Jumat, 16 Juli 2021

PERTAMA KALI NAIK PESAWAT


Jarak ribuan mil mustahil ditempuh jika tidak pernah menjejakkan langkah pertama. Begitulah hakikat sebuah perjalanan, ada langkah awal yang akhirnya diikuti langkah-langkah selanjutnya.


Puluhan perjalanan ini berawal ketika kesempatan untuk menjadi seorang statistisi hadir tak sampai 1 bulan setelah wisuda, ketika saya resmi menjadi alumni jurusan Matematika FMIPA UNS. Tepat 2 hari sebelum pendaftaran ditutup, saya mencoba ikut tes CPNS.

Pada Oktober 2009, dengan mengantongi restu orang tua, saya berangkat ke Jakarta dengan naik bus. Itulah pengalaman pertama saya berpetualang ke ibukota. Masih teringat wajah khawatir almarhum ayah saat melepas kepergian saya dari Terminal Wonogiri. Waktu itu saya berangkat bersama sahabat saya yang kuliah di Jakarta.

Setelah melewati serangkaian tes yang sangat menantang dan menegangkan, akhirnya saya dinyatakan lolos menjadi CPNS dengan menempati formasi sebagai calon statistisi. Alhamdulillah, sebuah impian yang menjadi nyata.

Pada awal Desember 2009, secara resmi saya mulai hijrah dan bekerja di Jakarta. Suatu ketika saat perjalanan pulang menuju kos, saya melihat pesawat terbang dari balik jendela angkot. Tercetus harap sambil menyunggingkan senyum optimis, "Insya Allah sebentar lagi bisa naik pesawat."

Lulus kuliah langsung dapat kerja membuat saya harus beradaptasi dengan cepat. Terlebih di lingkungan yang sangat asing bagi saya dengan suasana khas kota metropolitan. Alhamdulillah, saya bersyukur dikelilingi orang baik. Bahkan pimpinan saya, sebut saja namanya Pak Indra, sering diskusi dan memberikan motivasi pada saya dan beberapa kawan yang menjadi pegawai baru.

Pada pertengahan 2010, ada seorang ibu, sebut saja Bu Tuti, yang pensiun dan akhirnya pindah ke Jogja. Bu Tuti sudah saya anggap seperti nenek sendiri, karena memang saya seusia cucu pertama beliau. Oh iya, di ruangan ada 10 orang pegawai. Pak Indra inisiatif mengajak kami untuk silaturahim ke rumah Bu Tutik di Jogja sekaligus piknik seruangan. Semua biaya untuk pegawai baru ditanggung Pak Indra. Alhamdulillah, gratisan euy. Deg-degan, akhirnya akan naik pesawat untuk pertama kalinya.

Jumat sore itu, saya tidak pulang ke kos tapi ikut rombongan seruangan ke bandara Soekarno Hatta. Untuk pertama kalinya saya menginjakkan kaki di bandara terbesar di Indonesia itu. Saya dan rombongan naik pesawat Batavia Air.

Sesampai di bandara, saya mengikuti rombongan untuk check-in di counter maskapai. Setelah menerima boarding pass, kami menuju ruang tunggu. Hmm, makin dag dig dug rasanya. "Bagaimana ya rasanya naik pesawat? Bagaimana ya rasanya berada di ketinggian puluhan ribu kaki?"

Tibalah waktu boarding, kami beriringan masuk ke dalam pesawat dan menempati kursi sesuai nomor yang tertera pada boarding pass. Saya duduk di lorong (aisle) dan berseberangan dengan Pak Ade, rekan kerja yang super humoris.

"Eh Tik, akhirnya lo ngerasain naik pesawat juga ya?" Pak Ade meledek dengan senyum lebarnya.

"Iya, Pak. Alhamdulillah..." jawab saya.

"Eh, jangan lupa tuh pasang sabuk pengaman lo. Gini nih caranya!" kata Pak Ade sambil mengajari saya cara memakai sabuk pengaman.

Saat paling menegangkan pun tiba. Pesawat mulai bergerak perlahan, kemudian cepat, dan akhirnya lepas landas. Saat proses take off ini rasanya deg-degan luar biasa. Saya merapal sebanyak-banyak doa.

Ketika pesawat sudah tenang berada di ketinggian, masya Allah.. saya takjub melihat pemandangan dari jendela. Ada awan berbaris rapi berlatar langit yang berwarna jingga. Tak terasa hampir 1 jam burung besi ini membawa saya dan rombongan menuju Jogja. Meski sesekali ada guncangan ringan saat menembus awan, tapi pengalaman pertama naik pesawat ini begitu berkesan.

