Catatan Aisya [23] : Membudayakan Taubat (Reportase)


Hari, Tanggal : Sabtu, 23 April 2011
Pukul : 08.00-12.00
Tempat : Masjid Baitul Ihsan, Bank Indonesia, Jakarta Pusat
Pembicara : Ustadz Bachtiar Nasir, LC

***
Materi dari ustadz baru dimulai pukul 09.00. Surprise juga saat sebelum materi, ada kesempatan untuk belajar tahsin dulu. Kami dibagi menjadi beberapa kelompok kecil dalam halaqoh-halaqoh. Subhanallah, aku masuk dalam kelompok yang sebagian besar ibu-ibu. Ada yang nenek-nenek juga. Kami belajar bersama seorang ustadz. Ibu-ibu begitu bersemangat, meskipun berulang kali sering salah dalam membaca. Ustadznya juga sangat sabar. Keren deh!

Moderator mengawali acara dengan berbagi kisah tentang seorang laki-laki dari Bani Israil yang membunuh 99 orang dan ingin bertaubat. Akhirnya ia mendatangi seorang rahib dan bertanya apakah taubatnya bisa diterima. Sang rahib berujar bahwa taubatnya tidak akan diterima. Akhirnya laki-laki itu membunuh sang rahib. Seratus nyawa akhirnya melayang atas perbuatannya. Ia benar-benar ingin bertauubat. Akhirnya ia bertanya apakah ada orang alim yang bisa ia tanyai. Akhirnya, bertemulah ia dengan seorang alim/ahli hikmah. Ia pun bertanya apakah taubatnya bisa diterima. Sang ahli hikmah menjawab, “Mengapa tidak? Allah Maha Pengasih lagi Maha Penyayang. Pergilah ke kota itu, di sana orang mentauhidkan Allah. Tinggalkan kampungmu yang penuh maksiat!”

Laki-laki pembunuh itu menuruti kata sangg ahli hikmah. Demi mewujudkan keinginan besarnya untuk bertaubat, laki-laki pembunuh itu bergegas hijrah ke kota yang dimaksud sang ahli hikmah. Ternyata ia meninggal dalam perjalanan. Malaikat pencatat amal kebaikan dan malaikat pencatat amal keburukan ‘berselisih’ apakah laki-laki pembunuh itu masuk surga ataukah neraka. Akhirnya diukurlah langkahnya dan ternyata langkah kaki laki-laki pembunuh itu lebih dekat menuju kota tempat tujuannya bertaubat. Akhirnya ia masuk surga.

Ilmu itu cahaya dan cahaya Allah tidak akan diberikan pada orang yang suka bermaksiat.
Sebuah kisah tentang Abu Nawas yang menurut temannya, Abu Nawas pernah bercerita bahwa ia bermimpi duduk di taman surga. Setelah di tanya, mengapa Abu Nawas bisa berada di surga, Abu Nawas menjawab bahwa ia masuk surga karena membuat syair tentang taubat yang ia simpan di bawah kasurnya. Syair itu berbunyi demikian.

Ilaahi Lastu Lil Firdausi Ahlaa
Walaa Aqwaa `Alan Naaril Jahiimi
Fahablii Taubatan Waghfir Dzunuubii
Fainnaka Ghoofirudz Dzambil `Adzhiimi
Dzunuubii Mitslu A`daadir Rimaali
Fahabli Taubatay Yaadzal Jalaali
Wa `Umrii Naaqishun Fii Kulli Yaumi
Wa Dzambii Zaidun Kaifak Timaali
Ilaahii `Abdukal `Aashii Ataaka
Muqirrom Bidz Dzunuubi Waqod Da`aaka
Wain Taghfir Fa-Anta Lidzaaka Ahlun
Fain Tathrud Faman Arju Siwaaka


Ya Tuhanku, aku tak layak menjadi ahli syurga-Mu
Namun, aku tidak mampu menahan panasnya siksa api neraka
Terimalah taubatku dan ampunilah dosa-dosaku
Sesungguhnya hanya Engkau Maha Pengampun dosa-dosa besar
Dosa-dosaku seperti jumlah debu pasir dipantai
Maka terimalah taubatku Wahai Pemilik Keagungan
Dan sisa umurku berkurang setiap hari
Dan dosa-dosaku bertambah, bagaimana aku menanggungnya
Ya Tuhanku, hamba-Mu yang berdosa ini datang kepada-Mu
Mengakui dosa-dosaku dan telah memohon pada-Mu
Seandainya Engkau mengampuni
Memang Engkaulah Pemilik Ampunan
Dan seandainya Engkau menolak taubatku
Kepada siapa lagi aku memohon ampunan selain hanya kepada-Mu

