ASSALAMU’ALAIKUM WR. WB. SAHABAT, TERIMA KASIH SUDAH BERKUNJUNG DI BLOG SAYA INI. SEMOGA BERMANFAAT DAN MAMPU MEMBERIKAN INSPIRASI. BAGI SAYA, MENULIS ADALAH SALAH SATU CARA MENDOKUMENTASIKAN HIDUP HINGGA KELAK SAAT DIRI INI TIADA, TAK SEKADAR MENINGGALKAN NAMA. SELAMAT MEMBACA! SALAM HANGAT, ETIKA AISYA AVICENNA.
Tampilkan postingan dengan label CeritaEtika. Tampilkan semua postingan
Tampilkan postingan dengan label CeritaEtika. Tampilkan semua postingan

MEMBACA DI KOPAJA

 


"Allah selalu menyajikan skenario yang bisa kita lakoni karena skenario-Nya pasti disesuaikan dengan kemampuan hamba-Nya. Dalam kisah yang satu ini, tentunya Allah Maha Tahu kalau aku mampu menjalaninya. So, tak perlu ragu lagi. Allah-lah pembuat skenario terbaik. Saatnya merangkai kisah ini dengan indah. Keep optimist!!"

(Kopaja 502, 16:43, Etika Aisya Avicenna)

PETUALANGAN MENAWAN DI KOTA IMPIAN

 


Saat mentari mulai menyapa dan perut sudah terisi dengan sebungkus nasi uduk, pukul 06.15 di Sabtu, 20 Februari 2010 itu saya keluar kos. Dengan mengenakan tas punggung kesayangan, saya menuju jalan Otista dan naik angkot biru nomor 44 menuju Stasiun Tebet. Insya Allah hari itu saya hendak berpetualang ke kota impian, Bogor.

MELIHAT LAHAT [3]: LIMA POTENSI WISATA DI KABUPATEN LAHAT

 


Assalamu’alaikum Sahabat, kembali lagi saya ingin bercerita tentang Kabupaten Lahat. Meski baru 1 tahun resmi tinggal di Lahat, sebenarnya banyak hal yang masih membuat saya pribadi penasaran dengan keunikan dari Kabupaten ini. Memang sih semua tempat unik belum saya jelajah. 

INDAHNYA DEBUR PANTAI DI KAUR

                      


   

Ramadan pertama setelah menikah, saya diajak suami ke rumah neneknya di Kabupaten Kaur. Pada 18 Agustus 2012 saya bersama keluarga suami dari Lahat mengendarai mobil menuju kabupaten di bagian selatan Provinsi Bengkulu tersebut.

PERTAMA KALI KE LUAR NEGERI


Selalu ada hal istimewa pada tiap pengalaman pertama. Seperti halnya saat saya pertama kali ke luar negeri. Alhamdulillah, akhirnya salah satu impian saya kembali terwujud dengan cara-Nya yang tak terduga.

MELIHAT LAHAT [2]: BUMI SEGANTI SETUNGGUAN

 



Melanjutkan cerita sebelumnya tentang Kabupaten Lahat, tempat tinggal saya sekarang yang juga merupakan kota kelahiran suami tercinta. Tulisan kali ini saya ingin sedikit mengupas tentang sejarah Kabupaten Lahat.

Kabupaten yang beribukota di Kecamatan Lahat ini merupakan salah satu kabupaten di Provinsi Sumatera Selatan. Kabupaten Lahat berbatasan langsung dengan Kabupaten Muara Enim dan Kabupaten Musi Rawas di sebelah utara. Sebelah selatan berbatasan dengan Kota Pagar Alam, Muara Enim, dan Kabupaten Bengkulu Selatan Provinsi Bengkulu, sebelah timur berbatasan dengan Kabupaten Muara Enim, serta sebelah barat berbatasan dengan Kabupaten Empat Lawang.

Kabupaten Lahat sebelumnya terdiri dari 7 (tujuh) kecamatan induk yaitu Lahat, Kikim, Kota Agung, Jarai, Tanjung Sakti, Pulau Pinang, dan Merapi. Namun, setelah terjadi pemekaran, jumlah kecamatan di Kabupaten Lahat bertambah menjadi 24 kecamatan. Apa saja itu? Kapan-kapan kita bahas ya! Banyak yang unik namanya.

