Selasa, 23 Februari 2016

Shalihah

Sebelum sakinah, mawaddah, warrahmah, yang penting saya sholihah dan istiqomah dulu...yang lebih penting lagi semuanya didasarkan pada mardhotillah selalu.. ^^v

Reportase Aisya : "Implementasi Ikhlas"



Hari, Tanggal : Sabtu, 18 Juni 2011
Waktu : Pukul 12.30 - 15.00
Tempat : Masjid Baitul Ihsan, Bank Indonesia
Pembicara : Ustadz Bachtiar Nasir

***
Kalimat Ikhlas

"Laailaaha illallaah wahdahuu laa syariikalah lahulmulk walahulhamd wahuwa ala kulli syai'in qadiir."
"Tiada sesembahan (ilaah) yang 'haq' untuk disembah selain Allah. Dia sendiri, tiada sekutu bagi-Nya. Milik-Nya semua kerajaan kekuasaan, milik-Nya pula semua puja dan puji. Dan Dia Maha Kuasa atas segala sesuatu."

Ikhlas Inti Berislam

"... Barangsiapa mengharap perjumpaan dengan Tuhannya maka hendaklah ia mengerjakan amal yang saleh dan janganlah ia mempersekutukan seorang pun dalam beribadah kepada Tuhannya." (QS. AL-Kahfi [18] : 110)

Amal Ikhlas (Niat)

Artinya : memurnikan semua tujuan dan kepentingan ketaatan hanya untuk Allah semata.

Ikhlas dalam Segala Hal

1. IKHLAS MENASIHATI
- Tujuan menasihati hanya untuk mengembalikan sesama hamba kepada Allah
- Harapann menasihati hanya menginginkan balasan ridha Allah semata
- Meyakini bahwa hanya Allah saja Yang Maha Membolak-balikkan Hati jika ingin nasihat itu memberikan dentuman/efek yang besar.
- Nasihat yang ikhlas, walau hanya satu atau dua kata, maka akan berpengaruh besar pada jiwa
2. IKHLAS MENUNTUT ILMU
- "Barangsiapa mempelajari suatu ilmu yang semestinya digunakan untuk mencari ridha Allah, tetapi dia tidak mempelajarinya kecuali untuk meraih harta dari dunia, maka ia tidak akan mencium bau surga di akhirat" (HR. Abu Daud)
- Jangan semata-mata mencari dunia. Siapapun yang ingin berjuang bersama, carilah ridho Allah dan bersatulah dalam perjuangan.
3. IKHLAS DALAM BERDOA
- "Berdoalah kepada Allah dan kalian yakin akan dikabulkan. Ketahuilah, sesungguhnya Allah tidak mengabulkan doa orang yang qalbunya lali dan lena dari Allah." (HR. Tirmidzi dan Hakim)
- Jangan sedikitpun ada keraguan saat berdoa.
- Minta yang besar sekalian! Kalau minta surga, sekalian saja minta surga Firdaus. Jangan minta yang kecil dari Yang Maha Besar.
- Jangan mendikte Allah!
- Mintalah pada Allah yang Allah suka! Jangan meminta yang kamu suka, karena akan membuat kamu celaka.
- Umumnya doa-doa itu bersifat makro, bukan mikro.
- Balasan berlipat-lipat adalah bukti Allah Maha Pengasih dan Maha Penyayang
- Saat ini adalah "zaman ibadah transaksional". Kita beribadah untuk mengharap balasan dunia. Contoh : melaksanakan sholat dengan mengharap rezekinya semakin berlipat ganda, bukan mengharap ridho Allah atas ibadahnya.
4. IKHLAS DALAM BEKERJA
- Berangkat dengan niat mengharap rezeki Allah semata
- Tidak bekerja di tempat dan cara kerja yang haram
- Hasilnya merasa cukup dengan pemberian Allah saja agar tidak tergoda oleh penghasilan yang haram.
- Cukup itu berapa? Yakni berapa kali kau berkata syukur
- Puas itu bagaimana rasanya? Yakni seberapa puas kamu bersyukur
- Kaya itu kapan sih? Sekarang jika kau bersyukur, maka sekarang juga kau sudah kaya.
- Kerjakan apa yang menjadi tugas kita, jangan banyak menuntut kepada Allah.
- "Jika aku sudah dimampukan Allah untuk berdoa, maka itu berarti Allah sudah menyiapkan jawaban doaku" (Umar bin Khatab ra.)
- Ikhlas itu bukan rela. Ikhlas = murni karena Allah
- Bangganya seorang muslima adalah bukan saat bisa berdzikir di dalam mobil mewah, tapi saat mampu bersedekah dengan mobil mewah.
- Umroh berulang-ulang memang baik, tapi akan lebih baik lagi jika mampu bersedekah sebanyak nilai umrohnya, mampu memberi makan orang miskin sebanyak nilai umrohnya. Jangan cuma pergi umroh hanya untuk melihat Ka'bah saja.
5. IKHLAS DALAM BERJUANG DAN BERDAKWAH
- "Barangsiapa yang berjuang demi tegaknya kalimat Allah (Laa Ilaaha Illallaah) berarti dia sedanga dalam jalan Allah (fi sabilillah)."
- Contohnya Nabi Ibrahim as yang sendirian tanpa pasukan dan senjata saat menghadapi Namrud. Akan tetapi, beliau tetap teguh dengan Islam, akhirnya Allah pun menolongnya.
6. IKHLAS DALAM GHIRAH
- Ghirah adalah bagian dari iman.
- Kecemburuan dan ketaatan didasari oleh iman bukan sekedar harga diri apalagi emosi.
- Jagalah kehormatan agama kita agar tidak dinistakan!
- Para ibu boleh cemburu pada suami tapi bukan karena dunia atau harga diri, semua dtegakkan karena Laa ilaaha ilallaah...
- "Nak, ilmumu gagal kalau kau tidak semakin taat kepada Allah." (nasihat yang jarang diberikan orang tua kepada anaknya. Buat anak kita bangga kalau dia taat pada Allah saja. Buat anak kita bergengsi jika hanya menjalankan sunnah Rasulullah, bukan gengsi karena mengikuti tren masa kini.

Syirik dan Riya' Menghancurkan Ikhlas
- Orang yang perbuatannya dicampur syirik maka akan sia-sia amalannya.
SYIRIK
- "Dan sesungguhnya telah diwahyukan kepadamu dan kepada (nabi-nabi) yang sebelummu : 'Jika kamu mempersekutukan (Tuhan) niscaya akan hapuslah amalmu dan tentulah kamu termasuk orang-orang yang merugi.' " (QS. Az-Zumar [39] : 65)

RIYA' (PAMER KEBAIKAN)
- "Sesungguhnya yang paling aku takutkan pada kalian adalah syirik kecil, 'Para sahabat berkata, Apa syirik kecil itu ya Rasulullah? Beliau menjawab, "Riya' " (HR. Ahmad)
- Riya' adalah syirik tersembunyi yang menghancurkan pahala kebaikan
- Riya' adalah bagian dari hawa nafsu, pelaku riya' menuntut bagian nafsunya di dunia

Ikhlas Amat Berat bagi Hawa Nafsu


- "Semua yang baik bagi ruh umumnya tak disukai jasad, dan umumnya yang membahayakan ruh disukai oleh jasad." (Ibnu Qayyim)
- "Hal terberat bagi hawa nafsu adalah ikhlas karena dalam ikhlas tak ada bagian untuk hawa nafsu." (Sahl bin Abdullah)
- "Yang paling berharga di dunia adalah keikhlasan. Betapa aku berusaha keras menghilangkan riya' dari hatiku, tapi seolah-olah ia selalu tumbuh dalam aneka bentuk yang selalu berbeda." (Ar-Razy)

Semoga bermanfaat...
Aisya Avicenna

Ajakan Berwakaf untuk Pesantren Tahfizh Al-Qur’an Al-Utsmani


Assalamu’alaykum Warohamtullahi Wabarakatuh…

“Sesungguhnya yang benar-benar milik kalian wahai anak Adam adalah apa yang kalian sedekahkan (wakafkan)” (HR. Muslim)

Setahap demi setahap Lembaga Bimbingan Al-Qur’an (LBQ) Al-Utsmani terus mengadakan perbaikan dan pembangunan gedung demi meningkatkan fasilitas belajar-mengajar. Saat ini LBQ Al-Utsmani berencana membebaskan tanah dan bangunan yang terletak di Jalan Munggang No. 6 Balekambang, Kramat Jati, Jakarta Timur yang nantinya juga akan dijadikan Pesantren Tahfizh Al-Qur’an Al-Utsmani.
Lewat catatan singkat ini saya mengajak antum wa antunna untuk menyisihkan sebagian rezekinya guna membantu terealisasinya rencana ini.
Bagi antum wa antunna yang berkenan, silakan transfer ke : Share Muamalat No. Rekening 9186171199 an Etika Suryandari (nomor rekening ini sengaja saya kosongkan saldonya). Untuk konfirmasi, silakan SMS/telp saya di 08999344753

Jazakumullah khairan katsiran..
Hanya Allah yang mampu membalas amal ibadah antum wa antunna sekalian…
Sekian dari saya…
Wassalamu’alaykum Warohamtullahi Wabarakatuh…

Etika Suryandari
(anggota Senat Mahasiswa LBQ Al-Utsmani)

NB : Teman-teman yang berkenan transfer, harap sebelum tanggal 24 Juni 2011 ya! Karena hari itu adalah hari terakhir saya masuk di LBQ Al-Utsmani. Insya Allah hari itu juga akan saya serahkan donasi yang terkumpul. Sekedar info, tanggal 25 Juni 2011 saya akan hijrah ke Bandung untuk studi lanjut di sana sampai Agustus 2012, sehingga akan cuti dulu di LBQ Al-Utsmani. Afwan jiddan sebelumnya jika waktu pengumpulannya singkat. Harapannya sih, biar pada menyegerakan kebaikan. Semoga rezekinya semakin full barokah… Aamiin ya Rabb…

Jejak-Jejak di Ganesha [Part. 1]


Ketika pintu pertama tertutup dan tak bisa dibuka lagi, yakinlah masih ada pintu lain yang bisa dimasuki. Memang dibutuhkan perjuangan untuk bisa menemukan kunci yang tepat!


~Ketika harapan belum bisa bersanding dengan kenyataan, yakinlah bahwa saat itu Allah Swt tengah mengajarkan kita tentang arti kesungguhan~
***
"Maaf Mbak, sudah penuh!"
"Waduh Neng, di sini nggak bisa bulanan, harus tahunan..""Wah, tinggal satu kamar... Nggak bisa berdua..."

Begitulah penolakan demi penolakan yang kami (saya dan Mbak Dy) alami saat mencari kos di daerah ITB kemarin.

Saya mencoba berbagi kisah saya kemarin ya. Sabtu, 11 Juni 2011 bertepatan dengan hari kelahiran ibu saya. Selepas Subuh saya sudah keluar kos dengan satu tujuan. Stasiun Gambir! Sempat menelepon ibu untuk mengucapkan selamat dan minta doanya karena hari ini mau berpetualang ke Bandung. Sempat juga menelepon Mbak Dy untuk meyakinkan bahwa dia sudah bangun (hehe) dan siap beli tiket di Gambir (berhubung kosnya dekat Gambir). Berhubung keretanya berangkat jam 05:45 dari Gambir, saya pun naik taksi dari Jalan Otista Raya.
"Kereta jam berapa, Mbak?" tanya sopir taksinya.
"Jam enam kurang seperempat, Pak!" 


"Wah, mepet nih!"
Meski pernyataan pak sopir sempat bikin saya gusar dan tegang, saya mencoba menenangkan diri. Saya yakin, insya Allah sampai di tempat sebelum kereta datang. Taksi melaju berpacu dengan waktu hingga akhirnya sampai di depan stasiun Gambir. Alhamdulillah... Belum terlambat. Ternyata Mbak Dy masih antri di loket. Tanpa sepengetahuannya, saya mengantri di belakangnya.


"Mau ke mana, Mbak?" sifat iseng saya keluar (Mbak Dy masih serius menghadap ke depan)
"Ke Bandung!" jawabnya sambil memutar kepala searah jarum jam.


