Daun Impian dan Harapan


Jepang, September 2010
Aisya duduk sendiri di salah satu taman di sudut kota Tokyo. Kota yang menjadi ibukota Jepang sejak tahun 1868 ini bisa dikatakan kawasan metropolitan paling besar. Di pangkuan Aisya terhampar sebuah buku yang masih terbuka. Aisya sedang membaca buku tentang Shodo (seni menulis indah huruf Jepang)… Ya.. ia kan seorang pengagum seni Jepang. Di sebelah kanannya, masih ada beberapa dorayaki di kotak makanannya dan sebotol minuman yang belum ia habiskan. Hari itu adalah awal musim gugur di tahun ini. Tak heran banyak sekali daun berjatuhan. Terserak di tanah. Begitu pun di bangku tempat ia duduk.
Aisya masih menikmati sore itu dengan membaca. Tangannya membolak-balik halaman buku. Setiap kali selesai membaca beberapa paragraf, matanya tak lepas dari urutan kata dalam buku. Menelusuri makna dari setiap kalimat yang tersusun di sana. Tak ada rasa terganggu dengan daun-daun yang sesekali jatuh menimpanya. Sementara di kejauhan, ada beberapa anak kecil yang berlarian sambil tertawa riang. Mereka bermain, menikmati sore yang indah itu.
Srekk… srekk…. Terdengar langkah. Aisya menoleh. Srekk… srekkk…srekkk… Terdengar lagi langkah kaki bergesekan dengan daun-daun. Seorang ibu tua sedang memunguti daun-daun, tangan kirinya menggenggam kantung kain. Isinya daun-daun kering.
Aisya tertegun. Heran. Ia mendekati sang nenek dan menyapanya.
“Hajimemashite. Indonesia no Aisya desu.”
“Hajimemashite. Watashi wa Yashi desu.”
(Lanjut… masih dalam bahasa Jepang ^^)
“Ibu sedang apa?”
“Aku sedang mengumpulkan daun”
Mata tuanya terus menjelajah, mengamati hamparan daun di taman itu.
“Aku sedang mencari daun-daun terbaik untuk kujalin menjadi mainan buat anak-anak di sana.”
Satu dua daun dimasukkan ke kantung kain. Aisya beringsut. Buku di pangkuannya ia letakkan. Ia kembali bertanya, “Sejak kapan ibu melakukannya?”
“Setiap musim gugur aku lakukan ini untuk anak-anak. Akan kubuatkan selempang dan mahkota daun buat mereka. Jika aku dapat banyak daun, akan kubuatkan pula selubung-selubung ikat pinggang. Ah, mereka pasti senang.” Mata tua itu berbinar. Syal di lehernya berjuntai di bahu. Tangannya kembali memasukkan beberapa daun.
“Tapi Bu, sampai kapan Ibu lakukan ini? Anak-anak itu pasti akan membuat semuanya rusak setiap kali mereka selesai bermain. Lagipula, terlalu banyak daun yang ada di sini. Ini musim gugur, daun itu akan terus jatuh layaknya hujan,” lagi-lagi Aisya bertanya, “Apa Ibu tak pernah berpikir untuk berhenti?”
“Berhenti? Berpikir untuk berhenti? Memang, anak-anak itu akan selalu merusak setiap rangkaian daun yang kubuat. Mereka juga akan selalu membuat mahkota daunku koyak. Selempang daunku juga akan putus setiap kali mereka selesai bermain. Tapi, itu semua takkan membuatku berhenti,”. Ibu tua itu menarik nafas dalam. Ia membetulkan letak syal di lehernya.
“Masih ada ribuan daun yang harus kupungut di sini. Masih ada beberapa kelok jalan yang harus ketempuh. Waktuku mungkin tak cukup untuk memungut daun yang ada di sini. Tapi, aku tak akan berhenti.”
“Akankah aku berhenti dari kebahagiaan yang telah kutemukan? Akankah aku berhenti memandang kegembiraan dari binar-binar mata anak-anak itu? Akankah aku menyerah dari kedamaian yang telah aku rasakan setiap musim gugur itu? Tanyanya retoris.
“Tidak, Nak! Aku tidak akan berhenti untuk kebahagiaan itu. Aku tidak akan berhenti hanya karena koyaknya mahkota daun atau ribuan daun lain yang harus kupungut.”
Tangan tua itu kembali meraih sepotong daun. Lalu, dengan suara pelan ia berbisik. “Ingat Nak, jangan berhenti. Jangan pernah berhenti untuk berusaha.”
***
Larik-larik senja telah muncul, menerobos sela-sela pohon, membentuk sinar-sinar panjang dan berpendar.
***
Saudaraku, adakah kita pernah ingin berhenti berjuang dalam hidup ini? Adakah pernah kita merasa gagal? Adakah kita pernah berpikir untuk tidak mau mewujudkan impian-impian kita? Ada banyak dari kita yang mungkin pernah berpikir untuk menyerah karena begitu banyaknya tantangan yang dihadapi.

Namun, apakah kita harus berhenti berusaha ketika melihat “mahkota-mahkota daun” impian kita koyak? Haruskah kita berhenti saat “selempang daun” harapan yang kita sandang putus? Akankah kita menyerah saat “rangkaian daun” kebahagiaan kita tak terbentuk? Saya percaya, ada banyak pilihan untuk itu. Beragam pilihan akan muncul di kepala kita saat dihadapkan pada kenyataan pahit.

Lalu, akankah kita surut melangkah, saat kita melihat ada ribuan “daun tantangan” yang harus kita pungut? Akankah kaki kita menyerah ketika kita bertemu dengan hamparan “daun ujian” di depan kita? Agaknya, kita harus ingat perkataan ibu tua itu, “Jangan pernah berhenti untuk berusaha. Jangan pernah menyerah untuk kebahagiaan yang akan kita raih.”

Kita mungkin tak akan mampu meraih semua daun-daun kebahagiaan itu. Mahkota, selempang, dan selubung ikat pinggang daun itu akan koyak. Tapi, janganlah membuat kita berhenti melangkah. Masih ada berjuta daun harapan lain yang masih dapat kita pungut. Di depan sana, masih terhampar berjuta daun impian lain yang memberikan kita beragam pilihan. Mungkin jalan di depan kita msih berkelok, masih panjang, namun daun-daun itu ada di sana. Berjuta daun kebahagiaan lain masih menunggu untuk kita rajut, jalin, anyam, dan susun.

JANGAN MENYERAH!!!
JANGAN PERNAH MENYERAH!!!
“SEISHIN ITTOU NANI GOTO KA NARAZARAN” (Di mana ada kemauan di situ ada jalan)
Karena ALLAH SELALU BERSAMA HAMBA-NYA YANG SABAR DAN MAU BERUSAHA DENGAN SUNGGUH-SUNGGUH!!!
***
Ya Rabbi… bimbinglah kami….
Jakarta, 050410_08:26
Aisya Avicenna

(Tulisan ini diposting pada bulan April 2010 di blog sebelumnya)
Aisya Avicenna

0 komentar:

Posting Komentar

Jejak Karya Aisya Avicenna

Jejak Karya Aisya Avicenna