Hati-Hati Membawa Hati

TIDAK ADA KEBAHAGIAN, KELEZATAN, KENIKMATAN DAN KEBAIKAN HATI MELAINKAN JIKA ALLAH SEBAGAI TUHANNYA, PENCIPTA YANG MAHA ESA, SEMBAHANNYA, PUNCAK TUJUANNYA DAN YANG PALING DICINTAINYA DARIPADA YANG LAIN



Hati adalah RAJA. Ialah pemberi perintah apa yang dilaksanakan oleh setiap anggota tubuh, ialah yang menerima hidayah-Nya, dan tidaklah sebuah amalan menjadi lurus dan benar kecuali bersumber dari hati yang bersih dan sehat. Firman Allah SWT:. ”(Yaitu) di hari harta dan anak laki-laki tiada lagi berguna, kecuali orang-orang yang mnghadap Allah dengan hati yang bersih (qolbun Saliim).” (Asy- Syu’ara’:89)
Hati yang sehat, seperti yang disebutkan dalam ayat di atas, ialah hati yang bersih dan selamat dari berbagai syahwat yang menyalahi perintah dan larangan Allah, dari berbagai syubhat yang bertentangan dengan berita-Nya, selamat dari pemutusan hukum selain Rasul-Nya, bersih dalam mencintai Allah, bersih dalam keta’atan dan pengharapan pada-Nya, dalam bertawakal kepada-Nya, dalam kembali kepada-Nya, dalam menghinakan diri di hadapan-Nya, dalam mengutamakan mencari ridha-Nya di segala keadaan, dan dalammenjauhi kemungkaran karena apapun.

Hati yang mati, yang tiada kehidupan di dalamnya. Ia tidak mengetahui Tuhannya, tidak menyembah
sesuai dengan perintah-Nya. Ia tidak mempedulikan murka-benci atau Ridho-cinta Allah asalkan ia dapat menuruti hawa nafsu dan kelezatan dirinya. Ia menghamba selain kepada Allah; dalam cinta, takut, harap, ridha dan benci, pengagungan dan kehinaan. Jika ia mencinta maka ia mencinta karena hawa nafsunya, jika ia membenci maka ia membenci karena hawa nafsunya, jika ia memberi maka ia memberi karena hawa nafsunya, jika ia menolak maka ia menolak karena hawa nafsunya. Hawa nafsu adalah pemimpinnya, syahwat adalah komandannya, kebodohan adalah sopirnya, kelalaian adalah kendaraannya.
Hati yang sakit, adalah hati yang hidup tetapi cacat. Ia memiliki dua materi yang saling tarik menarik. Ketika ia memenangkan pertarungan maka di dalamnya terdapat kecintaan kepada Allah, keimanan, keikhlasan dan tawakal kepada-Nya, itulah materi kehidupan. Di dalamnya juga terdapat kecintaan kepada nafsu, dengki, takabur, bangga diri, kecintaan berkuasa dan membuat kerusakan di muka bumi, itulah materi yang menghancurkan dan membinasakannya

Keadaan hati pertama disebut juga oleh Rasullah SAW sebagai Hati putih yang memancarkan cahaya keimanan jika fitnah dihadapkan kepadanya maka ia menolaknya. Para sahabat Radhiyallahu Anhum menyebutnya sebagai hati murni yang di dalamnya terdapat pelita yang menyala, itulah hati orang mukmin.
Keadaan hati kedua disebut juga sebagai hati yang tertutup yaitu hati orang-orang kafir dan disebut juga sebagai hati yang terbalik yaitu hati orang-orang munafik.
Keadaan hati ketiga ialah yang bisa menimpa orang-orang muslim yang kurang waspada dalam menjaga kesehatan hatinya hingga mudah dihinggapi penyakit, bila kian parah tidak mustahil hati ini bisa menjadi mati dan membatu. Hal inilah yang perlu kita jaga dengan segenap kewaspadaan.

