MENJADI SEBAIK-BAIK AMANAH UNTUK AYAH

Ayah-Ayah Terbaik dalam Hidup Saya

Ngger putraku kembar kang kinasih
Siro iku wus winengku priyo
Trisno lahir lan bathine
Ngedohake ing panyendhu
Guyub rukun kang tansah diudi
Mrih tentreming kluargo
Jumbuh kang ginayuh
Setyo tuhu marang garwo
Sujud syukur mring Gusti Kang Moho Suci
Slamet ndonyo akherat




Itulah tembang Macapat Dandanggulo karya Babe (panggilan sayang kami untuk Ayah tercinta. Tembang Macapat tersebut dibuat sendiri dengan penuh kesungguhan oleh Babe dan dinyanyikan secara spesial saat acara 'ngundhuh mantu" saudari kembar saya, Keisya Avicenna dan Mas Siswadi di Klaten pada akhir 2012.

Maknanya sangat dalam. Berisi nasihat bahwa kami, putri kembar Babe, sudah menikah dengan seorang laki-laki yang mencintai kami lahir dan batin. Lewat lagu Jawa itu Babe berpesan agar kami senantiasa rukun hingga tercipta suasana tenteram dan tenang dalam berkeluarga, terwujud segala harapan kami dan saling setia dengan pasangan masing-masing, serta senantiasa bersyukur kepada Allah Swt dan selamat dunia akhirat. Masyaa Allah, Babe memang sosok istimewa yang luar biasa. Salah satu keahlian Babe adalah mencipta puisi atau lagu Jawa seperti di atas.
Babe adalah sosok yang humoris. Akan terasa sepi jika Babe sedang pergi misal menunaikan tugas ke luar kota waktu itu. Saat berkumpul dengan tetangga, misal arisan, Babe adalah sosok yang selalu ditunggu karena mampu menyegarkan setiap suasana.

Babe dan Mas Dhody yang kocak


Ada sebuah kisah di tanggal 6 Desember 2009, bertepatan hari itu adalah hari lahir Babe. Tak terasa, usia beliau sudah 56 tahun. Dan SK pensiun beliau juga sudah turun.
Rasanya baru kemarin, saya tidur di pangkuan Babe.. memegang botol susu dan meminumnya dengan manja...
Rasanya baru kemarin, saya menikmati masa kanak-kanak dengan beliau.
Rasanya baru kemarin, Babe menasihati kami (saya dan teman-teman SD) saat belajar kelompok bersama di rumah.
Rasanya baru kemarin, Babe tersenyum bahagia saat kedua putri kembarnya meraih juara umum di SMP terfavorit di kota kelahiran mereka
Rasanya baru kemarin, saya membonceng Babe saat berangkat menuju SMA tercinta
Rasanya baru kemarin, saya menyaksikan senyum bahagia Babe saat toga sarjana kukenakan...
Rasanya baru kemarin...
Pada bulan Desember 2009 itu saya diterima sebagai statistisi di sebuah instansi pemerintah, saya jadi CPNS. Hal ini membuat saya harus hijrah ke Jakarta, jauh dari Babe. Salah satu anaknya menjadi abdi negara adalah sebuah impian Babe yang alhamdulillah terwujud di hari lahirnya.  Kata Babe waktu itu, inilah KADO TERINDAH yang beliau dapatkan dari saya. Sebenarnya, saya juga telah menyiapkan beberapa kado lain, salah satunya sebuah dasi yang beberapa waktu lalu sangat beliau inginkan. Alhamdulillah, saya dapat memberikannya dari hasil "keringat" sendiri. Kado-kado itu belum cukup untuk membalas semua kebaikan dan pengorbanan Babe selama ini. Engkaulah yang mampu membalasnya Ya Rabb. Jagalah Babe, dengan sebaik-baik penjagaan-Mu, Yaa Rabb...
Teringat lagi pada sebuah kisah di tahun 2010 saat rasa ingin menikah begitu membuncah, tapi Babe saat itu masih belum mengizinkan karena saya baru saja diterima sebagai CPNS. Curahan hati saya tulis dalam sebuah fiksi mini ini.
“Yah, Nanda boleh nikah tahun ini ya?” tanya Nanda pada Ayahnya awal tahun 2010 lalu lewat SMS.
“Mmm, memangnya sudah punya calon?” Ayah membalas SMS-nya
“Ada yang baru mau kenalan dengan Nanda, Yah. Namanya Azzam Mumtaza. Nanda baru kenal dari biodata yang dikasih guru ngaji Nanda sore ini. Nanda boleh nikah tahun ini, Yah?” tanya Nanda kemudian.
“Kalau memang kamu sudah siap, Ayah hanya bisa merestui.” Balasan SMS Ayah membuat Nanda sangat bahagia.
Selang beberapa hari kemudian, Asri, adik bungsu Nanda SMS mengabarkan kalau Ayah mereka sakit. “Kak, Ayah sakit. Entahlah, akhir-akhir ini sepertinya Ayah kehilangan nafsu makannya. Beliau juga sering melamun.”
Nanda terkejut. Ia segera menekan 12 digit tombol di ponselnya, menghubungi sang Ayah.
“Assalamu’alaikum...” Nanda cemas.
“Wa’alaikumussalam warahmatullahi wabarakatuh...” jawab suara di seberang sana.
“Ayah sakit ya? Sakit apa, Yah? Ayah jangan kecapekan dong...” Nanda menghamburkan semua tanyanya.
“Ayah nggak apa-apa, Nak... Cuma capek saja. “ jelas Ayah dengan nada lemah.
“Jaga kesehatan ya, Yah... Nanda jadi kepikiran nih,” tutur Nanda.
“Iya, Nak. Eh, Nanda benar sudah siap nikah tahun ini? Nak, selesaikan dulu masa diklatmu. Tahun depan saja. Kan kamu sudah jadi pegawai tetap. Lagipula kakak sulungmu belum menikah.” Rentetan kata dari Ayah tersebut membuat Nanda terkesiap.
“Yah... sepertinya Ayah masih belum meridhai Nanda menikah tahun ini. Bismillah, baiklah Yah. Nanda akan turuti keinginan Ayah. Nanda tidak ingin membuat Ayah kecewa. Tapi tahun depan Nanda boleh nikah ya, Yah?” tanya Nanda penuh harap.
“Insya Allah, saat itu mungkin Ayah sudah benar-benar siap melepasmu, Nak!” jawab Ayah.
***

