Lupus Reborn : Bakso Gaul (Bagian 1)



“Belajar wirausaha sejak dini itu penting karena bisa jadi bekal kalian setelah lulus sekolah atau kuliah nanti. Oleh karena itu, pada tugas praktik kali ini, Ibu meminta kalian untuk membuat kelompok usaha minimal beranggotakan tiga orang dan maksimal lima orang,” kata bu Eno sebelum mengakhiri pelajaran Kewirausahaan di kelas Lupus hari itu.

“Selama sebulan ke depan, silakan terjun langsung sebagai entrepreneur muda. Nanti tiap kelompok presentasi tentang usaha atau bisnis apa yang dijalankan,” lanjut Bu Eno.



“Tanya Bu, untuk mulai usaha atau bisnis gitu kan butuh modal. Sementara saya tidak punya uang, bagaimana bisa dapat modal?” tanya Boim polos.
          Hadeeeh, kan udah dijelaskan. Ah, ini anak pasti molor saat Bu Eno nerangin pelajaran tadi deh,” batin Lupus.
          “Boim, tadi kan sudah Ibu jelaskan. Makanya, kalau lagi jam pelajaran jangan ngalamun apalagi molor,” tukas Bu Eno membuat Boim gelagapan.
          “Modal bisnis itu sebenarnya cuma satu M,” kata Bu Eno yang langsung disambut dengan suara mendengung seantero kelas. Kebetulan memang lagi ada tawon lagi sliweran di dalam kelas karena pindahan dari gudang sekolah ke kelas Lupus.
          “Wah, 1 M? 1 Milyar? Itu angka nolnya berapa ya Bu?” tanya Boim.
          “Ssst... tenang... harap tenang. Satu M yang ibu maksud itu ‘Me’ atau ‘aku’ alias diri kita sendiri. Modal utama dalam berwirausaha atau berbisnis adalah berasal diri sendiri. Dari motivasi, niat, semangat atau tekad dalam diri. Setiap orang pasti punya semangat untuk memulai usaha. Bisnis bisa dilakukan tanpa modal uang. Caranya? Silakan dipikirkan dalam kelompok.”

***
          “Pus, Im, daku sekelompok sama kalian, kan?” tanya Gusur pada Lupus dan Boim setelah pelajaran Kewirausahaan selesai.
          “Hmm, gue pikir-pikir dulu ye... “ jawab Lupus ngasal.
          “Gue juga ikut mikir dulu deh, “ sambung Boim seenaknya.
          “Ah, kalian gitu banget sih sama daku. Kita bertiga ini kan bagai pinang tak terbelah eh bagai Trio Kwek-Kwek yang tak terpisahkan,” rayu Gusur tak kenal putus asa.
          “Tar aja deh kita bahas saat jam istirahat. Tu Mr. Punk sudah masuk,” kata Lupus menenangkan hati Gusur yang makin gusar karena PR dari Mr. Punk yang belum ia selesaikan hampir semuanya. Dari 10 soal PR, Gusur baru selesai 1 soal. Itu pun dari hasil nyalin buku PR-nya Boim. Dan ternyata Boim salah nyalin, harusnya itu jawaban dari soal nomor 10, eh malah ditulis di soal nomor 1. Alamat Gusur dapat NOL untuk PR Fisikanya kali itu, seperti biasanya sih.