Kabupaten yang dikenal dengan sebutan Bumi Seganti Setungguan ini terdiri dari 24 kecamatan, 17 kelurahan, dan 360 desa dan memiliki luas 4.361,33 km persegi.

Sejarah Kabupaten Lahat

Pada masa kesultanan Palembang sekitar tahun 1830 di Kabupaten Lahat telah ada marga. Marga-marga ini terbentuk dari suku-suku yang ada pada waktu itu seperti Lematang, Besemah, Lintang, Gumai, Tebing Tinggi, dan Kikim. Marga merupakan pemerintahan bagi suku-suku. Marga tersebut menjadi cikal bakal adanya pemerintah di Kabupaten Lahat.

Saat Inggris berkuasa di Indonesia, marga tetap ada. Pada masa kekuasaan Belanda sesuai dengan kepentingannya pada waktu itu, pemerintahan di Kabupaten Lahat dibagi dalam afdelling (keresidenan) dan onder afdelling (kewedanan). Dari total 7 (tujuh) afdelling yang terdapat di Provinsi Sumatera Selatan, di Kabupaten Lahat terdapat 2 (dua) afdelling yaitu afdelling Tebing Tinggi dengan 5 (lima) daerah onder afdelling, dan afdelling Lematang Ulu, Lematang Ilir, Kikim serta Besemah dengan 4 onder afdelling.

Bukit Jempol, icon Kabupaten Lahat (dok.pribadi)


Dengan kata lain, di Kabupaten Lahat terdapat 2 (dua) keresidenan waktu itu. Pada tanggal 20 Mei 1869 afdelling Lematang Ulu, Lematang Ilir, serta Besemah beribu kota di Lahat dipimpin oleh PP Ducloux, dan posisi marga sebagai bagian dari afdelling. Tanggal 20 Mei akhirnya ditetapkan sebagai hari jadi Kabupaten Lahat sesuai dengan Keputusan Gebernur Kepala Daerah Tingkat I Sumatera Selatan No. 008/SK/1998 tanggal 6 Januari 1988.

Afdelling yang dibentuk oleh Pemerintah Belanda diubah namanya menjadi sidokan bersama dengan masuknya tentara Jepang tahun 1942. Sidokan ini dipimpin oleh orang pribumi atas penunjukan pemerintah militer Jepang dengan nama Gunco dan Fuku Gunco.

Kekalahan Jepang atas tentara sekutu pada 14 Agustus 1945 dan bangsa Indonesia memproklamasikan kemerdekaannya pada tanggal 17 Agustus 1945, maka Kabupaten Lahat merupakan salah satu kabupaten di Provinsi Sumatera Selatan berdasarkan UU No. 22 Tahun 1948, Keppres No. 141 Tahun 1950, PP Pengganti UU No. 3 Tahun 1950 tanggal 14 Agustus 1950.

Kabupaten Lahat dipimpin oleh R. Sukarta Marta Atmajaya, kemudian diganti oleh Surya Winata dan Amaludin dan dengan PP No. 1959 tentang Pembentukan Daerah Tingkat II dalam Tingkat I provinsi Sumatera Selatan, sehingga Kabupaten Lahat resmi sebagai Daerah Tingkat II hingga sekarang, dan diperkuat dengan UU No. 22 Tahun 1999 tentang Otonomi Daerah dan diubah dengan UU No. 32 Tahun 2004 menjadi Kabupaten Lahat.

Sejarah terbentuknya Kabupaten Lahat yang dilansir situs resmi Pemkab Lahat, dilatarbelakangi kehadiran Hindia Belanda di Sumatera Selatan, tepatnya pada tahun 1823. Saat itu, Belanda mencoba mengambil alih kekuasaan Kesultanan Palembang yang dipimpin oleh Sultan Mahmud Badaruddin II. Kekuasaan Belanda semakin menyebar ketika Sultan Palembang diasingkan ke Ternate.

Pemerintahan Belanda mulai menyusuri wilayah Sumatera Selatan hingga ke bagian barat pada tahun 1825. Wilayah ini menjadi pusat kehidupan Kabupaten Lahat. Pemerintah Belanda semakin gencar menjalankan aksinya.

