3 Ranah (Part 3)”. Tiga ranah? Mana saja tuh? Pastinya Solo dan Wonogiri. Hmm, satunya lagi masih dirahasiakan. Insya Allah besok pagi juga akan tahu. Sesampainya di kost langsung sholat Maghrib. Masih ada jeda waktu sebelum Isya, akhirnya dimanfaatkan untuk makan malam. Setelah itu menyiapkan barang-barang yang akan dibawa esok harinya. Habis Isya’, aku memutuskan untuk tidur. Badan rasanya capek sekali karena ekspedisi seharian tadi. Setelah membaca doa sebelum tidur, aku menambahkan sebuah doa yang kalau tidak salah, redaksinya seperti ini. “Ya Allah, jika Engkau berkenan... Bangunkan aku dua jam dari sekarang. Aku ingin menyiapkan keperluan untuk besok dan setelah itu aku tidak ingin tidur lagi.”

Subhanallah, aku terbangun pukul 21.30 tanpa alarm! Padahal ketiga alarmku (dua HP dan satu jam weker) sudah aku setting. Tapi mereka bertiga berdering saat aku sudah bangun. Alhamdulillah... Terima kasih Ya Allah...Setelah itu, dapat telepon dari Ibuk juga yang mengabarkan kalau ada penampilan Briptu Norman di BUKAN EMPAT MATA. Hehe, ibukku juga mendadak jadi penggemarnya Briptu Norman. Chaiyaa.. Chaiyaa... Ehem! Teman-teman kost ternyata juga sudah berada di depan TV. Hehe, akhirnya kami berempat nonton aksi Briptu Norman. Sangat menghibur!

Seorang teman kostku saat itu juga tengah menanti kabar kakaknya yang akan melahirkan anaknya yang kedua. Saat kami nonton TV bareng itu, kakaknya baru pembukaan keenam. Jadi kami nonton TV sambil harap-harap cemas. Nah, setelah acara selesai, kami masuk kamar masing-masing. Selang berapa lama, temanku heboh. Ternyata kakaknya sudah melahirkan. Alhamdulillah, kami bisa mendengar suara tangis bayi yang baru lahir lewat telepon. Subhanallah.. lucunya... Semoga menjadi anak yang sholihah ya, Nak!

Sabtu, 9 April 2011. Pukul 00.00, saatnya menegakkan sholat malam. Luruh... Pukul 02.00 berencana tilawah dan rencananya lanjut membaca buku. Al-Qur’an sudah dibuka. Kantuk menyerang. Sempat berdoa, “Ya Allah aku tidak ingin ketiduran, tapi kalau ketiduran, semoga Engkau berkenan membangunkanku sebelum jam 03.00 pagi.” Benar saja, aku ketiduran sambil duduk bahkan sempat bermimpi. Tiba-tiba terbangun pukul 02.45. Masya Allah! Al-Qur’an-ku sudah berpindah posisi, tidak lagi di pangkuan. Tapi, subhanallah walhamdulillah.. Allah mengabulkan doaku. Aku bangun sebelum jam 03.00. Setelah beberapa saat membuka mata, ada telepon masuk. Ternyata dari TAXIKU. Sang operator berujar kalau taksi pesananku bernomor 628. Tapi berhubung aku masih belum 100 % sadar, aku pun lupa dengan nomor yang diberi tahu tadi. Hehe!

Setelah itu, aku bersiap. Hmm, kalau kayak gini aku teringat waktu mau ke Surabaya setahun yang lalu. Aku janjian dengan temanku yang juga memesan TAXIKU. Kami akan terbang pukul 06.00. Taksi akan menjemput dia pukul 03.00. Kemudian akan menjemput aku pukul 03.15. Aku ketiduran juga waktu itu. Bagaimana kisahku selanjutnya kala itu? Insya Allah ada tulisan sendiri untuk mengenang kisah tersebut. Lanjut ke ceritaku tadi. Pukul 03.00, aku turun ke lantai 1 kos untuk makan roti sambil duduk-duduk di kamar Nuri, sahabatku. Subhanallah, ternyata sahabatku itu mau mengantarku sampai ke tempat taksiku mangkal. Tak terduga! Aku mencoba menelepon nomor TAXIKU yang menghubungi tadi, tapi tidak tersambung. Akhirnya aku dan Nuri keluar kost pukul 03.25 menuju Jalan Kebon Nanas Selatan 1.

Setelah sampai di situ, ternyata tidak ada tanda-tanda ada taksi. Wealah... akhirnya, aku telepon ke TAXIKU Centre. Kata operatornya, taksi pesananku sudah menunggu di depan Alfamart di Jalan Otista II. Aku pun berpisah dengan Nuri setelah menemukan taksi tersebut. Ternyata bapak sopirnya sudah menunggu di situ sejak jam 03.00 tadi meski aku pesannya jam 03.30. Terima kasih ya, Pak!