Ngik, waktu menoleh.. Tahulah dia bahwa saya sudah berdiri di belakangnya.
Kami pun membeli tiket bisnis kereta Argo Parahyangan. Kami duduk di gerbong 3 kursi 5 C dan D. Pukul 05.45 kereta pun bergerak meninggalkan stasiun. Oh ya, sebelumnya kami sempat melihat ada seorang Bapak yang tiba-tiba duduk di kursi depan kami dan mendekati seorang mahasiswi (sepertinya) yang tengah duduk sendirian. Bapak itu bermaksud meminjam HP sang Mbak karena katanya baterainya rusak. Tanpa bermaksud su'udzon, saya dan Mbak Dy waspada dan menguping pembicaraan di depan kami. Karena sebelumnya Mbak Dy mendapat pesan dari Mel (rekan kerjanya) agar lebih berhati-hati di stasiun karena beberapa waktu yang lalu Mel sempat juga didatangi seorang laki-laki necis yang sepertinya berniat menghipnotisnya. 


Sepertinya si Mbak juga curiga, terbukti dia mengatakan kalau pulsanya habis. Bapak itu terus mengulang penjelasannya bahwa ia bermaksud menelepon istrinya agar menjemputnya di stasiun Cimahi. Katanya si Bapak rematiknya kambuh. Akhirnya si Mbak memberikan HPnya ke si Bapak. Si Bapak pun menelepon istrinya dengan setengah berteriak (suaranya kencang sekali). Isinya beliau minta dijemput di stasiun. Pada sesi ini kami semakin waspada. Karena bisa dimungkinkan si Bapak lari sambil membawa HP si Mbak. Haha, dasar parno! Kalau memang seperti itu, saya sudah ancang-ancang lari mengejar si Bapak. Hehe! Dasar! 


Tapi, ke-parno-an kami tidak terjadi. Si Bapak mengembalikan HP itu, berterima kasih, kemudian kembali ke tempat duduknya. Uhf.. Alhamdulillah... astaghfirullah... Maafkan kami ya Allah... Kami hanya bermaksud untuk waspada, bukan berburuk sangka...
Pukul 06.45, kereta bergerak meninggalkan Jakarta. Bismillahi tawakaltu 'alallah... Inilah perjalanan pertama saya ke Bandung naik kereta. Ahh, saya yakin! Selalu ada yang istimewa di setiap pengalaman pertama. Dalam perjalanan, selain ngemil dan bercengkerama bersama Mbak Dy, saya sempat membaca bukunya Ustadz Burhan Sodiq yang berjudul "Merengkuh Berkah Ramadan". Subhanallah... Pertemukan kami dengan bulan mulia itu. Insya Allah, Ramadhan kali ini menjadi Ramadhan yang berbeda karena saat Ramadhan itu kami tengah mengikuti perkuliahan matrikulasi di ITB Ganesha. Semoga full barokah... Aamiin...


Alhamdulillah, sekitar pukul 09.00 kereta sudah merapat di stasiun Bandung. Setelah beli tiket ke Jakarta nanti jam 16.00 dengan kereta Argo Parahyangan juga, kami pun melanjutkan perjalanan menuju ITB Ganesha dengan naik angkot warna ungu jurusan Cisitu. Sepi, itulah kesan pertama kami saat menginjakkan kaki di daerah tersebut. Hehe... Saya baru dua kali ke Bandung! 


Kami duduk di samping pak sopir.. Hihi, maksudnya sekalian survey tempat asyik buat cari oleh-oleh. Halah! Padahal baru datang! Akhirnya tahu juga kalau di depan stasiun Bandung ada Kartika Sari dan foodcourt. Sip, bakal dikunjungi nanti sore sebelum pulang!


Sampailah jua di gerbang belakang ITB Ganesha. Langsung masuk gerbang yangg sedikit terbuka dan mulai mencari letak Gedung Labtekno III yang rencananya akan digunakan untuk ruang kuliah matrikulasi kami nantinya. Seru juga waktu nyari ni gedung sampai akhirnya ketemu juga meski belum bisa masuk karena ruangannya dikunci. Keluar dari gedung, berniat untuk mencari kos. Akhirnya tanya ke pak Satpam dimana lokasi kos yang dekat dengan kampus. Pak satpam yang berlogat sunda itu pun segera meraih bolpoin di sakunya dan mengambil secarik kertas di depan mejanya kemudian menggambar peta daerah Cisitu. Peta "setengah buta" sih. Hehe! Pak Satpam menerangkan kepada kami dengan serius dan sungguh-sungguh. Kami hanya manggut-manggut sambil nyengir padahal sama sekali "blank" dengan tempat yang disebutkan Pak Satpam. Hmm, meski begitu ya masih cukup mengerti lah.


Setelah berpamitan kepada Pak Satpam, kami pun melanjutkan perjalanan lewat gerbang belakang. Lapar! Akhirnya kami mampir sebuah warteg dan membeli makanan khas Sunda. Uniknya ada telor dadar serupa jala. Setelah makan, kami bermaksud menuju cisitu lama. Menurut si akang yang punya warung, cisitu lama cukup dekat dan bisa ditempuh dengan jalan kaki. Saya dan Mbak Dy pun berjalan kaki menuju cisitu lama sambil menggelar peta kecil yang digambar Pak Satpam tadi. Berpetualang!!!


Wuih, ternyata lumayan jauh juga. Sempat bingung juga dengan gambar peta karya Pak Satpam tadi. Lha kok malah nyasar ke cisitu baru. Ya sudah, akhirnya kami masuk gang di cisitu baru. Tanya ke beberapa kos, ternyata kebanyakan sudah penuh. Kami pun sepakat mencari ke daerah plesiran dan taman sari (depan ITB, dekat kebun binatang). Dari cisitu baru, kami naik angkot ungu kemudian ganti angkot lagi menuju plesiran. Masuklah kami di Jalan Plesiran. Wuih, langsung menemukan kost yang membutuhkan penghuni. Mbak Dy mencoba memencet bel. Ada yang membuka. Hmm, kata si Mbak penghuni itu, bapak kosnya tidak di rumah tersebut dan kami diminta menghubungi nomor teleponnya. Singkat cerita, saya dan Mbak Dy mulai tidak sreg dengan kos itu karena penghuninya ketus. 


Akhirnya kami, menyusuri jalan lagi. Wah, beragam pemilik kos kami temui. Sempat kami merasa sreg dengan sebuah kos dan ibu kosnya. Sayang, kos itu sudah penuh. Akhirnya kami berpindah ke Jalan Taman Hewan. Kami mencari dan terus mencari, sampai lewat pintu masuk kebun binatang. Hmm, sebenarnya kami kurang sreg juga dengan lingkungannya yang padat dan sedikit kotor. Saya sempat menghubungi adik tingkat SMA saya yang juga kos di daerah Plesiran. Hmm, ternyata dia sudah ngekos dengan suaminya. Dan katanya memang untuk masa sekarang rada sulit mencari kos yang bulanan.
Sampai ke pelosok jalan, kami belum menemukan kos yang kami cari. Waktu sudah Dhuhur, saya mengusulkan ke Mbak Dy sebaiknya kami sholat dulu di Masjid Salman ITB. Kami pun menuju ke sana. Sempat beli cimol. Maklum, laper! Sempat nyasar dulu, sampai akhirnya tiba juga di Masjid Salman. Alhamdulillah.... Ngadem!!!


Selesai sholat, saya mendapat informasi dari Mbak Ajeng (salah satu kenalan saya di ITB). Ada beberapa kost muslimah yang beliau infokan kosong. Tapi statusnya masih kurang jelas. Di lain tempat, rombongan Mbak Silvi (Mbak Frida, Mas Andung, Mas Afif) juga tengah mencari kos. Kami saling bertukar informasi. ternyata sama-sama belum dapat. Kami juga sempat mampir di salah satu sekretariat Salman yang di dalamnya ada dua orang muslimah. Kami mengetuk pintu. Mbaknya keluar dan dengan ramahnya bertanya ,"Ada yang bisa saya bantu, Teh?". Saya pun bertanya di mana kami bisa mendapatkan informasi terkait kos putri. Ternyata dia kurang tahu juga. Hmm, keluar dari kawasan sekre Salman tadi, Mbak Dy malah menyeletuk ingin belajar bahasa Arab! Wah, saya juga! Tapi kan kami di sini kan cuma dua bulan. Semoga niat baik kami sudah tercatat dan semoga bisa terealisasi. 


Kami meninggalkan Masjid Salman ITB dengan semangat dan harapan baru semoga segera mendapatkan kos yang kami cari. Kali ini kami berencana mencari di Cisitu Lama. Keluar dari Salman, kami mampir beli minum dulu kemudian berjalan menuju Jalan Taman Sari untuk naik angkot. Sepanjang jalan, kami mengamati pamflet-pamflet yang terpajang di pohon. 


Aha! Ada satu pamflet yang cukup menarik! Ada kamar kosong, 400 rb/bulan, untuk muslimah, ada dapur, dah free listrik + air, hanya sekali angkot kalau ke ITB. Saya pun menghubungi nomor yang tertera di pamflet itu. Wah, masih ada kamar kosong! Tapi sayang, cuma tinggal sekamar dan tidak boleh sekamar berdua! Lemes deh! Perjalanan berlanjut, kembali menemukan pamflet dan menghubungi nomornya. Kali ini seorang bapak yang menerima. Wah, masih banyak kamar kosong! Sumringah deh! Tapi langsung lemes lagi gara-gara tahu harganya! Rp 1.500.000,-/bulan dengan fasilitas seperti hotel bintang 5. Gubrak!


Ya sudah, akhirnya kami berjalan menuju jalan raya untuk naik angkot. Di kanan kiri jalan banyak kuda cakep yang 'parkir'. Hehe... Sempat dikagetkan juga dengan keberadaan seekor kuda yang tiba-tiba kepalanya menoleh ke arah saya! Hmm...
Kami kembali naik angkot ungu menuju Cisitu Lama. Cuma kami berdua yang jadi penumpang. Dari pak sopir, kami mendapat informasi kos. Kami pun diberhentikan dengan hormat di Cisitu Lama gang I. Kata Pak Sopir, dari Gang I sampai Gang VIII ada banyak kos. Sip, pencarian dimulai kembali!!!


Berawal dari jalan kecil sebelum gang I kami mengawali pencarian. Tanya sana-sini. Masuk dari 1 kos ke kos lain. Sayang, belum ketemu juga. Puluhan kos kami gali informasinya. Kebanyakan masih penuh, baru diperbaiki, tidak menerima bulanan, dan satu hal... Kebanyakan yang bulanan adalah kos laki-laki! Memang benar sih, ITB didominasi laki-laki. Total mungkin ada 50-an rumah kos (kurang dan lebihnya saya mohon maaf nggak menghitung secara detail soalnya!) yang sudah kami kunjungi hari ini. Man shabara zhafira (Siapa yang bersabar akan beruntung)! Jangan berputus asa dari rahmat Allah! Jangan menyerah, Tik! Tetap semangat! Itulah kata-kata motivasi yang saya letupkan dalam hati untuk mengafirmasi diri.


Sampai akhirnya, saat waktu hampir menunjukkan pukul 15.00 (kereta kami pukul 16.30) kami menemukan sebuah kos muslimah. Kami ketuk pintunya, mengucapkan salam, dan keluarlah seorang ibu berjilbab. Kami menanyakan apakah masih ada kamar kosong. Ternyata... Penuh!!! Sang ibu akhirnya mengajak kami mengunjungi sebuah rumah berpagar merah. Ada seorang ibu paruh baya yang keluar dari rumah itu. Alhamdulillah, ada sebuah kamar kosong! Kata ibunya, memang buat kos tapi tahunan! Akhirnya saya lobi untuk dua bulan ke depan. Alhamdulillah, ibunya setuju. Toh kami di sana juga cuma sampai tanggal 20 Agustus (sebelum tahun ajaran baru). 


Sang ibu hanya tinggal bersama suaminya. Mereka berdua ternyata atlet bangsa yang luar biasa. Atlet lempar lembing dan satunya saya lupa! Mereka berdua telah menyumbangkan banyak medali buat bangsa ini. Terbukti dengan banyaknya medali yang dipajang dan beragam foto mereka berdua di berbagai belahan dunia. Ah, saya kagum! Apalagi di usia senja mereka, masih menjadi ketua RT!