Mereka kemudian membuat strategi untuk menguasai Sumatera Selatan dengan membentuk Pemerintah Tingkat Keresidenan Palembang. Kepemimpinan jatuh ke tangan seorang residen dengan pusat ibu kota di Palembang.

Kejayaan Belanda tersebut tidak sepenuhnya diterima masyarakat Lahat. Pada masa itu, daerah yang menjadi kekuasaan Belanda mendapat perlawanan hebat dari warga asli yang tidak mau dijajah. Mereka lantas melakukan peperangan.


Peristiwa tersebut dikenal sebagai perang Benteng Jati, Benteng Muntar Alam, dan Benteng Tebat Serut. Alhasil, Belanda menerima perlawanan dari masyarakat Lahat dan berhasil menduduki semua benteng. Otomatis masyarakat mengalami kekalahan.

Namun, hikmah dari adanya peperangan itu lahirlah persatuan antara masyarakat Lahat yang mengalami kekalahan khususnya saat Perang Benteng Jati. Kesepakatan terjadi dari masing-masing pemimpin suku untuk mempertahankan persatuan daerah.

Adanya kesepakatan tersebutmenjadi dasar dibentuknya Hari Jadi Daerah Tingkat II Kabupaten Lahat pada 20 Mei 1869 sehingga tiap 20 Mei diperingati sebagai hari jadi Kabupaten Lahat.

Semboyan Unik

Suatu daerah biasanya memiliki semboyan unik yang mengusung semangat dari daerah tersebut. Seganti Setungguan merupakan semboyan kabupaten Lahat yang berarti persatuan dan kesatuan yang kokoh, gotong-royong, setia kawan, berpendirian teguh, dan bertanggung jawab. Dalam banget ya maknanya. Saya pribadi awalnya kurang paham juga maksudnya, tapi ternyata di beberapa kabupaten di Sumsel masing-masing memiliki semboyan unik.

Kalau Lahat memiliki semboyan Seganti Setungguan, Kabupaten Muara Enim memiliki semboyan Serasan Sekundang, semboyan  Sedulang Setudung di Kabupaten Banyuasin, Saling Keruani Sangi Kerawati di Kabupaten Empat Lawang, Serasan Sekate di Kabupaten Musi Banyuasin, Beselang Serundingan di Kabupaten Musi Rawas Utara, Caram Seguguk di Kabupaten Ogan Ilir Bende Seguguk, Seguguk Serasan di Kabupaten Ogan Komering Ilir, Sebimbing Sekundang di Kabupaten Ogan Komering Ulu, Serasan Seandanan di Kabupaten Ogan Komering Ulu Selatan, Sebiduk Sehaluan di Kabupaten Ogan Komering Ulu Timur, Serepat Serasan di Kabupaten Penukal Abab Lematang Ilir (PALI), Sebiduk Semare di Kota Lubuklinggau, Besemah Kota Perjuangan di Kota Pagar Alam, Palembang Djaja (EYD: Palembang Jaya) di Kota Palembang, dan Prabumulih Jaya, Seinggok Sepemunyian di Kota Prabumulih.

Kalau di daerahmu semboyannya apa ini?

 

Referensi:

lahatkab.go.id

https://www.detik.com/sumbagsel/budaya/d-7044699/asal-usul-lahat-terbentuk-setelah-kekalahan-saat-lawan-belanda.

Salam Motivatrip,

Etika Aisya Avicenna

MENEPI DI LOSARI


Pada November 2014, saya mendapat tugas survei ke Makassar. Kunjungan kedua ini bersama seorang rekan untuk berburu data di Kawasan Industri Makassar yang berlokasi di daerah Maros.

Setelah turun di Bandar Udara Internasional Sultan Hasanuddin Makassar yang juga berlokasi di daerah Maros, kami langsung pesan taksi untuk menuju lokasi perusahaan yang kami survei.

Ternyata alamat yang kami cari cukup sulit ditemukan. Setelah pakai acara nyasar dan bertanya ke beberapa orang yang ditemui, akhirnya sampai juga ke lokasi tujuan.

