Dari Kepompong Menjadi Kupu-Kupu

Salah satu kehebatan manusia dibandingkan dengan makhluk lainnya adalah kemampuannya untuk belajar dari siapa saja, kapan saja, dan dimana saja. Dengan akal dan pikirannya, manusia bisa menjadikan banyak hal yang ada di sekelilingnya sebagai bahan pelajaran yang sangat berharga dalam hidupnya. Dengan nuraninya, manusia bisa menangkap nilai-nilai spiritual yang akan membantu mendamaikan dirinya. Sesuatu yang tidak mungkin dilakukan oleh bukan manusia.

Manusia bisa belajar dari dinosaurus, bunglon, maupun kupu-kupu. Dinosaurus yang punya fisik begitu besar dan kuat, tetapi kemampuannya beradaptasi demikian lemah. Oleh karena ketidakmampuannya dalam beradaptasi terhadap perubahan lingkungan tersebut, akhirnya dinosaurus kini pun punah. Pelajaran menarik lainnya bisa kita ambil dari bunglon. Hewan yang satu ini, memiliki kemampuan adaptasi yang nyaris sempurna. Namun sayang, adaptasinya tidak sampai menyentuh perubahan diri yang sangat fundamental, perubahan karakter dan kinerja. Hal ini tentu menjadi sangat berbeda dengan berubahnya ulat menjadi kupu-kupu. Proses perubahan yang terjadi pada diri ulat berlangsung begitu fantastis. Ulat, dengan wujud, karakter, dan kinerjanya yang menggambarkan kelambanan, kejelekan, dan cenderung dianggap menjijikkan, dengan sebuah proses yang luar biasa tiba-tiba menjadi makhluk yang sangat indah, dinamis dan sangat membantu dalam proses reproduksi tanaman.


Dalam wujudnya yang baru, siapa sih yang tidak suka kupu-kupu? Kesan bahwa makhluk itu berasal dari binatang yang menjijikkan sirna sudah. Yang ada tinggal rasa kagum dan terpesona pada aneka watna sayap dan kulit tubuhnya. Dalam proses ini kita belajar bahwa kupu-kupu tidak sekedar melakukan adaptasi, melainkan sudah sampai pada tingkat transformasi. Suatu perubahan jati diri yang total dan fundamental. Kita menyabutnya dengan metamorfosis atau dalam konteks Islam sering disebut hijrah.
Proses berubahnya ulat menjadi kupu-kupu inilah yang sebenarnya bisa kita jadikan sumber inspirasi bagi diri kita. Dan untuk menjalaninya, kita bisa mengawalinya dengan mengubah pikiran kita. Mengapa? Karena perubahan perubahan pikiran merupakan awal dari perubahan nasib dan hidup kita.


Simaklah puisi Jalaludin Rumi berikut ini.
Bila Anda mengubah pikiran Anda
Anda mengubah keyakinan diri Anda
Bila Anda mengubah keyakinan diri Anda
Anda mengubah harapan-harapan Anda
Bila Anda mengubah harapan-harapan Anda
Anda mengubah sikap Anda
Bila Anda mengubah sikap Anda
Anda mengubah tingkah laku Anda
Bila Anda mengubah tingkah laku Anda
Anda mengubah kinerja Anda
Bila Anda mengubah kinerja Anda
Anda mengubah nasib Anda
Bila Anda mengubah nasib Anda
Anda mengubah hidup Anda

Sekarang, bersiap-siaplah untuk menjadi kupu-kupu. Berproses menjadi PRIBADI yang LUAR BIASA‼!




Sumber : Dari Kepompong Menjadi Kupu-Kupu, Refleksi Menuju Sukses Diri dan Organisasi karya Drs. HD. Iriyanto, MM


(Tulisan ini diposting pada bulan Maret 2009 di blog sebelumnya)

Aisya Avicenna

0 komentar:

Posting Komentar

Jejak Karya Aisya Avicenna

Jejak Karya Aisya Avicenna