Ketika Cinta... Buktikanlah!



Sebelum ke inti pembahasan, mendengarkan backsongnya dulu… ^^

Bertasbihlah cinta terukir di hatiku
Seindah kilau samudera berkilai membentang
Cinta yang sejati yang tersandari di hati
Berlabuh menepi satukan karena Illahi
Walau cinta penawar rindu kasih
Munajatkan maha cinta di atas cinta
Jika memang takdir cinta pasti bertemu
Meski kau dan aku ada di ujung dunia
Ketika cinta bertasbih
Bagai cahaya tak bertepi
Anugerah terindah, itu yang kuimpikan
Harapan kutambatkan di setiap sujud malamku
Tuhan bimbing cintaku…
Cinta karena Illahi…
Ayat-ayat Cinta, Ketika Cinta Bertasbih, Muhasabah Cinta… emm, siapa yang tak kenal??? Film, buku-buku, lantunan nasyid yang bertemakan cinta pasti akan membuat kita menaruh perhatian lebih padanya. Tak bisa dipungkiri.
Cinta. Siapa tak kenal cinta, sebuah kata yang tidak asing lagi dalam indera dengar kita. Sebuah kata yang tidak lapuk diterjang zaman. Kata yang selalu indah untuk dibicarakan. Kata yang selalu mempesona untuk dituliskan. Akan tetapi, semakin sering manusia membicarakan atau menuliskan cinta, semakin banyak yang tidak bisa mendefinisikan hakikat cinta. Islam adalah dien yang sempurna, tiada permasalahan yang luput darinya, apalagi permasalahan cinta, Islam-pun membahasnya dengan tuntas dan penuh makna.
Cinta adalah sebuah amalan hati yang akan terwujud dalam amalan lahiriah. Apabila cinta tersebut sesuai dengan apa yang diridhai Allah, maka ia akan menjadi ibadah. Dan sebaliknya, jika tidak sesuai dengan ridha-Nya maka akan menjadi perbuatan maksiat. Berarti jelas bahwa cinta adalah ibadah hati yang bila keliru menempatkannya akan menjatuhkan kita ke dalam sesuatu yang dimurkai Allah yaitu kesyirikan.
Menurut Ibnu Qayyim Al Jauziyyah, ada 29 definisi tentang cinta. Saya tidak akan menyebutkan semuanya di tulisan ini. Di antara definisi tersebut antara lain :
1. Cinta adalah kecenderungan hati untuk memiliki sesuatu.
2. Cinta adalah pemberian dan pengorbanan untuk mendapatkan simpati dari yang dicintai.
3. Cinta adalah melaksanakan apa saja yang diperintahkan oleh yang dicintai dan meninggalkan segala sesuatu yang menjadi larangannya.
4. Cinta adalah penghambaan kepada yang dicintai.
5. Cinta adalah bara yang tertanam dalam hati, membakar apa saja yang tidak diharapkan oleh yang dicintai. Hingga hanya tertinggal apa yang disukai oleh yang tercinta.
Jika seseorang telah disapa cinta, maka ia akan selalu berupaya untuk semakin dekat, ingin segera memiliki yang dicintainya, takut bila kehilangan, berdebar-debar ketika bertemu atau bahkan menjadi “gila” karena perasaannya terombang-ambing tak menentu, ironisnya bisa sampai mati hanya gara-gara cinta. Ehm, implikasi cinta itu memang dahsyat!
Sering kita mendengar ungkapan cinta : “Aku mencintaimu karena Allah SWT”. Mencintai karena Allah maksudnya adalah mencintai makhluk yang diridhai oleh Allah SWT dengan cara yang diridhai-Nya pula. Makhluk yang diridhai oleh Allah SWT untuk dicintai itu antara lain : Rasulullah SAW, para sahabat, ulama, orang tua, istri/suami yang sah, anak-anak, fakir miskin, anak yatim dan saudara seiman. Mereka itu wajib dicintai karena mencintai mereka memang diperintahkan oleh Allah SWT. Inilah yang dimaksud dengan mencintai makhluk yang diridhai-Nya. Sedangkan mencintai makhluk yang tidak diridhai-Nya, misalnya mencintai setan, berhala, tradisi jahiliyah, harta haram, serta kedudukan yang melenakan. Mencintai makhluk yang tidak diridhai Allah SWT untuk dicintai adalah cinta yang diharamkan. Sedangkan mencintai dengan cara yang tidak diridhai Allah SWT adalah bila kita mencintai makhluk itu melebihi kecintaan kita kepada Allah SWT. Hanya orang-orang yang bertakwalah yang akan selamat dari fitnah cinta dunia yang berlebihan. Semoga kita termasuk ke dalam golongan orang yang bertakwa tersebut. Amin.
