Saatnya Memaksimalkan Potensi untuk Menjadi Muslimah Dambaan Umat

Oleh : Etika Suryandari (M0105037)

Seorang muslimah mempunyai kedudukan yang sangat tinggi di dalam Islam dan pengaruh yang begitu besar di dalam kehidupan setiap muslim. Dialah sekolah pertama di dalam membangun masyarakat yang shalih jika ia berjalan sesuai dengan petunjuk Al-Qur’an dan Sunnah Rasulullah SAW. Karena berpegang teguh kepada kedua sumber itu dapat menjauhkan setiap muslim laki-laki dan wanita dari kesesatan di dalam segala sesuatu. Kesesatan bangsa-bangsa dan penyimpangannya tidak akan terjadi kecuali karena mereka menjauh dari ajaran Allah SWT dan ajaran yang diajarkan oleh para nabi dan rasul-Nya. 

Rasulullah SAW bersabda dalam sebuah hadits:“Aku tinggalkan pada kamu dua perkara, kamu tidak akan tersesat selagi kamu berpegang teguh kepadanya, yaitu Kitabullah (Al-Qur’an) dan Sunnah Nabi-Nya”. (Diriwayatkan Imam Malik di dalam Kitab Al-Muwaththa’). Di dalam Al-Qur’an terdapat banyak ayat yang menunjukkan betapa pentingnya peran kaum wanita, sebagai ibu, sebagai istri, sebagai saudara, dan sebagai anak. Mereka juga mempunyai hak-hak dan kewajiban-kewajiban, sedangkan Sunnah Rasulullah SAW berfungsi menjelaskannya secara detail.

Cermin Seorang Muslimah
Pentingnya peran seorang muslimah itu tampak di dalam beban tanggung jawab yang harus diembannya dan perjuangan berat yang harus ia pikul yang pada sebagiannya melebihi beban tanggung jawab yang dipikul kaum pria. Maka dari itu, di antara kewajiban terpenting kita adalah berterima kasih kepada ibu kita, berbakti kepadanya, dan mempergaulinya dengan baik. Dalam hal ini ia harus lebih diutamakan dari pada ayah. Allah SWT berfirman:“Dan kami perintahkan kepada manusia (berbuat baik) kepada dua orang ibu-bapaknya; ibunya telah mengandungnya dalam keadaan lemah yang bertambah-tambah, dan menyapihnya dalam dua tahun. Bersyukurlah kepada-Ku dan kepada kedua ibu bapakmu, hanya kepada Ku-lah kamu kembali” (Q.S. Luqman: 14), juga firmannya:“Kami perintahkan kepada manusia supaya berbuat baik kepada dua orang ibu bapaknya, ibunya mengandungnya dengan susah payah, dan melahirkannya dengan susah payah pula. Mengandungnya sampai menyapihnya adalah tiga puluh bulan” (Q.S. Al-Ahqaf: 15). Pernah diriwayatkan ada seorang lelaki datang kepada Rasulullah Shallallahu ‘alaihi wa sallam seraya berkata: “Ya Rasulullah, siapa manusia yang lebih berhak untuk saya pergauli dengan baik?” Jawab Nabi, “Ibumu” Ia bertanya lagi, “Lalu siapa?” Jawab beliau, “Ibumu”, Ia bertanya lagi, “Lalu siapa lagi ?” Beliau jawab “Ayahmu”. (Diriwayatkan oleh Imam Bukhari). Makna yang terkandung di dalam hadits ini adalah bahwa ibu harus mendapat tiga kali lipat perbuatan baik dari anaknya dibandingkan bapak.

Kedudukan seorang istri dan pengaruhnya terhadap jiwa laki-laki juga telah dijelaskan oleh Allah SWT dalam Al Qur’an. Allah Ta’ala berfirman:“Dan diantara tanda-tanda kekuasaan-Nya adalah Dia menciptakan untukmu istri-istri dari jenismu sendiri, supaya kamu cenderung dan merasa tentram kepadanya, dan dijadikan-Nya di antaramu rasa kasih dan sayang” (Q.S. Ar-Rum: 21). Ibnu Katsir seorang ahli sejarah dan tafsir, di dalam menjelaskan tafsirnya tentang “mawadah wa rahmah” mengatakan : Mawaddah adalah rasa cinta dan Rahmah adalah rasa kasih sayang, karena sesungguhnya seorang laki-laki hidup bersama istrinya adalah karena cinta kepadanya atau karena kasih dan sayang kepadanya agar mendapat anak keturunan darinya.

