Inspirasi 19 Ramadhan 1431 H


Ahad, 29 Agustus 2010
Pukul 05.30 mengeluarkan REDLIPET (nama sepeda lipatku yang berwarna merah) dari “singgasana”nya. Pagi ini berencana naik sepeda bersama Nuri, sahabat kostku. Awalnya aku naik sepeda sendirian, Nuri berjalan mengikutiku. Saat melewati jalan menuju Pasar Sawo, ada dua orang bapak yang menyeletuk, “Sepedanya cantik!”. Hehe, langsung mesem. Merah gitu lho! ^^v Awalnya bersepeda gantian, akhirnya boncengan. Saat aku dibonceng Nuri, tiba-tiba ada anak kecil yang bilang, “Mbak, ban sepedanya kempes!”. Walah, akhirnya aku turun dari boncengan. Dan benar saja, bannya sedikit kempes. Akhirnya Nuri yang mengayuh sepeda sendirian, aku berjalan di belakangnya. Kalau mau balik ke kost, nanggung. Sudah cukup jauh. Kami gantian naik sepeda menuju Taman Simanjuntak meski ban sepedanya sedikit kempes (nekat.com). Sampai di sana sudah cukup ramai. Kami memilih salah satu tempat duduk yang ada di taman itu untuk beristirahat sejenak. 


Wew... Astaghfirullah, ada beberapa remaja yang malah berdua-duaan, nongkrong sambil ketawa-ketiwi tidak jelas. Tiba-tiba ada seorang ibu paruh baya yang berdiri di depan kami. Awalnya aku tidak memperhatikan ibu itu. Aku asyik YM-an dengan seorang sahabat. Setelah beberapa saat, ibu itu berhasil mengalihkan perhatianku. Tiap ganti gerakan tubuh, ibu itu selalu melafazkan dzikir. “Subhanallah”, “Alhamdulillah”, “Allahu Akbar”. Berkali-kali. Aku menjadi tertarik. Ibu itu mendekatiku. Minta izin menggunakan bangku di sampingku sebagai pegangan tangannya. Beliau tak henti berdzikir. Ya Allah, basahilah lidahku dengan dzikir kepada-Mu seperti ibu ini, begitu doaku!

Akhirnya ibu itu mengajak aku dan Nuri bercakap-cakap. Ternyata beliau baru sembuh dari kelumpuhan. Sekitar empat bulan yang lalu, beliau terkena stroke. Bahkan sempat koma 4 hari. Kuburannya pun sudah dipersiapkan. Maha Besar Allah, ibu itu berhasil sembuh setelah menjalani perawatan. Beliau sempat menderita amnesia juga. Beliau banyak mengambil hikmah dari penyakitnya itu. Beliau sangat bersyukur karena diberi kehidupan baru. Setelah sadar dari komanya, beliau belajar merangkak, berdiri, dan berjalan lagi. Bahkan belajar mengeja huruf lagi. Beliau benar-benar memulai kehidupan barunya dari nol, tepat di usianya yang ke-50. Ibu itu menyadari bahwa selama ini beliau telah mengesampingkan ilmu agama. Beliau adalah seorang pengajar yang sering mengisi seminar-seminar di berbagai tempat. Kini beliau sadar bahwa ilmu agama memang tidak bisa dipisahkan dari ilmu-ilmu yang lain. Sebelum berpisah, ibu itu sempat berpesan pada kami. Jika memiliki ilmu agama, sebarkanlah ke orang lain. Sampaikanlah walau satu ayat. Trus, jangan melalaikan Allah sesibuk apapun kita. Pesan yang dalem banget.
Hmm, sebuah pertemuan yang luar biasa!!!! Alhamdjavascript:void(0)ulillah...
Jakarta, 19 Ramadhan 1431 H
Aisya Avicenna




Tulisan ini diposting pada bulan Agustus 2010 di blog sebelumnya

0 komentar:

Posting Komentar

Jejak Karya Aisya Avicenna

Jejak Karya Aisya Avicenna