Ketika hendak mendarat, rasa cemas kembali hadir. Tangan sampai berkeringat dingin. Alhamdulillah pendaratan berjalan dengan mulus.

Saat pesawat sudah berhenti di terminal kedatangan, semua penumpang dipersilakan untuk keluar secara tertib. Namun, ketika hendak berdiri, tiba-tiba saya terjerembab duduk kembali. Ya ampun, saya lupa melepas sabuk pengaman.

“Hahaha, baru pertama kali naik pesawat yaaa," kata Pak Indra meledek. Ternyata beliau sudah berdiri di dekat kursi saya.

"Hihi, iya Pak. Maklum," jawab saya sambil tersenyum malu.

Begitulah pengalaman pertama saya naik pesawat. Tentu teman-teman juga punya pengalaman seru saat pertama kali terbang dengan burung besi. Pastinya asyik ya untuk dikenang.

Ada pelajaran di setiap perjalanan. Saat naik pesawat, kita tidak mengetahui pilotnya. Tapi kita merasa tenang dalam menikmati perjalanan di udara. Kita yakin bahwa pilot akan mengemudikan pesawat dengan baik dan berusaha membuat perjalanan aman serta nyaman sehingga semua penumpang mendarat dengan selamat di bandara tujuan. Seharusnya kita juga seperti itu saat menjalani kehidupan ini.

Kehidupan kita sudah diatur dengan sangat tepat dan terbaik oleh Allah, seharusnya kita tak perlu resah dalam melakoni setiap skenario kehidupan ini. Tugas kita hanya taat dalam menjalankan semua prosedur yang telah Allah tetapkan serta melipatgandakan keyakinan bahwa semua yang terjadi dalam hidup kita adalah sebaik-baik ketetapan dari-Nya.


7 komentar:

  1. pengalaman pertama selalu menyimpan cerita menarik didalamnya. sudah coba naik pesawat di kala pandemi? pasti seru juga.

    BalasHapus
  2. Jadi keinget pengalaman pertama waktu naik pesawat juga. Dulu kemana-mana seringnya juga naik mobil, baik lintas pulau pun naik mobil karena Ayah kebetulan suka untuk mengendarai sendiri. Tapi, namanya umur yang makin tua jadi makin gak kuat deh dan mulai naik pesawat. Dulu awalnya kagok banget tapi karena ada orang tua gak jadi masalah. Tapi, pas kuliah mulai apa2 sendiri. Apalagi dulu harus transit ke Jakarta karena gak ada pesawat langsung dan inget banget bingung harus kemana dan muter-muter sendiri karena gatau harus apa 😆

    BalasHapus
  3. Wahh, menarik sekali cerita awal naik pesawatnya kak. Btw, Ada perasaan deg2an engga kak saat pertama kali naik pesawat? Hehe

    BalasHapus
  4. Kisah yg mengispirasi mbak, semoga kisah mbak bisa menular kesaya yg lg berjuang cpns 😂🙏

    BalasHapus
  5. Bermabfaat, saya kapan ya bisa naik pesawat. Moga sekampean kaya mbak nya

    BalasHapus
  6. MasyaAllah, saya baca ikut merasakan juga teh. hihi.
    Mudah-mudahan ya Mila juga bisa merasakan naik pesawat. Mila ingin ek Sulawesi Tengah (tepatnya di kota Palu) mengunjungi bibi kami.

    BalasHapus
  7. Jadi ingat juga nih, sama pengalaman naik pesawat. Memang itu kali kedua saya naik pesawat, dan saya baru bisa menikmati suasana di pesawat. Sebelumnya tegang banget, karena saya takut ketinggian. Ketika saya tidur, pesawatnya udah mau landing, nah tuh kan getarannya kenceng banget, saya spontas berdzikir dan istighfar yang keras. Abis tu ditepuk-tepuk sama mbak mbak bule di sebelah, huft, saya kira tu pesawat kenapa-napa, taunya cuma mau landing.

    BalasHapus

Terima kasih telah berkunjung dan meninggalkan komentar di blog ini ^___^. Mohon maaf komentarnya dimoderasi ya. Insya Allah komentar yang bukan spam akan dimunculkan. IG/Twitter : @aisyaavicenna