Sesungguhnya kalau kita mau mencermati, telah ada pelajaran yang sangat berharga dari seorang wanita mulia, Khadijah Radhiyallahu ‘anha, beliau mempunyai peranan yang sangat besar dalam menentramkan rasa takut yang dialami Rasulullah SAW ketika Jibril turun kepadanya dengan membawa wahyu di goa Hira’ untuk pertama kalinya. Rasulullah SAW datang kepada Khadijah dalam keadaan seluruh persendiannya gemetar, seraya bersabda:“Selimuti aku! Selimuti aku! Sungguh aku mengkhawatirkan diriku” Maka Khadijah berkata: “Tidak. Demi Allah, Allah tidak akan membuatmu menjadi hina sama sekali, karena engkau selalu menjalin hubungan silaturahmi, menanggung beban, memberikan bantuan kepada orang yang tak punya, memuliakan tamu dan memberikan pertolongan kepada orang yang berada di pihak yang benar” (Muttafaq ‘Alaih). Kita juga tidak lupa peran ‘Aisyah Radhiyallahu ‘anha dimana para tokoh sahabat Nabi banyak mengambil hadits-hadits dari beliau, dan begitu pula kaum wanita banyak belajar kepadanya tentang hukum-hukum yang berkaitan dengan mereka. Tidak diragukan lagi bahwa ibu kita pun, mempunyai peran yang sangat besar dan pengaruh yang sangat dalam bagi diri kita, mulai dari ketika beliau bertaruh nyawa untuk melahirkan kita, susahnya ketika beliau mengasuh kita, hingga peran beliau di dalam memberikan dorongan kepada kita untuk giat belajar dalam menuntut ilmu. Semoga Allah melipatgandakan pahalanya dan memberinya balasan yang terbaik atas jasanya kepada kita. Salah satu hal yang tidak dapat dipungkiri adalah bahwa rumah tangga yang dihiasi dengan penuh rasa kasih sayang, rasa cinta, keramahan dan pendidikan yang Islami akan berpengaruh terhadap suami. Ia akan selalu beruntung, dengan izin Allah, di dalam segala urusannya dan berhasil di dalam segala usaha yang dilakukannya, ”di balik pria yang hebat, pasti ada seorang wanita yang hebat pula”, kata Ust. Anis Matta.

Beda Zaman, Beda Peran
Muslimah di setiap zaman memiliki kekhasannya masing-masing. Semakin lama peran muslimah semakin mengalami peningkatan yang signifikan. Muslimah saat zaman Siti Khadijah, ataupun zaman R.A Kartini tentunya berbeda dengan zaman sekarang. Dahulu ketika zaman penjajahan Belanda dan Jepang peran muslimah terasa terbelenggu. Hal tersebut dikarenakan kondisi dan budaya saat itu yang tidak memperkenankan muslimah untuk berada di luar rumah. Muslimah haruslah tetap berada di rumah untuk mengurus keluarga dan anak-anak. Ia tidak diperbolehkan beraktivitas di luar rumah. Hingga akhirnya pelopor wanita Indonesia Raden Ajeng Kartini yang mengusung emansipasi wanita, penyerataan peran wanita di segala sektor kehidupan. Sejak itulah peran wanita di sektor publik mulai mendapat perhatian.