Kami diberi kebebasan menggunakan dapur (horeeee! Bisa masak!), kulkas, air, sofa, dll. Alhamdulillah, kosnya juga dekat masjid. Namanya masjid Ar-Rahim. Minimal kami bisa menggunakannya selama Ramadhan (meski sekali-kali kami pun ingin menjadikan Masjid Salman ITB sebagai tempat beraktivitas selama Ramadhan nanti). Setelah membayar DP, kami bermaksud balik ke Jakarta. Subhanallah, si ibu memberi kami sekotak black forest sebagai bekal perjalanan. Maklum, hari itu pas mau diadakan rapat RW di rumah beliau. Wah, kejatuhan durian runtuh nih! Setelah keluar dari rumah tersebut, ternyata kosnya juga dekat dengan jalan raya untuk naik angkot, dekat counter, fotocopy, laundry, rental. Sip deh!


Pukul 15:45 kami sampai di Kartika Sari depan stasiun Bandung. Saat itu kami juga mendapat kabar kalau Mbak Silvi cs juga sudah dapat kost. Sayang, mereka juga ada tawaran kos buat kami di saat kami sudah menemukan! Ya sudahlah... insya Allah, semoga masing-masing mendapatkan yang terbaik. Setelah beli oleh-oleh, saya dan Mbak Dy menuju foodcourt untuk membeli mie kocok! Hihi, krupuknya berwarna pink! Hanya 10 menit makannya. Pukul 16.10, kami jalan menuju stasiun. Alhamdulillah, sampai juga di dalam kereta. Bismillahi tawakaltu 'alallah... Akhirnya pukul 16.30 kereta Argo Parahyangan itu meninggalkan Bandung dan menuju Jakarta... 


Alhamdulillah... Petualangan hari ini sungguh luar biasa. Insya Allah, hari-hari ke depan masih banyak lagi petualangan yang harus kami jalani di kota Kembang ini. Hmm, semoga senantiasa diberi kemudahan dan full barokah dari Allah. Terlebih nanti tepat saat bulan Ramadhan. Biarlah semua yang kami alami menjadi pelajaran berharga dalam hidup. Menjadi bekal yang mendewasakan kami dan menjadi inspirasi yang mengingatkan kami sebagai kesyukuran atas segala nikmat-Nya. Yakin saja, di balik setiap kesulitan pasti ada kemudahan. Jangan berputus asa dari rahmat Allah dan yakin bahwa pertolongan Allah sangat dekat dan hadirnya kerap tak terduga. Semangat Sukses (S2)!!!

Jakarta, 120611
Aisya Avicenna

Reportase Aisya : Melihat Indonesia dengan Senyum

Bersama Panitia

"Melihat Indonesia dengan Senyum" (Behind The Scene)

Jumat, 20 Mei 2011 bertepatan dengan hari Kebangkitan Nasional... Hehe.. Saat itu saya mengenakan seragam KORPRI karena harus upacara. Halah, sebenarnya bagian ini tak perlu diceritakan. Tapi ya ikhlaskan diri untuk membacanya. Kan saya yang bercerita. Habis Maghrib saya masih berada di kantor karena memang ada pekerjaan yang harus diselesaikan. Saat pekerjaan sudah selesai, saya tidak langsung pulang karena diperkirakan kondisi jalan masih sangat macet. Akhirnya saya buka blog dan FB. Nah, saat online di FB itulah seorang sahabat lama bernama Hasan Zuhri menanyakan apakah saya pernah nonton film inspiratif. Tentu saja saya pernah melihatnya. Lantas saya tanyakan, film apa yang dimaksud? Hasan menjawab, "Alangkah Lucunya Negeri Ini". Oh, kalau film itu saya belum melihatnya! Hasan pun kembali bertanya, apakah ada rekomendasi film lain? Karena dia akan mengadakan acara bedah film untuk adik-adik remaja masjid binaannya. Hmm, saya balik tanya mengapa memilih film "Alangkah Lucunya Negeri Ini"? Saya pun menambah pertanyaan lain, mengapa tidak bedah buku saja. Hasan kembali memberi tanggapan, sepertinya ia tertarik untuk bedah buku juga. Karena sudah waktu Isya, saya pamit pada Hasan (meski chat belum selesai) sambil memberikan nomor HP saya. 


Waktu itu, yang ada dalam pikiran adalah saya hanya sebagai pemberi masukan atas acara yang akan digelar Hasan. Hingga dua hari kemudian, ada nomor asing menghubungi saya. Ternyata Hasan. Dia kembali membuka ruang diskusi tentang acaranya sekaligus menanyakan apakah ada buku yang pernah saya tulis yang kira-kira bisa disesuaikan dengan film "Alangkah Lucunya Negeri Ini". Saya jawab saja, sepertinya buku "OMG!Ternyata Aku Terlahir Sukses" cukup relevan. Akhirnya saat itu juga Hasan menodong saya untuk membedah buku itu sekaligus membedah filmnya. Wah, saya belum pernah melihat filmnya! Alasan saya agak keberatan jika harus membedah filmnya juga. Hasan menyeletuk, kan masih ada waktu untuk melihat filmnya dulu. Hmm, akhirnya saya menyanggupi. Padahal acaranya tanggal 29 Mei 2011.


Saya segera menghubungi HUMAS FLP Jakarta (Mbak Dina Sedunia) dan Kang Taufan terkait acara ini. Alhamdulillah, respon mereka positif. Sempat juga menghubungi Mbak Iecha terkait konfirmasi acara karena Mbak Dina sempat mengusulkan sebaiknya diadakan pelatihan menulis (FLP Goes to School) sekalian karena memang FLP Jakarta mendapat alokasi waktu juga untuk perkenalan dan acara lain sekiranya ada. Sebelumnya saya juga mengusulkan pada Hasan untuk mengadakan pelatihan menulis sekalian, tapi Hasan mengutarakan kalau peserta masih awam untuk menulis. Dahulu pernah diadakan lomba menulis cerpen, tapi hanya lima orang yang ikut. Sinergis dengan pendapat Mbak Iecha, akhirnya untuk acara tanggal 29 Mei 2011 sekedar memberikan motivasi menulis saja untuk peserta, bukan pelatihan. Dan memang Hasan juga menyarankan insya Allah, jika banyak peserta yang berminat, akan diadakan acara pelatihan menulis tersendiri untuk mereka di hari lain dengan persiapan acara yang lebih matang.


Oh ya, pada hari Selasa, 23 Mei 2011 saya berencana membeli film "Alangkah Lucunya Negeri Ini" dan buku "OMG! Ternyata Aku Terlahir Sukses" di Gramedia. Oleh karena itu, strategi pun disusun. Makan siang sebelum sholat Dhuhur. Setelah sholat, langsung naik bajaj menuju Gramedia Matraman. Lumayan jauh juga sih. Tapi, kalau tidak segera beli, bakal tertunda terus. Apalagi kalau pulang kantor sudah tidak memungkinkan untuk mampir ke Gramedia karena macet dan capek.


Sampai di Gramedia langsung menuju lantai 3, tempat buku OMG! Alhamdulillah, buku itu masih terpajang manis di rak. Saat menuju kasir, lewat bagian novel eh malah ketemu novel terbaru sekaligus novel terakhirnya almarhumah Nurul F. Huda yang akan dilaunching hari kamis ini, judulnya “Hingga Detak Jantungku Berhenti”. Akhirnya beli buku itu juga. Setelah itu lanjut ke lantai 2 untuk membeli film. Awalnya, penjaganya bilang kalau film itu belum ada. Masak sih? Kan film itu sudah cukup lama. Akhirnya, aku bertanya pada penjaga toko yang lain. Ia pun memberi tahu kalau filmnya masih ada. Pikir saya harganya sekitar Rp 50.000,- tapi ternyata harganya Rp 29.000,-. Saya pun membeli film itu. Jam 13.30 harus sampai kantor. Setelah buku dan film sudah didapat, saya pun keluar Gramedia. Awalnya hendak naik bajaj, tapi setelah dipikir-pikir, naik Kopaja 502 saja. Hemat ongkos! Alhamdulillah, sampai di kantor tepat waktu meski ngos-ngosan. Tapi puas banget! Siap melanjutkan pekerjaan!


Rencana awal, malam harinya akan nonton film. Tapi ternyata hari ini tepar. Baru Rabu malam saya bisa melihat film itu. Itupun sempat ketiduran. Hehe… Lucu pokoknya!
Singkat cerita, jumat malam saya terserang flu. Sabtu saya tepar. Bedrest. Tidak kemana-mana. Demam + flu berat + pusing! Padahal acaranya besok. Sore harinya Hasan sempat telepon untuk fiksasi acara. Hmm, Bismillah… insya Allah sembuh!!!

Ahad, 29 Mei 2011 alhamdulillah, pagi ini kondisi tubuh jauh lebih baik dari kemarin. Sudah tidak pusing lagi. Sebelum berangkat ke tempat acara hari ini, Mbak Dina sempat memastikan kondisiku. Dia juga mengabari kalau Mbak Iecha tidak jadi datang karena ada acara. Hmm, sempat kaget juga karena tidak sesuai rencana awal. Pagi ini juga sempat mendownload videonya Kang Arul yang direncanakan akan ditayangkan saat acara.
Sekitar pukul 10.00 aku keluar kost. Rencana awal mau naik busway sesuai arahan Hasan, tapi akhirnya naik bus 921 ke Blok M. Mana duduknya membelakangi sopir. Hihi… Dalam perjalanan, sempat baca tulisannya Pak Bambang Trim. Sampai di Blok M, ganti Kopaja 509 arah Kampung Rambutan. Awalnya sempat salah naik angkot lain. Tapi setelah memastikan kalau Kopaja 509 itu lewat Cilandak, akhirnya naik kopaja tersebut.
Wah, sudah jam 11.00 tapi belum sampai lokasi. Sempat cemas juga kalau terlambat karena direncanakan acara akan dimulai pukul 12.30. Mana saya sudah menjanjikan bawain film aslinya. Hihi, panitia punyanya yang copian soalnya (informasi valid dari Hasan). 


Kopaja 509 sudah memasuki kawasan Cilandak. Saya tanya ke sopirnya apa lewat Elnusa, ternyata tidak. Akhirnya saya turun dari Kopaja dan naik taksi menuju Elnusa. Ternyata jalannya harus memutar. Hehe… seru juga sih karena berpacu dengan waktu. Akhirnya, sampai juga di depan masjid Baitul Hikmah Elnusa. Langsung menghubungi Mbak Dina, ternyata dia sedang makan siang dengan Mawah dan Soson. Saya mendatangi mereka dan turut memesan makanan. Sempat telepon Hasan dulu memberitahukan posisi saya sudah di depan Masjid Baitul Hikmah.


Setelah itu, menikmati makan siang bersama Soson, Mbak Dina, dan Mawah. Setelah sholat Dhuhur, kami pun segera menggelar stand FLP Jakarta di teras masjid setelah ber-“say hello” dengan panitia. Panitia juga menyediakan stand untuk “SUKA BUKU” (distributor buku “OMG! Ternyata Aku Terlahir Sukses!”) yang hari itu diwakili dua orang karyawannya.
***

"Melihat Indonesia dengan Senyum" (The Show!)

Pukul 12.30 film “Alangkah Lucunya Negeri Ini” mulai diputar dan sekitar pukul 13.00 sempat dipending dulu untuk acara seremonial. Pembukaan oleh MC, pembacaan tilawah dan sari tilawah, sambutan ketua panitia, dan sambutan pengelola (Hasan). Setelah Hasan memberikan sambutan, acara nonton film dilanjutkan. Subhanallah, seperti yang telah diberitahu Hasan bahwa pesertanya berusia remaja (seumuran SMP-SMA) yang juga merupakan remaja masjid Baitul Hikmah Elnusa. Lha ternyata yang datang tidak hanya remajanya. Tapi ada juga bapak-ibu guru TKIT Baitul Hikmah dan beberapa pengunjung yang kala itu sedang istirahat di masjid. “Saya tadi habis sholat ke sini. Tertarik lihat filmnya, Mbak!” tanya seorang ibu yang duduk di sebelah saya. 


