Sabtu, 10 Februari 2024

PETUALANGAN MENAWAN DI KOTA IMPIAN

 


Saat mentari mulai menyapa dan perut sudah terisi dengan sebungkus nasi uduk, pukul 06.15 di Sabtu, 20 Februari 2010 itu saya keluar kos. Dengan mengenakan tas punggung kesayangan, saya menuju jalan Otista dan naik angkot biru nomor 44 menuju Stasiun Tebet. Insya Allah hari itu saya hendak berpetualang ke kota impian, Bogor.

Mengapa Bogor? Ehm, sebenarnya sejak SMA dulu saya pengin sekali bisa masuk ke Institut Pertanian Bogor (IPB). Saya juga mencoba ikut PMDK. Saya memilih jurusan Kedokteran Hewan waktu itu, alasannya sangat simpel karena suka kucing. Hehe.. Diterima? Tentu saja tidak! Sejak itu, saya jadi semakin penasaran dengan kota Bogor yang telah “menolak” kehadiran saya saat itu.

Saat berada di dalam angkot nomor 44 itu, saya mengeluarkan dua lembar kertas berisi jadwal dan alur perjalanan kereta Jakarta-Bogor. Sudah seperti Dora dan petanya. Hehe.. Sampai di dekat Stasiun Tebet, saya sempat mampir bertanya kepada seorang bapak penjual makanan ringan, pintu masuk stasiun sebelah mana. Sempat bingung juga karena memang berhentinya mikrolet 44 masih agak jauh dari pintu masuk stasiun. Malu bertanya sesat di stasiun dong! Akhirnya saya menuju loket karcis dan membeli satu karcis kereta AC Ekonomi jurusan Bogor. Ternyata berangkatnya pukul 06:50.

Saya membayar karcis seharga Rp 5.500,00 itu kepada petugas loket. Baru beberapa langkah, saya kembali lagi ke loket itu, karena ternyata uang kembaliannya kurang Rp 10.000,00. Wah, dikiranya mungkin bayarnya pake Rp 10.000,00. Sambil menanti kedatangan sang ular besi yang akan membawa menuju kota impian, saya SMS-an dengan Ibunda tercinta di Wonogiri. Ibuk sangat tahu kalau putrinya ini memang hobi berpetualang. Jadi, ya kemanapun pergi akan didoakan.

Akhirnya, kereta yang dinanti pun tiba. Saya masuk dan memilih bangku yang masih kosong. Lapang rasanya. Keretanya juga bersih!

Bismillahi tawakaltu ‘alallah.. Laahaula walaa quwwata ilabillah…

Jadi ingat lirik lagunya band Padi, “Kulayangkan pandangku melalui kaca jendela. Dari tempat kubersandar seiring lantun kereta. Membawaku melintasi tempat-tempat yang indah. Membuat isi hidupku penuh riuh dan berwarna.."

Di dalam kereta, saya menyempatkan diri untuk membaca buku berjudul “Tuhan, Inilah Proposal Ibadahku.” Buku yang sangat inspiratif. Saya membaca buku sambil sesekali memandang ke luar jendella. Sekitar pukul 08.30, akhirnya kedua kaki saya secara resmi menginjakkan kaki di kota Bogor.

Alhamdulillah, salah satu impian terwujud lagi. Keluar dari stasiun Bogor, saya langsung disambut oleh puluhan tukang ojek dan tukang becak. “Maaf, Pak. Saya naik angkot 03 saja,” batin saya. Bogor juga dikenal dengan sebutan “kota seribu angkot” karena memang banyak sekali angkot yang beredar di jalan raya. Saya pun sempat bingung memilih angkot.

Saya memilih duduk di samping sopir angkot 03. Bisa sambil tanya-tanya, gitu pikirnya dan biar tidak tersesat. Bogor cerah sekali pagi ini. Saya jadi sangat leluasa melihat kanan kiri. Sempat lewat Kebun Raya Bogor dan tampaklah puluhan rusa dengan berbagai aktivitasnya. Ada yang sedang tiduran, lari-larian, ngemil, jalan-jalan, dan lainnya.

Saya turun di jalan masuk menuju Universitas Pakuan. Saya ganti naik angkot 06 dan turun di depan kampus itu. Alhamdulillah, sampai di tujuan. Saya masuk dan langsung mendekati seorang bapak untuk bertanya di manakah letak aula Fakultas Ekonomi. Akhirnya sang bapak memberikan petunjuk dan saya meneruskan perjalanan mengikuti petunjuk Bapak itu. Tapi, ternyata belum ketemu juga. Akhirnya bertanya dan bertanya lagi sampai akhirnya ketemu juga auditorium D3 FE UNIPAK tempat diselenggarakannya Workshop Menulis hari itu.

Qadarullah saya bertemu dengan salah seorang sahabat lama, sebut saja Fatiya yang setahun ini tidak bertemu dan hari ini bertemu kembali dalam kondisi yang sama-sama sudah “berbeda”. Ada 3 pembicara yang dihadirkan dalam acara dahsyat pagi itu. Materi yang disampaikan juga sangat inspiratif. Saat sesi tanya jawab, saya menjadi penanya pertama. Di akhir acara, terpilihlah 3 penanya terbaik dari 9 peserta yang bertanya, dan alhamdulillah saya menjadi salah satunya.

Setelah acara selesai, saya sempat berdiskusi dengan Fatiya. Tidak menyangka juga bisa bertemu di situ. Ternyata Fatiya merupakan salah satu penggagas acara dahsyat hari itu. Salut deh! Kami sharing sebentar.

Setelah itu, kami menuju masjid Al Kautsar untuk salat Zuhur dan akhirnya setelah selesai salat, kami berpisah untuk melanjutkan perjalanan masing-masing. Saya keluar dari Universitas Pakuan dan langsung naik angkot 06. Mendung bergelayut menghiasi langit kota Bogor. Hujan mulai turun. Sampai di dekat Gramedia, saya turun dan berganti angkot 03 menuju stasiun Bogor. Hujan semakin deras. Jadi benar-benar merasakan bahwa Bogor memang “Kota Hujan”.

Sampai di pemberhentian angkot 03, hujan masih mengguyur deras. Kalau mau ke Stasiun Bogor, masih harus berjalan kaki. Akhirnya saya naik becak karena jalanan digenangi air setinggi mata kaki. Saat sampai di stasiun, saya membeli tiket AC ekonomi. Karena masih 1 jam lagi jadwalnya, saya memutuskan untuk makan siang.

Sekitar 1 jam kemudian, kereta datang. Saya duduk sambil merenungkan aneka peristiwa dan pengalaman hari ini, termasuk salah satu skenario-Nya yang mempertemukan saya dengan Fatiya.

“Allah yang memisahkan, Allah jualah yang mempertemukan kembali. Allah yang menjauhkan, Allah pulalah yang mendekatkan kembali. Ukhuwah itu memang penuh warna karena skenario-Nya yang membuatnya demikian. Jika doa-doa yang mengikatnya, maka ukhuwah itu akan senantiasa berwarna indah walau terpisah jarak dan waktu.”

Insya Allah saya dan Fatiya berencana untuk bertemu kembali. Kami akan membahas sesuatu di kota yang terkenal dengan Tugu Kujang-nya itu. Tunggu kisah kami selanjutnya ya!

Tidak ada komentar:

Posting Komentar

Terima kasih telah berkunjung dan meninggalkan komentar di blog ini ^___^. Mohon maaf komentarnya dimoderasi ya. Insya Allah komentar yang bukan spam akan dimunculkan. IG/Twitter : @aisyaavicenna