Pembentukan Rijalud Dakwah


Pembentukan rijalud dakwah atau kader-kader dakwah merupakan sesuatu yang mutlak untuk menggerakkan bangunan peradaban Islam yang kokoh yang melingkupi masyarakat Islam dan dunia. Sebuah bangunan yang kokoh yang membutuhkan landasan dan tiang-tiang yang kokoh pula. Tiang-tiang penopang masyarakat Islam adalah para kader dakwahnya. Namun karena tiang-tiang penopang ini adalah manusia dan bukan benda mati, maka penopangan yang diberikannya bersifat organis dan tidak kaku. Mereka tumbuh berkembang dan membentuk strukturnya bersama-sama dengan perkembangan dan perubahan masyarakat.

Para kader dakwah ini memainkan peran sentral dan vital dalam menjaga dan mengawal umat menuju ketinggian cita-citanya, walaupun umat itu sendiri telah kehilangan kesadarannya dan telah berpaling dari cita-citanya mulia. Para kader dakwah terus saja bekerja sekuat tenaga membentengi umat ini agar tidak terjatuh ke dalam jurang neraka, walaupun umat terus saja menimpuki mereka dan mendesakkan diri kea rah kebinasaan. Mereka berusaha melakukan itu semua sebagaimana Allah juga telah melakukan hal yang sama terhadap mereka.


“… dan kamu telah berada di tepi jurang neraka, lalu Allah menyelamatkan kamu daripadanya…” (Q.S. Ali Imran : 103)


Kader-kader dakwah selalu berada di barisan terdepan untuk melindungi umat dari serangan musuh-musuhnya yang terang-terangan maupun terselubung. Mereka adalah ruhul jaded fi jasadi ummah, ruh-ruh baru di tubuh umat. Entah berapa malam yang mereka lalui, keringat yang mereka cucurkan, dan darah yang mereka alirkan untuk memikirkan dan membela nasib umat. Mereka tidak peduli walaupun umat yang tidak mengerti mencaci-maki orang-orang yang hendak menolongnya, karena mereka hanya menjalankan perinta Allah dan mengharap ganjaran-Nya. Mereka mencontoh Rasulullah SAW yang berdakwah untuk kebaikan kaumnya dan ketika mereka menyakiti beliau, sementara beliau punya kesempatan membalasnya, beliau malah berkata : “Aku justru berharap agar Allah mengeluarkan dari keturunan mereka orang-orang yang menyembah Allah semata dan tidak menyekutukan sesuatu pun dengan-Nya”


Tapi, dari manakah munculnya para kader dakwah ini? Apakah mereka muncul dari jalur panjang nasab yang turun-temurun? Tentu tidak. Mereka adalah orang-orang yang dikader secara khusus dan menimba ruh dakwah dari madrasah-madrasah Tarbiyah Islamiyah. Mereka tidak muncul begitu saja tanpa usaha apapun, melainkan ditempa selama bertahun-tahun dan sepanjang hidupnya melalui pertemuan-pertemuan rutin dan kerja keras di lapangan. Mereka adalah perpaduan antara hidayah Ilahiyah dan Ikhtiar Tarbiyah. Bahkan para kader dakwah yang telah terbentuk ini kemudian berusaha mengkader keluarga mereka sedini mungkin. Mereka memilih calon-calon ayah dan ibu dari anak-anaknya yang juga memiliki visi dan semangat dakwah. Mereka mentarbiyah sang anak sejak masih berada dalam kandungan ibunya sebagai upaya untuk melakukan “rekayasa genetik” bagi terbentuknya embrio-embrio da’i yang siap memimpin umat di masa depan.


Tarbiyah dan pembentukan kader dakwah terlalu vital untuk diabaikan, terlebih lagi dalam situasi umat yang begitu lemah pada saat ini. Pada hari ini, umat Islam telah mengalami disorientasi dalam hidup, mereka kehilangan daya juang, terjatuh dalam kelesuan berpikir dan beramal, terjerat dalam jebakan-jebakan politik, ekonomi, sistem sosial, dan pendidikan yang dirancang oleh musuh-musuhnya. Jumlah umat ini begitu besarnya, tetapi mereka melihat kocar-kacir dan berjalan sendiri-sendiri tak tentu arah. Mereka memegang kartu identitas keislaman tanpa adanya rasa identitas keislaman itu sendiri.


Kemudian setelah itu muncullah para kader dakwah yang telah tertarbiyah dengan baik ke tengah-tengah umat. Tak lama kemudian umat mulai menggeliat. Para kader dakwah tersebut berusaha menyatukan arus kekuatan umat, meluruskan orientasinya, mengorganisasikan, dan mensinergiskan seluruh potensinya menjadi sebuah gelombang dakwah yang menghentak dan mendobrak tembok-tembok kedzaliman dan kejahiliyahan. Itulah peran besar yang dimainkan oleh para kader dakwah manapun. Dan ketika gelombang kebenaran menghempas, maka mereka berdiri bershaf-shaf di garda terdepan. Mereka berusaha membentengi umat sekuat tenaga agar tidak hanyut oleh pusaran kejahiliyahan. Tanpa peran para da’i sepanjang sejarah, serta izin Allah, mungkin bangunan ini sudah ambruk sedari dulu. Namun Allah berkehendak lain. Dialah yang menurunkan risalah terakhir bagi umat manusia dan Dia juga yang menjaganya lewat tangan-tangan para kader dan mujahid dakwah sepanjang masa… Subhanallah…


(Tulisan ini diposting pada bulan Januari 2009 di blog sebelumnya)

Aisya Avicenna

0 komentar:

Posting Komentar

Jejak Karya Aisya Avicenna

Jejak Karya Aisya Avicenna