Lupus Reborn : Bakso Gaul (Bagian 2)




 Kisah sebelumnya, baca dulu gih.. klik ya:)

“Mi, bulet, coklat, kenyal. Apa itu?” tanya Lupus sesampainya di dapur.
“Bakso,” jawab Mami males. Mami yang sedang asyik menangis karena lagi ngupas bawang merah, merasa terganggu konsentrasinya.
“Salah... yang benar bola basket,” jawab Lupus ngaco.
“Mi, Lupus sama teman-teman ada tugas Kewirausahaan nih dari Bu Guru. Kami disuruh bikin usaha atau bisnis gitu. Belajar jualan, Mi. Karena kami nggak punya modal duit, Lupus punya ide gimana kalau kami bantu Mami jualan snack lewat toko online.” Lupus menjelaskan panjang kali lebar.



“Hmm... Mami pikir-pikir dulu ya,” jawab Mami sambil terus menitikkan air mata karena kepedasan.
“Yaaah, Mami. Ayolah... darurat nih. Dijamin laris manis deh!” rayu Lupus.
“Ayo dong, Tante... saya yakin Tante makin cantik kalau mau meringankan beban penderitaan kami ini,” Gusur menambahkan.
“Baiklah.. syarat dan ketentuan berlaku ya,” jawab Mami.
“Oke, Tante. Apapun yang Tante inginkan, akan daku kabulkan. Walau gunung harus kudaki dan lautan harus kuseberangi,” jawab Gusur dengan rayuan mautnya.
“Sip, syaratnya kalian harus bantu membersihkan rumah ini setiap hari,” kata Mami Lupus.
Mereka pun terpaksa menyetujui syarat dari Mami.
Singkat cerita, Lupus yang doyan permen karet mengusulkan ke Mami kalau mereka ingin jualan bakso. Maksudnya karena sama-sama kenyal, pikir Lupus. Bukan bakso gerobakan ya, tapi camilan dari bakso. Karena mereka terdiri dari Boim, Gusur dan Lupus, maka mereka menamainya Bakso Gaul (B untuk Boim, G untuk Gusur, dan L untuk Lupus). Begitulah, agak maksa!
Konsep Bakso Gaul ini cukup sederhana. Bakso buatan Mami dibentuk dengan unik, kemudian digoreng krispi dan dikemas dengan stereofoam kecil serta ditambah bumbu serbuk aneka rasa yang dibungkus plastik. Jadilah camilan kriuk dari bakso.
 Bakso Gaul memiliki 3 varian utama, yakni BOTAK (BaksO koTAK), BATA (BAkso cinTA), dan BONBIN (BaksO biNtang-BINtang). Lupus pun mulai memasarkan Bakso Gaul lewat akun Facebook dan Instagram yang dibuatnya. Nama akunnya @baksogaul.
Lupus selaku koordinator memberi tugas ke Gusur untuk menangani pengemasan, sedangkan Boim bagian antar pesanan khusus untuk wilayah Jakarta yang bisa dijangkau dengan motor bututnya. Karena Bakso Gaul baru buka, maka Lupus memberi promo gratis ongkos kirim (ongkir) untuk pembeli yang tinggal di  wilayah Jakarta. Sementara untuk pengiriman di luar Jakarta, Lupus bekerja sama dengan ekspedisi Jelas Entar Nyampe (JEN).
Lupus sendiri menjadi admin sekaligus bagian penjualan di Bakso Gaul. Awal-awal promosi di akun Instagram (IG) yang sudah terkoneksi di Facebook (FB), sudah banyak yang tertarik. Lupus mencantumkan nomor Whatsapp/WA-nya di akun IG maupun FB-nya. Dia melayani orderan lewat WA. Lupus harus punya stok sabar yang berlipat ganda karena sering ia menemukan calon pembeli yang bikin panas hati.
“Sis, jualan?” tiba-tiba ada yang WA ke Lupus.
“Nggak, Mbak. Saya ngamen. Hehe iya, Mbak. Saya jualan camilan dari bakso. Oh iya, saya Lupus, Mbak. Cowok,” jawab Lupus.
“Oh, gitu ya. Oke Sis. Saya mau dong baksonya. Ada rasa apa aja?” tanya si Mbak.
“Rasaku rasamu, Mbak.” Lupus mulai kesel karena dipanggil Sis lagi.
“Eh, ada rasa barbeque, lada hitam, dan pedas, Mbak,” jawab Lupus.
“Hehehe.. bisa aja deh. Aku mau rasa pedas dan barbeque. Aku tadi dah lihat IG-nya. Aku mau yang menu BOTAK untuk rasa pedas dan BATA untuk rasa barbeque, ya? Harga Rp 10.000,- kan ya. Oh iya, namaku Nana. Bisa nggak dianter ke daerah Matraman, Jakarta Timur?”
“Oh bisa Mbak, kan kami memang ada promo gratis ongkir untuk pengiriman wilayah Jabodetabek.”
“Oh, begitu ya Sis. Ini alamatku ya. Jalan Kutilang Bernyanyi II, Palmeriam, Matraman, Jakarta Timur. Dibayar pas barang sampai ya, Sis?”
“Oke Mbak,  terima kasih.”
“Mungkin Mbak ini pernah punya kisah sama Siswanto, Sisno, Siswardi, dan Siskamling. Hafalnya ‘Sis’ mulu,” batin Lupus mangkel.
Setelah Lupus mencatat orderan Mbak Nana, Gusur bergegas menyiapkan pesanan Mbak Nana. Sayangnya Gusur sedang ngantuk saat itu. Akhirnya dua bungkus bakso kotaklah yang ia siapkan. Saat sudah siap antar, Gusur menyerahkannya pada Boim. Sesampainya di laut, kukabarkan semuanya... eh malah nyanyi.. sesampainya di alamat yang diberikan Mbak Nana, Boim langsung kesengsem dengan wajah seorang cewek cantik yang imut.
“Assalamualaikum. Betul ini rumahnya Mbak Nana?”
“Wa’alaikumussalam. Betul, Saya Nana.”
“Wah, Mbak Nana ternyata orangnya imut eh, ramah...” rayu Boim
“Papiiii, ini pesanan Bakso Gaulnya sudah datang,” teriak Mbak Nana. Sejurus kemudian muncul laki-laki botak berbadan kekar keluar dari rumah.
“Mas, biar suami saya aja yang bayar ya,” kata Mbak Nana.
Boim lemes. Niat mau nggodain Mbak Nana pupus sudah. Ternyata cewek imut itu sudah punya gandengan.
“Mana baksonya?” tanya suami Mbak Nana pada Boim.
“Iii... nii... Om... ,” jawab Boim gemetaran.
Saat dibuka bungkusannya, “Lho kok ini BOTAK semua?” tanya suami Mbak Nana dengan nada marah.
“Iiii.. yaaa...Om.. kan Om botak juga, ups!” Boim keceplosan.
Akhirnya, satu bogem mentah mendarat ke pipi Boim. Bakso nggak dibayar, pipi lebam sebelah. Tapi Boim tidak kapok jadi kurir.

