Rabu, 03 Januari 2024

MELIHAT LAHAT [1]: JEJAK PERTAMA


Saat pertama kali ta’aruf atau berkenalan dengan calon suami saya waktu itu, saya agak terkejut dengan nama “Lahat” ketika beliau menjawab dari mana asalnya. Lahat, jamak dari kita pasti terpikir liang lahat, kan ya? Ternyata Lahat adalah nama kabupaten di Sumatera Selatan. Coba intip di KBBI. Bahkan "liang lahat" itu yang baku penulisannya “liang lahad”, pakai huruf “d”. Ada yang baru tahu?

Sejak menikah dengan suami yang asli putra daerah Lahat, kalau bahasa daerahnya jeme Lahat, saya dan suami memutuskan untuk mengubah KTP dan KK dengan beralamatkan di Lahat. Pasalnya, waktu itu suami memang bercita-cita akan kembali ke tanah kelahirannya. Sebagai istri, tentu saya sangat mendukung apapun keputusannya, apalagi kalau demi orang tua.

Ternyata cita-cita suami untuk kembali ke Lahat, alhamdulillah terlaksana pada tahun 2023. Momentum yang semua serba tepat, atas izin Allah. Sejak 1 Januari 2023, saya dan suami resmi pindah dari Bogor ke Lahat. Saya yang sudah bekerja selama 13 tahun di Jakarta, akhirnya mengajukan mutasi ke daerah. Alhamdulillah, banyak hikmah dalam momentum pindah ini. Mungkin akan saya ceritakan di lain waktu.

Berhubung sudah resmi berdomisili di Lahat, saya mencoba membuat tulisan berseri yang khusus menceritakan tentang Lahat. Tulisan ini bertajuk “Melihat Lahat”. Sebelum nanti menuliskan lebih banyak tentang Lahat, pada tulisan perdana ini saya akan sedikit bercerita pengalaman pertama menjejakkan kaki di bumi Lahat.

Pertama kali datang di Lahat (Sumber: dok. pribadi)

Dua bulan setelah menikah, pada 15 Mei 2012, untuk kedua kalinya saya kembali menjejakkan kaki di tanah Sumatra. Pengalaman pertama ke Sumatra yakni ke Padang pada November 2011.

Pada Mei itu, Saya diajak suami ke rumahnya di Lahat untuk pertama kali. Waktu itu saya naik pesawat dari Bandara Soekarno Hatta, sementara suami saat itu sedang ada di Palembang untuk menyelesaikan studi. Sepekan setelah menikah kami memang langsung LDR.

Pesona Bukit Jempol (Sumber: dok. pribadi)

Singkat cerita, akhirnya kami sampai di Lahat dengan mengendarai mobil. Untuk pertama kalinya saya menginjakkan kaki di rumah mertua tercinta. Kami disambut dengan sangat hangat. Suasana kota Lahat ternyata sangat mirip dengan suasana di Wonogiri. Seolah saya tengah berada di kampung halaman sendiri. Oh iya saat masuk ke Lahat, kita akan disambut oleh bukit yang bentuknya mirip ibu jari. Bukit ini disebut Bukit Serelo tapi memang lebih dikenal dengan sebutan "Bukit Jempol". Ada juga yang menamakannya "Bukit Telunjuk" ketika dilihat dari sisi pandang yang lain.

Bukit Jempol berlokasi sekitar 20 km dari pusat kota Lahat. Bukit dengan tinggi mencapi 900 meter di atas permukaan laut ini menjadi icon kota tempat suami saya dilahirkan itu.

Selain Bukit Jempol, di Lahat juga ada Sungai Lematang. Sungai ini mengalir dari kaki Gunung Patah yang masuk dalam rangkaian Pegunungan Bukit Barisan dan bermuara ke Sungai Musi. Lahat menjadi salah satu kabupaten yang dilintasi sungai dengan panjang sekitar 244 km ini.

Suami bercerita bahwa masa kecilnya sering dihabiskan dengan bermain di Sungai Lematang. Aktivitas sehari-hari penduduk di Lahat khususnya yang tinggal di dekat Lematang juga sering dilakukan di sungai ini. Pada zaman dulu sungai ini masih sering dilewati kapal, hanya saja karena terjadi pendangkalan sekarang sudah tidak bisa dilewati lagi.


Lemang (Sumber: okezone.com)


Oh iya, salah satu kuliner khas di Lahat adalah lemang. Kesan pertama makan lemang: enak dan legit. Lemang merupakan camilan di Lahat yang terbuat dari beras ketan dan dimasak dalam seruas bambu setelah sebelumnya digulung dengan lembaran daun pisang.

Bambu berisi beras ketan dicampur santan kelapa kemudian dimasukkan ke dalam seruas bambu lalu dibakar sampai matang. Rasanya sangat enak dan legit. Lemang ini banyak dijual di pinggir jalan tapi ada juga yang dijual keliling. Selain lemang isi ketan ada juga lemang yang berisi ikan, mirip pepes kalau di Jawa. Hmm, keduanya sangat nikmat disantap saat masih hangat. Apalagi jika sambil minum kelapa muda (di Lahat disebut "dogan") di tepi sungai. Sangat nikmat!

Selain lemang, ada lagi kuliner khas Lahat lainnya yakni sambal tempoyak. Kesan pertama makan tempoyak: agak aneh rasanya. Ya, tempoyak berasal dari durian yang difermentasi sehingga rasanya cukup unik.

Gulai tempoyak ikan masakan mertua (Sumber: dok. pribadi)


Hmm, camilan dari Lahat lainnya yang saya cicip adalah lempok durian. Kesan pertama makan lempok: enak dan manis. Lempok durian adalah dodol atau dalam bahasa Jawa disebut "jenang" yang berasal dari durian. Rasanya manis dan legit, tentu sangat berbeda dengan sambal tempoyak yang ada rasa asamnya.

Saat pertama kali ke Lahat ini saya belum banyak mengunjungi tempat wisatanya karena lebih banyak silaturahim ke rumah keluarga. Tapi lewat perjalanan pertama ke kota kelahiran suami ini saya makin yakin bahwa jodoh itu akan bertemu pada waktu yang tepat dan terbaik, sejauh apapun jaraknya. Ibarat ikan di lautan dan sayuran di pegunungan, yang akhirnya bisa bersua di warteg. Hehe, analoginya dibuat santai aja ya!

Oke sahabat, nanti kita lanjutkan ya cerita tentang #MelihatLahat yang lainnya. Tunggu tulisan saya selanjutnya.


Salam motivatrip,

Etika Aisya Avicenna

 

 

2 komentar:

Terima kasih telah berkunjung dan meninggalkan komentar di blog ini ^___^. Mohon maaf komentarnya dimoderasi ya. Insya Allah komentar yang bukan spam akan dimunculkan. IG/Twitter : @aisyaavicenna