Kamis, 08 Februari 2018

REVIEW FILM BUNDA, KISAH CINTA DUA KODI : BELAJAR MENJADI MUSLIMAHPRENEUR YANG SUKSES





“Tidak mudah menjadi wanita yang sukses dalam berbisnis, apalagi dia seorang muslimah”
 
Tagline Film “Bunda, Kisah Cinta Dua Kodi” di atas memang tepat untuk menggambarkan perjalanan hidup Tika (Acha Septriasa), seorang muslimah tangguh dalam membangun bisnis dan mempertahankan keharmonisan keluarga. Film yang pernah dibuat versi dokumenternya oleh sutradara muda Ali Budiyanto ini memang terinspirasi oleh kisah nyata Bunda Tika Kartika, owner Keke Busana. Ali Budiyanto kembali didaulat Inspira Picture untuk menggarap  film layar lebarnya bersama dengan  Bobby Prasetyo.

Catatan perjalanan bisnis  Bunda Tika Kartika ini juga telah diterbitkan dalam buku bergenre motivasi dengan judul “Dua Kodi Kartika” oleh Rendy Sahputra dan telah ditulis dalam  bentuk novel oleh Asma Nadia dengan judul “Cinta Dua Kodi”.

Nobar 

Alhamdulillah, saya menonton film ini tepat di hari lahir saya tanggal 2 Februari 2018 bersama suami dan sahabat-sahabat di Java Travel Indonesia. Film yang mulai tayang  tanggal 8 Februari 2018 secara serentak ini berhasil membuat milad saya makin spesial.

Kisah yang Inspiratif

Film “Bunda, Kisah Cinta Dua Kodi” ini berkisah tentang kegigihan Tika untuk mewujudkan impiannya. Tika yang seorang wanita karir dan sudah memiliki dua orang putri memutuskan untuk resign dari kantornya karena ia ingin lebih dekat dengan kedua anaknya yang sempat terabaikan. Di tengah kondisi ekonomi rumah tangganya yang sulit, Farid justru mendapat masalah di pekerjaannya sehingga ia memutuskan untuk menjadi ayah rumah tangga. Ada tawaran pekerjaan ke luar negeri tapi Farid tolak. Tika, dengan dukungan Farid, mulai merintis Keke Busana. Sebuah perjuangan yang patut diajungi jempol, salut juga dengan Farid yang sangat mendukung aktivitas istrinya.

Tika jatuh bangun membangun bisnisnya, tapi sifatnya yang "kekeuh" membuat Keke Busana kian berkembang. Tika juga melibatkan orang-orang sekitarnya, terutama ibu-ibu tetangga yang membutuhkan pekerjaan untuk membantu bisnisnya. Menjadi orang yang bermanfaat dicontohkan Tika dalam film ini. Sifat mengalahkan ego dari seorang suami juga dicontohkan oleh Farid dengan sangat apik.

Salah satu dialog mereka yang sangat saya suka:
“Laki-laki tidak akan lepas tanggung jawabnya dari tiga perempuan. Ibu, saudara perempuan, dan anak perempuannya.” Begitulah jawaban Tika atas permintaan maaf yang disampaikan Farid (Ario Bayu), sang suami yang memilih ‘pergi’ untuk memenuhi keinginan ibundanya.

Akting Pemain yang Memukau
 
Saya sangat menyukai akting Acha yang totalitas, dipadu dengan akting Ario Bayu membuat chemistry dalam film ini begitu terasa. Empat jempol! Akting Wulan Guritno sebagai bosnya Tika di kantor dan Inggrid Wijanarko sebagai ART-nya Tika juga sangat memukau. 

Akting kedua putri Tika juga patut diacungi jempol, justru akting mereka sangat mengaduk-aduk emosi. Suka banget sama si Kakak yang suka menggambar dan pelihara keong.

Beberapa Hal yang Disayangkan

Sebagai penikmat film, saya agak terganggu dengan kemunculan nama-nama pihak yang terlibat dalam film ini saat awal  penayangan. Selain itu, prolog cerita yang berupa animasi juga terlalu panjang sehingga penonton 'dipaksa' untuk menentukan cerita sendiri. 

Selain itu, saya kurang sreg dengan karakter Tika yang cukup mendominasi dan terlalu ngotot dalam mewujudkan keinginannya. Ada bagian cerita juga sempat membuat dahi berkernyit. 
Tapi so far so good lah.. 

Cocok Ditonton Bersama Keluarga


Nayya jadi juragan tiket


Film ini sangat direkomendasikan untuk ditonton bersama keluarga. Suami akan lebih paham tentang perannya, para istri semoga semakin cinta pada sang suami dan sadar juga akan tugas dan tanggung jawab utamanya, anak-anak akan semakin sayang dengan kedua orang tuanya. Film ini sangat aman pakai banget untuk ditonton anak-anak. Bagi yang jomblo? Insya Allah bisa banget untuk jadi pembelajaran sebelum menikah kelak.

Dan semoga setelah menonton film ini yang masih suka debat soal Ibu Bekerja vs Ibu Rumah Tangga pun lebih tersadarkan bahwa apapun aktivitas seorang ibu atau istri tetap harus dihargai yang terpenting tidak melupakan kewajiban utamanya. 

Berhubung baru tayang hari ini, silakan serbu bioskop bersama keluarga ya!!!

Hanya seorang penikmat film,
Aisya Avicenna


 


10 komentar:

  1. Wah, udah nonton aja... Aku beluman nih

    BalasHapus
  2. Semoga baba Nawra juga mau nonton film ini ya

    BalasHapus
  3. saya suka film keluarga yang menceritakan perjuangan anak, ibu, ayah, dan film bunda ini jadi ingin nonton juga

    BalasHapus
  4. Wah... aku belom nonton, fil ini pasti keren dan menginpirasi seperti film2 Bunda Asma Nadia yang lainnya... aku jadi penasaran sama film ini ^^

    BalasHapus
  5. Aku cuma pernah baca review bukunya doang... bukunya belum punya tapi hahaha

    BalasHapus
  6. aku belooom nontooon... jadi pengen nontooon

    BalasHapus
  7. Ketika wanita yang harusnya jadi tulang rusuk menjadi tulang punggung
    Ingin mendidik anak laki2 saya dengan "keras" dan bertanggung jawab agar kelak ketika jadi suami ia gak menjadikan istriny yg harusny jd tulang rusuk menjadi tulang punggung
    Na'udzubillah

    BalasHapus

Terima kasih telah berkunjung dan meninggalkan komentar di blog ini ^___^. Mohon maaf komentarnya dimoderasi ya. Insya Allah komentar yang bukan spam akan dimunculkan. IG/Twitter : @aisyaavicenna