Selasa, 09 Februari 2016

Catatan Aisya [15] : Menghafal Hadist


Saya tergugah dengan pertanyaan Ustadzah Win tadi pagi saat memuroja'ah hafalan hadist kami. Beliau adalah ustadzah kami dalam kelas tahsin pekanan di LBQ Al-Utsmani pada semester ini. "Hadistnya cuma pendek kan? Insya Allah mudah kok dihafal. Apa kendalanya?" Beliau bertanya seperti itu kepada kami semua. Sindiran yang halus, tapi sangat mengena. .

Ya, pagi ini kami memang harus setoran hafalan hadist yang menjadi tugas kami sepekan yang lalu. Hadist tersebut berkaitan dengan urgensi mempelajari tajwid Al-Qur'an. Kami semua belum berhasil memenuhi target setoran. Terkait kendala, beberapa dari kami mengakui bahwa kendala utama memang berasal dari diri kami sendiri. Kalau masalah waktu, ya tidak adil rasanya kalau waktu yang dipersalahkan. Karena kami sama-sama punya waktu 1 pekan untuk menghafal 8 hadist dan artinya itu.

Saya sendiri baru bisa menyetorkan 5 hadist yang sudah saya hafalkan. Hmm, berarti masih hutang 3 hadist untuk disetor pekan depan. Semangat!!! Selain bisa menghafal hadist, mohon doanya juga semoga bisa menghafal Al-Qur'an sebelum usia 30 tahun (target pribadi). Pokoknya ni lagi semangat memperbaiki hafalan karena setelah belajar tahsin, ternyata tajwidnya masih banyak yang perlu dibenahi.

Pada catatan kali ini saya fokuskan tentang bahasan menghafal hadist. Maksudnya tak lain sebagai motivasi pada diri sendiri pada khususnya. Harapan besarnya sih semoga menjadi motivasi juga bagi yang membaca tulisan ini.

Hadist telah disepakati oleh kaum muslimin sebagai sumber ilmu dan hukum Islam yang kedua, setelah Al-Qur’an. Sebagai sumber ilmu dan hukum, peran hadist terhadap Al-Qur’an antara lain sebagai berikut:
1. Menegaskan hukum-hukum yang ada di dalam Al-Qur’an
2. Menjabarkan penjelasan Al-Qur’an yang ringkas dan
3. Menetapkan hukum yang tidak ditetapkan di dalam Al-Qur’an.

Salah satu upaya penjagaan sunnah yang terlupakan pada generasi ini adalah menghafal hadits (hifzhul hadits. Para sahabat Nabi merupakan contoh ideal dari orang-orang yang berdiri di awal penghimpunan hadits dengan cara menghafal, mereka memusatkan pikiran dan tenaga demi kecintaan mereka terhadap tegaknya Islam dengan sunnah.

Karena itulah, para sahabat dan tabi'in serta ulama-ulama hadits sangat besar perhatiannya kepada hadits. Bahkan mereka mengadakan perjalanan panjang untuk mendapatkan satu hadits sekalipun.

Di antara kalangan sahabat, yang masyhur dalam menghafal hadits adalah Abu Hurairah, Abdullah bin 'Abbas, Aisyah, Abdullah bin 'Umar, Jabir bin 'Abdullah, Anas bin Malik, Abū Sa'id al-Khudri Radhiyallahu 'anhum. Mereka semua termasuk para sahabat yang menghafalkan hadits lebih dari 1000 hadits.

Masih banyak lagi generasi penghafal hadist setelahnya. Mereka berupaya semampu mereka dalam menghafalnya. Bahkan banyak di antaranya mewariskan hafalannya kepada anak-anak mereka. Maka, lahirlah generasi penghapal hadits berikutnya. Inilah gambaran yang membuktikan kepada kita bahwa menghafal hadits pada kalangan salafus shâleh telah menjadi tradisi yang dilazimkan dalam rangka menjaga agama ini.

Alangkah baiknya tradisi yang dilahirkan sekaligus diamalkan generasi terbaik ummat ini dapat kita mulai dari kita dengan menghafal satu atau dua hadits dan membiasakannya kepada anak-anak kita sebagai generasi yang akan datang agar kita juga termasuk dalam generasi yang ikut serta menjaga dan memelihara sunnahnya.

Dengan kedudukan hadits yang tinggi tersebut, maka mempelajari dan menghafalkan hadist memiliki banyak manfaat, di antaranya:
1. Menghafal hadits termasuk dalam tafaqquh fiddin (mendalami ilmu agama) yang diperintahkan Allah dan Rasul-Nya.
2. Hadits adalah sumber hukum Islam, maka menghafalnya termasuk dalam salah satu bentuk pembelaan Islam dan Rasul-Nya.
3. Mengutamakan kata-kata beliau di atas kata-kata siapapun juga termasuk bukti kecintaan dan keimanan kepada Nabi Muhammad Saw.
4. Menghafal hadist merupakan salah satu cara untuk menjaga keaslian hadits dari berbagai upaya perusakan hadits, baik yang disengaja maupun yang tidak disengaja.

Berkatalah Anas bin Malik Radhiyallâhu Anhu: ”Dulu ketika kami berada di dekat Rasulullah Saw., kami mendengarkan hadits-hadits dari beliau, apabila kami berdiri(telah bubar dari majelis Nabi Shallallâhu Alaihi wa Sallam) kami saling mengulang hafalan hadits tersebut sampai kami menghafalnya."

Rasulullah Saw. pernah bersabda: “Semoga Allah menjadikan berseri-seri wajah seseorang yang mendengar dari kami hadits lalu dia menghafalkannya dan menyampaikannya kepada orang lain…” (HR. Tirmidzi, Abu Dawud dan Ibnu Majah dari sahabat Zaid bin Tsabit Radhiyallahu 'anhu)

Mari berusaha semaksimal mungkin menghafal hadits-hadits Rasulullah Saw sebagaimana menghafal Al-Qur'an karena keduanya merupakan keutamaan. Mari bersemangat dalam mempelajari, menghafalkan dan mengamalkannya, karena dengan begitu kita turut andil dalam menghidupkan amal kebaikan ini.


Renungan Sore...
Jakarta, 150411
Aisya Avicenna
writer@www.aisyaavicenna.com


Tulisan ini diposting pada bulan April 2011 di blog sebelumnya.

Tidak ada komentar:

Posting Komentar

Terima kasih telah berkunjung dan meninggalkan komentar di blog ini ^___^. Mohon maaf komentarnya dimoderasi ya. Insya Allah komentar yang bukan spam akan dimunculkan. IG/Twitter : @aisyaavicenna