ASSALAMU’ALAIKUM WR. WB. SAHABAT, TERIMA KASIH SUDAH BERKUNJUNG DI BLOG SAYA INI. SEMOGA BERMANFAAT DAN MAMPU MEMBERIKAN INSPIRASI. BAGI SAYA, MENULIS ADALAH SALAH SATU CARA MENDOKUMENTASIKAN HIDUP HINGGA KELAK SAAT DIRI INI TIADA, TAK SEKADAR MENINGGALKAN NAMA. SELAMAT MEMBACA! SALAM HANGAT, ETIKA AISYA AVICENNA.

Jurnalis Narsis


RESENSI BUKU
Judul Buku : Jurnalis Narsis

Penulis : Doni Indra

Penerbit
: PT. Lingkar Pena Kreativa
Terbit : April 2010
Tebal : 192 halaman

Harga : Rp 29.000,00

“Jurnalis adalah profesi mulia, narsis juga sebuah upaya memuliakan diri. Jurnalis narsis berbagi kemuliaan lainnya, pengetahuan baru, pengalaman seru, dan suasana jenaka yang tidak terduakan. Mulailah orang yang membacanya...”. Begitulah komentar Taufan E. Prast (Ketua FLP Jakarta dan mantan jurnalis (tidak) narsis) yang bertengger di cover belakang buku fiksi komedi berjudul “Jurnalis Narsis” ini.
Jurnalis Narsis mengisahkan pengalaman seorang wartawan cupu bernama Paijo yang aslinya bernama sangat panjang, yakni Paijo Perdana Primadi Kuswanto Purwomaruto. Akan tetapi, dia memperkenalkan dirinya pada orang-orang dengan sebutan yang cukup gaul yakni: Joe! Sayang, teman-temannya berat hati memanggil Paijo dengan sebutan Joe, karena menurut mereka, nama itu terlalu ganteng untuk dirinya!
Paijo sebenarnya adalah keturunan orang Jawa, tapi ia lahir dan besar di Sumatra. Setelah menamatkan kuliahnya di jurusan Agrobisnis yang berada di salah satu universitas ternama di Sumatra, Paijo merantau dan mengadu nasib di Jakarta. Paijo sempat menambah daftar pengangguran intelektual di negeri ini hingga pada akhirnya ia berhasil menjadi salah satu wartawan di Majalah Bisnis Moncer, Jakarta.
Majalah Bisnis Moncer adalah majalah di bidang ekonomi dan bisnis yang terbit setiap dua minggu sekali. Paijo mendapat amanah sebagai wartawan pasar modal. Awalnya ia protes kepada Mas Kendor, redakturnya, karena menurut Paijo posisi sebagai wartawan pasar modal tidak sesuai dengan basic ilmu yang dimilikinya, yakni agrobisnis. Tapi akhirnya Paijo menerimanya, daripada harus luntang-lantung menjadi pengangguran terdidik. Akhirnya, Paijo belajar keras tentang pasar modal.
Sebagai wartawan baru di Majalah Bisnis Moncer, hasil kerja Paijo bisa dibilang sangat memuaskan. Ia pandai memburu narasumber. Paijo tetap berhasil mewawancarai narasumbernya, meski sang narasumber tersebut anti dengan wartawan. Tulisannya di Majalah Bisnis Moncer juga sering mendatangkan pujian. Pertanyaan-pertanyaan yang terlontar dari mulutnya sering membuat narasumbernya terkagum-kagum. Akan tetapi, sempat ia mendapat layangan protes dari seorang narasumber yang profilnya ia beberkan di Majalah Bisnis Moncer. Paijo hampir putus asa waktu itu. Ia sempat frustasi. Meski pada akhirnya kegelisahannya itu berakhir dengan kejutan dan tawa bahagia.
Jurnalis Narsis bukan hanya sekedar kisah fiksi, tapi di dalamnya sarat akan muatan ilmu seputar dunia jurnalistik dan pasar modal. Pembaca tidak akan jemu dengan kisahnya, karena disajikan layaknya cerpen yang sekali baca habis. Di setiap kisahnya, terdapat ulah-ulah narsis Paijo yang cukup menghibur.
Selamat membaca dan tertawa renyah karenanya!

Jakarta, 010610_00:28
Aisya Avicenna


Tulisan ini diposting pada bulan Mei 2010 di blog sebelumnya

0 comments:

Posting Komentar

Terima kasih telah berkunjung dan meninggalkan komentar di blog ini ^___^. Mohon maaf komentarnya dimoderasi ya. Insya Allah komentar yang bukan spam akan dimunculkan. IG/Twitter : @aisyaavicenna