Belajar dari Telur Busuk



Pagi ini, setelah sholat Subuh dan tilawah, saya beranjak menuju dapur kost yang terletak di lantai 1. Sekotak bumbu dapur yang saya simpan di kulkas sudah saya bawa. Sempat balik lagi ke kamar untuk mengambil nasi di magic com. Pagi ini saya berencana memasak nasi goreng keju rasa teriyaki. Hehe... ada-ada saja deh! Tak apalah, sebagai langkah persiapan kalau sudah berumah tangga kelak. Kasihan kan kalau suami atau anak-anak kelaparan gara-gara saya nggak bisa masak. Ehem! Memang sudah saya tekadkan untuk masak setiap hari. Tapi ya masih taraf belajar.
Bumbu sudah saya racik. Hmm, kayaknya ada yang kurang. Telur! Akhirnya saya meminta sebutir telur milik sahabat kost saya yang masih tersisa dua di kulkas setelah sebelumnya berjanji untuk mengganti keesokan harinya. Saya naik ke lantai 2 dan memilih 1 di antara kedua telur tersebut.
Kemudian saya menyalakan kompor gas, menyiapkan penggorengan dan menuangkan minyak goreng yang masih tersisa sedikit di botol. Wah, besok harus belanja ekstra nih! Minyak mulai memanas. Saya masukkan bumbu yang sudah saya racik tadi. Saat sudah berbau harum, saya pecah telur ayam tadi. Prakkk! Telur masuk ke penggorengan. Astaghfirullah, warnanya hitam! Ternyata telurnya sudah busuk. Kata teman saya memang 1 di antara 2 telurnya yang masih tersisa itu sudah lama disimpan. Tapi dia juga tidak tahu kalau telurnya ternyata sudah busuk. Ia pun meminta maaf.
Akhirnya, saya meracik ulang bumbu nasi goreng special itu. Dengan menggunakan alat penggorengan yang berbeda. Hmm, kerja dua kali nih! Padahal saya harus berangkat ke kantor lebih pagi karena ada upacara Hari Kebangkitan Nasional. Alhamdulillah, akhirnya nasi goreng keju rasa teriyaki itu siap disantap. Hmm, alhamdulillah enak meski tanpa menggunakan telur.
Ada hikmah yang bisa saya ambil atas kejadian tadi pagi :
1. Jangan melihat sesuatu dari luarnya saja. Bisa jadi apa yang tampak dari luar ternyata bertolak belakang dengan yang sebenarnya. Pun demikian saat kita mengenal seseorang. Kita harus tahu betul bagaimana kepribadiannya. Seorang pemuda yang tampan, tapi hatinya tidak tampan, yaa.. jangan dipilih sebagai calon suami! hehe.. lha kok menjurus ke sana!
2. Coba kalau saja saya tidak salah memilih telurnya, mungkin masakan saya akan lebih kompleks kandungan gizinya. Ehem! Yaa... hidup ini memang penuh dengan sajian pilihan. Setiap pilihan pasti ada konsekuensinya. Tidak sembarangan. Harus dipikir masak-masak. Dipikirkan dengan pikiran yang jernih dan hati yang bersih. Tegaslah dalam memilih tapi juga berhati-hatilah! Jangan sampai salah memilih. Sungguh rugi jika hidup yang indah ini dilewatkan bersama pilihan yang salah.
3. Sesuatu yang rusak, akan memberi dampak yang buruk juga. Analogi dengan hati kita. Rasulullah saw telah bersabda yang artinya “Ingatlah sesungguhnya di dalam tubuh manusia itu ada segumpal daging apabila ia baik maka baiklah seluruh tubuhnya dan jika ia rusak maka rusaklah seluruh tubuhnya tidak lain dan tidak bukan itulah hati.”
4. Setelah tahu bumbu masakan saya sudah tidak layak lagi digunakan karena tercampur telur busuk, akhirnya saya berusaha meraciknya kembali. Hmm, begitu pun dengan diri kita dan segala dosa kita. Dosa kita memang tak bisa kita kalkulasikan. Tapi, dosa kita bisa terhapus jika kita bertaubat dan berusaha untuk memperbaiki diri. Allah Maha Penyayang, Allah Maha Pengampun.
5. Satu hal lagi, apapun hal buruk yang menimpa (termasuk kejadian telur busuk yang terjadi pada saya tadi pagi) pastilah ada hikmah yang bisa kita ambil. So, pastikan bahwa kita bukan termasuk golongan manusia yang mudah berputus asa dari rahmat Allah. Yakin saja, Allah tak pernah menuliskan skenario buat hamba-Nya tanpa tujuan.

Demikian sedikit cerita saya hari ini. Semoga menginspirasi! ^^v

Menjelang Maghrib
Jakarta, 200511_17:57
Aisya Avicenna

0 komentar:

Posting Komentar

Jejak Karya Aisya Avicenna

Jejak Karya Aisya Avicenna