Kisah Sang Penyusup (Part 1)

Alkisah... ada seorang penyusup yang jauh-jauh datang dari kota Wonogiri... (kok malah kayak ndongeng)... ga jadi ding! 
Sore ini begitu indah... saatnya menjalankan sebuah misi..
A big mission...
Sebagai penyusup!!! :D
Sebelum berangkat, mengenakan kostum sebagai alat kamuflase
Kemudian, menyiapkan perbekalan sebagai amunisi => Mushaf merah, al ma’tsurat, bolpoin, dan buku catatan.
Hihi, memangnya saya mau ngapain to???
Sebuah misi besar : tholabul ‘ilmy.
Yup, hari ini ada Kajian Sabtu Sore (KSS) di Masjid Al Hasanah, masjid kampus STIS (Sekolah Tinggi Ilmu Statistika) yang terletak di Jalan Otto Iskandardinata, Jakarta Timur. Seperti halnya Kajian yang digelar di mantan kampus saya tercinta, Universitas Sebelas Maret, kajian di kampus STIS ini juga menjadikan mahasiswa/mahasiswi STIS (yang muslim tentunya) sebagai sasaran pesertanya. Berhubung saya tidak bisa mengikuti Kajian Sabtu pagi (KSP) di masjid Nurul Huda Islamic Centre (NHIC) UNS, saya ikuti saja KSS ini (tak bisa KSP, KSS pun jadi...)
Berangkat dari kost jam 15.20 dengan perasaan suka cita dengan mengenakan jaket STIS, minjam punya teman (alat kamuflasenya minjem). Hihi... Berangkat sendirian.. Naik angkot biru, turun di depan kampus STIS. Sesampai di depan masjid, melongok-longok...kok masih sepi ya??? (dasar kesregepen! :D). Menanti di dekat halte depan STIS, kali aja ada akhwat yang lewat, karena di depan masjid kebanyakan ikhwan kecil yang pada nongkrong (mungkin anak STIS tingkat awal, sebagian masih memakai seragam). Akhirnya, dari arah utara, datanglah seorang akhwat kecil mendekat. Ternyata adiknya ini baru tingkat pertama dan juga berencana mengikuti KSS. Sempat terjadi perkenalan dan percakapan seru, ternyata dia juga kembar.. hii..jadi inget ma MY SUPERTWIN di Solo...
Akhirnya, kami berdua memasuki masjid Al Hasanah, menuju lantai 2. Sebenarnya kajiannya di lantai 1, tapi waktu itu masih dipakai para ikhwan sholat. Kenalan dengan beberapa akhwat STIS. benar-benar penyusup nih! Dari sekian akhwat yang kenalan, cuma saya yang dari luar STIS. Dan kemungkinan besar yang paling “sepuh” sendiri... (:D tapi cari ilmu gak memandang usia kan??? HARUS SEPAKAT dengan saya!!)
Pukul 15:45, kajian-pun dimulai. Diawali dengan pembukaan, taujih rabbani, dan mulailah...
Saya mencoba berbagi ilmu dan inspirasi yang saya dapatkan dari hasil penyusupan saya di tengah-tengah mahasiswa/i STIS...
CHECK THIS!!!
Tema KSS kali ini tentang “AKTUALISASI DIRI DENGAN AMALAN-AMALAN SUNNAH” yang disampaikan oleh ustadz Ahmad Ridwan.
Ustadz mengawali kajian dengan membahas tentang CINTA.
Kalau ingin dicintai Allah, maka cintailah apa yang dicintai Allah!!
Seperti kata Ibnu Qayyim, ciri seseorang yang jatuh cinta : sering mengingatnya, sering menyebutnya (baik di waktu sendiri atau dalam keramaian), sering membanggakannya, mencintai apa yang dicintainya, dan membenci apa yang dibencinya.
FirmanNya dalam Q.S. Ali ‘Imran : 30 yang artinya “Pada hari ketika setiap diri mendapati segala kebajikan yang telah dilakukannya dihadapkan (kepadanya), begitu (juga) kejahatan yang telah dikerjakannya, ia ingin kalau kiranya antara ia dan hari itu ada masa yang jauh; dan Allah memperingatkan kamu terhadap diri (siksa)-Nya. Dan Allah sangat penyayang kepada hamba-hambaNya”
Kalau kita berbicara sunnah, tergantung persepsi dari siapa...
1. Menurut ulama aqidah, sunnah adalah lawan dari bid’ah.
2. Menurut ahli ushul fiqh, sunnah adalah sumber hukum kedua setelah Al Qur’an. Al Qur’an memiliki saudara sekandung yang tidak bisa dipisahkan yaitu As Sunnah
3. Menurut ulama hadist, sunnah adalah apa-apa yang bersumber dari Rasulullah SAW baik ucapan, tingkah laku, akhlaq,atau sifat fisik Rasulullah SAW
4. Menurut ulama fiqh, sunnah merupakan bagian dari hukum taqlifi. Sesuatu yang sunnah jika dikerjakan akan mendapat pahala, jika tidak dikerjakan tidak apa-apa.