Sekitar pukul 14.00, Mbak Haniyah selaku moderator mulai beraksi. Film kembali dipending. Mbak Haniyah memperkenalkan saya dan Mbak Dina selaku pembedah buku dan film. Duet maut pun terjadi. Seru juga sih. Untuk pertama kalinya duet sama Mbak Dina. Meski awalnya rada grogi juga karena yang dihadapi bukan hanya para remaja, tapi juga bapak-bapak dan ibu-ibu, akhirnya kami bisa mentralisir suasana. Terlebih kalau Mbak Dina mulai mengeluarkan jurus narsisnya (memuji diri sendiri sampai akut!). Di sela-sela membahas buku dan film, kami juga membagi-bagikan doorprize. Seru deh pokoknya!
Kami juga sempat menayangkan videonya Kang Arul (sang guru kami) yang sering kami sebut dalam pembahasan buku “OMG! Ternyata Aku Terlahir Sukses!”. Hanya satu video yang kami putarkan yakni tentang motivasi menulis. Setelah itu, saya melakukan simulasi “BINTANG KESUKSESAN”. Pada simulasi ini, saya membagikan selembar kertas bergambar bintang yang kelima sisinya bertuliskan :
1.TOKOH IDOLA SAYA
2.DUA KESUKSESAN SAYA
3.DUA KEGAGALAN SAYA
4.EMPAT KATA YANG MENGGAMBARKAN DIRI SAYA
5.DUA CITA-CITA SAYA


“BINTANG KESUKSESAN” ini cukup banyak menggambarkan isi dari buku “OMG! Ternyata Aku Terlahir Sukses!”. Pun demikian bisa disinkronkan dengan film “Alangkah Lucunya Negeri Ini”. Dua orang peserta (ikhwan-akhwat) maju untuk membacakan apa yang telah mereka tulis. Saat menjelang Asar, acara dipending dulu. Setelah Asar, acara dilanjutkan kembali. Giliran Hasan yang bagi-bagi doorprize dari El Nusa. Pertanyaan pertama tentang siapa yang suka menulis diary. Di antara ketiga orang yang mengangkat tangan, saya salah satunya. Kemudian ditanya kapan terakhir kali menulisnya. Alhamdulillah, saya berhasil mendapatkan doorprize berupa buku diary juga. Hehe, baru kali ini sepanjang sejarah mengisi acara.. eh, pembicaranya juga kebagian doorprize… Doorprize yang dibagi Hasan, mulai dari buku diary, Al-Qur’an, sampai peta Palestina.. Keren dah! Setelah doorprize dari Hasan habis, acara dilanjutkan dengan “Selayang Pandang FLP Jakarta”. Kali ini Mbak Dina dan saya kembali mengisi acara dengan sharing tentang FLP Jakarta, sambil bagi-bagi doorprize tentunya. Setelah acara “promosi” FLP selesai, peserta juga diberi kesempatan bertanya tentang FLP dan dunia kepenulisan. Jawaban dari saya dan Mbak Dina tentunya jawaban real yang berasal dari pengalaman kami selama gabung di FLP.
Setelah itu, kami menonton film lagi sampai tamat. Seru juga. Kami tertawa bersama, bercanda.. ahhh, indahnya ukhuwah! Sebelum menutup acara, panitia menyerahkan kenang-kenangan kepada kami. Uhuy!

***
"Melihat Indonesia dengan Senyum" (Setelah Acara)
Pukul 17.00 acara selesai. Setelah peserta bubar, Hasan mengomandani kami untuk melakukan evaluasi acara bersama panitia. Sempat foto bersama, dan tentunya saya mendadak jadi artis gara-gara adik-adik pada minta tanda tangan di buku “OMG!Ternyata Aku Terlahir Sukses!” Hoho…


Setelah pamitan dengan pihak panitia yang diwakili Hasan, kami mulai menutup lapak (stand) FLP Jakarta. Sebelumnya, foto-foto dulu. Teteup! Foto bareng juga dengan perwakilan dari SUKA BUKU (distributor “OMG! Ternyata Aku Terlahir Sukses!”. Setelah itu, kami sholat Maghrib dulu, setelah itu berencana untuk makan malam bersama. Sayangnya, Mbak Rini sudah dijemput, dia nggak jadi ikut makan. Akhirnya, kami (Saya, Mbak Dina, Mbak Ade, Soson, dan Mawah) berjalan keluar kompleks Masjid Baitul Hikmah untuk mencari makan malam. Wuih, sepanjang perjalanan ternyata kami tidak menemukan satu warung pun. Akhirnya disepakati untuk beli makan di CITOS (Cilandak Town Square) yang katanya lokasi tidak terlalu jauh. Kita berjalan kaki ke arah barat. Lhoh, kok nggak sampai-sampai sih! Akhirnya, kami tanya pada seorang Bapak perihal lokasi CITOS. Hihi, ternyata si Bapak juga mau ke sana. Tambah anggota baru nih dalam rombongan jurit malam itu. Wuiiih… setelah mendaki gunung, lewati lembah (lebay!) plus diiringi nyanyiannya Mawah yang menyayat hati.. akhirnya kami sampai juga di CITOS. Langsung cari tempat makan yang asyik then SELAMAT MAKAN!!!!!!!
Setelah makan, langsung balik ke istana masing-masing.

What a wonderfull day!
Maaf ya reportasenya telat. Semoga berkenan

Aisya Avicenna
Duduk bersanding dengan Mbak Helvy dan Bunda Pipiet... Hihi... ^^v
Duduk bersanding dengan Mbak Helvy dan Bunda Pipiet... Hihi... ^^v
 

Masih ingat tema saya di bulan MEI? Bagi yang lupa, saya ingatkan lagi ya. Pada bulan ini saya mengangkat tema : [M]elangkah pasti, optimalkan [E]nergi, tuk raih [I]mpian yang menawan. Alhamdulillah, dua impian yang menawan bisa terwujud dalam sebuah event di bulan Mei ini sesuai dengan tema tersebut. Bagaimana bisa? Begini ceritanya.

Kamis, 26 Mei 2011 akan digelar acara launching buku terakhir karya almarhumah Nurul F. Huda di Ruang HB Jassin, Taman Ismail Marzuki. Saya mengetahui informasi acara itu setelah diundang oleh salah seorang teman di FLP Jakarta yang bernama Ikal di FB. Saat mengetahui kalau acara akan diselenggarakan jam 15.30, langsung agak kecewa. Pasalnya, masih jam kerja. Kemungkinan untuk datang semakin kecil. Mengingat pekerjaan di kantor juga lagi banyak-banyaknya, semakin mengurangi prosentase kesempatan itu. Terlebih saat ini saya menjadi "single fighter" karena tiga partner kerja saya pada cuti. Jadi, saya juga menghandle tugas mereka. Jadinya, dalam pekan ini sampai dua pekan mendatang, saya akan bekerja secara nomaden di tiga komputer yang berbeda. Tapi, ada semangat membara untuk bisa menghadirinya terlebih saat tahu lokasi (TIM) dekat dengan kantor saya.HARUS BISA DATANG! HARUS BISA DATANG! Akhirnya menyusun strategi terutama tentang bagaimana caranya agar pekerjaan hari itu bisa selesai dengan cepat. 


Hari Kamis pun tiba. Menjelang siang, kerjaan masih banyak. Tapi alhamdulillah, meski baru bisa keluar kantor sekitar jam 16.00, akhirnya dengan naik KOpaja 502, sampai juga di TIM meski terlambat. Saat masuk ruangan, langsung disambut dengan gegap gempita oleh Mbak Dina Sedunia dan Mbak Ria Syakrey sehingga membuat beberapa orang menoleh dan menatap saya. Wah, dikira ada artis datang! Hihihi...
Setelah duduk, baru sadar kalau ternyata tadi yang menoleh adalah Mbak Izzatul Jannah, Mbak Helvy Tiana Rosa, dan Bunda Pipiet Senja. Saya duduk di belakang mereka dan sempat menyapa serta cipika-cipiki dengan Mbak Izzatul Jannah. Subhanallah walhamdulillah, impian saya untuk bertemu dengan Mbak Helvy dan Bunda Pipiet Senja akhirnya terwujud juga! Tak menyangka! Hmm, semakin bersyukur... Inilah salah satu hikmah atas hijrah saya ke kota Jakarta ini.
Mbak Rahmadiyanti (Mbak Dee) sedang memandu acara. Sesaat kemudian Mbak Dee meminta Bunda Pipiet untuk maju ke depan. Bunda Pipiet tak mampu membendung air matanya saat beliau bercerita tentang almarhumah Nurul F. Huda. Bunda Pipiet bertutur tentang bagaimana kisah kebersamaannya dengan Mbak Nurul. Setelah Bunda Pipiet, Mas Yanuar juga diminta maju ke depan dan membaca puisi tentang kematian.


Satu persatu penulis yang hadir digiring maju untuk berkisah. Termasuk sang Ketua FLP Jakarta (Kang Tep) yang saat itu datang berbarengan dengan Bang Boim Lebon dan Mas Fahri Aziza. Ahh, mereka pun tak mampu menyembunyikan kesedihan. Meski acara menjadi bernuansa haru, tapi akhirnya kembali ceria penuh canda saat Bang Boim Lebon mengambil alih acara dengan lelang buku. Buku pertama yang dilelang adalah buku terakhir Mbak Nurul yang berjudul "Hingga Jantungku Berhenti Berdetak". Lelang cukup seru. Dari harga awal Rp 40.000,- akhirnya buku terjual Rp 1.000.000,-! Subhanallah... Ada bukunya Bang Boim juga yang dilelang judulnya "Kekonyolan dalam Rumah Tangga". Paling lucu waktu Bang Boim melelang buku "The Last Empress" yang ia pelesetkan menjadi "The Last Pampers". Gubrakz!!! Puluhan buku habis terlelang sebelum adzan Maghrib tiba. Oh ya, Mbak Helvy juga melelang kalung ungu kesayangannya. Tapi, beliau sendiri yang berhasil memenangkan lelang atas kalungnya. 


Adzan Maghrib pun berkumandang. Sebelum menuju masjid TIM, saya dan beberapa teman FLP (Ikal, Mbak Elen, dan Mbak Ria) sempat menyapa dan foto bersama Mbak Helvy, Bunda Pipiet serta Mbak Dee. Oh ya, Mbak Dina Sedunia sudah balik lagi ke kampusnya untuk mengajar jam 18.00 tadi. Setelah itu kami menuju masjid Amir Hamzah. Hmm, banyak kenangan bersama teman-teman FLP Jakarta di masjid ini. Subhanallah, masjid ini sudah banyak berubah. Lebih keren! 


Setelah sholat Maghrib, saya bersama Mbak Ria dan Mbak Elen kembali ke tempat acara. Sampai di ruangan, Mbak Helvy tengah membaca puisi yang kata beliau merupakan salah satu puisi yang sangat disukai Mbak Nurul. Setelah itu, satu persatu turut sumbang suara untuk membaca puisi. Mas Nahar Rasjidi, Mas Fahri, dan Bang Boim pun beraksi. Mas Nahar dan Mas Fahri begitu semangat dalam membaca puisi. Paling gokil ya Bang Boim, malah berpuisi atas puisi "Perahu Kertas" yang seharusnya dibaca.


Di penghujung acara, Mbak Dee mengumumkan hasil lelang yang akhirnya digenapkan Mbak Helvy menjadi Rp 5.000.000,-. Alhamdulillah...Secara simbolis (simbolnya berupa selembar kertas tulisannya Mbak Dee yang berisi daftar hasil lelang ^^), hasil lelang diserahkan Mbak Dee kepada Bunda Pipiet Senja. Insya Allah, semua hasil lelang didedikasikan untuk anak-anak almarhumah juga untuk membantu pelunasan biaya rumah sakit beliau.


Acara diakhiri dengan doa bersama dipimpin Mas Yanuar. Kemudian dilanjutkan foto -foto. Subhanallah, hari yang indah... Semoga full barokah... Semangat kebersamaan dan semangat berbagi inilah yang menjadikan FLP begitu luar biasa
. Semangat itu pulalah yang juga dimiliki Mbak Nurul F. Huda. Semoga karya-karya beliau menjadi amal jariyah pemberat timbangan kebaikannya di akherat kelak. Semoga keluarga yang ditinggalkan diberi ketabahan dan kesabaran yang luar biasa. Dan semoga kami yang masih harus melanjutkan hidup di dunia, senantiasa diberi kemudahan untuk meneruskan perjuangan beliau. Semangat merangkai karya!

Jakarta, 28 Mei 2011_19:24
Aisya Avicenna

MERTUA DAN MENANTU (REVIEW "ISLAM ITU INDAH")


I
stri yang baik adalah istri yang taat pada suaminya. Suami yang baik adalah suami yang taat pada orang tuanya. Seorang istri harus membantu suaminya untuk selalu taat pada orang tuanya. 