Taksi melaju kencang waktu di jalan tol. Aku lirik speedometernya, 120 km/jam euy!!! Akhirnya kami sampai di bandara Soekarno-Hatta pukul 04.00. Kepagian, Neng! Biasanya kalau naik taksi dari kost ke bandara memakan waktu satu jam, lhah ini malah cuma setengah jam. Tak apalah, lebih baik menunggu lama di bandara daripada tergesa-gesa. Sampai di bandara, langsung check in. Setelah check in dan bayar boarding tax di tempat yang sama, aku masuk ke ruang tunggu. Ealah, baru ada aku dan seorang ibu yang ternyata juga dari Wonogiri. Petugas belum ada yang datang.Sepi sekal! ^^v

“Ibu pulang ke Wonogiri dalam rangka apa?” tanyaku pada seorang ibu yang duduk di samping kananku itu.

Beliau menjawab kalau ada saudaranya yang meninggal secara mendadak. Innalillahi wa inna ilaihi roji’un... Awalnya aku mendengar kalau ada saudaranya yang “menikah”, bukan “meninggal”. Maklum, masih ngantuk! Akhirnya kami terlibat dalam obrolan seru.

“Sudah berkeluarga?” Ibu itu balik tanya.

Hadeeeeh, pertanyaan sentitip (pake “p”, buat penekanan!) Aku jawab, “Belum Bu... Kan saya masih imut,” guyonanku. Ibu itu pun terkekeh. Hehe...

Saat si ibu asyik telepon, aku pun mengeluarkan headset dan mendengarkan Q.S. Ar-Rahman dari ponselku.

Subuh menjelang, aku dan ibu itu turun ke lantai dasar untuk mengambil wudhu. Adzan belum berkumandang, aku tilawah dulu di mushola. Menamatkan Q.S. Ar-Ra’du dan mulai mengawali Q.S. Ibrahim. Paling suka waktu membaca Q.S. Ibrahim ayat 7. BERSYUKUR! BERSYUKUR!BERSYUKUR!!!

Tilawahku berhenti saat ada seorang bapak yang masuk. Aku perhatikan bapak itu, beliau melepas baju luarnya yang ternyata adalah ‘baju dinas’nya. Beliau mendobel bajunya. Beliau adalah seorang cleaning service di lantai 1 bandara ini. Setelah itu, beliau ambil wudhu kemudian menjadi imam dalam sholat subuh kali ini. Salut deh sama beliau. Beliau tetap sholat tepat waktu!

Setelah sholat, aku kembali ke ruang tunggu. Sekarang petugasnya sudah datang. Aku ke bagian boarding check untuk mendapatkan sticker tanda tempat duduk. Sticker bulat berwarna merah ia tempelkan di boarding pass-ku yang berarti aku duduk di sebelah depan. Pukul 05.30, kami masuk pesawat. Aku duduk di kursi 9 F, dekat dengan jendela. Sebelah kiriku kosong. Duh, senangnya! Sempat ngeh waktu melihat seorang artis yang wajahnya akhir-akhir ini menghias layar kaca setelah menikahi seorang peragawati asal Solo. Saiful Jamil. Dia duduk di belakangku sebelah kiri.

Pesawat lepas landas jam 06.00. Alhamdulillah... Saat-saat mau take off itulah menjadi saat yang sangat menegangkan. Doa menderas... Baru merasa plong saat pesawat sudah mengudara. Subhanallah, betapa Maha Kuasanya Allah yang menghamparkan permadani putih di langit. Awan yang kulihat pada penerbangan kali ini jauh lebih keren dibanding sebelumnya. Putih, bersih, indah nian! Di ketinggian 26.000 kaki itu, aku pun menikmatinya sambil membaca buku “Agar Bidadari Cemburu Padamu”-nya Salim A. Fillah. So inspiring!!!

Alhamdulillah, akhirnya pada pukul 07.05 kami mendarat di bandara Adi Sumarmo Solo. Welcome to Solo... Dan Ekspedisi Aisya dalam Warna 3 Ranah (Part 3) pun dimulai.... Bismillahirrahmanirrahim...

Wonogiri, 9 April 2011_17:26

Aisya Avicenna

writer@www.aisyaavicenna.com


Tulisan ini diposting pada bulan April 2011 di blog sebelumnya.

0 komentar:

Posting Komentar

Jejak Karya Aisya Avicenna

Jejak Karya Aisya Avicenna