***
          Bel tanda istirahat bernyanyi riang. Murid-murik sontak bernyanyi riang. Cacing-cacing di perut Gusur pun bernyanyi riang. Hadeh, kok malah pada nyanyi sih?
          Oke, intinya lagi jam istirahat.
          Lupus, Boim, dan Gusur udah mojok di kantin. Mereka khusyuk makan gado-gado Bu Narti sambil membahas tugas Kewirausahaan tadi.
          “Pus, jadinya kita sekelompok kan?” tanya Boim.
          “Iye, kita bertiga satu kelompok. Tapi kayaknya garing banget deh kalau cuma kita bertiga. Ajak siapa kek?” jawab Lupus.
          “Hmm... bagaimana kalau kita ajak Fifi Alone, dia kan cantik aduhai... bisa tuh buat bintang iklan jualan kita nantinya. Pasti dagangan kita laris manis, semanis senyum Fifi Alone tercinta,” lanjut Gusur dengan pipi memerah, bukan karena tersipu malu tapi karena habis digigit nyamuk dengan sadis.
          “Ah, nggak! Bisa kacau.... awww,” teriak Lupus yang tak sengaja menggigit cabe rawit.
          Beberapa orang menoleh ke arah mereka. Lupus jadi merah pipinya. Lagi-lagi bukan karena malu, tapi karena nyamuk yang tadi menggigit Gusur, ganti mendarat ke pipi Lupus dan menghisap darah pemuda berambut jambul itu.
          “Kita bertiga aja deh. Ribet kalau ngajak cewek. Tapi, ngomong-ngomong kita mau ngapain sih untuk PR Kewirausahaan itu?” tanya Boim dengan agak males-malesan.
          “Oke deh, gue setuju sama Boim, kita bertiga aja biar gampang koordinasinya. Tapi kalian harus kompak ya. Jangan bikin rusuh. Aku ada ide, tapi nanti aja kita bahas. Pulang sekolah, kita ngumpul di rumah gue,” kata Lupus.
          “Oke deh,” jawab Gusur dan Boim serempak.

***
Siang itu pulang sekolah, Lupus dan dua peliharaannya, eh maksudnya dua sahabat karibnya yang tak perlu disebut namanya berkumpul di rumah Lupus.
“Pus, jadi ide lo apa untuk tugas Kewirausahaan kita?” tanya Boim.
“Iya nih, Pus. Ada jalan buntu di kepala daku. Jadi sampai detik ini daku belum menemukan ide sedikit pun untuk tugas mulia kita,” ujar Gusur ngasal.
“Begini, gimana kalau kita buka toko online aja?” tanya Lupus.
“Toko online???” pekik Gusur dan Boim kompak.
“Iya toko online atau online shop. Kan sekarang lagi ngetrend tuh. Kita jualan lewat media sosial. Kan pada punya Facebook, Instagram, Twitter , kita manfaatin aja buat jualan. Bakal laris deh jualan kita!” jawab Lupus yakin.
“Boljug tuh. Tapi kita jualan apa?” tanya Boim bersemangat.
“Iya ya, jualan apa ya? Yang nggak pakai modal duit gitu. Hmm... daku ada ide, jual puisi-puisi daku aja... dijamin laris manis kayak kacang rebus.” Gusur menimpali.
“Wah, betul juga tuh. Pasti laris, kertas-kertas bertuliskan puisimu itu yang beli penjual rebusan buat bungkus kacang,” kata Boim sambil nyengir kucing (nyengir kuda dah biasa).
“Sudah-sudah... jangan ada dusta di antara kita. Eh, jangan ada perpecahan di antara kita. Kita harus menyatukan kekuatan. Merdeka!!!” teriak Lupus berapi-api.
“Lhoh, kok jadi orasi kemerdekaan sih. Begini, bagaimana kalau kita bantu Mami jualan. Kan Mami gue pinter masak tuh. Mami juga pinter bikin camilan. Kita jualan camilan buatan Mami aja secara online,” kata Lupus.
“Setujuuuuuu,” jawab Boim sambil monyongin bibirnya lima centi.
“Daku jugaaaa,” Gusur tak mau kalah menjawab dengan penuh semangat sambil menari balet.
“Ke dapur yuk nyari Mami,” ajak Lupus. Boim berjalan mengikuti Lupus sementara Gusur masih bergerak memutar sambil berjinjit.
                                              BERSAMBUNG YA 


Sambungannya di sini... 

0 komentar:

Posting Komentar

Jejak Karya Aisya Avicenna

Jejak Karya Aisya Avicenna