Like Father Like Son

January 13, 2010


PART 1
Siapa yang menjaminmu hidup setelah waktu zuhur?
Pertanyaan itu terlontar dari mulut seorang pemuda bernama khalifah Umar bin Abdul Aziz , tokoh pemimpin bergelar khulafa rasyidin kelima. Ketika itu khalifah yang terkenal keadilannya itu sangat tersentak dengan perkataan sang pemuda. Terlebih saat itu, ia tengah merebahkan diri, beristirahat usai menguburkan khalifah sebelumnya, Sulaiman bin Malik.
Tapi baru saja ia merebahkan badannya, seorang pemuda berusia tujuh belasan tahun datang dan mengatakan, “Apa yang ingin engkau lakukan wahai Amirul Mukminin?” Khalifah Umar bin Abdul Aziz menjawab, “Biarkan aku tidur barang sejenak. Aku sangat lelah dan capai sehingga nyaris tak ada kekuatan yang tersisa.” Namun pemuda itu tampak tidak puas dengan jawaban tersebut. Ia bertanya lagi, “Apakah engkau akan tidur sebelum mengembalikan barang yang diambil secara paksa kepada pemiliknya, wahai Amirul Mukminin?” Khalifah Umar bin Abdul Aziz mengatakan,”Jika tiba waktu zuhur , saya bersama orang-orang akan mengembalikan barang-barang tersebut kepada pemiliknya.” Jawaban itulah yang kemudian ditanggapi oleh sang pemuda, “Siapa yang menjaminmu hidup sampai setelah zuhur, wahai Amirul Mukminin?”
Pemuda itu bernama Abdul Malik. Ia, putera Amirul Mukminin sendiri, Umar bin Abdul Aziz. Semoga Allah merahmati keduanya.

PART 2
Seorang lelaki datang menghadap Amirul Mukminin, Umar bin Khattab radiallahu anhu. Ia melaporkan kepada khalifah tentang kedurhakaan anaknya. Khalifah Umar lantas memanggil anak yang dikatakan durhaka itu dan mengingatkannya terhadap bahaya durhaka pada orang tua. Saat ditanya sebab kedurhakaannya, anak itu mengatakan,
“Wahai Amirul Mukminin, tidakkah seorang anak mempunyai hak yang harus ditunaikan oleh orang tuanya?’
“Ya”, jawab Khalifah.
Khalifah menjawab, “Ayah wajib memilihkan ibu yang baik buat anak-anaknya, memberi nama yang baik, dan mengajarinya Al Qur’an.”
Lantas sang anak menjawab, “Wahai Amirul Mukminin, tidak satupun dari tiga perkara itu yang ditunaikan ayahku. Ibuku Majusi, namaku Ja’lan, dan aku tidak pernah diajarkan membaca Al Qur’an.”
Umar bin Khattab ra lalu menoleh kepada ayah dari anak itu dan mengatakan,”Anda datang mengadukan kedurhakaan anakmu, ternyata Anda telah mendurhakainya sebelum ia mendurhakaimu. Anda telah berlaku tidak baik terhadapnya sebelum ia berlaku tidak baik kepada Anda.

Kisah di atas saya tulis ulang dari salah satu koleksi buku saya yang berjudul “CINTA DI RUMAH HASAN AL BANNA” karya Muhammad Lili Nur Aulia.
SEMOGA MENGINSPIRASI!!!
"Hai orang-orang yang beriman, peliharalah dirimu dan keluargamu dari api neraka yang bahan bakarnya adalah manusia dan batu…” (Q.S. At Tahrim : 6)
Jakarta, 130110_04:22
Aisya Avicenna

(Tulisan ini diposting pada bulan Januari 2010 di blog sebelumnya)

Aisya Avicenna

0 komentar:

Posting Komentar

Jejak Karya Aisya Avicenna

Jejak Karya Aisya Avicenna