Catatan Aisya [12] : Akupun Seperti Kaca yang Berdebu


Ia ibarat kaca yang berdebu
Jangan terlalu keras membersihkannya
Nanti ia mudah retak dan pecah
Ia ibarat kaca yang berdebu
Jangan terlalu lembut membersihkannya
Nanti ia mudah keruh dan ternoda
Ia bagai permata keindahan
Sentuhlah hatinya dengan kelembutan
Ia sehalus sutera di awan
Jagalah hatinya dengan kesabaran
Lemah-lembutlah kepadanya
Namun jangan terlalu memanjakannya
Tegurlah bila ia tersalah
Namun janganlah lukai hatinya
Bersabarlah bila menghadapinya
Terimalah ia dengan keikhlasan
Karena ia kaca yang berdebu
Semoga kau temukan dirinya
Bercahayakan iman

(Nasyidnya Maidany yang pagi ini aku putar berulang kali, menemaniku berkontemplasi)


Alhamdulillah, segala puji bagi Allah Swt, Sang Pencipta alam semesta. Shalawat dan salam selalu tercurahkan kepada Nabi Muhammad Saw, keluarga, dan siapapun yang menegakkan sunnah-sunnahnya. Sungguh, baik engkau masih gadis maupun sudah bersuami, dirimu adalah pendidik generasi, yang dilahirkan sebagai pahlawan, sumber cahaya kehormatan dan kecantikan. Engkau adalah ibu yang lemah lembut, awan yang teduh, kawan yang penuh perhatian, dan wanita berhati sutra. Engkau juga seorang istri yang setia, taat lagi bertaqwa, sholihah dan suci, terhormat dan pemalu, bunga yang selalu mekar dan harum, hadiah yang sangat berharga dari Allah untuk suamimu, senyummu selalu menghiasi bibirmu. Engkaulah daratan tempat kapal berlabuh, setelah mengarungi samudera yang penuh ombak dan badai. Belaian tanganmu selalu mendatangkan kesejukan.

Akan tetapi, dengan segala kelebihan yang telah menjadi milikmu itu, haruslah engkau tetap sadar bahwa dirimu adalah seorang da’i, penyebar ajaran Islam. Yang tidak pernah bosan mengingatkan dan menasihati, selalu rajin puasa dan sholat malam, penuh ilmu dan pemahaman, selalu ruku’ dan sujud. Bersyukur kepada Allah dan memuji-Nya, sabar dalam menghadapi segala cobaan, berkemauan keras dan selalu menjaga kehormatan diri.

Saudariku...

Sungguh selalu terbayang wajahmu yang teduh, pribadimu yang lemah lembut, rendah hati lagi peduli, kebajikan selalu menjadi pilihanmu. Setiap sepertiga akhir malam tiba, tak pernah kau lewatkan untuk menangis dan merintih, mengharap kasih sayang dan ampunan dari Yang Maha Mendengar. Selalu kau jauhkan dirimu dari hal yang haram. Kau berlari kencang menyebut panggilan Allah. Semua kewajiban kau tunaikan tanpa cela.

Seorang ibu adalah sekolah, jika engkau menyiapkannya, berarti engkau menyiapkan generasi yang baik. Seorang ibu adalah taman, jika seseorang memeliharanya ia akan tumbuh dengan baik. Seorang ibu adalah guru pertama. Seorang wanita adalah ibu bagi masyarakat yang bijaksana di rumah suaminya, Rasulullah bersabda : ”Seorang wanita adalah seorang pemimpin di rumah suaminya dan ia bertanggung jawab terhadap yang dipimpinnya”

Saudariku….

Mengingatmu juga berarti mengingat anak-anakmu nantinya yang masih kecil. Dan sikapmu kepada mereka. Terbayang dalam benakku, bagaimana kau begitu sayang dan perhatian kepada mereka. Semua tugas dan aktifitas, betapapun pentingnya, akan kau tinggalkan jika anak-anakmu membutuhkanmu. Kau selalu dekat dan akrab dengan mereka. Sungguh beruntung mereka, mempunyai ibu seperti dirimu. Mendidik anak-anak yang masih suci hatinya, jernih pikirannya, belum mempunyai banyak kesibukan, lebih banyak waktunya dalam belaian dan dekapan kita, dengan metode yang dicontohkan Rasulullah Saw. Terbayang dalam benakku, dirimu akan selalu mendorong anak-anakmu menghafal Al Quran mulai dini, karena dengan menghafal di waktu kecil bagaikan memahat di atas batu. Jadikan mereka mujahid. Jadikan mereka tentara-tentara Allah. Jangan biarkan mereka bermanja-manja. Jangan biarkan mereka bermalas-malasan. Siapkan mereka untuk menjadi hamba yang sholeh, yang selalu bertaqwa dan bertambat kepada Allah. Jadilah ibu yang memberi tauladan kepada anak-anakmu.

Saudariku...

Dirimu memang bukanlah muslimah yang sempurna, dirimu bukanlah Khadijah yang begitu sempurna di dalam menjaga diri, dirimu bukanlah Hajar yang begitu setia dalam sengsara, dirimu memang tidak setegar Aisyah dan juga tidak setabah Fathimah yang tetap mulia dalam sahaja, dirimu adalah wanita akhir zaman yang berusaha menjadi shalehah.Semoga Allah selalu memberkahimu….



Bukan dari tulang ubun kamu dicipta
Sebab berbahaya membiarkannya dalam sanjung dan puja
Tak juga dari tulang kaki
Karena nista menjadikannya diinjak dan diperbudak
Tetapi dari rusuk kiri
Dekat ke hati untuk dicintai
Dekat ke tangan untuk dilindungi


"Selalu wasiatkan kebaikan pada para wanita. Karena mereka diciptakan dari tulang rusuk, dan bagian yang paling bengkok dari jalinan tulang rusuk ialah tulang rusuk bagian atas. Jika kalian paksa diri untuk meluruskannya, ia akan patah. Tapi jika kalian mendiamkannya, ia akan tetap bengkok. Karena itu, wasiatkanlah kebaikan pada para wanita," (HR. Bukhari dari Abu Hurairah)

~Bukan ubun, bukan kaki, tapi rusuk kiri...~



Sumber inspirasi : “Agar Bidadari Cemburu Padamu” (Salim A. Fillah)

KONTEMPLASI PAGI
Wonogiri, 120411_05:35
Aisya Avicenna

writer@www.aisyaavicenna.com


Tulisan ini diposting pada bulan April 2011 di blog sebelumnya.

0 komentar:

Posting Komentar

Jejak Karya Aisya Avicenna

Jejak Karya Aisya Avicenna