Fiksi mini di atas memang terinspirasi dari kisah saya pribadi ditambah setelah membaca sebuah artikel yang saya baca di majalah Tarbawi edisi special tentang Ayah. 
Ayah dan putrinya, bisa diibaratkan dengan seorang lelaki dengan bunga mawar di kebunnya. Seseorang yang menanam bunga mawar, merawatnya dalam waktu yang tak singkat, dan menemaninya dalam setiap fase pertumbuhannya, tidak akan mungkin begitu saja memberikan bunga itu pada orang yang baru saja melihatnya, kemudian ingin memetiknya. Pemilik mawar itu pasti ingin memastikan apakah mawar tersebut akan dirawat lebih baik atau minimal sama dengan sebelum diberikannya kepada si pemetik tadi. 
Hmm, begitu pun dengan Babe waktu itu. Babe mungkin merasa cemas bahwa dalam pandangannya, sepertinya belum ada lelaki yang dapat mencintai saya seperti dirinya! Babe hanya perlu waktu untuk mengizinkan seseorang yang tepat untuk mendapatkan putrinya dengan cara terhormat.  
Seringnya, saat putrinya meminta sesuatu pada ayah, ayah pasti tak kuasa mengatakan “tidak”. Dia memilih diam atau mengangguk sebagai tanda demi melihat senyum manis putrinya. Meski dalam hatinya, seringnya tidak selaras dengan apa yang dia katakan. Diam-diam dia akan berusaha mewujudkan keinginan sang putri. Entah dengan bekerja lebih keras dari hari biasanya atau usaha lain. Meski saat keinginan sang putri begitu berat baginya. Seperti dalam contoh kisah di atas. Awalnya ayah akan mengiyakan, meski pada akhirnya ayah tidak mengabulkan permintaan putrinya dengan cara yang halus dan di saat yang tepat. Ah, ayah memang punya cara sendiri dalam menunjukkan cintanya. Ia pasti menginginkan yang terbaik untuk putrinya.
Pada tahun 2012 saya menikah.  Babe mengenal calon suami saya dari 3 (tiga) lembar biodata singkatnya. Kemudian Babe izinkan laki-laki itu menemuinya tanggal 9 Februari 2012 (tanpa kehadiran saya karena waktu itu ada ujian di Bandung, saya sedang studi S2 di ITB). Sejak pertama bertemu langsung, Babe sudah sangat ‘sreg’ dengan laki-laki asing itu. Tanggal 20 Februari 2012 kami melangsungkan khitbah kemudian berlanjut ke akad nikah sebulan kemudian (20 Maret 2012).
Momen paling mengharukan adalah saat Babe menjabat erat tangan calon suami saya saat itu yang kemudian tertunaikanlah ijab qabul. Babe bilang, insya Allah Babe tidak salah pilih laki-laki yang akan menjaga saya seperti Babe. Dengan penuh yakin, Babe menyerahkan tanggung jawabnya kepada laki-laki yang belum begitu saya kenal. Setelah momen sunnah bersejarah itu, Babe berpelukan erat dengan 'ayah kedua' saya (ayah mertua). Mereka berpelukan dalam derai tangis bahagia. Masyaa Allah... Babe mungkin terharu karena beliau sudah lega ketika saya akan dijaga oleh seorang laki-laki terbaik pilihan-Nya, meski begitu terselip harapan bahwa posisi Babe sebagai seorang Ayah tak akan tergantikan oleh laki-laki manapun.

Terima kasih ya Allah...
Engkau jadikan saya amanah bagi Babe, Ayah kami tercinta..
Sosok Ayah yang bijak, humoris, dan tak putus memotivasi putra-putrinya..

Terima kasih ya Allah..
Engkau jadikan saya amanah bagi ayah mertua tercinta...
Sosok yang mengizinkan saya mendampingi putra tersayangnya..
Sosok ayah yang kaya ilmu, bijak, dan penuh kasih.

Terima kasih ya Allah...
Engkau jadikan saya amanah bagi seorang laki-laki shalih yang akan jadi ayah bagi anak-anak kami kelak.
Sosok suami yang luar biasa... sosok yang selalu membimbing saya melangkah di jalan cinta-Mu..

Semoga diri ini bisa menjadi sebaik-baik amanah untuk mereka dengan menjadi putri, menantu, serta istri shalihah, yang selalu patuh pada mereka dalam sepenuh taat kepada-Mu.
Semoga kelak, Engkau kumpulkan kami kembali di syurga-Mu... aamiin...


Aisya Avicenna

0 komentar:

Posting Komentar

Jejak Karya Aisya Avicenna

Jejak Karya Aisya Avicenna

Keliling Dunia