Menantu agar tidak digalaki mertua harus bisa menjadi sahabat yang baik, menjalin hubungan yang baik, jadi pendengar yang baik, dan beretika pada mertua, karena suatu saat kita juga akan menjadi tua seperti mereka. 


Sebagai menantu, jangan pernah menyakiti mertua karena mertua adalah orang tua kita juga. Demikian juga sebaliknya. Sebagai mertua, jangan pernah menyakiti menantu karena menantu sama halnya dengan anak sendiri. 


Kalau ada mertua yang dzalim kepada menantu perempuannya, sikap seorang suami adalah : Suami harus berada di tengah-tengah. Jangan terlalu berpihak kepada istri juga jangan terlalu berpihak pada ibu. Cari akar permasalahannya dan temukan solusi terbaik. Pada dasarnya tidak ada mertua yang berniat dzalim pada menantu hanya saja terkadang mertua merasa "memiliki saingan" atas kehadiran menantunya. Hal itu terjadi jika tidak didukung sikap menantu yang kooperatif pada mertua. 


Seperti halnya jodoh, mertua kita pun sudah ditentukan Allah. Menantu kita juga demikian. Mertua adalah orang tua pasangan hidup kita, sedangkan menantu adalah pasangan dari anak kita. Oleh karena itu, mertua dan menantu harus bisa berperan sebagai partner yang juga saling melengkapi.
Mari meraih pahala...
Mari meraih keikhlasan..
Mari meraih keridhaan Allah...
Lewat ibadah dalam rumah kita...


Hai orang-orang yang beriman, peliharalah dirimu dan keluargamu dari api neraka yang bahan bakarnya adalah manusia dan batu; penjaganya malaikat-malaikat yang kasar, yang keras, yang tidak mendurhakai Allah terhadap apa yang diperintahkan-Nya kepada mereka dan selalu mengerjakan apa yang diperintahkan. (Q.S. At-Tahrim : 6)


Dari uraian singkat yang sempat aku catat saat ustadz Maulana memaparkan materi tentang "Mertua dan Menantu" dalam "Islam itu Indah" kemarin, aku teringat sebuah kisah yang pernah kubaca. Kisah ispiratif tentang mertua dan menantu karya Andrie Wongso. Berikut kisahnya. 


Dikisahkan, seorang wanita baru menikah dengan pria yang dicintai dan tinggal serumah dengan ibu mertuanya. Tidak lama setelah mereka berumah tangga, sangat terasa banyak ketidakcocokan di antara menantu dan sang mertua. Hampir setiap hari terdengar kritikan dan omelan dariibu mertua. Percekcokan pun seringkali terjadi. Apalagi sang suami tidak mampu berbuat banyak atas sikap ibunya.Saat sang menantu merasa tidak tahan lagi dengan temperamen buruk dan dominasi ibu mertuanya, dia pun akhirnya memutuskan untuk melakukan sesuatu demi melampiaskan sakit hati dan kebenciannya.

  Pergilah si menantu menemui teman baik ayahnya, seorang penjual obat ramuan tradisional. Wanita itu menceritakan kisah sedih dan sakit hatinya dan memohon agar dapat diberikan bubuk beracun untuk membunuh ibu mertuanya.Setelah berpikir sejenak, dengan senyumnya yang bijak, si paman menyatakan kesanggupannya untuk membantu, tetapi dengan syarat yang harus dipatuhi si menantu. Sambil memberi sekantong bubuk ramuan yang dibuatnya, sang paman berpesan, "Nak, untuk menyingkirkan mertuamu, jangan memberi racun yang bereaksi cepat, agar orang-orang tidak akan curiga. Karena itu, saya memberimu ramuan yang secara perlahan akan meracuni ibu mertuamu. 
Setiap hari campurkan sedikit ramuan ini ke dalam masakan kesukaan ibu mertuamu dari hasil masakanmu sendiri. 

Kamu harus bersikap baik, menghormati,dan tidak berdebat dengannya. Perlakukan dia layaknya sebagai ibumu sendiri, agar saat ibu mertuamu meninggal nanti, orang lain tidak akan menaruh curiga kepada kamu."Dengan perasaan lega dan senang, diturutinya semua petunjuk sang paman penjual obat. Dilayaninya sang ibu mertua dengan sangat baik dan penuh perhatian! Setiap hari, ia menyuguhkan aneka makanan kesukaan si ibu mertua.Tidak terasa, empat bulan telah berlalu dan terjadilah perubahan yang sangat besar. Dari hari ke hari, melihat sang menantu yang bersikap penuh perhatian kepadanya, ibu mertua pun merasa tersentuh. Ia berbalik mulai menyayangi si menantu bahkan memperlakukannya seperti anaknya sendiri. Dia juga memberitahu teman-teman dan kenalannya bahwa menantunya adalah seorang penuh kasih dan menyayanginya. 

Menyadari perubahan positif ini, sang menantu cepat-cepat datang lagi menemui sang paman penjual obat, "Tolong berikan kepada saya obat pencegah racun pembunuh ibu mertua saya. Setelah saya patuhi nasihat paman, ibu mertua saya berubah sangat baik dan menyayangi saya seperti anaknya sendiri. Tolong paman, saya tidak ingin dia meninggal karena racun yang telah saya berikan".Sang paman tersenyum puas dan berkata "Anakku, kamu tidak perlu khawatir. Bubuk yang saya berikan dulu bukanlah racun, tetapi ramuan untuk meningkatkan kesehatan. Racun yang sebenarnya ada di dalam pikiran dan sikapmu terhadap ibu mertua. Sekarang semua racun itu telah punah oleh kasih dan perhatian yang kamu berikan padanya."

********
Subhanallah, kisah yang keren ya! Buat mertuaku kelak di manapun berada... Semoga Allah senantiasa memberi penjagaan terbaik... hmm... Semoga kita bisa menjadi partner yang kompak. Aamiin... Insya Allah aku akan berusaha menjadi menantu yang baik... ^^v
Jakarta, 26 Mei 2011
Aisya Avicenna

REPORTASE AISYA :TATSQIF SPECIAL


Hari, tanggal : Ahad, 22 Mei 2011
Waktu : Pukul 09.00 - 11.30 WIB
Tempat : Masjid Al-Ihsaniyah, Kampung Melayu, Jakarta Timur
Pembicara : Ustadz Syakir Purnomo
Materi : "LEMAH LEMBUT DAN TIDAK TERGESA-GESA"
***
Pada awal acara, Ustadz Syakir menyampaikan materi tentang senyum.
- Senyum akan mencairkan duka nestapa dan membangunkan kebahagiaan dari tidurnya.
- Senyum adalah cara paling mudah untuk menarik simpati dan ia adalah rahasia kreatifitasmu dalam menghimpun banyak muhibbah di sekelilingmu.
Ustadz Syakir yang semangat (karena beliau juga salah seorang trainer TRUSTCO), membuat para peserta yang kala itu tak hanya anak muda saja, tapi sampai ibu-ibu dan bapak-bapak pun tak kalah semangat.
Ustadz Syakir juga menyajikan video tentang senyum. Dalam video itu dikisahkan seorang gadis yang tersenyum dalam 2 kondisi, yakni saat membeli bunga dan saat bertemu dengan temannya. Ekspresi gadis itu hampir mirip, tapi ternyata senyumnya beda. Saat membeli bunga itulah ia tersenyum dengan tulus (bukan pura-pura).
Senyum yang asli adalah senyum yang menimbulkan guratan garis di tepi mata dan membuat alis mata turun.
Senyumlah yang ikhlas karena Allah.
Berbicara tentang sasara Tarbiyah Islamiyah, yakni membentuk kepribadian yang Islami. Tentunya kita akan ingat tentang sepuluh muwashofat kader, antara lain :
1. Salimul akidah (akidah yang bersih)
2. Shahihul ibadah (ibadah yang benar)
3. Matinul khuluq (akhlak yang kokoh)
4. Qawiyyul Jismi (kekuatan jasmani)
5. Musaqaful fikri (intelek dalam berpikir)
6. Mujahadatul linafsihi (berjuang melawan hawa nafsu)
7. Harishun ala waqtihi (pandai menjaga waktu)
8. Munazhzhamun fi syu'unihi (teratur dalam suatu urusan)
9. Qadirun Alal Kasbi (mempunyai kemampuan usaha sendiri)
10. Nafi'un lighairihi (bermanfaat bagi orang lain)


SHALIHUN LI NAFSIHI (Sholeh secara personal)
* Tarbiyah ini memang bertujuan untuk membentuk pribadi yang sholeh.
MUSHLIHUN LI GHAIRIHI (Sholeh secara sosial)
* Tarbiyah menghendaki kita juga mau dan mampu memperbaiki orang lain.

Menurut AL Fudhail bin Iyadh r.a., seorang 'ALIM senantiasa dalam keadaan bodoh hingga ia mengamalkan ilmunya. Bila ia telah mengamalkannya barulah dia menjadi 'ALIM.

Serulah (manusia) kepada jalan Rabbmu dengan hikmah dan pelajaran yang baik dan bantahlah mereka dengan cara yang lebih baik. Sesungguhnya Rabbmu Dia-lah yang lebih mengetahui tentang siapa yang tersesat dari jalan-Nya dan Dia-lah yang lebih mengetahui orang-orang yang mendapat petunjuk. (Q.S. An-Nahl : 125)

Ashlih nafsaka - wad'u ghairaka (perbaiki diri Anda dan ajaklah orang lain)
Ingat! Tatkala kita ingin memikat hati mad'u, kita harus ingat bahwa kita adalah seorang da'i, bukan seorang ulama atau fuqaha. Jangan terkesan menggurui (Ini masalah teknis!).
Tatkala kita berdakwah, kita harus ingat bahwa kita sedang memberikan hadiah pada orang lain, maka kita harus mempertimbangkan hadiah apa yang sekiranya pantas diberikan dan bagaimana cara memberikannya.

Testimoni dari Dr. Al-Habr Yusuf Nur Ad Daim (pemberi pengantar pada buku 'Ath Thariq lil Qulub => "Bagaimana Menyentuh Hati" karya Abbas As-Siisiy)
Jika Anda bertemu dengan beliau, Anda akan tertarik dengan akhlaknya yang sangat baik, raut wajahnya yang ceria dan bersahabat, serta sorot matanya yang menyejukkan.
Begitu halnya dengan kita dan mad'u kita.
TARGET yang bisa dicapai :
1. AT TASAMUH (toleransi) : Ketika orang lain tidak suka dengan kebaikan yangkita lakukan, maka bersikaplah toleran. Ubah mereka dengan sikap kita yang baik. Contohnya dengan memberi hadiah. Insya Allah, nantinya mereka juga akan mulai toleran dengan kita.
2. AT TAATHUF (simpati) : orang yang kita dakwahi menjadi simpati dengan kita
3. AT TA'YID (mendukung) : mereka mendukung perjuangan kita
4. AL MAHABBAH (cinta) : kalau mereka sudah cinta, maka akan muncul semangat rela berkorban.

