Selasa, 26 Januari 2016

Muslimah VS Cinderella


“Rapunzel... lay down your hair!” Ibu tiri Rapunzel memanggil sang putri raja cantik jelita yang dalam kisah film kartun Rapunzel, digambarkan sebagai tokoh berwajah cantik jelita, memiliki tubuh dan wajah yang memesona serta bergelar putri raja, begitu memukau!

Tokoh-tokoh film kartun yang digemari anak-anak perempuan dari dulu hingga sekarang selalu menggambarkan wanita cantik yang lemah gemulai, lembut dan rupawan, cerdas dan cantik, yang menemukan cinta sejati yakni satu-satunya pria gagah yang menolong sang putri dari kutukan ataupun nasib buruk lainnya dengan mencium lembut bibir sang putri yang digambarkan sebagian awalan dari cinta kasih yang suci dan sejati.

Padahal ciuman pertama yang diperoleh sang putri dari bibir pemuda yang baru dikenalnya jelas adalah bentuk perzinaan karena dilakukan dengan orang lain yang bukan mahramnya. Namun di dalam kisah film anak-anak, hal tersebut digambarkan sebagai cinta sejati.

Kisah romantika percintaan seorang putri dengan pangeran yang paling terkenal adalah kisah Cinderella yang kehilangan sepatu kaca dan akhirnya bertemu seorang pangeran yang tampan rupawan. Kisah berakhir happily ever after, akhirnya mereka menikah dan hidup bahagia selamanya. Kaum wanita dari kecil dininabobokan kisah percintaan seperti itu.

Gambaran tokoh film kartun Cinderella, Snow White, Rapunzel dan film-film kartun lainnya sungguh sangat meninabobokan kaum wanita yang telah diprogram sejak kecil. Hal yang digambarkan adalah sebuah kisah percintaan yang sangat romantis dimana sang putri adalah pihak lemah yang menunggu datangnya seorang pangeran yang menyuguhkan cinta sejati dan hidup bahagia selamanya.

Fenomena yang ada sekarang sangat banyak saudari-saudari kita yang dilalaikan dengan kisah-kisah romansa percintaan yahudi, yang kemudian berkembang dengan kisah-kisah percintaan di sinetron, dan terakhir romansa percintaan film-film korea yang sangat digandrungi zaman sekarang.

Wahai muslimah, sejauh mana kisah shahabiyah mendarah daging dalam hidup kita? Apakah kita masih ingat perjuangan Bunda Khadijah di awal-awal dakwah Islam atau malah sangat hafal dengan kisah Princess Hour? Dengan mempelajari kisah shahabiyah, kaum muslimah akan memiliki contoh bagaimana kehidupan (salah satunya pernikahan) yang akan dilaluinya nanti bisa dilakukan secara islami, tidak hanya sekedar happily ever after (hidup bahagia selamanya), yang penuh khayal dan membuat tidak siap dan sangat terkejut ketika menemukan kenyataan yang sesungguhnya dalam kehidupan sehari-hari (termasuk kehidupan berumah tangga).

Oleh karena itu, mari membaca dan merenungkan kembali kisah-kisah shahabiyah yang sangat luar biasa itu. Mereka adalah sebaik-bak teladan bagi kita, para muslimah.

Jakarta, 9 Januari 2011_14:46
Aisya Avicenna


Tulisan ini diposting pada bulan Januari 2011 di blog sebelumnya.

Tidak ada komentar:

Posting Komentar

Terima kasih telah berkunjung dan meninggalkan komentar di blog ini ^___^. Mohon maaf komentarnya dimoderasi ya. Insya Allah komentar yang bukan spam akan dimunculkan. IG/Twitter : @aisyaavicenna