Penyakit Hati
Penyakit hati itu ada dua macam:
Pertama, penyakit hati dimana orang yang bersangkutan seketika itu tidak merasakan apa-apa, seperti : penyakit kebodohan, penyakit syubhat dan keraguan serta penyakit syahwat. Penyakit hati inilah jenis penyakit yang paling besar, tetapi karena hati telah rusak maka ia tidak akan merasakan apa-apa. Sebab mabuk kebodohan dan hawa nafsu telah menghalanginya dari mengetahui penyakit ini. Jika tidak, ia tentu akan merasakannya karena penyakit itu
ada pada dirinya. Inilah jenis penyakit hati yang paling berbahaya dan paling sulit disembuhkan.
Kedua, penyakit hati yang menimbulkan sakit seketika, seperti : Sedih, gundah, rindu, resah, dan marah. Penyakit ini terkadang bisa hilang dengan obat-obatan alamiah. Seperti dengan menghilangkan seba-sebabnya, atau mengobatinya dengan sesuatu yang berlawanan dengan penyakit tersebut. Marah adalah menyakitkan hati, obatnya
dengan meredakan kemarahan itu, jika ia mengobatinya dengan haq, niscaya ia akan sembuh tetapi jika ia mengobatinya dengan kezaliman dan kebatilan maka penyakit itu akan bertambah parah, sedang ia menyangka bahwa hal itu telah menyembuhkannya. Hal ini seperti juga orang yang mengobati penyakit rindu dengan melakukan maksiat bersama dengan orang yang dirindukannya, padahal itu akan menambah penyakitnya, akan timbul penyakit
lain yang lebih parah dari sekedar rindu.



Menyempurnakan Hati dan MengobatinyaHati memiliki dua kekuatan: Pertama, kekuatan ilmu dan pembeda. Kedua, kekuatan keinginan dan cinta. Kesempurnaan dan kebaikan hati dapat dicapai dengan menggunakan kedua kekuatan tersebut untuk hal-hal yang bermanfaat baginya, serta untuk kebaikan dan kebahagiannya. Kesempurnaan hati terletak pada kekuatan ilmu dalam mengetahui dan memahami kebenaran, serta dalam membedakan antara kebenaran dengan kebatilan.
Juga dengan menggunakan kekuatan keinginan dan cinta dalam mencari dan mencintai kebenaran serta dalam mengutamakan kebenaran daripada kebatilan.Dan tentu saja tatkala hati terkadang diserang oleh penyakit hatimaka obatnya adalah Al-Qur’an. Penyakit Syubhat akan hilang karena dalam Al-Qur’an terdapat keterangan dan dalil
yang menjelaskan tentang kebenaran dan kebatilan sehingga tampaklah sesuatu sesuai dengan hakikatnya. Adapun pengobatan terhadap penyakit syahwat terdapat dalam hikmah dan pelajaran yang baik di dalam Al-Qur’an. Berupa tarhib dan targhib (pemberi kabar gembira dan ancaman), zuhud (berpaling dari kenikmatan dan glamour) dunia
dan kecintaan terhadap akhirat, perumpamaan dan kisah-kisah yang di dalamnya mengandung berbagai macam pelajaran. Sehingga hati yang bersih akan senang dengan apa yang bermanfaat bagi dirinya, baik di dunia maupun di akhirat dan benci terhadap apa yang membahayakannya. Dari sini, hati kemudian cinta kepada petunjuk dan bencikepada kesesatan. Maka, Al-Qur’an mehilangkan berbagai penyakit yang mengantarkan kepada keinginan yang
rusak, sehingga ia memperbaiki hati tersebut, lalu menjadi baiklah keinginannya dan ia kembali kepada fitrahnya sebagaimana sediakala, dan berbagai usaha dan kerjanya pun menjadi baik. Seperti kembalinya badan pada kesehatan dan kenormalannya, maka ia akhirnya tidak menerima kecuali kebenaran, sebagaimana seorang bayi
yang tidak menerima kecuali air susu.
Wallahu’alam bish showab.


Maraji’: Mawaridul Aman Al-Muntaqa min Ighatsatul Lahfan fi Mashayidisy syaithan. Ibnu Qayyim Al-Jauziyyah.




ya Allah...semoga hati ini hanya tertuju untuk ridho-Mu.....


(Tulisan ini diposting pada bulan Maret 2009 di blog sebelumnya)
Aisya Avicenna

0 komentar:

Posting Komentar

Jejak Karya Aisya Avicenna

Jejak Karya Aisya Avicenna