LEMAH LEMBUT DALAM BERKOMUNIKASI
“Maka disebabkan rahmat dari Allah-lah kamu berlaku lemah lembut terhadap mereka. Sekiranya kamu bersikap keras lagi berhati kasar, tentulah mereka menjauhkan diri dari sekelilingmu. Karena itu maafkanlah mereka, mohonkanlah ampun bagi mereka, dan bermusyawaratlah dengan mereka dalam urusan itu. Kemudian apabila kamu telah membulatkan tekad, maka bertawakkallah kepada Allah. Sesungguhnya Allah menyukai orang-orang yang bertawakkal kepada-Nya.” (QS. Ali 'Imran : 159)
“Dan bersegeralah kamu kepada ampunan dari Rabbmu dan kepada surga yang luasnya seluas langit dan bumi yang disediakan untuk orang-orang yang bertaqwa, (yaitu) orang-orang yang menafkahkan (hartanya), baik di waktu lapang maupun sempit, dan orang-orang yang menahan amarahnya dan memaafkan (kesalahan) orang. Allah menyukai orang-orang yang berbuat kebajikan” (QS. Ali 'Imran : 133 – 134)
“Pergilah kamu berdua kepada Firaun, sesungguhnya dia telah malampaui batas; maka berbicalah kamu berdua kepadanya dengan kata-kata yang lemah lembut mudah-mudahan ia ingat atau takut.” (QS. Thaha : 43 – 44)

Jangan pernah kita memaksa orang!
KETELADANAN DALAM MELAYANI DENGAN HATI
Kali ini ustadz Syakir menceritakan tentang kisah Rasulullah Saw dan seorang pengemis Yahudi buta. Berikut ceritanya.
Di sudut pasar Madinah Al-Munawarah seorang pengemis Yahudi buta hari demi hari apabila ada orang yang mendekatinya ia selalu berkata "Wahai saudaraku jangan dekati Muhammad, dia itu orang gila, dia itu pembohong, dia itu tukang sihir, apabila kalian mendekatinya kalian akan dipengaruhinya". Setiap pagi Rasulullah SAW mendatanginya dengan membawa makanan, dan tanpa berkata sepatah kata pun Rasulullah SAW menyuapi makanan yang dibawanya kepada pengemis itu walaupun pengemis itu selalu berpesan agar tidak mendekati orang yang bernama Muhammad. Rasulullah SAW melakukannya hingga menjelang Beliau SAW wafat. Setelah kewafatan Rasulullah tidak ada lagi orang yang membawakan makanan setiap pagi kepada pengemis Yahudi buta itu.

Suatu hari Abubakar r.a berkunjung ke rumah anaknya Aisyah r.a. Beliau bertanya kepada anaknya, "anakku adakah sunnah kekasihku yang belum aku kerjakan", Aisyah r.ha menjawab pertanyaan ayahnya, "Wahai ayah engkau adalah seorang ahli sunnah hampir tidak ada satu sunnah pun yang belum ayah lakukan kecuali satu sunnah saja". "Apakah Iiu?", tanya Abu Bakar r.a. Setiap pagi Rasulullah Saw selalu pergi ke ujung pasar dengan membawakan makanan untuk seorang pengemis Yahudi buta yang berada di sana,” kata Aisyah r.a.

Keesokan harinya Abu bakar r.a. pergi ke pasar dengan membawa makanan untuk diberikannya kepada pengemis itu. Abu bakar r.a mendatangi pengemis itu dan memberikan makanan itu kepada nya. Ketika Abu bakar r.a. mulai menyuapinya, si pengemis marah sambil berteriak, "Siapakah kamu ?". Abu bakar r.a menjawab, "aku orang yang biasa". "Bukan! engkau bukan orang yang biasa mendatangiku", jawab si pengemis buta itu. Apabila ia datang kepadaku tidak susah tangan ini memegang dan tidak susah mulut ini mengunyah. Orang yang biasa mendatangiku itu selalu menyuapiku, tapi terlebih dahulu dihaluskannya makanan tersebut dengan mulutnya setelah itu ia berikan pada ku dengan mulutnya sendiri", pengemis itu melanjutkan perkataannya.

Abu Bakar r.a. tidak dapat menahan air matanya, ia menangis sambil berkata kepada pengemis itu, aku memang bukan orang yang biasa datang pada mu, aku adalah salah seorang dari sahabatnya, orang yang mulia itu telah tiada. Ia adalah Muhammad Rasulullah SAW. Setelah pengemis itu mendengar cerita Abu bakar r.a. ia pun menangis dan kemudian berkata, benarkah demikian?, selama ini aku selalu menghinanya, memfitnahnya, ia tidak pernah memarahiku sedikitpun, ia mendatangiku dengan membawa makanan setiap pagi, ia begitu mulia.... Pengemis Yahudi buta tersebut akhirnya bersyahadat dihadapan Abu bakar r.a.

Kisah di atas menggambarkan kematangan emosi Rasulullah Saw sangat luar biasa.
Touch my mind and I will think of you. Touch my heart and I will never forget you.
Ingat! Loyalitas!
Annaasu yuwalluuna mn khadamahum. Manusia itu memberikan LOYALITAS kepada yang melayani mereka.

KEBAIKAN =>  BERSEGERALAH!
“Dan bersegeralah kamu kepada ampunan dari Rabbmu dan kepada surga yang luasnya seluas langit dan bumi yang disediakan untuk orang-orang yang bertaqwa.” (QS. Ali 'Imran : 133)


TERGESA-GESA adalah watak dasar manusia
Dan adalah manusia bersifat tergesa-gesa (QS. Al-Isra' : 11)
Manusia telah dijadikan (bertabiat) tergesa-gesa. Kelak akan Aku perlihatkan kepadamu tanda-tanda (azab)-Ku. Maka janganlah kamu minta kepada-Ku mendatangkannya dengan segera."(QS. Al Anbiya' : 37)

Kewajiban manusia : ikhtiar dan doa
“Bekerjalah kamu, Maka Allah dan Rasul-Nya serta orang-orang mukmin akan melihat pekerjaanmu itu “ (QS. At Taubah : 105)
Urusan hidayah, itu urusan Allah!
Hai orang-orang yang beriman, bersabarlah kamu dan kuatkanlah kesabaranmu dan tetaplah bersiap siaga (di perbatasan negerimu) dan bertakwalah kepada Allah, supaya kamu beruntung (QS. ALi-'Imran : 200)
KIAT MENAKLUKKAN HATI
1. Sincerity (keikhlasan) : ikhlas karena Allah, pamrihnya hanya kepada Allah saja
2. Enthusiasm (antusias) : bersemangat
3. Attentivences (penuh perhatian), misal kalau berbicara dengan orang lain, harus berhadapan (face to face), saat jabat tangan juga yang mantap.
4. Friendliness (familiar)
5. Emphaty (empati)
6. Helpfullness (suka menolong)

UNIVERSITAS KEHIDUPAN
1. Ketika kerjamu tidak dihargai, maka saat itu kau sedang belajar tentang KETULUSAN.
2. Ketika usahamu dinilai tidak penting, maka saat itu kau sedang belajar tentang KEIKHLASAN.
3. Ketika khatimu terluka sangat dalam, maka saat itu kau sedang belajar tentang MEMAAFKAN.
4. Ketika kau merasa lelah dan kecewa, maka saat itu kau sedang belajar tentang KESUNGGUHAN.
5. Ketika kau merasa sepi dan sendiri maka saat itu kau sedang belajar tentang KETANGGUHAN.
Tetap semangat, tetap tersenyum, terus belajar, karena bumi ini adalah UNIVERSITAS KEHIDUPAN.

Pesan ustadz : Antum fi da'watikum, wallahu fi buyutikum (Jika Anda di jalan dakwah, maka Allah akan memenuhi kebutuhan Anda).

Sekian reportase tatsqif special dari Aisya. Semoga bermanfaat.

Jakarta, 23 Mei 2011
Aisya Avicenna

Reportase Aisya : Belajar Al-Qur'an dari Yaman



Sabtu, 21 Mei 2011 bertempat di masjid Lembaga Pendidikan Al-Qur'an (LBQ) Al-Utsmani, diadakanlah acara tasmi' Qur'an. Tasmi' Qur'an ini diadakan setiap mid semester. Pada tasmi' kali ini beberapa ustadzah dan mahasiswi lefel tahfidz memuroja'ah hafalan Qur'annya di hadapan mahasiswi lainnya.
Innalillahi wa inna ilaihi roji'un. Kabar duka atas kematian ustadzah Yoyoh Yusroh pagi tadijuga turut disampaikan dalam acara ini. Setelah muroja'ah juz 6 selesai, hadirlah di tengah-tengah kami seorang ustadzah dari Yaman bernama Ustadzah Ahlam.
Sebelum mulai memberi tausyah, kami sholat ghaib berjamaah dan beliau menjadi imamnya. Sangat haru suasananya. Setelah sholat ghaib, beliau yang kala itu membawa serta ketiga buah hatinya mulai memberikan tausyah dengan bahasa Arab. Oleh karena itu, Ustadzah Mukhlisoh mendampingi beliau sebagai translater bahasa Arabnya.
Sebelum beliau menyampaikan tausyah, ternyata ketiga buah hatinya ingin muroja'ah hafalan. Akhirnya, Q.S. Ar-Rahman ayat 1-13 pun meluncur dari mulut kedua putrinya yang masih balita. Sedang putra bungsunya belum begitu lancar. Maklum, masih batita. Subhanallah.. Jadi terinspirasi semoga kelak bisa mencetak generasi pecinta Al-Qur'an. Aamiin...
Beliau pun mulai memberikan tausyah dengan bahasa Arab. Waduh, baru menangkap sepotong-sepotong atas apa yang beliau sampaikan. Hmm, jadi semangat belajar bahasa Arab. Chayo!
Kali ini beliau menyampaikan materi tentang "Bermujahadah dalam Belajar dan Mengajarkan Al-Qur'an".
Dua point penting yang perlu dimiliki dalam belajar dan mengajarkan Al-Qur'an antara lain:
Keikhlasan, karena ikhlas mempunyai derajat yang tinggi.
Semangat menuntut ilmu, karena orang-orang yang menuntut ilmu dicatat sebagai fisabilillah sampai ia kembali ke rumahnya. Barangsiapa yang berjalan untuk mencari ilmu, Allah akan mudahkan jalannya ke surga.
Al-Qur'an adalah ilmu yang paling mulia. Al-Qur'an diturunkan Allah sebagai mukjizat bagi Rasulullah Saw. Membacanya termasuk ibadah. Al-Qur'an adalah tali Allah antara langit dan bumi. Kitabullah hidayah yang di dalamnya terdapat petunjuk serta perintah dan larangan Allah. Al-Qur'an sampai kepada kita dengan proses yang panjang mulai dari pertama kali diturunkan pada Rasulullah Saw sampai sekarang kita bisa menikmatinya dalam berbagai bentuk. Namun, isi Al-Qur'an masih tetap terjaga karena Allah sendirilah yang menjamin keterjagaannya. Al Qur'an sampai kepada kita karena media tulisan (kitab) dan suara (hafalan).
Al-Qur'an mulai ditulis sejak zaman Rasulullah Saw. Saat itu Malaikat Jibril menyampaikan kepada Rasulullah Saw. dan mentasmi' bacaan Rasulullah Saw. Bacaan Rasulullah Saw tersebut ditulis oleh sahabat yang ditunjuk. Sahabat Rasulullah Saw. juga menghafal Al-Qur'an.
Setelah Rasulullah Saw wafat, pada masa pemerintahan Abu Bakar ra, Hudzaifah bin Yaman bertemu dengan dua orang muslim yang tengah memperdebatkan salah satu ayat di QS. Ali 'Imran. Keduanya hendak saling membunuh karena selisih pendapat itu. Kemudian beliaupun mengusulkan untuk menstandarkan bacaan Al-Qur'an (Ayat-ayat Al-Qur'an yang masih terpisah agar segera dibukukan). Abu Bakar ra meminta Zaid untuk menuliskannya.

Ustadzah Ahlam diutus ke Indonesia untuk menjadi guru tahsin, mengajarkan membaca Al-Qur'an yang benar. Beliau sudah satu sanad dengan Syekh Ali Basfar. Suatu hari, beliau bertemu orang Afrika. Saat ditanya dengan bahasa Arab, ternyata ia tidak bisa menjawab. Ia belajar Al-Qur'an dengan ustadzah. Hingga pada suatu hari ustadzah bertemu dengan beliau, tapi kali ini beliau dicengangkan dengan prestasi anak orang Afrika tersebut yang berhasil menjadi juara pertama lomba hafalan Qur'an tingkat internasional. Jadi, meski tidak menguasai bahasa Arab, kita pun bisa menghafal Al-Qur'an.
Ada lagi cerita tentang Imam Ibnu Jazri. Ayahnya pada suatu hari menunaikan ibadah haji. Dalam ibadahnya tersebut, ia berdoa memohon kepada Allah agar dikaruniai anak yang 'alim (berilmu) karena istrinya belum jua mengandung. Setelah kembali ke kampung halamannya, akhirnya doa ayah Imam Ibnu Jazri itupun terkabul. Imam Ibnu Jazri pun lahir dan menjadi ahli Qur'an. Perkataan beliau tentang membaca Al-Qur'an:
"Membaca Al-Qur'an dengan tajwid wajib. Siapa yang tidak membacanya dengan tajwid berdosa. Karena Allah menurunkannya dengan tajwid. Dan demikianlah Al-Qur'an dari-Nya sampai kepada kita."
Ustadzah yang ramah dan humoris itu juga menyampaikan bahwa untuk membaca Al-Qur'an dengan tajwid itu butuh usaha keras. Bahkan beliau dulu belajar melafalkan huruf "dhod" sesuai makhraj dan sifatnya dengan mengulang-ulangnya di saat mencuci. Hehe, inspiratif!
Beliau juga menceritakan bahwa saat ini sudah banyak anak-anak usia balita yang sudah mahir membaca dan menghafal Al-Qur'an. Semoga itu memotivasi anak-anak dan para orang tua di Indonesia dalam mencetak generasi Qur'ani.

