Bening Hati Berbalas Surga

Hati yang bersih akan berpengaruh terhadap jiwa yang bersih. Jiwa yang bersih membuat anggota tubuh kita sehat dan senantiasa taat kepadaNya.
Emm, sebuah tulisan pengingatan khususnya buat saya sendiri. Sudah tiga hari ini mendapat “hadiah” dari Allah SWT berupa sakit. Komplikasi demam, flu, batuk, dan sakit kepala. Beraninya keroyokan ya mereka. AKhirnya membuat saya tak kuasa untuk melawannya. Tapi, KO-nya juga gak lama-lama kok. Alhamdulillah, hari ini sudah mendingan, buktinya sudah bisa berbagi inspirasi di sini ^^. Menjadi pengingatan juga buat saya, bisa jadi kekotoran jiwa dan hati sayalah yang membuat saya sejenak “terkapar”, mungkin lewat sakit itulah Allah mengingatkan saya.
OK, sekarang saatnya berbicara tentang HATI aja lah…
TIDAK ADA KEBAHAGIAN, KELEZATAN, KENIKMATAN DAN KEBAIKAN HATI MELAINKAN JIKA ALLAH SEBAGAI TUHANNYA, PENCIPTA YANG MAHA ESA, SEMBAHANNYA, PUNCAK TUJUANNYA DAN YANG PALING DICINTAINYA DARIPADA YANG LAIN

Hati adalah RAJA. Ialah pemberi perintah apa yang dilaksanakan oleh setiap anggota tubuh, ialah yang menerima hidayah-Nya, dan tidaklah sebuah amalan menjadi lurus dan benar kecuali bersumber dari hati yang bersih dan sehat. Firman Allah SWT:. ”(Yaitu) di hari harta dan anak laki-laki tiada lagi berguna, kecuali orang-orang yang mnghadap Allah dengan hati yang bersih (qolbun Saliim).” (Asy- Syu’ara’:89)

Hati yang sehat, seperti yang disebutkan dalam ayat di atas, ialah hati yang bersih dan selamat dari berbagai syahwat yang menyalahi perintah dan larangan Allah, dari berbagai syubhat yang bertentangan dengan berita-Nya, selamat dari pemutusan hukum selain Rasul-Nya, bersih dalam mencintai Allah, bersih dalam keta’atan dan pengharapan pada-Nya, dalam bertawakal kepada-Nya, dalam kembali kepada-Nya, dalam menghinakan diri di hadapan-Nya, dalam mengutamakan mencari ridha-Nya di segala keadaan, dan dalammenjauhi kemungkaran karena apapun.

Hati yang mati, yang tiada kehidupan di dalamnya. Ia tidak mengetahui Tuhannya, tidak menyembah sesuai dengan perintah-Nya. Ia tidak mempedulikan murka-benci atau Ridho-cinta Allah asalkan ia dapat menuruti hawa nafsu dan kelezatan dirinya. Ia menghamba selain kepada Allah; dalam cinta, takut, harap, ridha dan benci, pengagungan dan kehinaan. Jika ia mencinta maka ia mencinta karena hawa nafsunya, jika ia membenci maka ia membenci karena hawa nafsunya, jika ia memberi maka ia memberi karena hawa nafsunya, jika ia menolak maka ia menolak karena hawa nafsunya. Hawa nafsu adalah pemimpinnya, syahwat adalah komandannya, kebodohan adalah sopirnya, kelalaian adalah kendaraannya.

Hati yang sakit, adalah hati yang hidup tetapi cacat. Ia memiliki dua materi yang saling tarik menarik. Ketika ia memenangkan pertarungan maka di dalamnya terdapat kecintaan kepada Allah, keimanan, keikhlasan dan tawakal kepada-Nya, itulah materi kehidupan. Di dalamnya juga terdapat kecintaan kepada nafsu, dengki, takabur, bangga diri, kecintaan berkuasa dan membuat kerusakan di muka bumi, itulah materi yang menghancurkan dan membinasakannya

Keadaan hati pertama disebut juga oleh Rasullah SAW sebagai Hati putih yang memancarkan cahaya keimanan jika fitnah dihadapkan kepadanya maka ia menolaknya. Para sahabat Radhiyallahu Anhum menyebutnya sebagai hati murni yang di dalamnya terdapat pelita yang menyala, itulah hati orang mukmin.
Keadaan hati kedua disebut juga sebagai hati yang tertutup yaitu hati orang-orang kafir dan disebut juga sebagai hati yang terbalik yaitu hati orang-orang munafik.
Keadaan hati ketiga ialah yang bisa menimpa orang-orang muslim yang kurang waspada dalam menjaga kesehatan hatinya hingga mudah dihinggapi penyakit, bila kian parah tidak mustahil hati ini bisa menjadi mati dan membatu. Hal inilah yang perlu kita jaga dengan segenap kewaspadaan.
Berbicara tentang hati, jadi teringat sebuah kisah pada zaman Rasulullah SAW.

