Catatan Aisya [2] : Pelajaran Berharga di Kereta


Hari kedua di bulan April. Pagi ini, pukul 05.30 saya sudah siap dengan kostum merah marun. Jam segitu saya sudah keluar kos untuk cari sarapan. Meski jalan agak jauh, akhirnya menemukan juga warteg yang buka sepagi itu. Sayur daun singkong, telur mata sapi, dan nasi porsi separo menjadi menu sarapan saya.Setelah menikmati sarapan, pukul 06.00 saya keluar kos, naik Kopaja 502 dan menuju Stasiun Gondangdia. Sekitar setengah jam perjalanan, sampailah saya di daerah Gondangdia. Turun dari Kopaja 502, saya berjalan menuju Stasiun Gondangdia yang ternyata lokasinya masih cukup jauh. Hmm, saya memang baru pertama kali ke stasiun tersebut. Kalau dihitung-hitung, mungkin sudah hampir setahun tidak naik KRL.

Saya sempat bingung saat memasuki areal Stasiun Gondangdia. Di mana loketnya? Saya terus berjalan menyusuri pedagang kaki lima dan jajaran warteg hingga akhirnya saya menemukan tangga menuju lantai dua yang menurut kata hati saya, loket pembelian karcis ada di sana. Ternyata memang benar. Cukup dengan uang Rp 1.500,00 karcis kereta ekonomi jurusan Depok pun sudah di genggaman. Saya telepon Mbak Uli, teman kantor yang akan menjadi sahabat berpetualang ke Fakultas Ekonomi UI Depok hari ini. Dia sudah berada di lantai 3. Saya sempat kebingungan lagi waktu mau masuk peron yang akan dilewati kereta jurusan Depok, karena papan petunjuknya kurang begitu jelas. Meski sempat singgah di peron yang salah, akhirnya bisa ketemu Mbak Uli di peron yang akan dilewati kereta yang akan kami tumpangi. Ngos-ngosan juga karena naik turun tangga. Sekitar pukul 07.15, kereta ekonomi itu akhirnya datang. Alhamdulillah, kami dapat tempat duduk.

“Gorengan.. gorengan! Kaca mata... kaca mata! M3 3000, Axiz 3000! Gesper.. Gesper! Gemblong.. kacang... lontong! Mizon... Mizon...!” Hmm, suasana kereta ekonomi yang cukup berisik, tapi menjadi harmoni kehidupan yang saya suka. Saya belajar banyak dari mereka. Dengan segenap keterbatasan modal (mungkin), tapi mereka berjuang keras untuk survive di ibukota. Pemandangan menyentuh lainnya adalah saat dua orang pengamen memasuki gerbong tempat saya duduk. Saya yakin mereka adalah sepasang suami istri. Sudah renta. Sang istri mengenakan kerudung putih berwarna usang. Sedang di belakangnya, sang suami berjalan memegang pundak sang istri sambil mendendangkan sebuah lagu Melayu yang pernah dinyanyikan Arai pada Zakiah Nurmala dalam film “Sang Pemimpi”. Saya menikmati alunan merdu itu. Tapi saya terkesiap setelah mereka berada di dekat saya.

Kedua pasang mata itu.... Ya, mereka buta! Ya Allah... cukupkanlah rezeki mereka karena hanya Engkau yang kuasa mencukupkan kehidupan hamba-Mu. Pikiran dan hati saya berkecamuk. Bagaimana kehidupan sehari-hari mereka? Bagaimana dengan anak-anak mereka? Bagaimana cara mereka turun dari kereta ya? Rumah mereka di mana? Saya jadi teringat kedua orang tua di rumah. Alhamdulillah, saya sangat bersyukur karena kedua orang tua saya sehat wal’afiat. Tidak ada cacat. Ya Allah... Ya Allah... Ya Allah...

Selang berapa lama, saat kedua pengamen itu berlalu dari gerbong, terdengar lagi lagu dangdut dari kejauhan. Sumber suara dari gerbong sebelah kanan. Melintaslah di depan saya, seorang anak kecil berusia sekitar 5 tahun (perkiraan saya) yang berbadan tambun, menggerak-gerakkan badannya mengikuti irama lagu. Ekspresi wajah anak itu datar. Sungguh, tak ada keceriaan. Saya menangkap tatapan mata kosong saat kedua matanya beradu dengan kedua mata saya. Di belakangnya, sang ibu menenteng tape karaoke yang ia pakai sebagai perlengkapan aksi mereka. Ya Allah... bagaimana masa depan anak kecil itu? Adakah Engkau selipkan kebahagiaan untuknya kelak? Saya yakin Engkau telah siapkan yang terbaik untuknya, karena Engkau Maha Pengasih... Engkau Maha Penyayang...

Pengamen satu berlalu, datang pengamen yang lain. Masih dengan lagu dangdut. Memang benar seperti sebuah lagu yang pernah dinyanyikan Project Pop yang berjudul “Dangdut is The Music of My Country”. Dangdut menjadi ‘lagu wajib’ pengamen di kereta sepertinya. Kali ini saya lebih terkesiap. Seperti apa yang menyanyi? Sumber suara semakin dekat, tapi kok pemilik suaranya tak kunjung terlihat. Maha Besar Allah, ternyata pengamen kali ini (maaf) kakinya buntung. Dia mengenakan sandal bukan di kedua kakinya, tapi di kedua tangannya. Michrophone yang ia gunakan untuk menyanyi, diikat di lehernya. Dia berjalan mengesot di lantai. Hujan turun deras! Tapi di hati saya. Ya Rabbi...

Saya belajar banyak dari mereka. Betapa dengan segala keterbatasan, mereka masih tegar dalam berjuang. Bagaimana dengan saya? Bagaimana dengan kita? Mari kita renungkan bersama. Semoga kita bisa berbenah menjadi pribadi yang lebih baik lagi, menjadi pribadi yang pandai bersyukur, serta menjadi pribadi yang bermanfaat untuk sesama.



~Sebuah kontemplasi malam, 020411_21:46

Aisya Avicenna


Tulisan ini diposting pada bulan April 2011 di blog sebelumnya.

0 komentar:

Posting Komentar

Jejak Karya Aisya Avicenna

Jejak Karya Aisya Avicenna