Demikian reportase saya, semoga bermanfaat.
Jakarta, 250511_05:28
Aisya Avicenna
NB : tertarik belajar tahsin Qur'an dan menjadi hafizh/ah? Gabung saja di LBQ Al-Utsmani, Jalan Condet Raya Gang Sawo, Jakarta Timur.

Belajar dari Telur Busuk



Pagi ini, setelah sholat Subuh dan tilawah, saya beranjak menuju dapur kost yang terletak di lantai 1. Sekotak bumbu dapur yang saya simpan di kulkas sudah saya bawa. Sempat balik lagi ke kamar untuk mengambil nasi di magic com. Pagi ini saya berencana memasak nasi goreng keju rasa teriyaki. Hehe... ada-ada saja deh! Tak apalah, sebagai langkah persiapan kalau sudah berumah tangga kelak. Kasihan kan kalau suami atau anak-anak kelaparan gara-gara saya nggak bisa masak. Ehem! Memang sudah saya tekadkan untuk masak setiap hari. Tapi ya masih taraf belajar.
Bumbu sudah saya racik. Hmm, kayaknya ada yang kurang. Telur! Akhirnya saya meminta sebutir telur milik sahabat kost saya yang masih tersisa dua di kulkas setelah sebelumnya berjanji untuk mengganti keesokan harinya. Saya naik ke lantai 2 dan memilih 1 di antara kedua telur tersebut.
Kemudian saya menyalakan kompor gas, menyiapkan penggorengan dan menuangkan minyak goreng yang masih tersisa sedikit di botol. Wah, besok harus belanja ekstra nih! Minyak mulai memanas. Saya masukkan bumbu yang sudah saya racik tadi. Saat sudah berbau harum, saya pecah telur ayam tadi. Prakkk! Telur masuk ke penggorengan. Astaghfirullah, warnanya hitam! Ternyata telurnya sudah busuk. Kata teman saya memang 1 di antara 2 telurnya yang masih tersisa itu sudah lama disimpan. Tapi dia juga tidak tahu kalau telurnya ternyata sudah busuk. Ia pun meminta maaf.
Akhirnya, saya meracik ulang bumbu nasi goreng special itu. Dengan menggunakan alat penggorengan yang berbeda. Hmm, kerja dua kali nih! Padahal saya harus berangkat ke kantor lebih pagi karena ada upacara Hari Kebangkitan Nasional. Alhamdulillah, akhirnya nasi goreng keju rasa teriyaki itu siap disantap. Hmm, alhamdulillah enak meski tanpa menggunakan telur.
Ada hikmah yang bisa saya ambil atas kejadian tadi pagi :
1. Jangan melihat sesuatu dari luarnya saja. Bisa jadi apa yang tampak dari luar ternyata bertolak belakang dengan yang sebenarnya. Pun demikian saat kita mengenal seseorang. Kita harus tahu betul bagaimana kepribadiannya. Seorang pemuda yang tampan, tapi hatinya tidak tampan, yaa.. jangan dipilih sebagai calon suami! hehe.. lha kok menjurus ke sana!
2. Coba kalau saja saya tidak salah memilih telurnya, mungkin masakan saya akan lebih kompleks kandungan gizinya. Ehem! Yaa... hidup ini memang penuh dengan sajian pilihan. Setiap pilihan pasti ada konsekuensinya. Tidak sembarangan. Harus dipikir masak-masak. Dipikirkan dengan pikiran yang jernih dan hati yang bersih. Tegaslah dalam memilih tapi juga berhati-hatilah! Jangan sampai salah memilih. Sungguh rugi jika hidup yang indah ini dilewatkan bersama pilihan yang salah.
3. Sesuatu yang rusak, akan memberi dampak yang buruk juga. Analogi dengan hati kita. Rasulullah saw telah bersabda yang artinya “Ingatlah sesungguhnya di dalam tubuh manusia itu ada segumpal daging apabila ia baik maka baiklah seluruh tubuhnya dan jika ia rusak maka rusaklah seluruh tubuhnya tidak lain dan tidak bukan itulah hati.”
4. Setelah tahu bumbu masakan saya sudah tidak layak lagi digunakan karena tercampur telur busuk, akhirnya saya berusaha meraciknya kembali. Hmm, begitu pun dengan diri kita dan segala dosa kita. Dosa kita memang tak bisa kita kalkulasikan. Tapi, dosa kita bisa terhapus jika kita bertaubat dan berusaha untuk memperbaiki diri. Allah Maha Penyayang, Allah Maha Pengampun.
5. Satu hal lagi, apapun hal buruk yang menimpa (termasuk kejadian telur busuk yang terjadi pada saya tadi pagi) pastilah ada hikmah yang bisa kita ambil. So, pastikan bahwa kita bukan termasuk golongan manusia yang mudah berputus asa dari rahmat Allah. Yakin saja, Allah tak pernah menuliskan skenario buat hamba-Nya tanpa tujuan.

Demikian sedikit cerita saya hari ini. Semoga menginspirasi! ^^v

Menjelang Maghrib
Jakarta, 200511_17:57
Aisya Avicenna

Kebangkitan Jiwa

Titian waktu beranjak menjemput pagi
Bernyanyi rindu bersama deburan hati yang terisak
Kupungut bingkai-bingkai kata yang terlewat
Seraya mencari pekatnya noda untuk dibersihkan
Sungguh, kekhilafan ini terlalu banyak untuk dikalkulasikan
Kuresapi setiap hela nafas ini
Ternyata, aku kerap tak bersyukur pada-Mu, ya Ilahi Rabbi….
Kuraba raga ini...
Ternyata, aku jarang khusyuk menyembah di hadapan-Mu, ya Rabbi….
Kurasakan noda semakin pekat menemani kepingan hati yang berontak
Hati yang mendamba kesejukan...
Hati yang mengiba kelembutan...
Hati yang merindu sandaran...
Kubiarkan jiwa ini meronta di pekatnya malam
Aku memanjakannya dengan jamuan-Mu di sepertiga malam
Biarkan hidayah-Nya menyadarkan
Hamba pasrah, ya Ilahi Rabbi
Pasrah dengan semua ketentuan-Mu…
Hamba merintih di hadapan-Mu, ya Allah
Memohon ampunan dan cinta yang dirindukan para mujahid….
Hamba merindui-Mu, ya Ilahi Rabbi…
Merindukan pertemuan dengan-Mu dan Rasul-Mu tercinta…
Izinkan agar langkah kaki ini menjadi berkah buatku
Sebab telah banyak waktu yang terbuang di antara pusaran fatamorgana…
Aku menanti waktu ketika kemenangan abadi menjemputku
Aku merindu ketika jiwa ini menangis dan merintih karena mengingat-Mu…
Aku ingin bangkit kembali menjadi pribadi yang baru

Kontemplasi sepertiga malam
Hmm, selamat hari KEBANGKITAN NASIONAL!!!
Jakarta, 20 Mei 2011_04:21
Aisya Avicenna

Ketika Seorang Penulis Hebat Meninggal Dunia


Sumber : http://edukasi.kompasiana.com

Pagi ini ketika saya membuka sebuah wall dari salah seorang teman di Facebook saya sedikt kaget dan terkejut.Ada sebuah kabar duka yang datang dari seorang sahabat di fb yang bernama Nurul F Huda Full akunnya bisa dilihat di : http://www.facebook.com/Nurul F Huda Full

Terus terang saya tidak begitu kenal dengan mba nurul,hanya karena beliau termasuk aktif menulis (karena seorang penulis ) dan beliau juga rajin membagikan hasil tulisannya yang kemudian menjadi status di fb miliknya.Dari situ saya sedikit mengenal sosok almarhumah ini.Ada beberapa hal yang menarik dari mbak nurul menurut saya. Ini profil singkat beliau :

Seorang Ibu dengan 2 putra/i yang juga single parents.

Menulis 21 judul buku pribadi dan 4 judul buku antologi.

Pernah menjadi kolomnis Batam Pos, Dosen Politeknik.Mengisi Seminar, Pelatihan (Kepenulisan, Wanita, Anak, Keluarga). Tulisan-tulisan beliau di blog bisa dilihat di : http://nurulfhuda.multiply.com/

sisi lain beliau : memiliki kelainan jantung bawaan, seumur hidup harus memakai obat pengencer darah, dan menjadi lelaki yang dicintai meninggalkan dirimu, demi perempuan lain.

Ini beberapa ungkapan duka yang dikirimkan banyak sahabat-sahabat beliau di facebook :

Innalillahi wainna ilaihi raji’un. selamat jalan mbak…engkau orang baik,insya Allah banyak sekali orang yg mencintaimu dan mengiringi perjalananmu,meski mereka takmengenalmu scr langsung.namun tulisan2mu menggugah hati mereka,menginspirasi kami/mereka. kami semua mendoakamu mba. Allahummaghfirlahaa warhamhaa wa’afihaa wa’fu ‘anhaa. Amien ya Rabb al ‘alamien

Innalillahi wa inna ilaihi roji’un…. Semoga setiap kata yang kau tulis, menjadi penanda atas kebaikanmu selama di dunia, Mbak. Amin.

Inna lillaahi wa inna ilaihi roojiuun..Walau sy tdk mengenalmu.. tp terlihat dlm beberapa tulisanmu, engkau adalah orang yg peduli dan InsyaAllah bermanfaat utk ummat.. Selamat jalan mba Nurul F Huda Full.. semoga ALlah menempatkanmu dlm JannahNya.. Allahummaghfirlahaa Warhamhaa wa’aafihii wa’fu anhaa.. Ya Allah ampunilah segala dosanya.. Rahmatilah ia.. terimalah amal ibadahnya.. dan tempatkan ia dlm surgaMu, serta berikanlah kesabaran kepada keluarga yg ditinggalkan.. amiin.

Innalillahi wa inna ilai roji’un..telang berpulang kerahmatullah, seorang guru, seorang penulis nasional, seorang motifator, seorang sahabat yang selalu perduli dengan lingkungannya, seorang aktivis.. bu Nurul F Huda Full, semoga perjuangan beliau selama ini dijadikan pahala yang berlipat disisinya..

Inna lillahi wa innailaihi roji’un…… Segenap Keluarga Besar Penerbit Proumedia Full mendoakan semoga almarhumah mendapatkan tempat terbaik di sisi Allah SWT. Aamiin…..

Innalillahi wa innailaihi roji’un, telah berpulang ke rahmatullah kakak, seorang ibu yg menginspirasi banyak orang, semoga amal ibadahnya diterima disisi-Nya.amien

Sedih mba aku mendengar berita ini, tak menyangka begitu cepat ajal menjemput. Manusia tak ada yang tahu jika Sang Khalik sudah memanggil. Selamat jalan mba Nurul….tulisanmu senantiasa menjadi inspirasiku. Maaf aku ndak bisa datang ke Yogya tapi doaku akan mengiringi kepergianmu.

Dari sebuah buku,aku pernah membaca bhw orang yg beruntung adalah yg kedatangannya disambut kebahagiaan dan kepergiannya ditangisi. Dan engkaulah salah satu org yg beruntung itu dik..Doa2 untukmu mengalir deras menuju haribaanNya…tangis kehilangan menyesak di bnyk hati org2 yg mencintaimu.Selamat jalan dik Nurul,we love u,but Allah love u more…


Bahkan seorang sahabat dekat yang juga seorang penulis hebat nasional , Pipiet Senja turut menulis :

Innalillahi wa Inna ilaihi Roji’un…. Telah berpulang ke Rahmatullah :Nurul F Huda 18 mei 2011 pk. 03.15 di RSUD Sardjito Yogyakarta, akan dimakamkan di Purworejo. Selamat jalan, adikku cinta, buku terakhirmu telah kusunting; Hingga Detak Jantungku Berhenti.Karya terakhirmu ini seakan ingin menggemakan; inilah lakon hidupmu, sukaduka, nestapa dengan kelainan jantung bawaan, seumur hidup harus memakai obat pengencer darah, dan lelaki yang dicintai meninggalkan dirimu, demi perempuan lain.Duhai, dindaku cinta, selamat jalan, sampai jumpa bila waktuku tiba#hariberkabung

Begitulah bila seorang yang baik dan juga kebetulan seorang penulis yang hebat meninggalkan dunia untuk selama-lamanya.Maka segala kebaikan dan karyannya selama hidup tetap aakn abdi dan dikenang orang sampai kapanpun jua.