Hari itu kami berkunjung ke dua perusahaan, yakni importir bahan baku plastik. Misi pertama ini berjalan lancar. Kami pun mendapatkan data yang diinginkan. Namun, ada kejadian lucu waktu berkunjung ke lokasi kedua, yakni pelaku usaha hampir tidak mau menemui kita. Mereka merasa ketakutan karena ada sidak dari kami. Akhirnya setelah melakukan lobi, kami diterima meskipun saat tanya jawab ada beberapa respon yang menimbulkan kecurigaan dari kami.

Biasanya tiap kunjungan kami juga diperbolehkan melihat langsung proses produksi. Akan tetapi, di perusahaan ini kami tidak diberikan izin dan kami memilih untuk langsung pergi. Hasil survei di perusahaan ini tentu menjadi catatan tersendiri bagi kami.

Sore hari, kami baru check in di hotel yang berlokasi di seberang Pantai Losari. Setelah bersih-bersih, jelang Magrib kami keluar hotel. Kami berniat salat di Masjid Amirul Mukminin yang lebih dikenal dengan masjid terapung. Konon masjid yang dibangun pada 2009 ini merupakan masjid terapung pertama di Indonesia.

Di dalam masjid terapung


Kami berjalan kaki menuju masjid yang berlokasi di ujung pantai. Tak lupa kami juga berfoto di tulisan "LOSARI" yang ada di tepi pantai.

Rona jingga menghias cantik di langit saat kami sampai di Masjid Amirul Mukminin. Bangunan masjidnya sangat unik dan cantik. Saat masuk ke dalam ternyata ada 5 pilar atau tiang penyangga yang konon menjadi simbol salat wajib 5 waktu yang harus selalu ditegakkan. Interior masjid juga sangat indah, rasanya sangat betah berlama-lama di dalam masjid.

Setelah salat, kami lanjut mencari makan. Di sepanjang pinggir pantai banyak yang berjualan camilan. Salah satu camilan khas Makassar yang dijual adalah pisang epe. Pisang epe merupakan pisang bakar yang dijepit kemudian disajikan dengan beberapa toping sesuai selera. Pisang yang digunakan adalah pisang raja yang rasanya manis. Pisang epe cocok dinikmati selagi hangat. Apalagi saat menikmatinya sambil minum sarabba. Sarabba adalah wedang jahe khas Makassar. Rasanya segar dan mengenakkan tenggorokan.

Setelah beli camilan, kami makan coto makassar di sebuah warung. Untuk hidangan penutup, tentu saya memilih es pisang ijo. Sebenarnya ada es palubutung juga, tapi saya memilih pisang ijo. Saat mencicip coto makassar, tidak memakai nasi tapi bisa ditambahkan buras atau ketupatnya Makassar.

Pagi harinya sebelum check out dan kembali ke Jakarta, kami ke daerah Somba Opu dengan naik becak. Banyak toko oleh-oleh dan toko emas juga di sana. Oleh-oleh khas Makassar yang saya beli adalah kacang disko, kacang atom, kain sarung tenun khas Bugis, minyak tawon, minyak kayu putih, dan kopi toraja.

Sebelum ke bandara, kami juga mampir ke Otak-Otak Ibu Elly, camilan khas Makassar yang sangat saya suka juga. Alhamdulillah petualangan di Makassar sangat seru. Sampai jumpa lagi di motivatrip selanjutnya.

TERWUJUDNYA IMPIAN KE-71


Sejak kuliah S1 tahun 2005 lalu, saya mempunyai sebuah catatan-catatan impian yang kemudian saya salin ke dalam sebuah buku (dream book). Lalu pada tahun 2009, saat mengikuti seminar kewirausahaan dengan mentor Bapak Heppy Trenggono di Universitas Diponegoro Semarang, kami ditantang membuat "Dream Board". Impian-impian yang dituliskan harus divisualisasikan dalam bentuk gambar kemudian ditempel di selembar kertas besar. 

MELIHAT LAHAT [1]: JEJAK PERTAMA


Saat pertama kali ta’aruf atau berkenalan dengan calon suami saya waktu itu, saya agak terkejut dengan nama “Lahat” ketika beliau menjawab dari mana asalnya. Lahat, jamak dari kita pasti terpikir liang lahat, kan ya? Ternyata Lahat adalah nama kabupaten di Sumatera Selatan. Coba intip di KBBI. Bahkan "liang lahat" itu yang baku penulisannya “liang lahad”, pakai huruf “d”. Ada yang baru tahu?