Dan di antara manusia ada orang-orang yang menyembah selain Allah; mereka mencintainya sebagaimana mereka mencintai Allah. Adapun orang-orang yang beriman amat sangat cintanya kepada Allah. Dan jika seandainya orang-orang yang berbuat zalim itu mengetahui ketika mereka melihat siksa, bahwa kekuatan itu kepunyaan Allah semuanya, dan bahwa Allah amat berat siksaan-Nya. (QS. Al-Baqarah : 165)
Cinta kita kepada apapun yang halal dan diridhai Allah SWT, tidak boleh melebihi cinta kita kepada Allah SWT sendiri. Bahkan sekedar sama derajatnya pun tidak dibenarkan. Jadi cinta kepada Allah SWT itu harus lebih tinggi dan lebih kuat daripada cinta kepada lainnya. Tempatkanlah cinta kita pada Allah sebagai cinta tertinggi yang tak terbandingi.
Katakanlah: "Jika kamu (benar-benar) mencintai Allah, ikutilah aku, niscaya Allah mengasihi dan mengampuni dosa-dosamu". Allah Maha Pengampun lagi Maha Penyayang. Katakanlah: "Taatilah Allah dan Rasul-Nya; jika kamu berpaling, maka sesungguhnya Allah tidak menyukai orang-orang kafir". (Q.S. Ali ’Imran : 31-32)
"Kamu tidak akan mendapati sesuatu kaum yang beriman kepada Allah dan hari akhirat, saling berkasih sayang dengan orang-orang yang menentang Allah dan Rasul-Nya, sekalipun orang-orang itu bapak-bapak, atau anak-anak atau saudara-saudara atau pun keluarga mereka. Mereka itulah orang-orang yang Allah telah menanamkan keimanan dalam hati mereka dan menguatkan mereka dengan pertolongan yang datang daripada-Nya. Dan dimasukkan-Nya mereka ke dalam surga yang mengalir di bawahnya sungai-sungai, mereka kekal di dalamnya. Allah ridha terhadap mereka dan mereka pun merasa puas terhadap (limpahan rahmat) Nya. Mereka itulah golongan Allah. Ketahuilah, bahwa sesungguhnya golongan Allah itulah golongan yang beruntung" (QS. Al Mujadilah : 22).
Cinta kepada Allah harus ditumbuhkan dan dibuktikan dalam ketaatan kepada-Nya. Sebab cinta akan tumbuh dari ketaatan dan kepatuhan kepada kehendak dan aturan-Nya. Menurut Ibnu Qayyim Al Jauziyah ada sepuluh bukti kecintaan kita pada Allah. Sepuluh bukti cinta inilah yang akan menjadi terapi agar kita terhindar dari cinta yang terjangkit ”virus” dan bisa meraih anugerah terindah dari hakikat cinta. Sepuluh bukti cinta itu antara lain :
1. Membaca Al Qur’an dengan menghayati maknanya
2. Mendekatkan diri pada Allah SWT dengan mengerjakan amalan-amalan sunnah setelah melaksanakan amalan yang wajib.
3. Selalu ingat padaNya dalam kondisi dan situasi bagaimanapun
4. Mengoptimalkan diri untuk selalu dekat padaNya, di saat dunia berusaha untuk mengelabuhi dan menguasai pikiran dan perasaannya.
5. Memahami hakikat tauhid asma’ washifat
6. Memperhatikan ayat-ayat kauniyah dan bentuk-bentuk nikmat Allah SWT, baik lahir maupun batin.
7. Memberikan ketundukan dengan sepenuh hati di saat menghadapkan diri dalam beribadah kepadaNya.
8. Selalu memanfaatkan waktu-waktu mustajab (terutama sepertiga malam terakhir) untuk memohon petunjuk, maghfirah, dan rahmatNya.
9. Bergaul dan selalu berinteraksi dengan orang-orang shalih.
10. Menjauhi segala hal yang bisa merusak hati.
Cinta karena Sang Pencipta adalah keutamaan. Sebab setiap langkah kita akan dilandasi keimanan dan ketaqwaan yang kuat. Cinta kepada-Nya dengan berpegang dan melaksanakan syari’at-Nya, mengimani Rasul-Nya serta menjunjung tinggi agama-Nya, akan membawa kita kepada kemuliaan, ketaatan, keagungan, kebarokahan, serta keselamatan dunia dan akhirat.
Akhirnya, hanya pecinta sejati yang bisa membuktikan dan memahami hakikat cinta. Cintanya ada semata-mata untuk mendapatkan cinta dari Sang Maha Cinta, Allah Ar Rahman. Cintanya ia buktikan dengan harapan bahwa ridha Allah adalah balasan dari cintanya dan surga adalah terminal akhir dari perjuangan cintanya.
Wahai Sang Maha Cinta
Bimbinglah kami pada cinta yang Engkau ridhoi
Cinta bagi orang-orang yang Engkau cintai
Bukanlah cinta bagi orang-orang yang Engkau murkai
Ya Rahman... Ya Rahim,..
Engkaulah sang penguasa cinta
Hanya kepada-Mu cinta ini bermuara
Wonogiri, 310110_07:17
Aisya Avicenna


(Tulisan ini diposting pada bulan Februari 2010 di blog sebelumnya)
Aisya Avicenna

0 komentar:

Posting Komentar

Jejak Karya Aisya Avicenna

Jejak Karya Aisya Avicenna