Aktualisasi sunnah adalah dengan mensinergiskan amalan-amalan sunnah berdasar 4 pengertian di atas.
“Apa akhlaknya Nabi?” => “Akhlaqnya Nabi adalah Al Qur’an” (jawab ‘Aisyah saat ditanya salah seorang sahabat.
Ustadz bertanya dan kamipun tersindir!!
Siapa yang tadi pagi bangun langsung mengucap doa bangun tidur??
Siapa yang sholat tahajud??
Siapa yang ketika mengenakan pakaian berucap doa?
Siapa yang baca doa saat mau masuk kamar mandi??
Pertanyaannya sangat sederhana, tapi membuat audience terpengarah dengan berbagai ekspresi (termasuk saya juga). Padahal yang ditanyakan ustadz adalah hal sederhana yang sering kita lakukan, tapi ternyata masih jauuh dari apa yang diajarkan dan dicontohkan Rasulullah SAW.
Astaghfirullah...
Etika (bukan saya lho...:D) dan akhlaq kita hendaknya meneladani manusia paling mumpuni, sang kekasih Allah, dialah Muhammad SAW.
Sedikit intermezo dari saya:
Pada suatu hari, ada dua orang jin (jin kok orang... ada dua jin..benarnya gini) yang sedang berdialog.
Jin 1 : “Hi boy, what’s up man??”
Jin 2 : “I’m not fine. How about you?”
Jin 1 : “Wah, kalo gw baik2 aja nih. Kenapa lo? Kok tampang lo kusut gitu. Gw amatin kok lo sekarang dekil dan kurus.”
Jin 2 : “Iya nih, gimana lagi bro. Gw salah ngikutin manusia!”
Jin 1 : “Maksud lo??”
Jin 2 : “Emm... gimana gw bisa gemuk kalo manusia yang gw ikutin selalu baca basmalah dan doa sebelum makan trus setelah makan juga baca doa dan hamdalah. Dia orang yang rajin ibadah dan taat agama. Gw gak kebagian jatah deh!”
Jin 1 : “Oh...that’s a pity!!! Kacian deh lo. Beda noh ma gw. Gw jadi pendamping setia manusia yang kalo makan gak pernah baca apa-apa. Baca koran pun kagak. Hehe... dia rakus banget. Mana kalo makan gak punya etika, berceceran di mana-mana. Jadi ya dengan suka cita dan gembira ria, gw dapat jatah makan deh... “
Jin 2 : “Wah...gw gak betah ma tuh manusia. Gw gabung ja ma elo ya..”
Jin 1 : “Oke..ayo!! dari pada lo tambah kering kerontang..gabung aja ma gw!”
Intermezo di atas sedikit mengingatkan kita akan pentingnya menjalankan sunnah, agar keseharian kita penuh barokah..sekecil apapun amalan kita...
Silahkan baca buku “24 jam Bersama Rasulullah”, mungkin ini bisa jadi referensi aplikatif amalan Sunnah dalam keseharian kita.
MENJALANKAN SUNNAH ITU HARUS PELIT!!! Seperti pelitnya orang kaya yang sangat perhitungan dalam mengeluarkan uangnya. Maksudnya, dalam menjalankan amalan sunnah kita harus pelit dan perhitungan dalam menggunakan waktu, pantang untuk berbuat sia-sia. Karena waktu terus berjalan, tak mungkin berulang, dan tak mungkin kembali.
Seorang sahabat berkata pada Rasulullah SAW, “Saya ingin mengikutimu ke Surga.”. Kemudian Rasulullah SAW menjawab, “Tolonglah dirimu dengan memperbanyak shalawat kepadaku dan ikuti yang diucapkan muadzin.”
Ehm, ternyata masih banyak amalan Sunnah yang sering kita lalaikan!!!
AYO PERBAIKI DAN TINGKATKAN TERUS AMALAN KITA!!!!!!
SEDIKIT TAPI KONTINYU LEBIH BAIK DARIPADA BANYAK TAPI HANYA SEKALI!!!
SO, LATIHLAH DIRI ANDA!!!
TETAPKAN MINIMAL 5 AMALAN SUNNAH ANDALAN ANDA DALAM SEHARI!!!
LAKUKAN SECARA KONTINYU!!!
DAN ANDA AKAN MENEMUKAN BANYAK MANFAAT!!!
JANGAN MUDAH PUAS... PERBAIKI, TAMBAH, DAN TINGKATKAN TERUS AMALAN ITU!!!
Ba’da kajian, sempat kenalan dengan beberapa akhwat lagi...eh, ketemu adik yang dari Solo juga. Bahasa Jawa keluar deh... :D . Sip, jadi nambah koneksi dan “sasaran empuk” untuk berbagi inspirasi... ^^v
Mungkin cukup sekian yang bisa saya tuliskan... saya harap Anda tidak puas setelah membaca tulisan sederhana ini. Saya saja juga tidak puas kok!!! Insya Allah, masih pengin jadi penyusup lagi...
Oke...Teruslah menjadi PEMBELAJAR SEJATI!!!!
SEMOGA BERMANFAAT!!!
Jakarta, Pagi yang cerah di awal November
011109_06:22

(Tulisan ini diposting pada bulan November 2009 di blog sebelumnya)

Aisya Avicenna

0 komentar:

Posting Komentar

Jejak Karya Aisya Avicenna

Jejak Karya Aisya Avicenna