Kupu-Kupu di Dalam Buku



Sumber gambar : http://dicuekin.com/2014/07/apa-yang-kita-dapatkan-dari-membaca.html


Ketika duduk di stasiun bus, di gerbong kereta api,
di ruang tunggu praktik dokter anak, di balai desa,
kulihat orang-orang di sekitarku duduk membaca buku,
dan aku bertanya di negeri mana gerangan aku sekarang,




Ketika berjalan sepanjang gang antara rak-rak panjang,
di perpustakaan yang mengandung ratusan ribu buku
dan cahaya lampunya terang benderang,
kulihat anak-anak muda dan anak-anak tua
sibuk membaca dan menuliskan catatan,
dan aku bertanya di negeri mana gerangan aku sekarang,

Ketika bertandang di sebuah toko,
warna-warni produk yang dipajang terbentang,
orang-orang memborong itu barang
dan mereka berdiri beraturan di depan tempat pembayaran,
dan aku bertanya di toko buku negeri mana gerangan aku sekarang,

Ketika singgah di sebuah rumah,
kulihat ada anak kecil bertanya pada mamanya,
dan mamanya tak bisa menjawab keinginan-tahu puterinya,
kemudian katanya,
“tunggu, tunggu, mama buka ensiklopedia dulu,
yang tahu tentang kupu-kupu,”
dan aku bertanya di rumah negeri mana gerangan aku sekarang,

Agaknya inilah yang kita rindukan bersama,
di stasiun bis dan ruang tunggu kereta-api negeri ini buku dibaca,
di perpustakaan perguruan, kota dan desa buku dibaca,
di tempat penjualan buku laris dibeli,
dan ensiklopedia yang terpajang di ruang tamu
tidak berselimut debu
karena memang dibaca.

Taufiq Ismail, 1996

***

Teringat beberapa waktu yang lalu saat saya berada di Kopaja 502. Sudah menjadi kebiasaan saya saat pergi ke suatu tempat, selalu ada 2-3 buku yang ada di tas. Alhamdulillah, pagi itu saya mendapat tempat duduk, bersebelahan dengan seorang wanita berusia sekitar 30-an tahun. Setelah menunaikan kewajiban sebagai seorang penumpang (baca : bayar ongkos), saya buka tas dan mengeluarkan sebuah buku kemudian khusyuk membacanya. Saya telaah kalimat demi kalimat dari buku motivasi tersebut. Kadang, saya terdiam sesaat. Menutup buku itu sambil menyelipkan jari pada halaman yang sedang dibaca, kemudian saya memandang ke luar jendela dan merenungkan isi buku tersebut. 

Setelang ‘aksi tafakur’ itu selesai, saya buka kembali buku itu dan lanjut membaca. Kasak-kusuk wanita di sebelah saya, yang awalnya hanya duduk diam dan cenderung melamun, juga membuka tasnya. Agak penasaran, saya meliriknya. Sejurus kemudian, apa yang ia keluarkan? Sebuah buku! Tepatnya, novel “Bidadari-Bidadari Surga” karya Tere Liye. Kemudian, ia juga turut membaca. Awalnya saya ingin mengajak diskusi tentang novel itu karena saya sudah membacanya. Akan tetapi, niat itu urung saya lakukan karena diri ini tak ingin mengganggu konsentrasinya. Saya sendiri juga tak mau diganggu kalau  tengah serius dengan buku. 

Hmm, ternyata aktivitas membaca saya pagi itu menjadi ‘virus yang menular’ pada orang lain. Membaca adalah salah satu sarana mengoptimalkan otak kita. Karena dengan membaca, otak akan terangsang untuk berpikir. Kemudian akan berimbas pada diri kita untuk bergerak jika hikmah dari bacaan itu bisa kita temukan.

Sayangilah buku, karena ia adalah sahabat yang baik… Apalagi bagi seorang penulis!


Puisi karya Taufiq Ismail di atas agaknya bisa menjadi pelecut semangat kita bersama untuk bisa menjawab tanya "di negeri mana gerangan?" dengan kata "Indonesia", negeri kita tercinta. Kitalah yang menjadi agen-agen penyebar virus gemar membaca di stasiun bus, di gerbong kereta api, di ruang tunggu praktik dokter anak, di balai desa, dan aneka tempat lainnya.

Sudah baca buku apa hari ini???

Aisya Avicenna

NB : Tulisan ini pernah diposting dalam web FLP Jakarta (http://www.flp-jakarta.org/2015/11/kupu-kupu-di-dalam-buku.html)

0 komentar:

Posting Komentar

Jejak Karya Aisya Avicenna

Jejak Karya Aisya Avicenna