Muslimah tidak diidentikkan dengan pekerjaan rumah tangga. Mereka dapat mengaktualisasikan dirinya dengan kegiatan di luar rumah. Meskipun muslimah memiliki peranan yang berbeda-beda dalam masyarakat, akhirnya semuanya itu bermuara pada satu titik yaitu sebagai pendidik bagi generasi unggul dan muslimah pula yang berperan penting membimbing anak-anaknya menjadi generasi rabbani, yaitu generasi yang beriman, mencintai Allah, mengasihi sesama muslim. Di zaman Rasulullah kita mengenal Ummu Abdi binti Wadud, ibunda Abdullah ibnu Mas’ud, salah satu sahabat Rasulullah SAW. Di mata Abdullah, sang ibu bukan sekadar orang yang menunggunya pulang ke rumah, tapi juga sebagai teman diskusi sekaligus penasehat. Tak heran jika Abdullah kemudian tumbuh menjadi pemuda cerdas dan berperan sebagai salah satu ujung tombak Islam pada masanya. Ada pula Al Khansa, ibu empat orang syahid. Ia adalah seorang wanita tangguh yang senantiasa menularkan semangat jihad kepada putra-putranya sehingga mereka menjadi pejuang yang pantang menyerah dan rela mengorbankan jiwa raganya untuk kejayaan dan kemenangan Islam. Selain menjadi ibu rumah tangga, pilihan yang dapat dipilih adalah menjadi wanita karier bekerja di luar rumah. Namun, perlu diingat dalam Islam tanggung jawab mencari nafkah tidaklah dibebankan kepada istri, melainkan menjadi kewajiban suami dan bila istri ikut membantu dalam mencari nafkah maka hal itu menjadi pahala sedekah bagi seorang istri. Meskipun sebagai wanita karier yang bekerja di luar rumah, pada saat berada di rumah ia harus berperan sebagai pendidik bagi anak-anaknya. Muslimah harus seimbang dalam berperan di ranah domestik (rumah tangga) maupun ranah publik (masyarakat).

Saatnya Memaksimalkan Potensi
Muslimah memiliki sifat lemah lembut namun itu tidak berarti sebagai makhluk yang lemah, di balik kelembutannya tersimpan kekuatan dan potensi terpendam yang belum dimaksimalkan. Muslimah, bukanlah makhluk lemah yang tidak mampu berbuat apapun. Tak layak pula ia dimasukkan ke golongan kelas bawah yang bisa diperlakukan semena-mena. Lebih dari itu, ia adalah makhluk yang diciptakan Allah SWT dengan keistimewaan dan karakteristik tersendiri, yang dipandang sejajar dengan kaum Adam oleh Allah SWT. Maka simaklah janji-Nya, ”Barang siapa yang mengerjakan amal saleh, baik laki-laki maupun perempuan dalam keadaan beriman, maka sesungguhnya akan Kami berikan kepadanya kehidupan yang baik dan sesungguhnya akan Kami beri balasan kepada mereka dengan pahala yang lebih baik dari apa yang telah mereka kerjakan.”(QS. An Nahl :97). Dikaitkan dengan kondisi sekarang ini, potensi muslimah untuk mengambil peranan di masyarakat sangat besar. Sudah saatnya muslimah untuk bangkit dan proaktif mengambil peranan di masyarakat. Menjadi muslimah sholihah yang produktif yang memberikan manfaat bagi lingkungan. Setiap muslimah tentunya memiliki potensinya masing-masing yang dapat ditularkan kepada masyarakat sekitar tanpa melihat status sosial ataupun profesinya.

Muslimah dengan potensi yang tersimpan dapat membangun masyarakat menuju perubahan. Melalui peran-peran yang produktif dapat memberikan kontribusi yang positif bagi masyarakat. Banyak cara yang dapat dilakukan muslimah untuk menggali potensi. Pertama, kenali diri dengan mengetahui kelebihan dan potensi yang dimiliki. Dengan demikian muslimah dapat memaksimalkan kelebihan yang dipunyai sehingga dapat memberikan yang terbaik bagi masyarakat. Kedua, bersegeralah untuk proaktif. Proaktif dalam diri setiap orang haruslah selalu ada. Muslimah harus peduli dengan kondisi lingkungannya. Dengan proaktif terhadap lingkungan, muslimah dapat mengadakan perubahan bagi masyarakat. Proaktif berarti memberikan kontribusi nyata dengan karya nyata kepada lingkungan.

Akhirnya, apalagi yang kita tunggu wahai muslimah? Ladang pahala ada di depan mata. Jadikan diri kita sebagai muslimah dambaan umat. Insya Allah, suatu saat nanti pintu surga akan selalu terbuka lebar untuk kita. Amiin.

Jadilah wanita muslimah yang tinggi kedudukannya, jauh dari semua urusan yang rendah, dan terpelihara dari segala sesuatu yang memperdaya rasa malu. Bicara adalah berdzikir; penalaran adalah pelajaran; dan diam adalah berpikir‼!

NB : Diikutkan dalam lomba artikel muslimah SKI FMIPA UNS


(Tulisan ini diposting pada bulan Mei 2009 di blog sebelumnya)
Aisya Avicenna

0 komentar:

Posting Komentar

Jejak Karya Aisya Avicenna

Jejak Karya Aisya Avicenna