Dalam Kegalauan, Tarbiyah-Nya Tetap yang Terindah



Rabbku, telah kupenuhi panggilan-Mu, membawa tubuh ringkih ini
melewati jalan yang Kau kehendaki. Telah kucoba melepas segenap yang aku mampu
untuk mengatasi beratnya medan yang menghalang.
Telah coba kuatasi sedapatnya panasnya hari-hari kulewati.

Namun ampuni aku ya Rabbi.
Betapa seringnya hamba tertegun ragu,
untuk melanjutkan perjalanan yang panjang ini.
Semuanya memang dikarenakan kelemahan hati ini
yang masih saja berharap mencicipi kenikmatan duniawi.

Kinipun hati yang peragu ini masih diguncang gundah.
Akankah Kau terima buah karya tangan lemah ini?
Akankah Kau hargai,
apabila saat ini hatiku masih juga mengharapkan wajah lain selain wajah-Mu?
Jika masih juga kunanti senyum lain selain senyum-Mu?
Juga masih kudambakan pujian selain dari pujian-Mu?
Betapa semakin berat persangkaanku akan kesia-siaan amalanku,
jika kuingat Engkau Maha Pencemburu!

Rabbi, bukan tak ingin aku istiqomah melewati hari-hari.
Bukan tak hendak aku sabar menanti janji-Mu.
Namun Rabbi, apakah salah jika aku menyandarkan diri pada dinding lain
dalam sebuah bangunan Islam-Mu.

Namun Rabb, lagi-lagi Kau tarbiyah aku dalam kealpaan mimpi semuku.
Tak sanggup ku bendung air mata keharuan atas belaian ini.
Karena aku tahu, tidak semua hamba-Mu Kau perlakukan seperti aku.
Tersibak juga tirai kelam yang senantiasa menyeret langkahku menjauh dari-Mu,
sungguh aku bersyukur atas semua ini.
Aku sadar tidak sama pejuang dengan perintang.
Kembali ku ingat sebait doa yang pernah terucap,
tentang sebuah janji dan amanahku.
Menginggatnya, semakin kuat kokoh kakiku.

Rabb, ketika bibirku mengucapkan sebait janji untuk berkhidmad pada-Mu,
tidak saja di hadapan Engkau tapi juga dihadapan hadirin yang hadir kala itu,
kembali hatiku ragu, akankah aku sanggup memegang amanah itu?,
walaupun bertentangan dengan hati nuraniku sekalipun?

Rabb, apakah ini jawaban setiap doa-doaku?.
Agar Engkau sertakan aku di dalam barisan para salafussholeh?.
Apakah ini jawaban setiap rintihanku,
agar Engkau jadikan setiap nikmat yang ada pada diriku
sebagai mahar yang akan aku persembahkan pada-Mu?

Rabbi, ampuni atas segala kelemahan imanku,
Bimbing aku melewati jalan orang-orang bernyali singa,
Namun aku cukup arif menyadari Rabb, siapalah aku ini,
betapa diri ini tak layak disejajarkan dengan mereka.
Siapakah aku ini dibandingkan mereka yang senantiasa
bersimbah peluh dan debu untuk membuktikan kecintaanya kepada-Mu?
Betapa lancangnya aku mengukur diri
Dengan mereka yang menghabiskan malam-malamnya
dengan sujud tersungkur mengharapkan ampunan dan cinta-Mu.



(Postingan Desember 2008 dari blog sebelumnya)

Aisya Avicenna

0 komentar:

Posting Komentar

Jejak Karya Aisya Avicenna

Jejak Karya Aisya Avicenna