Acara selanjutnya adalah materi dari Ustadz Bachtiar Nasir.
Beberapa point yang sempat saya catat dari apa yang beliau sampaikan:
1.Bertaubat tidak cukup dengan meninggalkan yang dilarang tapi juga melaksanakan perintah. Kekeliruan saat ini, bertaubat hanya dipahami dengan meninggalkan maksiat saja.
2.Taubat ada dua, yakni taubat yang wajib (taubat dengan meninggalkan yang dilarang tapi juga melaksanakan perintah) dan taubat yang sunnah ( Taubat dengan menjalankan sunnah Rasul dan menjauhkan diri dari yang dimakruhkan Rasulullah Saw.)
3.Belajar dari kisah taubatnya Nabi Adam as
Hikmah kisahnya:
a.Akibat dari dosa yang dilakukan Adam, maka Allah menyingkapkan keburukannya (Q.S. Thaha : 21)
b.Adam dan Hawa terusir dari surga (Q.S. 7 : 24)
c.Allah Swt mencela mereka (Q.S. 7 : 22)
4.Belajar dari kisah taubatnya Nabi Nuh as
a.Nuh adalah bapak manusia setelah Adam dan kemudian disusul Ibrahim.
b.Pada masa Nuh, ada 5 orang shalih yang sangat dermawan kemudian didewakan secara berlebih-lebihan oleh umat Nuh dengan dibuatnya patung mereka saat mereka telah wafat. Inilah yang menjadi contoh syirik pertama kali di muka bumi.
c.Nuh merupakan hamba Allah yang banyak bersyukur dalam keadaan apapun. So, kunci hidup berbahagia dalam beragama adalah berdzikir dan bersykur (Q.S. 2 : 152). Bukan dzikir di lisan saja, tapi juga di dalam qalbu. Merasakan dan menyaksikan keagungan-Nya di alam raya. Orang yang sering berdzikir, akan mampu banyak bersyukur.
d.Dzikir kalbu :
-Mampu merasakan keagungan nama dan sifat-Nya
-Mampu merasakan kebesaran Allah di jagad raya
e.Wujud syukur :
-Lisan
-Memberi mahabah (daya cinta) dan inabah (efek dari mahabah) pada Allah
-Perbuatan, kuncinya : taat
f.MAHABAH
-Cinta yang tidak berbalas ridho dari Allah bisa disebabkan karena cintanya tidak dibarengi dengan ketaatan kepada Allah. Itulah cinta yang sia-sia.
-Ikhlaskan memurnikan ibadah karena Allah semata
g.INABAH
-Ketika kita merasa lebih pintar dari orang lain, itu sombong namanya.
-Hidup ini di antara 2 misteri, yakni ikhtiar insani dan takdir Ilahi.
-Orang yang cerdas dalam menjalankan hidup adalah orang yang mampu menjalani hidup di antara ikhtiar insani dan takdir Ilahi.
-Taufiq adalah pertemuan antara kehendak Allah dan manusia.
h.Tidak harus menunggu berdosa baru bertaubat. Nabi Nuh as selalu menjadikan taubat sebagai gaya hidupnya
i.Alam bawah sadar manusia senang dengan pengulangan.
j.Formula dahsyat sebelum tidur :
-Memaafkan orang lain
-Bertaubat
-Berdzikir
-Mendengarkan murottal sebagai pengantar dan teman tidur
k.Doa Nabi Nuh (Q.S 11 : 45)
l.Nuh berhasil membentengi diri sendiri, tapi tidak berhasil membentengi anaknya (Q. S. Al-A’raf : 59)
5.Belajar dari kisah taubatnya Nabi Yunus as
Q.S. 21 : 87
Ia taubat di dalam perut ikan
6.Belajar dari kisah taubatnya Nabi Ayub as
Ayub adalah hamba paling sabar. Ia tidak minta sembuh pada Allah. Ia selalu yakin bahwa segala sesuatu yang datang dari Allah, pasti baik untuknya.

Jakarta, 230411
Aisya Avicenna


Tulisan ini diposting pada bulan April 2011 di blog sebelumnya.

0 komentar:

Posting Komentar

Jejak Karya Aisya Avicenna

Jejak Karya Aisya Avicenna