Think like an entrepreneur!!





Memang nggak semua orang harus jadi entrepreneur, tapi berpikirlah sebagai seorang wirausaha untuk mengatasi berbagai masalah dalam keseharian kita. Bagaimana kita melihat peluang yang terus ada di balik setiap krisis. Bagaimana kita menghadapi hidup dengan penuh komitmen dan tak mudah putus asa. Itu kan sifat-sifat dari seorang pengusaha.
~Sandiaga S. Uno~

Kumpulan Puisi untuk HIMATIKA


HIMATIKA = Himpunan Mahasiswa Matematika
(3 Mei 1997 – 3 Mei 2011)

***
SEBUAH PERJALANAN
Hari ini ku hanya ingin berbagi cerita dengan syahdunya pagi
Mencoba memecah kesunyian dengan jeritan hati
Hari ini terasa begitu indah buatku
Teringat kembali sebuah perjalanan yang telah kutempuh
Melewati sebuah jalan lurus dan berliku
Meski liku perjalanan itu terasa berat untuk bisa kulalui sendiri
Namun ternyata ku tak sendiri
Aku bersamamu
Kita pernah merajut kisah bersama
Saat ini pun masih…
Bersamamu dulu ku pernah tersenyum
Meski tak jarang buliran bening kerap mengalir di pipi
Saat ku terjatuh dan tak mampu berdiri
Engkau hadir mengulurkan tangan persahabatanmu
Bersama mereka yang menjadi satu bagianmu
Kini…
Kembali kita mengenang arti hadirmu
Sudah berapa banyak sejarah yang tlah tertoreh
Dalam ruang kenang mereka
Dalam rongga hati mereka
Untukmu HIMATIKA..
Empat belas tahun telah mampu menempamu
Menjadi bagian yang bermakna
Bagiku, kau, dan mereka
***
SEPARUH MASA

SEPARUH MASA, menatap wajah malam selalu jauh tanpa berujung batas dan siang yang menyilaukan seperti mendekap jiwa-jiwa nestapa.
SEPARUH MASA, laksana sebuah kapal yang berhenti mengarungi samudera karena layar kehidupannya teramuk badai berhari-hari dan dayung-dayung langkahnya patah menghujam batu karang.
SEPARUH MASA, seperti ketulusan menulis dari palung jiwa dan lubuk hati terdalam, tapi engkau jadikan ketidakberdayaan mengakhiri semai-semainya dengan kelayuan.
SEPARUH MASA, menghantarkanku pada sebuah kisah sahabat-sahabat terpilih yang selalu menemani menjelajahi waktu, meniti pahit manis hidup, menjadi lentera penerang gelapku, dan menjadi inspirasi setiap langkahku.
SEPARUH MASA, telah melewati sebuah cerita yang berakhir dengan indah, separuh masa ini bagai melangkah dengan harap dan terbang bebas memecah cakrawala
SEPARUH MASA, bersamamu HIMATIKA, telah kutemukan siapa sejatinya diri ini.
Terima kasih untuk SEPARUH MASA yang tak tergantikan ini.
***
SELAMAT ULANG TAHUN…

Senja kembali melukiskan jalinan dalam ingatanku
Episode hidup yang tak pernah terangkai sebelumnya
Lama ku tertegun dalam diam
Apakah ini nyata adanya?
Mungkinkah semua kan kembali terulang?
Agar ku mampu mengganti salahku yang lalu
Tuk mengukir kisah tanpa sayatan luka

Untukmu yang dulu dan kini mengisi hariku
Langkah perjuangan kita menjadi saksi terpautnya hati
Asa dalam diri terpatri tuk wujudkan mimpi
Nikmati hari dengan penuh kebersamaan
Gema membahana iringi persahabatan

Tuk sebuah nama yang ada di hati ini
Akan kukenang dirimu sampai nanti
Harapan tak kan jua terhenti
Untuk sebuah kisah yang takkan pernah terganti
Nyata hariku takkan berarti jika tak menjadi bagian darimu…. HIMATIKA
***

EMPAT MUSIM BERSAMAMU

Musim pertama,
Daun-daun menghijau…
Sesejuk hati kala kau menyapa
Aku hadir di sini
Ada pertemuan yang terjadi
Musim pertama, hadirkan berjuta asa
Musim pertama, rangkaikan berjuta mimpi

Musim kedua
Kaca itu jatuh.. pecah berkeping-keping
Selaksa hati yang remuk redam
Aku terpaku.. apakah ini nyata adanya??
Aku ingin pergi darimu‼!
Menjauh dan tinggalkan ini semua..
Tapi apa daya, mimpi tak jadi nyata
Musim kedua, kulalui dengan sayap-sayap kerapuhan
Musim kedua, ku sendiri dalam penyesalan

Musim ketiga
Debur ombak masih setia membentur karang
Terkikis walau tak sampai habis
Aku masih termangu..
Inikah sahabatku yang dulu?
Saat musim pertama kita bersama..
Kini tak sering sapa
Musim ketiga, kutemukan arti sahabat sejati
Musim ketiga, kurajut kembali benang senja sejukkan jiwa

Musim keempat
Matahari bersinar di mata hati
Hadirkan semangat kuatkan tekad
Satu persatu mimpi terwujud nyata
Ritme perjuangan bernada cinta
Walau galau mendera
Inikah akhir kisah kita?
Musim keempat, musim terakhirku bersamamu
Musim keempat, goreskan lukisan di kanvas hatiku

Bersamamu… Empat musim telah kita lewati bersama
Bersamamu… Empat musim telah tinggalkan kenangan tak terlupa
Bersamamu… Empat musim telah mengajarkanku arti semuanya…
Untukmu.. kupersembahkan empat belas tangkai mawar…
Biarkan harumnya sejukkan hatimu
Biarkan warnanya cerahkan jiwamu
Biarkan durinya kuatkan dirimu…
Untukmu HIMATIKA, terima kasih untuk empat musim kebersamaan kita..
Kan ku kenang kisah ini… dahulu, kini, dan nanti…
***
Etika Suryandari, S.Si (mantan pemilik NIM M0105037)
Beberapa amanah di HIMATIKA (Himpunan Mahasiswa FMIPA UNS) :
1.Sekretaris Bidang Opini dan Media tahun 2006
2.Ketua Bidang Media Informasi, Apresiasi, dan Kreasi Mahasiswa tahun 2007 
3.Sekretaris Badan Pertimbangan Organisasi (BPO) tahun 2008
4. Pengelola Majalah LINIER (2007-2008)
***
Jakarta, 030511
Mengenang saat-saat bersama HIMATIKA
Aisya Avicenna

[M]elangkah pasti, optimalkan [E]nergi tuk raih [I]mpian yang menawan!


[M]elangkah pasti, optimalkan [E]nergi tuk raih [I]mpian yang menawan!


Itulah sederet tema di bulan Mei.
Bulan perjuangan! Pasalnya, pada tanggal 13-14 Mei 2011 insya Allah akan mengikuti ujian seleksi beasiswa S2. Semoga penuh kemudahan dan lolos!!! Aamiin..
Selain itu, di bulan ini ada beberapa hal yang harus dikerjakan. Salah satunya adalah mematangkan konsep naskah buku. Lainnya, saya berencana merevisi rancangan masa depan. Hemm... mencoba memaknai kembali motto hidup saya, BE SMART & VISIONER!!!

Sedikit mengevaluasi "Catatan Aisya" selama bulan April, ternyata memang belum bisa disiplin untuk membuat tulisan setiap hari. Terkadang harus dirapel di hari berikutnya karena berbagai alasan. Hehe... Namanya juga belajar. Insya Allah akan terus belajar untuk menjadi penulis inspiratif nan produktif. Semangat!!! Oleh karena itu, mulai bulan ini.. judul di blog tidak diawali lagi dengann "Catatan Aisya". Kategori "Catatan Aisya" untuk episode ke depan hanya diperuntukkan untuk catatan yang berwujud reportase kegiatan. Pokoknya terus belajar!!!

Aku ada, maka aku menulis.
Aku menulis, maka aku ada!


***

Potensi diri?
Temukan!
Kelemahan diri?
Sadari!
Kapasitas diri?
Tingkatkan!

~orasi tuk aksi perbaikan dalam kebaikan ^^v~

Aisya Avicenna

Jumat, 12 Februari 2016

Catatan Aisya [30] : Untukmu Para Muharrik Dakwah


Allah memberikan ganjaran yang sebesar-besarnya dan derajat yang setinggi-tingginya bagi mereka yang sabar dan lulus dalam ujian kehidupan di jalan dakwah. Jika ujian, cobaan yang diberikan Allah hanya yang mudah-mudah saja tentu mereka tidak akan memperoleh ganjaran yang hebat.

Disitulah letak hikmahnya, yakni bahwa seorang da’i harus sungguh-sungguh dan sabar dalam meniti jalan dakwah ini. Perjuangan ini tidak bisa dijalani dengan ketidaksungguhan, azzam yang lemah dan pengorbanan yang sedikit.

Dakwah berkembang di tangan orang-orang yang memiliki militansi, semangat juang yang tak pernah pudar. Ajaran yang mereka bawa bertahan melebihi usia mereka. Boleh jadi usia para mujahid pembawa isi dakwah tersebut tidak panjang, tetapi cita-cita, semangat dan ajaran yang mereka bawa tetap hidup sepeninggal mereka.

Itulah ibrah yang harus dijadikan pusat perhatian para da’i. apalagi berkorban di jalan Allah adalah sekedar mengembalikan sesuatu yang berasal dari Allah jua. Kadang kita berat berinfaq, padahal harta kita dari-Nya. Kita terlalu perhitungan dengan tenaga dan waktu untuk berbuat sesuatu di jalan Allah padahal semua yang kita miliki berupa ilmu dan kemuliaan keseluruhannya juga berasal dari Allah.

Semoga kita dipermudah dalam menyuarakan Islam di muka bumi ini. Mari kita warisi dan teruskan risalah para nabi dan para pendahulu dakwah kita.

Sahabat perjuanganku,
Jika ada bintang yang bersinar paling indah
Itu adalah kalian…
Ketika aku temukan cinta bersama kalian
Semakin kuat diri ini mensyukuri pergerakan
Bergerak dan meregang nyawa tuk pertahankan keyakinan
Lebih aku sukai daripada pasrah terhinakan

Sahabat perjuanganku,
Jika ada orang yang sangat merindukan kematian,
Aku tahu itu adalah kalian,
Semakin teratur nafas-nafas juang ini menghirup wangi syurga yang terjanjikan
Setiap peluh dan darah yang keluar dengan cinta,
Mempertegas langkah ini tuk siapkan keabadian

Sahabat perjuanganku,
Pejuang sejati bukan pejuang gadungan yang mengaku teman berjuang namun ruhul istijabahnya lemah dan semakin meruntuhkan bangunan dakwah dari dalam.

Sahabat perjuanganku,
Pertemuan dengan kalian begitu mencerahkan. Berjuang bersama kalian merasakan ujian Allah adalah sebuah tarbiyah yang mendewasakan. Bersama kalian, tiada yang membuatku merasa berduka selain detik-detik yang terlewat tanpa nafas-nafas juang, nafas-nafas yang menyambung kehidupan.

Sahabat perjuanganku,
Perjalanan masih sangat panjang, jauh tak berujung. Mohonlah kekuatan untuk terus berjuang sampai habis aliran darah dan keringat. Mohonlah agar tak terhenti penuh sesal karena nafsu dan kekecewaan. Selamat berjuang MUHARRIK DAKWAH, semoga setiap tetes keringat dan darah yang akan tertumpah tergantikan senyum di surga

Ya Allah kokohkanlah kami dalam ikatan dakwah di jalan-Mu…

Aisya Avicenna


Tulisan ini diposting pada bulan April 2011 di blog sebelumnya.