***

Pelanggan “Bakso Gaul” tiap hari makin bertambah. Tentunya Lupus juga jadi banyak pengalaman untuk menghadapi pembelinya yang luar biasa. Seperti siang itu...
Pembeli : “Kak, ongkir ke Sulawesi berapa?”
Lupus : “Sulawesi mana, Kak?
Pembeli : “Ke Sulawesi, Kak, masak nggak tahu sih! Online shop kakak nipu ya?”
Lupus (membatin) : “Mungkin dia mau kirim ke seluruh Sulawesi kali ya?”
Lupus (nggak membatin) : “Sulawesinya di kecamatan dan Kabupaten apa Kak?”
Pembeli : “Ih, kakak kepo. Tar aja deh alamatnya. Oh iya Kak. Namaku Mita. Ini dikirim baksonya dulu atau saya bayar dulu?”
Lupus : “Bayar dulu, Kak. Setelah konfirmasi transfer, maka bakso baru akan dikirim.”
Pembeli : “Dikirimnya dengan apa, Kak?”
Lupus : “Lewat JEN, Kak Mita.”
Pembeli : “JEN nama kurir Kakak ya?”
Lupus : “Bukan, Kak. Itu nama ekspedisi Jelas Entar Nyampe atau JEN.”
Pembeli : “Ooh, jadi yang nganter nanti namanya siapa, Kak?”
Lupus (mulai kesal) :”Ya saya kurang tahu, Kak Mita. Yang nganter perwakilan dari JEN.”
Pembeli : “Awas ya, Kak kalau nipu. Bapak saya Polisi. Oh iya, satu porsi bakso harganya berapa, Kak?”
Lupus : “Rp 10.000,- “
Pembeli : “Boleh beli Rp 5.000,- nggak?”
Lupus (membatin) : “Boleh aja, dikirim bungkus plastiknya aja ye.”
Lupus (nggak membatin) : “Nggak boleh, Kak Mita.”
Pembeli : “Oke deh, aku beli 3 porsi aja yang bakso kotak ya Kak!”
Lupus : “Dikirim ke mana, Kak Mita?”
Pembeli : “Ke hatimuuu.... eh, salah. Ke kota Makassar ya. Jalan Anggrek II No. 21, Kota Makassar.”
Lupus : “Oke Kak.”
Pembeli : “Tapi, Kak. Bayarnya boleh pakai pulsa nggak? Aku belum ada duit cash ini.”
Lupus (membatin) : “Emangnya ini counter pulsa???”
Lupus (nggak membatin) : “Nggak bisa, Kak Mita.”
Pembeli : “Oke deh kalau begitu, tar aku pinjam kakakku dulu. Total Rp 30.000,- kan?”
Lupus : “Iya, Kak Mita.”
Pembeli : “Sip.. Ge Pe eL ya Kak... dah laper nih!”
Lupus : “Wah, order hari ini, dikirimnya besok, Kak!”
Pembeli “Yaaah... kirain bisa hari ini. Ya sudah, aku nggak jadi beli aja deh. Dah laper banget euy!”
Lupus : “&@%&*@^*@&*@*^$^$&”

          Begitulah, hari demi hari pelanggan “Bakso Gaul” terus bertambah. Lupus, Boim, dan Gusur banyak belajar dari usaha online shop mereka. Sedikit demi sedikit mereka bisa mulai menabung. Hingga seminggu sebelum pengumpulan laporan tugas Kewirausahaan, suatu hal terjadi di “Bakso Gaul”.
          Apa itu? Tunggu kisah selanjutnya aja deh. Sudah malam, Lupus ngantuk! 

                                                MASIH BERSAMBUNG LAGI
 

0 komentar:

Posting Komentar

Jejak Karya Aisya Avicenna

Jejak Karya Aisya Avicenna