Suatu hari Rasulullah sedang duduk di masjid dikelilingi para sahabat. Beliau tengah mengajarkan ayat-ayat Al Qur’an. Tiba-tiba Rasulullah berhenti sejenak dan berkata, “akan hadir di antara kalian seorang calon penghuni surga.” Para sahabat pun bertanya-tanya dalam hati, siapakah orang istimewa yang dimaksud Rasulullah ini? Dengan antusias mereka menunggu kedatangan orang tersebut. Semua mata memandang ke arah pintu.
Tak berapa lama kemudian, seorang laki-laki melenggang masuk masjid. Para sahabat heran, inikah orang yang dimaksud Rasulullah? Dia tak lebih dari seorang laki-laki dari kaum kebanyakan. Dia tidak termasuk di antara sahabat utama. Dia juga bukan dari golongan tokoh Quraisy. Bahkan, tak banyak yang mengenalnya. Pun, sejauh ini tak terdengar keistimewaan dia.
Ternyata kejadian ini berulang sampai tiga kali pada hari-hari selanjutnya. Tiap kali Rasulullah berkata akan hadir di antara kalian seorang calon penghuni surga, laki-laki tersebutlah yang kemudian muncul.
Maka para sahabat pun menjadi yakin, bahwa memang laki-laki itulah yang dimasud Rasulullah. Mereka juga menjadi semakin penasaran, amalan istimewa apakah yang dimiliki laki-laki ini hingga Rasulullah menjulukinya sebagai calon penghuni surga?
Akhirnya, para sahabat pun sepakat mengutus salah seorang di antara merek untuk mengamati keseharian laki-laki ini. Maka pada suatu hari, sahabat yang diutus ini menyatakan keinginannya untuk bermalam di rumah laki-laki tersebut. Si laki-laki calon penghuni surga mempersilakannya.
Selama tinggal di rumah laki-laki tersebut, si sahabat terus-menerus mengikuti kegiatan si laki-laki calon penghuni surga. Saat si laki-laki makan, si sahabat ikut makan. Saat si laki-laki mengerjakan pekerjaan rumah, si sahabat menunggui. Tapi ternyata seluruh kegiatannya biasa saja. “Oh, mungkin ibadah malam harinya sangat bagus,” pikirnya. Tapi ketika malam tiba, si laki-laki pun bersikap biasa saja. Dia mengerjakan ibadah wajib sebagaimana biasa. Dia membaca Al Qur’an dan mengerjakan ibadah sunnah, namun tak banyak. Ketika tiba waktunya tidur, dia pun tidur dan baru bangun ketika azan subuh berkumandang.
Sungguh, si sahabat heran karena ia tak jua menemukan sesuatu yang istimewa dari laki-laki ini. Tiga malam sang sahabat bersama sang calon penghuni surga, tetapi semua tetap berlangsung biasa. Apa adanya.
Akhirnya, sahabat itu pun berterus terang akan maksudnya bermalam. Dia bercerita tentang pernyataan Rasulullah. Kemudian dia bertanya, “Wahai kawan, sesungguhnya amalan istimewa apakah yang kau lakukan sehingga disebut salah satu calon penghuni surga oleh Rasulullah?”

Si laki-laki menjawab,”Wahai sahabat, seperti yang kau lihat dalam kehidupan sehari-hariku. Aku adalah seorang muslim biasa dengan amalan biasa pula. Namun ada satu kebiasaanku yang bisa kuberitahukan kepadamu padamu. Setiap menjelang tidur, aku berusaha membersihkan hatiku. Kumaafkan orang-orang yang menyakitiku dan kubuang semua iri, dengki, dendam dan perasaan buruk kepada semua saudaraku sesama muslim. Hingga aku tidur dengan tenang dan hati bersih serta ikhlas. Barangkali itulah yang menyebabkan Rasulullah menjuluki demikian.”

Mendengar penjelasan itu, wajah sang sahabat menjadi berseri-seri. “Terima kasih kawan atas hikmah yang kau berikan. Aku akan member tahu para sahabat mengenai hal ini.” Sang sahabat pun pamit dan membawa pelajaran berharga.
Saudaraku, kisah di atas barangkali tak lagi asing. Namun tiada rugi untuk dituturkan kembali. Surga bukan hanya milik para wali, nabi, syuhada, dan ulama. Jika kita merasa hanyalah orang kebanyakan (biasa-biasa saja), itu tak berarti kita tak berhak atas nikmat surga. Karena amalan kecil pun bisa menjadi kunci masuk surga. Dan ternyata KEBERSIHAN HATI itu sangat besar nilainya.
Jangan pernah berputus asa atas rahmatNya. Sungguh Dia Maha Pemberi Karunia. Insya Allah, jika kita ikhlas, tulus, dan mengerjakan penuh cinta, Dia takkan menyia-nyiakan hambaNya.

SEMOGA MENGINSPIRASI!
HATI-HATI DENGAN HATI YA!!! :D
“Sesungguhnya dalam jasad manusia itu ada segumpal darah. Apabila ia baik, maka baiklah dirinya, namun apabila ia buruk, maka buruk jugalah diri manusia itu. Ia adalah HATI. “ (HR. Bukhari dan Muslim)

Selasa, 241109_06:40 @ Zona Supertwin


(Tulisan ini diposting pada bulan November 2009 di blog sebelumnya)
Aisya Avicenna

0 komentar:

Posting Komentar

Jejak Karya Aisya Avicenna

Jejak Karya Aisya Avicenna